Menurut Menkes, TB adalah penyakit menular yang disebabkan kuman mycobacterium tuberculosis. Ketika penderita TB batuk, bersin, berbicara atau meludah, mereka memercikkan kuman TB ke udara. Seseorang dapat terpapar dengan TB hanya dengan menghirup sejumlah kecil kuman TB. "Penderita TB dengan status TB BTA (Basil Tahan Asam) positif dapat menularkan sekurang-kurangnya kepada 10-15 orang lain setiap tahunnya. Diperkirakan setiap tahunnya terdapat 528.000 kasus baru TB di Indonesia, 70% di antaranya merupakan usia produktif dengan angka kematian 91.000 orang serta insiden kasus TB BTA positif sebesar 110 per 100.000 penduduk," ujar Menkes.
Besar dan luasnya masalah TB diperberat dengan kasus TB-MDR (Multi Drug Resistant) yaitu penderita yang resisten terhadap OAT, yaitu isoniazid dan rifampisin yang diketahui bahwa kedua obat tersebut merupakan obat utama dalam pengobatan TB. Pengobatan TB-MDR, selain waktunya lebih lama harganya pun lebih mahal dibandingkan dengan pengobatan dengan strategi DOTS. Perkiraan kasus TB-MDR pada pasien yang belum pernah mendapat pengobatan OAT (Obat Anti Tuberculosis) sekitar 2% dan sekitar 16% pernah mendapatkan pengobatan OAT. Indonesia menduduki peringkat ke-3 negara yang terbanyak mempunyai kasus TB di dunia, setelah India dan Cina, dengan jumlah pasien sekitar 5,8 % dari total jumlah pasien TB di dunia.
Menkes berharap agar seluruh dokter di Indonesia dapat melakukan pengobatan sesuai dengan strategi Directly Observed Shortcourse (DOTS) atau pengobatan jangka pendek dengan pengawasan. Strategi ini sudah diterapkan di hampir seluruh Puskesmas, beberapa rumah sakit pemerintah , RS milik TNI/POLRI dan beberapa klinik swasta. Diharapkan, semua dokter praktek swasta, rumah sakit swasta maupun klinik-klinik milik swasta lainnya berpartisipasi dalam menerapkan strategi DOTS.
Keberhasilan penanggulangan TB memerlukan dukungan berbagai pemangku kepentingan, termasuk NGO maupun organisasi profesi seperti IDI, PDPI, dan PAPDI. Seminar diselenggarakan RSUP Persahabatan sebagai pilot project penanggulangan TB MDR di Indonesia. Diikuti para direktur rumah sakit dan Kepala Puskesmas DKI Jakarta. Pengendalian TB MDR selain dilakukan di RSUP Persahabatan, juga di RSUD dr. Soetomo Surabaya dan akan diperluas ke daerah lain.Untuk menegakkan diagnosis TB-MDR, tidak cukup hanya dengan menggunakan tes klinis saja, tetapi perlu ditunjang dengan laboratorium. Saat ini, di Indonesia terdapat 5 laboratorium pendeteksi TB-MDR yang tersebar di 4 propinsi, yaitu Makasar, Surabaya, Jakarta dan Bandung, kata dr. Priyanti Z. Soepandi, Dirut RS Persahabatan.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it , This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it , k This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it . Kepala Pusat Komunikasi Publik
| < Prev | Next > |
|---|






















