Pewarta-Indonesia, KKT – Para petani kopra di Kabupaten Kepulauan Talaud (KKT) belakangan merasa resah. Keresahan tersebut bersumber dari adanya hama perusak daun pohon kelapa yang berkembang biak dengan pesat. Hama jenis belalang pedang (sexava nubila) tersebut memakan daun pohon kelapa dan tanaman jenis palmae milik para petani. Akibatnya, produktifitas pohon kelapa semakin menurun, bahkan secara perlahan pohon kelapa tersebut akan mati. Selama ini upaya penanggulangan serangan hama tersebut masih menggunakan cara konservatif. Yaitu dengan menggunakan pestisida yang disuntikkan secara berkala ke pangkal pohon kelapa. Namun demikian, penggunaan pestisida dalam kadar tertentu dipandang dapat merugikan kesehatan para konsumen kopra.
Sebenarnya ada metode yang lebih efektif untuk memberantas belalang pedang, yaitu Leefmansia Bicolor (pengendalian hama sexava secara biologis). Metode ini telah dikembangkan sejak Tahun 1982 oleh Pemerintah RI melalui Proyek Perintis. Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Laboratorium Sub Hayati Dinas Perkebunan Beo Utara Dinas Perkebunan Pempov Sulut Trientje S. Walanda didampingi Kepala UPPT Dinas Perkebunan Pemprov Sulut Reumer Pianseet. “Galakkan musuh alami (parasitoit) untuk kurangi populasi sexava nubile,” ujar Reumer serius. Keuntungan penggunaan metode ini adalah biayanya yang lebih murah. Selain itu, air kelapa dan buahnya dapat dikonsumsi dengan aman. “Jadi tidak hanya untuk kopra saja,” ujar Trientje melanjutkan.
Reumer mengatakan bahwa metode Leefmansia Bicolor dapat dikembangkan dengan mudah oleh para petani kopra di KKT. Peralatan yang dibutuhkan adalah bibit parasitoit, tabung reaksi, kandang belalang pedang, madu, dan kain kassa. Parasitoit dewasa yang siap kawin disimpan dalam tabung reaksi yang telah berisi 10 butir telur belalang pedang. “Serta diberi tetesan madu untuk sumber makanan parasitoit,” tambah Trientje. Telur parasitoit akan ditempelkan dengan sendirinya ke telur sexava tersebut. Nantinya, telur sexava yang telah terinfeksi oleh telur parasitoit akan menghasilkan bibit parasitoit. “Ibaratnya telur ayam tapi saat menetas akan keluar kucing,” terang Reumer. Bibit parasitoit tersebut kemudian dilepaskan di kebun kelapa.
Selain itu, Leefmansia Bicolor dapat berjalan lebih optimal apabila ditunjang dengan metode mekanis dan kultur teknis. Trientje mengatakan bahwa metode mekanis dilakukan dengan cara lingkarisasi seng pada setiap pohon kelapa. Sedangkan metode mekanis dilakukan dengan tumpang sari. Upaya penanggulangan hama sexava ini sempat mendapatkan perhatian dari Ditjen Perkebunan Departemen Pertanian RI yang pada bulan November 2009 berkunjung ke Kecamatan Beo Utara.
Tetapi sayangnya metode pemberantasan sexava secara biologis tersebut hanya jalan di tempat. Sehingga sampai saat ini para petani kopra di KKT masih memakai pestisida. Hal tersebut dikarenakan terbatasnya SDM dan dukungan dana dari Pemerintah RI. “Harga kopra hanya Rp 2.500,- / Kg, sehingga para petani kurang termotivasi untuk mengembangkan Leefmansia Bicolor,” ujar Reumer. Oleh karena itu pihaknya mengharapkan agar Pemerintah RI memberikan dukungan atas upaya perbaikan taraf hidup para petani kopra di KKT.
Keterangan foto: Bapak Reumer Pianseet Kepala UPPT Dinas Perkebunan Pemprov Sulut
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|






















Mohon info dimana bisa Beli Regulator...
AWAS MUN TEU LULUS SIAH KEHED!!!!!!!
Up. Bapak Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc...
haaiii........ w dah penah liad mrek...
siapapun pemimpinnya selain mempunyai...