Oleh: Lisa Schirch*)
Pewarta-Indonesia, Washington, DC -Presiden Afghanistan, Hamid Karzai, mengungkap upaya-upaya baru rekonsiliasi dengan Taliban pada Konferensi London tentang masa depan politik Afghanistan yang diselenggarakan minggu ini. Setelah pengumuman Presiden AS Barack Obama mengenai penambahan pasukan baru bulan lalu, rakyat Afghanistan bertanya-tanya: "Mana upaya diplomasi untuk mengatasi akar penyebab kekacauan di Afghanistan?"
Bulan lalu, saya berjalan keliling Kabul yang berkabut namun ramah dan bertanya-tanya: "Seperti apa kira-kira dukungan AS untuk misi diplomasi?" Seusai minum teh dengan puluhan pemimpin masyarakat sipil dan pejabat pemerintah Afghanistan, saya berpikir: Afghanistan memerlukan suatu pendekatan perdamaian yang multi-aras dan terkoordinasi untuk menghadapi percaturan politik yang kompleks di kawasan.
Diplomasi AS yang lamban dengan Taliban boleh jadi disebabkan gagasan konvensional untuk lebih dulu menjepit Taliban dan memaksa mereka berunding. Namun sejarah menunjukkan proses perdamaian yang berhasil mensyaratkan sebuah pendekatan diplomatik yang lebih proaktif dan menyeluruh.
Upaya baru rekonsiliasi pemerintah Afghanistan akan menawarkan pelatihan dan pekerjaan bagi 35.000 mantan anggota Taliban. Ini adalah awal yang baik. Upaya-upaya rekonsiliasi sebelumnya bertujuan mengeluarkan para pemberontak satu per satu, dan bukan menawarkan insentif ekonomi dan keamanan bagi seluruh kelompok.
Diplomasi dengan Taliban adalah dimensi penting dalam menangani konflik di Afghanistan, namun bukan satu-satunya.
Dimensi kedua adalah penciptaan kedamaian di tingkat lokal yang dipimpin Afghanistan sendiri. Program Solidaritas Nasional dari Kementerian Rehabilitasi dan Pembangunan Pedesaan, yang amat bermanfaat, memadukan proyek-proyek pembangunan lokal yang hemat biaya dengan upaya-upaya peningkatan kapasitas lokal untuk manajemen konflik. Majelis-Majelis Pembangunan Distrik dan Dewan-Dewan Pembangunan Masyarakat bekerja melalui orang-orang, laki-laki dan perempuan, yang dipilih masyarakat lokal untuk menjadi "majelis syura", yang mengidentifikasi prioritas-prioritas lokal untuk membangun pusat-pusat kesehatan, sistem irigasi, dan sekolah-sekolah. Pendekatan sederhana tapi lengkap ini jauh lebih efektif ketimbang upaya-upaya pembangunan yang didanai AS, karena menggunakan saluran-saluran lokal yang ada.
Universitas-universitas dan organisasi-organisasi perdamaian Afghanistan, beberapa di antaranya didanai oleh United States Institute of Peace, sebuah lembaga AS independen yang menyediakan analisa, pelatihan dan perangkat untuk mendorong stabilitas, membantu melatih para anggota dewan syura dalam hal rekonsiliasi dan menjalankan program-program pendidikan perdamaian. Beberapa sudah berjalan dengan baik. Banyak lagi yang bisa berkembang dengan tambahan dukungan internasional.
Selanjutnya, Afghanistan memerlukan sebuah proses perdamaian publik yang lebih luas sehingga masyarakat sipil dapat mengupayakan sebuah konsensus nasional tentang masa depan negara ini, khususnya dalam isu-isu seperti korupsi, ketegangan etnis dan bagaimana menangani Taliban. Kita harus ingat bahwa rakyat Amerika pada Era Hak-Hak Sipil, yang dimulai tahun 1954, tidaklah berhasrat menghancurkan Ku Klux Klan-gerakan supremasi kulit putih yang sempat meluas, yang intoleran dan menggunakan kekerasan untuk melawan pluralisme-lewat langkah-langkah kekerasan. Alih-alih, mereka membuatnya tak relevan dengan mengubah kesadaran nasional lewat berbagai diskusi dan kampanye publik.
Sama halnya, rakyat Afghanistan memerlukan berbagai forum publik untuk membincangkan dan merencanakan agenda nasional mereka sendiri untuk bergerak maju secara kolektif dan damai. Agenda ini akan melengkapi dan berjalan seiring dengan upaya-upaya diplomasi yang resmi.
Akhirnya, para pemimpin Afghanistan membutuhkan diplomasi kawasan yang kuat. Dialog berkelanjutan dengan negara-negara tetangga, terutama Pakistan, ditambah insentif-insentif ekonomi, politik, keamanan dan wilayah, sangatlah penting. Berkaitan dengan peran Amerika Serikat: "Kunjungan Menlu Hillary Clinton atau Dubes Richard Holbrooke ke dearah-daerah sangat penting. Kami memerlukan lebih banyak lagi kunjungan-kunjungan serupa," kata para pemimpin lokal.
Mereka juga mengatakan Amerika Serikat tidak punya cukup diplomat yang dibekali pelatihan yang cukup tentang budaya dan bahasa lokal, negosiasi yang berprinsip, dialog yang berkelanjutan, dan keterampilan resolusi konflik yang mahir lainnya untuk mendukung sebuah proses perdamaian. Selama perjalanan saya, para pakar perdamaian Afghanistan mewanti-wanti agar tidak menerapkan diplomasi gaya Barat terhadap rakyat Afghanistan: "Mereka perlu lebih baik dalam mengenali dan mempelajari cara-cara rakyat Afghanistan menangani konflik secara tradisional, melalui metode suku dan Islami untuk menjalin hubungan yang baik dan ramah."
Meskipun hampir tidak menyebutkan tentang upaya diplomasi dalam pidatonya tentang Afghanistan 1 Desember silam, Obama bisa memulai upaya diplomasi dengan minum teh bersama rakyat Afghanistan di Afghanistan. Lalu menambah beberapa puluh diplomat yang lebih peka secara kultural, yang mau jalan kaki di jalan-jalan becek di Kabul seperti yang saya lakukan. Kemudian, mengajak lebih banyak orang Afghanistan untuk membicarakan diplomasi dengan para pembuat kebijakan AS.
Lebih penting lagi, jika negara ini bisa mengambil risiko keuangan dan nyawa dengan mengirimkan 30.000 prajurit baru AS ke Afghanistan-yang tiap unitnya bisa menelan biaya sejuta dollar-tentunya akan lebih masuk akal bagi Kongres AS untuk langsung mendanai upaya-upaya perdamaian sipil yang lebih hemat biaya yang dipimpin oleh orang Afghanistan sendiri.
*) Lisa Schirch adalah Profesor Perdamaian di Eastern Mennonite University dan Direktur 3D Security Initiative.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews)
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|



















Yang saya heran, tahu nggak ya,kalau ...
Artikel yang dipublikasikan oleh The ...
duh jadi kangen makan ni ....
wow its a amazing
PAK SBY TOLONG DIPERHATIKAN KABUPATEN...