Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
Pewarta Online
None

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
Fun Bike Meriahkan HUT Ke-69 TNI di Aceh.....
29/09/2014 | Syamsul Kamal
article thumbnail

KOPI, Aceh Jaya - Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke 69, Komando Distrik Militer (Kodim) 0114 Aceh Jaya, mengegelar acara sepeda santai (fun Bike)  [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Warta Berita Daerah Muharaman Muka Galur, Lestarikan Budaya
DIRGAHAYU PERSATUAN PEWARTA WARGA INDONESIA (PPWI), 11 NOVEMBER 2007 - 11 NOVEMBER 2014, SENANTIASA TEKUN BELAJAR DAN BERKARYA BAGI PENCERDASAN BANGSA-BANGSA DI NUSANTARA DAN SEANTERO BUMI BRAVO PPWI... BRAVO INDONESIA... BRAVO PEWARTA WARGA...!!!

Muharaman Muka Galur, Lestarikan Budaya

Juru Pemelihara Benda Pusaka. Photo : BonangsPewarta-Indonesia, Ritual adat yang di beri nama Muharaman Muka Galur dilaksanakan hari ini Kamis(31/12) secara sederhana, acara tersebut dilakukan setiap tanggal 14 Muharam, rutin dilakukan warga Ciwangi – Darmaraja, walau sederhana tetapi berlangsung dengan khidmat dan mengandung makna yang berarti, dilaksanakan di rumah juru kunci, lingkungan Ciwangi-Darmaraja.

Iing Dita sebagai juru kunci (juru pemelihara, red) daerah itu sangat berperan atas terselenggaranya prosesi Muharam-an itu. Dan sebagai orang sepuh panutan dialah yang memimpin acara ritual tahunan tersebut. Iing Dita jugalah yang selama ini menyimpan sejarah panjang daerah kampung Ciwangi – Desa Cibogo, yang terletak di Darmaraja, sekitar 27 KM arah timur dari Sumedang.

Prosesi ini di mulai dari mengumpulkan bahan – bahan untuk menjadi bubur sura, seperti:buah-buahan, sayuran sampai kambing jantan, kesemuanya disediakan dan dimasak untuk dibagikan ke warga sekitar, tetapi yang menarik dari setiap buah – buahan atau sayuran yang disiapkan harus berjumlah sembilan jenis, itulah keunikan bubur sura.

”Itu sudah jadi persyaratan dari dulu!”, Ungkap Tanu, seorang sesepuh di situ.

Setelah kumplit bahan yang akan dijadikan bubur sura, bahan – bahan tersebut terlebih dulu dicuci secara massal, proses pencucian pun tidak serperti apa yang kebanyakan orang lakukan, tetapi melalui proses ritual tersendiri, dengan membaca mantra tertentu, yang dibacakan oleh sesepuh lingkungan Ciwangi.

”Ini adalah proses cuci bahan – bahan buat bubur, tetapi yang nyuci harus banyak orang dan di tempat terbuka,tujuannya ya demi kebersamaan!”,tandas Tanu menambahkan.

“Bubur sura yang dijadikan simbol kebersamaan itu dibagikan setelah prosesi ritual selesai. Semua warga harus mencicipi, tidak terkecuali oleh warga yang tidak menyumbang,” Ujar, Iing Dita sesepuh yang sudah berusia 85 tahun itu menambahkan.

Warga yang membantu prosesi itu melakukannya secara sukarela, bahkan banyak warga yang menyumbang demi terlaksananya prosesi ini, berupa beras, bumbu, ayam, telor, buah – buahan, umbi – umbian ataupun tenaga, karena diyakini oleh warga prosesi ini dilakukan untuk menghormati para leluhur mereka, juga untuk mengetahui silisilah mereka. Konon kabarnya setelah melakukan ritual ini mereka bisa merefleksikan hidup di masa lalu yang penuh silih asah, silih asih,silih asuh.

Namun dari keseluruhan prosesi yang digelar itu, yang utama adalah prosesi pencucian benda pusaka. Benda pusaka berupa keris, dan sebuah benda pusaka yang tidak bisa di perlihatkan berada dalam wadah besek. Disebutkan Iing bahwa benda pusaka berupa keris ini mempunyai kesaktian yang tinggi, konon kabarnya keris itu bisa memadamkan api jika ada kebakaran.

”Itu telah terbukti ketika Embah Buyut Mandor Suro masih hidup!”ungkap Iing Dita mempertegas.

“Embah Buyut Mandor Suro inilah yang mewarisi benda pusaka ini,dan dialah yang menemukan perkampungan Ciwangi ini. Melalui pertapaannya, sehingga dia perlu kita hormati,sebagai leluhur warga sini,Sehingga saya rutin mengadakan ritual ini setahun sekali”, pungkas Iing mengakhiri pembicaraannya dengan Pewarta Indonesia.

(Bon, Ign)

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.