Mahasiswi Unindra Menghilang
KOPI, Air mata pasangan Bagio dan Saliah tak berhenti mengalir saat teringat tentang keberadaan anak bungsunya, Ati Surjani, mahasiswi Universitas Indraprasta (Unindra) PGRI Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Ati menghilang saat dia hampir menyelesaikan semester akhir di kampusnya jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA).
Ati menghilang hampir bertepatan dengan waktu pelaksanaan wisudanya pada 23 Mei 2009 lalu. Namun, Ati dapat ditemukan orang tuanya di sebuah rumah yang diduga menjadi tempat berkumpulnya anggota organisasi Negara Islam Indonesia (NII) di Jalan Poncol, Kelapa Dua Depok.
Ati menghilang sebelas hari hingga akhirnya kembali pulang ke rumahnya. Tak lama, Ati pun kembali menghilang pada akhir November 2009 dan tak kembali hingga kini.
Menurut ibunda Ati, Saliah, anaknya tersebut mulai berubah semenjak seringkali mengikuti pengajian di Kelapa Dua tersebut setiap dua kali dalam satu minggu. Perubahan tersebut terjadi secara drastis dari sosok Ati yang lembut hingga selalu kasar dan melawan.
"Kalau dulu anaknya lembut, begitu sering ikut pengajian jadi beda, lama-lama berontak, keras, melawan. Wisuda dia nggak ikut, tapi untung skripsi selesai, bahkan IPK nya hampir sempurna 3,67. Setiap Sabtu katanya pertemuan Agung, mengaji hari Rabu, di dekat (Uiversitas) Gunadarma, Kelapa Dua," kata Saliah di rumahnya di Kampung Perigi RT 004/06 Kelurahan Bedahan, Sawangan, Depok, Jawa Barat, Senin (9/5/2011).
Awal mulanya, kata Saliah, anaknya diajak oleh teman satu kampusnya untuk mengikuti pengajian tersebut. Sebagai orang tua, lanjutnya, tentu tak dapat melarang melihat anaknya berniat menjadi wanita saleha.
"Siapa sih orangtua yang bisa melarang anaknya ikut pengajian. Selama itu tak menyimpang dan positif, saya izinkan. Ternyata Ati tidak kembali sampai sekarang. Saya mulai curiga saat Ati berubah dari sikapnya maupun dari cara berpakaiannya yang serba tertutup, hanya tak pakai cadar," tuturnya.
Keanehan Ati juga terlihat saat ia seringkali mengungkapkan kebencian terhadap Amerika Serikat. Tak hanya itu, Ati juga sering berkata tak percaya dengan pemerintah Indonesia.
"Bagi Ati, presidennya bukan Susilo Bambang Yudhoyno katanya, terus saat melihat ada teror bom, atau ada korban ledakan bom dia senang betul, sampai tepuk tangan," tandasnya.
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- PKPU Bukittingi Serahkan Rp. 4,6 Juta untuk Kesembuhan Mawaddah
- Lokalisasi Ditutup, PSK Ancam Pindah di Gedung Dewan
- Peringatan Hari Buruh Internasional dan Hadiknas Diwarnai Unjuk Rasa
- Ricuh, Demo Mahasiswa Tolak APBD 2011 Blitar
- Tender di Dinas Pertanian Menjadikan Beberapa Rekanan Tak Nyaman
- Februari 2011, Angkatan Kerja Kepri Capai 836.609 orang
- LIPI : Akibat Diburu Warga Kelelawar Tondowatu Menghilang
- 14 Perwira Polres Kotabaru Rotasi Jabatan
- Fahrizal Terpilih Pimpin Muhammadiyah Pabasko
- 150 Orang Eks Karyawan Rotarindo Unras di PN Tanjungpinang
- PKPU Bukittinggi Peduli Longsor Maninjau
- PT. TIA Lamban Kucurkan Kompensasi ke Pemilik Lahan
- BNPB : Ancaman Dingin Merapi Akibat Erupsi Gunung Merapi
- B Channel Launching Empat Program Baru Produksi Sendiri
- Wawako Edwin: Muhammadiyah, Aset yang Perlu Dikembangkan


























