Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
Fun Bike Meriahkan HUT Ke-69 TNI di Aceh.....
29/09/2014 | Syamsul Kamal
article thumbnail

KOPI, Aceh Jaya - Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke 69, Komando Distrik Militer (Kodim) 0114 Aceh Jaya, mengegelar acara sepeda santai (fun Bike)  [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Warta Berita Ekonomi Naiknya Harga Sembako Menjelang Lebaran 1434 H
DIRGAHAYU PERSATUAN PEWARTA WARGA INDONESIA (PPWI), 11 NOVEMBER 2007 - 11 NOVEMBER 2014, SENANTIASA TEKUN BELAJAR DAN BERKARYA BAGI PENCERDASAN BANGSA-BANGSA DI NUSANTARA DAN SEANTERO BUMI BRAVO PPWI... BRAVO INDONESIA... BRAVO PEWARTA WARGA...!!!

Naiknya Harga Sembako Menjelang Lebaran 1434 H

(Suasana di Pasar Rawamangun-Jakarta, Foto oleh : Yanuar R Yovanda)

KOPI - Sepanjang bulan suci Ramadhan tak cuma ibadah yang harus ditingkatkan, harga-harga bahan pokok sembako pun ditingkatkan oleh situasi pasar. Contoh bahan pokok yang mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan  adalah daging, bawang, cabai, dan ayam. Pantauan semenjak Rabu (10/7) dari Pasar Rawamangun, Jakarta Timur, harga daging naik semenjak dua hari yang lalu dari harga semula Rp. 95.000,- menjadi Rp. 100.000,-.

Hal ini tentu cukup memberatkan kantong masyarakat. Walaupun harganya melambung tinggi, minat masyarakat sama sekali tidak turun. Ini dikarenakan desakan kebutuhan akan daging masih tinggi. “Tidak masalah walaupun harga naik, yang penting barangnya ada, ada uang ada barang pokoknya,” ujar Melly, salah seorang pembeli.

Bawang merah justru mengalami kenaikan harga yang paling tinggi, harganya naik Rp. 14.000,- dari harga semula Rp. 36.000,- kenaikan yang tinggi disebabkan salah satunya karena factor kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), gagal panen, dan pendistribusian yang agak lama. Berbeda dengan daging, minat masyarakat untuk membeli bawang mengalami penurunan. Salah seorang penjual bernama Ali (33) menuturkan menurunnya jumlah pembelian. “Biasanya setiap hari itu rata-rata saya bisa menjual 5kg tapi setelah harga naik hanya sekitar 3kg saja,” tutur Ali yang sudah menjual daging sejak tahun 2000 ini.

Harga barang yang sudah naik memang susah untuk turun lagi, perlu waktu dan situasi yang memungkinkan untuk harga turun. Akan tetapi ini dapat diimbangi dengan kenaikan jumlah upah pegawai dan memperbanyak membuka lahan pekerjaan baru dari pemerintah. Sebisa mungkin daya beli masyarakat tetap tinggi walaupun harga barang naik. Harno (47), seorang pembeli bawang mengeluhkan tidak naiknya daya beli masyarakat. “Kalau harga naik itu pasti susah turunnya, percuma standar upah pegawai dinaikkan tetapi harga barang juga naik. Itu tidak membuat daya beli masyarakat menjadi meningkat,”  kata Harno mengakhiri wawancara. (*)

(Berita diliput bersama oleh : Yanuar R Yovanda, Widya Pangestika dan Eky Febrianti, Pewarta asal Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Jayabaya)


Artikel Lainnya:

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.