Asas Keuangan Islam Perlu Didudukkan Lagi
KOPI, Padang Panjang -- Kendati perbankan berbasis syariah telah mulai berkembang, namun masyarakat Sumatra Barat dipandang belum sepenuhnya memahami peranan lembaga keuangan tersebut. Ke depan, nampaknya perlu didudukkan kembali asas keuangan Islam, sehingga mudah dipahami umat.
“Tingkat kepercayaan umat Islam di Sumbar terhadap perbankan syariah masih rendah. Ini perlu sosialisasi dengan pengkajian mendalam. Salah satu faktor, nampaknya istilah-istilah yang dipakai perbankan syariah masih asing di telinga umat,” ujar Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, H. Masrizal, saat tampil sebagai narasumber pada seminar internasional yang digelar Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Diniyyah Puteri, Ahad (5/2), di Padang Panjang.
Pada seminar yang mengusung tema Mendudukkan Kembali Asas Keuangan Islam itu, Masrizal memperkirakan, ada banyak faktor yang mempengaruhi sehingga masyarakat belum begitu akrab dengan bank syariah, salah satunya adalah istilah-istilah di dalam operasional perbankan syariah, semisal miudharabah dan lain-lain, yang masih membingungkan dan belum dapat dipahami sepenuhnya oleh masyarakat.
“Tugas praktisi perbankan syariahlah untuk menjelaskan kepada umat, sehingga mereka bisa paham. Tidak lagi asing dan canggung dengan istilah-istilah demikian. Sementara ulama, dai, guru dan pemuka masyarakat juga berperan penting dalam menjelaskan akan betapa pentingnya bank syariah dalam menjalani kehidupan yang halal dan lebih baik,” terangnya.
Sementara itu, Prof. Dato’ Haji Mohammad Haji Alias dan Dr. Azman Abdul Rahman dari Universiti Sain Islam Malaysia (USIM) yang juga jadi narasumber pada seminar tersebut membeberkan, betapa Malaysia bisa berkembang membangun perekonomiannya beberapa tahun belakangan dengan menyandarkan basis perekonomian mereka sesuai dengan syariah Islam.
“Ekonomi berbasis syariah telah menghantar Malaysia ke tingkat perbaikan ekonomi yang luar biasa di Asia. Bukan hanya sektor keuangan dan perbankan, tetapi juga sampai pada pengelolaan harta zakat secara profesional,” tegas keduanya.
Zakat, menurut Azman, diurus negara secara profesional, sehingga terkumpul dalam jumlah yang luar biasa. Dana zakat itu, sebut dia, mampu mengangkat harkat dan martabat warga, terutama mereka yang mempunyai kekurangan di sisi ekonomi dan finansial.
Seminar yang dimoderatori Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri, Fauziah Fauzan itu, diikuti ratusan mahasiswa, guru, dosen dan praktisi perbankan syariah dari berbagai daerah di Sumbar. Kegiatan itu, katanya, merupakan wujud dari kepedulian STIT Diniyyah Puteri terhadap pembinaan perekonomian umat.
“Kendati pun STIT Diniyyah Puteri berkecimpung di dunia pendidikan Islam, namun ekonomi Islam tetap menjadi perhatian. Apalagi kalau dikaitkan pula dengan posisi STIT Diniyyah Puteri selaku lembaga pendidikan sistem ekonomi syafriah,” sebut Ketua Panitia Seminar, Beni Firdaus.(Musriadi Musanif, Harian Umum Singgalang)
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Disnaker Harus Turun Tangan
- Pemecahan Nominal Saham PT. Inovisi Infracom Tbk.
- Seagate Technology Laporkan Keuangan Kuartal Fiskal Kedua 2012
- ZTE Pertahankan Kepemimpinan Pasar CPE di 3Q11
- ZTE Luncurkan Smartphone ZTE Racer II
- D-Link Luncurkan DWR-112 Router Nirkabel Teknologi 3.5G
- D-Link Luncurkan DWR-530 – Router Modem Wireless N 150 HSUPA
- D-Link Luncurkan HomePlug AV Mini Adapter
- Januari 2012 NTP Kepri Naik 0,39 Persen
- November 2011, Ekspor Kepri Turun 21,12 Persen
- CPO Primadona Ekspor Indonesia 2012
- USA Rencana Boikot CPO Indonesia
- Di Pasar, Ikan Laut Langka
- UED-SP Pancer Jaya Mampu Meraih Laba
- Sosialisasi Legalitas Kayu untuk Menuju Perdagangan Global Produk Kayu


























