Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
Pewarta Online
None

 

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
Fun Bike Meriahkan HUT Ke-69 TNI di Aceh.....
29/09/2014 | Syamsul Kamal
article thumbnail

KOPI, Aceh Jaya - Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke 69, Komando Distrik Militer (Kodim) 0114 Aceh Jaya, mengegelar acara sepeda santai (fun Bike)  [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Warta Berita Hukum Kredit Macet Capai Rp4,9 M di BNI Capem Pekanbaru
DIRGAHAYU PERSATUAN PEWARTA WARGA INDONESIA (PPWI), 11 NOVEMBER 2007 - 11 NOVEMBER 2014, SENANTIASA TEKUN BELAJAR DAN BERKARYA BAGI PENCERDASAN BANGSA-BANGSA DI NUSANTARA DAN SEANTERO BUMI BRAVO PPWI... BRAVO INDONESIA... BRAVO PEWARTA WARGA...!!!

Kredit Macet Capai Rp4,9 M di BNI Capem Pekanbaru

KOPI, Pekanbaru - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau didesak mengungkap mafia perbankan di Bank BNI 46 Cabang Pekanbaru.Nilai kredit macet itu sebesar Rp4,9 miliar dengan agunana lahan fiktif. Desakan ini disampaikanm LSM Riau Bersih dalam aksi demonya di Kejati Riau, jalan Sudirman, Pekanbaru. LSM ini menyebutkan, bahwa kasus mafia perbankan di BNI Cabang Pekanbaru sejak tahun 2009 hingga kini tidak pernah diusut. Padahal dengan jelas, nasabah atas nama Rosinta Simarmata dan David Silalahi terbukti bersalah di Pengadilan Negeri Bangkinang karena mengklaim lahan sawit milik orang lain. Pengadilan memutuskan keduanya divonis delapan bulan kurungan.

Kebun sawit milik orang lain inilah yang juga dijadikan agunana di Bank BNI Cabang Pekanbaru. Rosinta dan David dengan menggunakan surat sertifikat tanah yang palsu, mengajukan kredit senilai Rp4,9 miliar di Bank BNI.

Anehnya, pihak bank menyetujui permohonan kredit tersebut. Disinilah ada dugaan permainan antara oknum bank dengan Risinta dan David.

"Bank BNI tidak objektif dalam memberikan pinjaman kepada Rosintan dan Davit. Sebab, lahan yang diagunkan ke bank tersebut bukanlah miliknya. Belakangan terjadi kredit macet," kata Koordinator aksi demo Febri Prabowo kepada wartawaan Senin (21/1/2013).

Disini pihak Kejati Riau dituntut untuk mengungkap mafia tersebut di bank BNI. "Kejaksaan harus mengusut kasus mafian perbankan ini. Sebab, negara sudah dirugikan ulah oknum di Bank BNI itu," kata Febri.

Polda Riau Tetapkan Tiga Tersangka

Polda Riau menetapkan tiga tersangka kasus dugaan kredit macet di BNI 46 Cabang Pekanbaru senilai Rp 4,9 miliar di BNI Cabang Pekanbaru. Kepolisian Daerah (Polda) Riau menetapkan tiga tersangka kasus kredit macet BNI 46 Cabang Pekanbaru senilai Rp4,9 miliar. Ketiga tersangka merupakan pihak bank yang menyetujui kredit padahal agunan berupa sertifikat palsu.

Kabid Humas Polda Riau, AKBP Hermansyah kepada wartawan, Jumat (25/1/13), membenarkan hal itu. Dikatakan, ketiga tersangka merupakan karyawan Bank BNI 46, yakni AY, CM dan DS.

"Ketiganya dianggap lalai karena atau sengaja memberikan kredit tanpa melihat secara benar keabsahan sertifikat tanah yang di anggunankan," ungkapnya seraya menambahkan berkas acara pemeriksaan sudah diserahkan ke Kejati Riau, hari ini juga.

Kasus kredit macet ini terungkap saat puluhan orang dari LSM Riau Bersih berunjukrasa di kantor Kejati Riau, Senin (21/1/13) lalu. Saat itu massa pengunjutkasa mendesak pihak Kejati Riau mengusut kasus mafia perbankan yang terjadi di BNI Cabang 46 Pekanbaru. Pimpinan bank ini dituding pengunjukrasa telah menyalahgunakan wewenang pemberian kredit kepada seorang nasabah yang bernama Rosita Simarmata.

Padahal anggunan yang dijaminkan Rosita dalam bentuk lahan perkebunan sawit, merupakan lahan milik orang lain. Kuat dugaan, dalam pemberian kredit ini, pihak BNI 46 telah kongkalingkong dengan Rosita. Karena, anggunan Rosita ini ternyata palsu.

"Kita minta kepada pihak Kejati Riau, untuk memeriksa pihak BNI 46 Cabang Pekanbaru. Karena telah menerima suap dari seorang nasabah. Sehingga dengan mudah memberikan kredit sebesar Rp 4,9 miliar. Padahal anggunan yang dijaminkan Rosita yakni lahan kebun sawit, merupakan milik orang lain," kata Febri Prabowo, selaku Koordinator Aksi waktu itu berdemo di kantor Kejati Riau.

Ditempat lain Pengamat Korupsi Riau (PKR) Ajisutisyoso mengatakan Dirut Bank milik swasta hampir habis jabatanya harus menyelesaikan tugasnya,kalau Dirut Bank BUMN habis masa kerjanya/pensiun lenggang kangkung .Manajemen pusat kurang pengawas mengawasi kinerja cabang-cabangnya juga harus meniliti ulang track record penggangkatan seseorang untuk jadi manager bank BUMN.

"Jangan lupa bro bagi-bagi duit korup tuh," ketus Ajisutisyoso.Rtc (didi).


Artikel Lainnya:

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.