Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE
None

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

SILAHKAN KLIK & LIKE FANPAGE KETUA UMUM PPWI NASIONAL, WILSON LALENGKE, DI BAWAH INI UNTUK BERBAGI IDE, INFORMASI, BERDISKUSI, DAN LAIN SEBAGAINNYA...

“Meudamee” Praktek Rekonsiliasi dan Solidaritas dari Aceh

KOPI - Provinsi Aceh tidak saja dikenal melalui peristiwa bencana alam tsunami yang terjadi pada pengujung tahun 2014. Tetapi Aceh juga dikenal oleh masyarakat dunia melalui keistimewaannya dalam bidang agama dan budaya, karena itu Aceh diberi gelar Serambi Makkah. Terkait dengan keistimewaan Aceh dalam bidang agama dan budaya ini, ada satu budaya atau kearifan lokal yang dimiliki Aceh, dan mungkin kearifan lokal tersebut belum banyak diketahui, yaitu: budaya Meudamee.

Meudamee sendiri sering dimaknai sebagai media rekonsiliasi di Aceh. Ketika penulis menelusuri makna meudame dari beberapa tokoh adat di Aceh. Mereka memiliki beberapa pendapat terkait makna meudame ini, misalnya saja Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh, Bapak Badruzzaman Ismail, menilai bahwa Meudamee adalah budaya perdamaian. “Aceh beruntung memiliki kearifan lokal dan alhamdulillah, masih dilaksanakan oleh masyarakatnya sampai hari ini, seperti budaya meudamee, budaya perdamaian” ujarnya.

Sementara itu, Bapak Isa Ansyari, salah seorang ketua MAA Kabupaten Aceh Utara, menilai budaya meudamee sebagai budaya resolusi konflik. “Meudame tidak saja sebagai gabungan dari nilai-nilai Islam dan adat Aceh, tetapi juga merupakan praktek nyata dari resolusi konflik yang dipraktekan di Aceh” Kata Isa Ansyari.

Tak jauh berbeda dari kedua pendapat tokoh adat tersebut, penulis juga menelusuri buku karangan ulama kharismatik Aceh, yaitu: Almarhum Abu Panton, dalam bukunya yang berjudul “Resolusi Konflik dalam Islam (Kajian Normatif dan Historis Perspektif Ulama Dayah)” disana dijelaskan bahwa meudamee merupakan kearifan lokal Aceh terkait dengan rekonsiliasi (perdamaian), dan pelaksanaannya memadukan antara nilai-nilai Islam dan adat Aceh. Kenyataan ini, juga dikuatkan sebelumnya dalam kajian buku Majelis Adat Aceh (MAA) yang berjudul “Pedoman Peradilan Adat di Aceh untuk Peradilan Adat yang Adil dan Akuntabel” yang diterbitkan oleh MAA Aceh, pada tahun 2008.

Apa yang Menarik dari Budaya Meudamee?

Budaya Meudamee menjadi pola tersendiri dalam penyelesaian konflik (sengketa), baik konflik vertikal maupun horizontal yang terjadi di Aceh. Kita mengetahui bersama bahwa Provinsi Aceh itu memiliki 23 kabupaten/kota dari Sabang sampai Aceh Tenggara (Kutacane) (BPS, 2016). Dan yang menariknya, walaupun semua kabupaten/kota di wilayah administrasi Provinsi Aceh, memiliki keragaman bahasa, suku dan adat istiadat, tetapi semua sepakat untuk melaksanakan budaya yang diwarnai dengan nilai-nilai Islam. Hal ini juga tergambar dalam hadih maja “agama ngon adat lagee zat ngon sifeut” artinya: Islam dan budaya lokal tidak bisa dipisahkan.

Pola penyelesaian konflik dengan konsep meudamee dikenal dengan pola penyelesaian adat gampong (desa). Pola ini sebenarnya berasal dari syariat Islam yang bersumber pada ajaran Al-Qur’an dan as-Sunnah. Pegangan suci umat Islam ini, mengajarkan model dan cara penyelesaiaan konflik, baik dalam rumah tangga, antar individu di luar rumah tangga, antar masyarakat, bahkan antar negara. Biasanya mereka yang berkonflik itu sering mengakui dan memaafkan, sehingga tidak sampai pada proses peradilan formal yang tidak menjamin hilangnya perasaan dendam dan arogan, karena merasa kalah atau menang. Hal yang paling berperan dalam berbagai prosesi meudame yang terjadi di Aceh adalah nasehat-nasehat agama Islam yang disampaikan langsung dihadapan pihak-pihak yang bertikai oleh fasilitator yang biasanya berasal dari kalangan ulama.

Ulama di Aceh memiliki marwah atau kemulian dihadapan masyarakat Aceh, karena itu budaya meudamee yang difasilitasi oleh para ulama di gampong (desa), sampai hari ini bertahan. Zulfan, salah satu warga dari desa Teumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe, ketika diminta pendapat terkait dengan pandangan masyarakat (warga Aceh) terhadap ulama (tokoh agama), menilai bahwa ulama Aceh sebagai pewaris nabi dan sudah sepantasnya dimuliakan karena ketaatan dan akhlak mulia yang dimiliki para ulama tersebut. “Ulama di Aceh sangat dihormati oleh warga, perkataan mereka menjadi rujukan warga dan tingkah lakunya menjadi tauladan” Kata Zulfan.

Ketika, budaya meudamee (rekonsiliasi) ini prakteknya dilaksanakan oleh para ulama kharismatik yang ada di setiap desa, hal ini membawa pengaruh positif bagi warga yang sedang berkonflik. Disisi lain, yang memperkuat keistimewaan budaya meudamee ini adalah bila konflik terjadi, lalu tidak mampu diselesaikan pada level (tingkat) desa, maka akan dibawa pada level (tingkat) mukim, artinya penyelesaian suatu masalah dapat diselesaikan secara bertingkat. Mukim sendiri dimaknai sebagai kesatuan masyarakat hukum di bawah kecamatan yang terdiri atas gabungan beberapa gampong (desa) yang mempunyai batas wilayah tertentu yang dipimpin oleh imeum mukim (kepala mukim) dan berkedudukan langsung di bawah camat (lihat Qanun Aceh No. 10 Tahun 2008 tentang Pemerintah Mukim).

Banyak warga yang menilai positif (apresiasi) terhadap pelaksanaan praktek meudamee ini, misalnya saja bu Fatimah, warga Kecamatan Baktiya, yang menilai budaya meudamee ini menjadi harapan bagi warga yang memiliki keterbatasan finansial untuk menemukan keadilan. “Budaya meudamee ini bagi saya yang secara ekonomi pas-pasan sangat membantu kami, menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Banyangkan saja, berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk menyewa pengacara, ongkos transportasi pulang pergi ke pengadilan belum lagi waktu yang harus dihabiskan” kata ibu Fatimah.

Pak Kamaruzzaman, warga Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, juga menilai bahwa penyelesaian masalah dengan budaya meudame, dapat memperkuat solidaritas kembali. “Dengan penyelesaian ditingkat gampong dengan konsep meudamee ini, masalah terselesaikan dengan baik, tanpa ada dendam dan persaudaraan antara yang berkonflik dapat terwujud kembali” Katanya.

Pandangan positif ini tentu saja harus ditindaklanjuti oleh Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat dengan cara memperkuat peran budaya meudamee (rekonsiliasi) melalui desa dan mukim agar semakin kuat. Hal ini juga menjadi harapan dari pelaku, tokoh agama (ulama) dan adat, sebagaimana harapan Pak Nurdin Ar, Ketua Bidang Pengkajian Pendidikan MAA Aceh. “Peran Mukim dan Desa sebagai satu kesatuan adat harus kembali difungsikan, sebab, sudah ada aturan Lex Spesialis dan undang-undang kekhususan Aceh yang menentukan hal tersebut” kata Nurdin Ar. Semoga kearifan lokal yang dimiliki setiap daerah di Indonesia, seperti budaya meudamee (praktek rekonsiliasi dan solidaritas) ini menjadi keistimewaan yang tetap terjaga dan semakin bermakna bagi warga, daerah dan negeri tercinta ini. Amin.


Artikel Lainnya:
Artikel Lainnya:

 

Bali Tuan Rumah Pertemuan Tahunan Bank Dunia dan IMF
Senin, 16 Oktober 2017

KOPI, Bali - Indonesia tuan rumah Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia (World Bank) di Bali , bulan Oktober 2018. Semua mata mata tertuju ke Indonesia akan menjadi pusat perhatian utama dunia.   Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menuturkan kepada wartawan “Indonesia juga bisa mendapatkan nilai plus dari penyelenggaraan acara ini karena ajang tahunan tersebut, bisa meningkatkan kegiatan bisnis. Semua mata di dunia ekonomi akan melihat... Baca selengkapnya...

Kunjungan Delegasi Bisnis Maroko Hasilkan Tiga Nota Kesepahaman
Senin, 16 Oktober 2017

KOPI, Jakarta - Delegasi bisnis dari Kerajaan Maroko berkunjung ke Republik Indonesia dari tanggal 11 hingga 15 Oktober 2017 dalam rangka Trade Expo Indonesia ke-32. Delegasi yang terdiri atas 30 pengusaha ternama itu mewakili tiga wilayah/kota di Kerajaan Maroko, yaitu Wilayah Fez-Meknes, Souss-Massa dan Kota Casablanca.   Salah satu tujuan utama kunjungan para pengusaha dari Negeri Matahari Terbenam itu adalah untuk meningkatkan... Baca selengkapnya...

Pengamat : PDIP Riau Sudah Digadaikan, Pilgubri Usung Kader Partai Lain
Minggu, 08 Oktober 2017

KOPI, Pekanbaru – Hiruk pikuk Pilgubri (Pemilihan Gubernur Riau)  akan diadakan pada Pemilu serentak tahun 2018 mendatang. Suasana politik di daerah Riau mulai memanas, masing-masing ketua Parpol (partai Politik) wilayah Riau mencari koalisi dengan partai lain. Bagi Parpol yang memenuhi kuota electoral threshold 20 % atau 13 kursi di DPRD Riau masih bisa mengusung kandidat pasangan calon Gubernur dan wakil Gubernur Riau sendiri Periode... Baca selengkapnya...

Sambut Hari Batik Nasional, Pasaraya Blok M Gelar "Tribute to Batik 2017"
Senin, 02 Oktober 2017

KOPI, Jakarta – Dalam rangka memperingati hari Batik nasional 2 oktober 2017, Pasaraya menyuguhkan sebuah acara dengan tema "Tribute to Batik". Acara ini berlangsung pada 2 -8 oktober 2017, yang dibuka sesuai jam operasional Mall, yaitu pada pukul 10.00 - 22.00 WIB. "Tribute to Batik 2017" merupakan pameran Bazar batik kontemporer dan diisi dengan beragam kegiatan guna memupuk cinta batik pada generasi muda.   Pasaraya selaku salah satu... Baca selengkapnya...

Rektor Universitas Mpu Tatular Akan Perkuat Implementasi Pancasila, Sesuai Komitmen Deklarasi Bali
Senin, 02 Oktober 2017

Foto: Rektor UMT di Deklarasi Pimpinan Perguruan Tinggi se Indonesia di Bali   KOPI, JAKARTA Sejumlah 3.000-an Pimpinan Perguruan Tinggi dari seluruh Indonesia, hadir di Bali, untuk melakukan ikrar bersama dan bersatu padu melawan radikalisme.   Para Rektor, Ketua, Direktur Perguruan Tinggi tersebut menggelar aksi kebangsaan dalam bentuk Deklarasi, di Nusa Dua Bali Convention Center, Bali, Senin (25/09/2017). Acara bertema Aksi Kebangsaan... Baca selengkapnya...

Begini Kronologis Dugaan Psikopat Oleh Ketum PPWI, Hingga Akan Dipolisikan Oleh Sang Walikota
Sabtu, 30 September 2017

KOPI, Langsa (Aceh) - Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke sangat menyayangkan perilaku oknum Walikota Langsa yang ceroboh telah menyebarkan informasi berbentuk video yang amat tidak layak kepada warga masyarakatnya.   Menurutnya, video berisi penyiksaan dan pemenggalan leher manusia oleh sekelompok orang berpakaian ala militer itu sangat tidak pantas disebarluaskan oleh seseorang kepada orang lain, apalagi seseorang itu adalah kepala daerah... Baca selengkapnya...

Usai Pelantikan DPC-PPWI Sijunjung, Ketum PPWI Beri Pelatihan Jurnalisme Warga.
Kamis, 28 September 2017

KOPI, Sumatera Barat - Satu kesempatan berharga yang didapatkan oleh anggota dan pengurus DPC-PPWI Kabupaten Sijunjung, Ketua Umum PPWI Wilson Lalengke berkenan memberikan pelatihan singkat “Workshop Jurnalisme Warga”, yang bertempat di sekretariat Jl. Lintas Sumatera, Rabu, 27 september 2017.   Hadir pada kesempatan itu ketua DPC-PPWI Kabupaten Sijunjung, Syafrimal Tanjung dengan didampingi sekretaris Hendri Payan, dan juga dihadiri... Baca selengkapnya...

INTERNASIONALKadin Jajaki Peluang Bisnis Lewat “Qat.....
19/10/2017 | Yeni Herliani
article thumbnail

KOPI, Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Komite Timur Tengah mengadakan Indonesia - Qatar Business Forum untuk menjajaki peluang bi [ ... ]



DAERAHDipo Kontainer SPIL Meledak dan Terbakar.....
17/10/2017 | Eko Subroto
article thumbnail

KOPI, Surabaya, Sabtu (13/10) - Telaah terjadi ledakan yang cukup keras di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, hingga terdengar mencapai ra [ ... ]



PENDIDIKANIPELMAJA Latih Mahasiswa Jadi Kritis.....
17/10/2017 | Rahmat Hidayat, Lbs

KOPIAceh Barat - Bertujuan untuk menjadikan mahasiswa Kritis dan bukan hanya tukang kritik, tidak pula apatis, serta tidak anarkis. Ikatan Pelajar  [ ... ]



EKONOMIArea Baru ACE Ke-9 Resmi Dibuka.....
19/10/2017 | Buddy Wirawan
article thumbnail

KOPI, Bandung - Menempati area seluas lebih dari dari 1.200 M2, ACE baru Bandung Electronic Center (BEC) secara resmi dibuka dengan menghadirkan rib [ ... ]



HANKAMMasyallah… Memalukan, Minta Parkir Gra.....
14/10/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Setiap upacara selalu membaca Sumpah Prajurit, Sapta Marga, Pancasila. Tetapi tidak ada yang menerapkan dalam kehidupan bermasya [ ... ]



OLAHRAGASempena Hut Kuansing : Bupati H. Mursini.....
13/10/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Kuantan Singingi – Dari pantauan Pewarta Indonesia , Kamis pagi (12/10-17) dari luar Gedung DPRD kabupaten Kuansing, puluhan karangan bunga u [ ... ]



PARIWISATAPelabuhan Ulee Lheu Sudah Dangkal, Kapal.....
05/10/2017 | Rachmad Yuliadi
article thumbnail

KOPI, Banda Aceh- Dalam beberapa minggu terakhir ini aktivitas pelayaran dari pelabuhan Ulee Lheu Banda Aceh menuju pelabuhan Balohan Sabang terjadi k [ ... ]



POLITIK100 Hari Jalannya Roda Gubernur Aceh Per.....
18/10/2017 | Rachmad Yuliadi

KOPI, Banda Aceh - Tidak terasa waktu sudah berjalan selama 100 Hari. Pada tanggal 5 Juli 2017, pasangan Gubernur/Wakil Gubernur Aceh Irwandi-Nova sec [ ... ]



OPINIAyah Sangat Berperan dalam Membentuk Seo.....
04/10/2017 | Rachmad Yuliadi Nasir
article thumbnail

KOPI, Banda Aceh - Dalam suatu keluarga pastilah terdiri atas ayah, ibu dan anak-anaknya. Bila sang ibu bertungas sebagai pengasuh anak maka sang ayah [ ... ]



PROFILDesa Langkan Wakili Lomba PHBS Tingkat P.....
28/09/2017 | Didi Rinaldo
article thumbnail

KOPI, Pelalawan - Terpilihnya Desa Langkan mewakili lomba PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) serta lomba Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (P [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAJelang Usia 9 Tahun Majelis Sastra Bandu.....
02/10/2017 | Buddy Wirawan
article thumbnail

KOPI, Bandung - Majelis Sastra Bandung (MSB) merupakan komunitas sastra nirlaba, berdiri 25 Janurai 2009. didirikan oleh penggiat sastra seperti Ded [ ... ]



ROHANIMengenal Abuya Syaikh H. Muhammad Muda W.....
26/09/2017 | Ismayadi Yadi
article thumbnail

KOPI - Abuya Syaikh H. Muhammad Muda Waly al-Khalidy an-Naqsyabandy Abu Abuya Syaikh H. Muhammad Muda Waly al-Khalidy an-Naqsyabandy DAYAH-DARUSSALAM [ ... ]



RESENSIDrama Korsel Berjudul Man Who Dies to L.....
30/07/2017 | Didi Rinaldo

KOPI – Jakarta - Drama Korea Man Who Dies to Live berhasil masuk sepuluh besar rating drama terbaik di Korea Selatan.
drama yang tayang di MBC ini j [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto
article thumbnail

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIMenatap Rasa.....
07/06/2017 | Mas Ade

Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



CURAHAN HATITernyata Kur BRI Aceh Barat Bukan untuk .....
11/10/2017 | Syamsul Kamal

KOPI - Hendra (31) petani asal Krueng Tinggai kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat, mengaku sulit sekali bagi petani kecil untuk meningkatkan taraf [ ... ]



SERBA-SERBIMatrix Indonesia Gelar Hairdresser Idol .....
19/10/2017 | Buddy Wirawan
article thumbnail

KOPI, Bandung - Matrix Indonesia selalu ingin meningkatkan kreativitas serta inovasi darl para hairdressers Indonesiai melanjuti kesuksesan acara Ha [ ... ]



Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.