Antara Lucuti, Tifatul, Tokoh Pluralis dan Minta Maaf

0
26
Pewarta-Indonesia, Semula dari pernyataan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring Kamis (16/6) lalu di kantor Kemenkominfo, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta yang menganalogikan kasus video porno mirip Ariel-Luna-Cut Tari (Lucuti) dengan perdebatan teologi Islam-Kristen menyangkut penyaliban Isa atau Yesus membuat berang tokoh pluralis sekaligus mendesak Tifatul untuk minta maaf atas pernyataanya.

Tentu, pernyataannya dapat tak hanya melukai umat Kristiani, tapi juga umat beragama di Indonesia. Kendati ia telah mengklarifikasi atas kemunculan analogi itu, “Dalam soal analogi mirip ini saya katakan dalam sejarah terjadi dimana umat Islam meyakini bukan Nabi Isa as yang disalib, melainkan seseorang yang mirip Nabi Isa yang disalib. Sementara umat Nasrani meyakini bahwa Yesus-lah yang disalib. Dengan tidak bermaksud mengaitkan aspek teologi, soal mirip-mirip ini ternyata berimplikasi panjang dalam sejarah,” jelas Tifatul.

Namun, tetap Sejumlah tokoh lintas agama mengecam Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring terkait pernyataannya yang menganalogikan debat teologis penyaliban Yesus dengan kasus video porno mirip artis. Tifatul dinilai tidak sensitif terhadap perasaan keberagamaan masyarakat.

“Dengan menyampaikan persoalan dunia hiburan dengan persoalan teologis yang sangat sensitif, bisa menimbulkan potensi perasaan dilecehkan bagi kalangan umat kristiani,” kata Yenny Zannuba Wahid ketika membacakan “Pernyataan Sikap Para Tokoh Lintas Agama Atas Statement Menkominfo” di The Wahid Institue, Jakarta, Senin (21/06)

Hadir dalam jumpa pers itu Pendeta Gomar Gultom (PGI), Romo Benny Susetyo (KWI), Todung Mulya Lubis, Ahmad Suaedi serta Ahmad Syafii Maarif yang tampil dalam video testimoni.

Syafii Maarif menilai pernyataan Tifatul yang memberikan analogi antara Ariel dengan Luna mirip dalam perdebatan teologis nabi Isa dan Yesus, terlalu jauh. Itu sebabnya dia minta Tifatul menarik ucapannya dan meminta maaf serta mengaku salah.

“Tidak usah malu-malu lah, Nabi Adam juga salah, dia taubat cepat kan diampuni Tuhan,” katanya.

Romo Beny meminta presiden memberi teguran tegas. “Kami masih menunggu reaksi presiden,” tegasnya.

Todung Mulya Lubis pun mendesak Tifatul minta maaf kepada publik. Bila tidak, presiden harus bertindak tegas. Bukan saja menegur, tetapi meminta Tifatul mengundurkan diri.

“Karena merusak sendi-sendi kemajemukan. Dalam konteks Indonesia, kemajemukan ini harga tidak bisa ditawar sebagai bangsa,” paparnya.

Yenny maupun Todung menilai klarifikasi Tifatul melalui facebook ataupun twitter tidak cukup. Sebab, pernyataan tersebut dimuat dalam media mainstream.

“Tidak bisa melalui facebook, twitter, itu tidak bisa diasumsikan pada publik. Dia harus menjelaskan kepada publik,” kata Todung.

Bantahan pula datang dari Tifatul yang telah mengait-ngaitkan video mesum dengan persoalan Nabi Isa dan Yesus.

“Berkait dengan istilah ‘mirip’ ini, tanpa berpretensi apa-apa saya sampaikan dalam forum, ada pelajaran dari sejarah yang juga menjadi pengetahuan kita bersama. Dalam soal analogi mirip ini saya katakan dalam sejarah terjadi di mana umat Islam meyakini bukan Nabi Isa As yang disalib, melainkan seseorang yang mirip Nabi Isa-lah yang disalib. Sementara umat Nasrani meyakini bahwa Yesus-lah yang disalib. Dengan tidak bermaksud mengaitkan aspek teologi, soal mirip-mirip ini ternyata berimplikasi panjang dalam sejarah,” jelasnya.

“Terima kasih atas kemaklumannya dan mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Semoga menjadi pembelajaran berharga bagi seluruh pihak, termasuk untuk saya pribadi.” tambahnya (Suara Media, 22/06)

Pendeta Gomar Goeltom berharap “Seluruh pernyataan atau kebijakan negara harus bisa disampaikan tanpa menimbulkan persoalan baru,” ujarnya

Selain itu, Tifatul harus menjelaskan latar belakang dia menarik terlalu panjang dan jauh antara video mesum dengan perbedaan keyakinan iman suatu agama. “Dia kan Menteri dari Politik”

Mengenai waktu yang tepat untuk meminta maaf atas pernyatanya. Romo sendiri tak memberi batasan waktu kapan dan bagaimana sebaiknya Presiden menegur Tifatul. “Tergantung jiwa kenegaraan Presiden Yudhoyono. Saya tidak bisa mendikte tetapi ini pilar paling mendasar dari Negara yang menganut Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila,” tegasnya.

Mudah-mudahan dengan segara meminta maaf perseteruan antara Tifatul dan umat beragama selesai “Kalau beliau sudah minta maaf semuanya selesai,” ujar Yenny. [Ibn Ghifarie]