DARI SIDANG PARIPURNA DPD RI: “The show must go on”

0
27

Pewarta-Indonesia, Suasana Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Daerah (DPD) kali ini terasa berbeda. Kamis (30/4) siang di Gedung Nusantara V Kompleks Parlemen, Senayan—Jakarta,


70 dari 128 anggota DPD menghadiri Sidang Paripurna. Mereka saling mengucapkan selamat dan sukses kepada yang terpilih lagi dan menyemangati anggota DPD yang tidak terpilih lagi. Sidang Paripurna mengawali kegiatan anggota DPD setelah hari “H” pencontrengan tanggal 9 April 2009. Agendanya, pembukaan masa sidang keempat tahun sidang 2008-2009 sekaligus penyampaian hasil kegiatan anggota DPD.

Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita mengingatkan anggota DPD, khususnya yang tidak terpilih lagi, tetap bersemangat mengemban amanat rakyat hingga periode jabatannya berakhir. Hasil rekapitulasi penghitungan suara Pemilu DPR/DPD/DPRD tahun 2009 tidak boleh menghalangi penuntasan kerja-kerja sebagai anggota DPD. “Masih banyak pekerjaan DPD, rakyat pun menunggu-nunggu. The show must go on,” ujarnya setelah membuka Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Kamis (30/4) siang, di Gedung Nusantara V Kompleks Parlemen, Senayan—Jakarta. “Kita tidak boleh terhalang hasil pemilu, tetap kita lakukan Sidang Paripurna hari ini. Segala konsekuensi pemilu yang diterima anggota DPD jangan menurunkan semangat dalam mengemban amanat rakyat sampai detik terakhir,” sambungnya. Ia didamping wakil-wakil ketua DPD, Laode Ida dan Irman Gusman.

Sekretaris Jenderal DPD Siti Nurbaya Bakar mencatat, 87 anggota DPD periode 2004-2009 atau 67,97% kembali mencalonkan diri, 16 anggota atau 12,5% mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan 25 anggota tak lagi mencalonkan diri. Pemilu DPR/DPD/DPRD diikuti 1.116 calon anggota DPD.

Ginandjar melanjutkan, “Pemilu ini diikuti sebagian kita, baik untuk DPD maupun DPR. Sebagian lagi memutuskan tidak. Di antara kita yang mengikuti pemilu, sebagian telah memperoleh informasi kemungkinan berhasil, sebagian lagi masih menunggu kepastian, dan sebagian lagi telah mengetahui bahwa usahanya ditetapkan lain oleh Allah.” Rekapitulasi Penghitungan Suara Nasional Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat di Hotel Borobudur, Jakarta, memang belum selesai. Beberapa KPU Daerah masih merekapitulasi penghitungan suara.

KPU Jawa Barat saja, misalnya, hingga Kamis (30/4) belum selesai merekapitulasi penghitungan suara. “Padahal, Jawa Barat provinsi yang terdekat dengan ibukota yang infrastrukturnya relatif baik,” tukas Ginandjar. “Kita bayangkan, betapa susah daerah-daerah yang jauh dari ibukota.”

Karenanya, penyelenggaraan Sidang Paripurna DPD sempat diundur dua kali, yaitu tanggal 23 April 2009 dan 28 April 2009. “Beberapa anggota DPD meminta Sidang Paripurna ditunda, karena masih mengawal penghitungan suara. Setelah dua minggu rasanya tidak mungkin menunda lebih lama.” Apapun hasilnya, Ginandjar meminta anggota DPD meyakini hasil rekapitulasi penghitungan suara sebagai yang terbaik. Kepada yang tidak lagi terpilih, tempat mengabdi tidak hanya di DPD.

“Terbaik untuk kita maupun bangsa dan negara. Sewaktu akan mengikuti pemilu pun kita menyatakan siap: apabila terpilih, kita melanjutkan perjuangan; apabila tidak, tempat pengabdian tidak hanya di DPD.”

Memang, belum semua dipastikan siapa calon anggota DPD yang terpilih mengingat beberapa KPU Daerah dan KPU Pusat belum menuntaskan rekapitulasi penghitungan suara. Mereka yang bertahan rata-rata anggota DPD yang memperoleh suara terbanyak saat Pemilu DPR/DPD/DPRD tahun 2004. Di antaranya, Ginandjar di Jawa Barat, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas di Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, Irman di Sumatera Barat, Laode di Sulawesi Tenggara, dan I Wayan Sudirta di Bali.

Seperti biasa, anggota DPD berdoa setiap mengawali dan mengakhiri masa sidang. Kafrawi Rahim (anggota DPD asal Sumatera Selatan) yang membaca doa. Doanya seolah mewakili perasaan dan gundah-gulana anggota DPD.

“Tidak semua ceria dan tertawa, ada juga muka-muka yang sekarang merasa kekurangan. Berikanlah kepada kami kekuatan karena perjuangan masih panjang, ya Allah. Kami bersyukur ya Allah atas segala yang terjadi. Semoga yang terjadi adalah yang terbaik bagi kami dan DPD,” demikian bait-bait doa Kafrawi.

Semangat serupa diserukan anggota DPD yang membacakan laporan hasil kegiatannya. Anggota DPD yang tidak terpilih lagi mengucapkan selamat kepada anggota DPD yang terpilih lagi. Seperti Eka Komariah Kuncoro (anggota DPD asal Kalimantan Timur). “Walaupun hari esok langit runtuh, hari kini kita tetap kerja.”

“Mengabdi kepada bangsa dan negara tidak harus menjadi pejabat,” kata Mardjito GA, anggota DPD asal Jawa Timur, yang tak lagi mencalonkan diri. “Selamat, khususnya kepada Pak Ginandjar, Pak Laode, Pak Irman.”

“Pengabdian tidak hanya di sini, di mana-mana,” ujar Soemardhi Taher (anggota DPD asal Riau) yang juga tak lagi mencalonkan diri.

Anggota DPD yang tidak terpilih lagi mengungkapkan perasaannya. “Jangan-jangan ini pidato terakhir,” setengah bercanda Mochtar Naim, anggota DPD asal Sumatera Barat yang tidak terpilih lagi, mengawali pembacaan laporan kegiatannya. Gelak tawa pun terlepas dari mulut anggota DPD.

“Ketika menuliskan laporan ini, perhitungan suara di KPU Sumatera Barat telah selesai dan diumumkan. Pada tempatnya kita menyampaikan tahni’ah (ucapan selamat) kepada incumbent (yang menjabat) Irman Gusman, yang tidak hanya lolos tetapi seperti pemilu sebelumnya keluar sebagai pemenang nomor satu,” ujarnya memuji.

“Irman sejak semula mempunyai retak tangan untuk menjadi politisi ulung tak terkalahkan. Bintangnya bintang terang, daya tariknya memukau. Ya wajahnya, ya mudanya, ya cerdasnya, ya bergaul dan berdiplomasinya. Ia pandai berhitung taktik dan strategi, seperti yang biasa dilakukan di bisnis dan dagang, lahan pergumulan profesinya selama ini.”

“Kami di Jambi bernasib kurang beruntung. Alhamdulillah, semuanya masuk, tapi masuk kotak,” tukas Muhammad Nasir, anggota DPD asal Jambi, yang tidak terpilih lagi.

Mendengarnya, Ginandjar menimpali. “Belum tentu yang tidak terpilih itu kurang beruntung. Siapa tahu ada yang lebih berarti,” katanya menyemangati Nasir.

 Nasir melanjutkan, “Selamat dan sukses kepada yang terpilih. Ketiga pimpinan kita (Ginandjar, Laode, Irman) yang terpilih lagi memang sama-sama kuat. Figur pimpinan yang kita pilih dulu sebagai ketua dan wakil ketua benar-benar mantap.”

“Kami di Banten, semuanya tidak terpilih lagi,” tukas Rd Renny Pudjiati (anggota DPD asal Banten). Ia bersama Ratu Cicih Kurniasih dan Apud Mahpud kembali mencalonkan diri. Hanya Thoyib Amir yang tak lagi mencalonkan diri.

Giliran Aida Ismet ZN Ismeth, anggota DPD asal Kepulauan Riau, yang berbicara. Istri Gubernur Kepulauan Riau, Ismeth Abdullah, ini menegaskan, keterpilihannya bukan disebabkan statusnya sebagai istri Gubernur. “Tidak ada campur tangan Pak Gubernur,” ujar Aida.

Ia membuktikan alibinya. Putera kesatunya yang bernama Rahmatsyah Ramadhany alias Dhany Ismeth, yang dicalonkan Partai Golkar sebagai anggota DPR dari Kepulauan Riau, tidak terpilih.

Padahal, kapasitas dan kapabilitasnya memadai. Ia meraih Bachelor of Science di University of Oregon, Master of Business Administration (MBA) di Golden Gate University San fransisco, dan Master of Science (MSc) di Golden Gate University San Fransisco, Amerika Serikat (AS).

Dhany juga menjabat di sejumlah organisasi sosial dan politik sebagai Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Kepulauan Riau, Sekretaris Jenderal Majelis Pemuda Indonesia (MPI) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kepulauan Riau, Ketua DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kepulauan Riau, Wakil Bendahara Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Kepulauan Riau, serta Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kepulauan Riau. Ia pun mantan dekan Fakultas Ekonomi Universitas Internasional Batam (UIB).

Sidang Paripurna DPD juga dimanfaatkan anggota DPD mengkritik kinerja KPUD dan KPU Pusat. Seperti Biem T Benyamin (anggota DPD asal DKI) yang menyatakan, calon anggota DPD didiskriminasi KPU sejak sosialisasi pemilu hingga pengumuman hasilnya.

Ia menggugat Pusat Tabulasi Pemilu 2009 KPU di Hotel Borobudur, Jakarta, yang tidak kunjung menampilkan hasil tabulasi penghitungan suara calon anggota DPD. “Hasilnya tidak diumumkan seperti calon anggota DPR. Kami merasakannya sebagai diskriminasi.”

Joseph Bona Manggo (anggota DPD asal Nusa Tenggara Timur) menengarai kecurangan pemilu yang modusnya mengutak-atik Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan Berita Acara Penghitungan (BAP). Namun, saksi-saksi peserta pemilu tidak bisa berbuat banyak mengatasinya.

Pemilu DPR/DPD/DPRD tahun 2009 telah usai. Diperkirakan wajah-wajah baru akan meramaikan keanggotaan DPD periode 2009-2014. Akankah perubahan keanggotaan DPD periode 2009-2014 menjamin perbaikan performa DPD? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Sumber: Siaran pers Sekretariat Jenderal DPD RI