Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Harapan SBY dan Keprihatinan Ahtisaari

 


Pewarta-Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan kunjungan kerja selama dua hari di Aceh dalam rangka peresmian Proyek raksasa serharga Rp 715,3 miliar dan pertemuannya dengan Pemerintah Aceh serta tokoh masyarakat dan para ulama di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Kedatangan orang nomor satu di Indonesia yang tergolong langka itu tampaknya sebagai wujud kelanjutan dari program pembangunan yang telah dirintis sebelumnya (2005) yaitu Badan Rahabilitasi dan Rekonstruksi (BRR).

 

Kunjungan Kepala Negara ke Aceh (23-24/2) disaat suhu politik Aceh sedang memanas dan memasuki fase sangat krusial. Sepertinya Kepala Negara merasa perlu melakukan evaluasi langsung persoalan Aceh secara lebih akurat dan menyeluruh dari lapangan (Aceh/sumber). Kunjungan sang Presiden kali ini menjadi momentum emas bagi Aceh dan juga sebaliknya Pimpinan RI diharapkan dapat menetralisir dan meredam gejolak panas (sikap agresif) dari kelompok lain yang mencoba sulut ketegangan baru di Aceh serta menguburkan rasa curiga, buruk sangka dan berbagai penafsiran negativ lainnya terhadap Aceh terutama wadah politik mantan GAM KPA/PA.

 

Masyarakat Aceh menyambut positiv kehadiran Yudhoyono ini sebagai sebuah sarana jalan tol bagi memuluskan dicapaianya keinginan dan harapan lebih baik oleh seluruh masyarakat Aceh. Secara tersirat, Presiden diharapkan supaya memberikan perhatian lebih serius dan memberikan nuansa baru bagi Aceh serta menempatkan Aceh pada posisi teristimewa dalam menunjang pembangunan yang berskala nasional.

 

Selama kunjungannya di Aceh, SBY menaruh banyak harapan agar perdamaian yang telah terbina itu diselamatkan dan dilanjutkan. Kesepakatan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki merupakan penyelesaian sengketa politik paling objektif antara Aceh dan Jakarta karena itu dianggap sebagai solusi (pilihan) masyarakat Aceh untuk bebas dari ketiak konflikt berkepanjangan. Keluar dari konflikt merupakan sebuah makna “merdeka” dalam artian masyarakat bebas dari zone dentuman peluru dan, atau sama juga dengan merdekanya masyarakat Indonesia dari koloni Belanda dulu sehingga secara leluasa dapat menikmati ketenangan tanpa ada perasaan yang menghantui maupun ketakutan.

 

Selain meresmikan 13 proyek yang menelan biaya ratusan miliar rupiah itu, Presiden SBY datang membawa kado besar berisi “harapan” terakhirnya sesaat menjelang pemilu atau menjelang berakhirnya masa jabatan sebagai Kepala Negara yang terlibat dalam proses penyelesaian persoalan Aceh secara konfrehensif. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa Yudhoyono berkeinginan kuat untuk merangkul hati nurani rakyat Aceh bagi meraih kembali tampuk kekuasaannya dalam pemilu mendatang.

 

Presiden SBY mengharapkan tidak ada satu orang pun yang mengganggu perdamaian di Aceh pasca penandatanganan kesepakatan (MoU) damai Helsinki yang merupakan pilihan masyarakat Aceh untuk keluar dari konflik. "Saya berharap tidak ada siapa pun yang mengganggu pilihan masyarakat Aceh untuk merasakan perdamaian karena ini adalah jalan yang kita pilih dan kita kehendaki. Untuk itu mari kita selamatkan dan lanjutkan perdamaian di Aceh,". "Tidak ada lagi istilah Daerah Operasi Militer (DOM) maupun Gerakan Aceh Merdeka (GAM) lagi. Hilangkan pikiran-pikiran lain yang hanya mementingkan pribadi kecuali untuk mensukseskan proses perdamaian," (Waspada, 23/2)

 

”Saya minta mari kita selamatkan dan lanjutkan. Jalan ini adalah jalan yang terbaik. Jalan ini pula yang dikehendaki oleh saudara-saudara kita di Aceh. Jalan ini pula yang didukung oleh masyarakat dunia. Aceh dengan status otonomi yang luas dalam kesatuan negara Rebuplik Indonesia. Satu paket final.

Saya berharap tidak ada yang mengganngu pilihan ini, dari siapa pun. Maka mari kita hentikan cara berpikir yang lalu. Tidak ada istilah DOM. Tidak ada istilah GAM. Kita bersatu sekarang sebagai masyarakat Indonesia, bangsa Indonesia. Saya setuju mendukung apa yang disampaikan saudara gubernur. Mari kita selamatkan proses ini. Jangan ada gangguan-gangguan apa pun,” (Radio Nederland Weredomroep 25/2).

 

Harapan yang penuh optimis dan rasa komitmen yang tinggi dari sang Presiden untuk menyelamatkan dan melanjutkan kesinambungan perdamaian Aceh itu kiranya perlu diikuti dan dipatuhi oleh segenap komponen bangsa dan bukannya mengabaikan apalagi meremehkan instruksi pemegang otoriter tersebut. Khususnya pihak TNI dan Polri diminta untuk meresapi dan mengimplementasikan amanah Pimpinan negara itu dengan menjungjung tinggi martabat dan marwah MoU yang telah dicapai dengan keputusan sangat berat dan sulit di Helsinki.

 

Semua pihak disarankan untuk menyatukan pemikiran bagi melanjutkan visi dan misi damai-MoU Helsinki di Aceh seperti halnya harapan dan pesan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pemikiran negativ dan kondisi buruk politik Aceh dalam masa terakhir ini menyebabkan damai Aceh goyah dan bakal sekarat. Penafsiran tak sedap sering terdengar seperti label “separatis” sampai kini masih disemprotkan oleh pihak-pihak yang tidak senang dengan perubahan Aceh dan menjadikan itu sebagai akar untuk menanamkan kembali serial drama konflikt terhadap Aceh.

 

Oleh karena itu menjadi tugas kita bersama untuk memikirkan dan tunjukkan sikap lebih dewasa dari siapapun untuk terus merawat damai/MoU Aceh sehingga timbul sebuah sikap yang sejuk/jernih dan pemahaman sehat. Selama ini banyak pihak cendrung berpaling dari konsep damai Aceh dan itu akibat pemahaman yang keliru. Sepatutnya jiwa pesimis yang kekanak-kanakan sehubungan keberlangsungan perubahan iklim politik Aceh pasca Helsinki 2005 itu tidak perlu ada. Pola pikir yang konstruktif perlu dilahirkan sebagaimana konstruktifnya para pengambil kebijakan dalam melahirkan sebuah kesepakatan politik yang cukup mahal sehingga terciptanya hak dan kewajiban yang sekarang berada dipundak kita bersama. Konsep perdamaian Helsinki di Aceh hanyalah sebuah bingkai yang penuh aturan dan mengajak kita untuk berjalan dalam koridor dimaksud tanpa mencedrai semangat yang terkandung didalamnya.

 

Situasi dan kondisi Aceh sebelum kunjungan Presiden SBY mengalami masa-masa sulit yang menggoncang bumi Aceh dengan aksi pembunuhan terselubung terhadap anggota dan kader KPA/PA. Eskalasi kekerasan politik terjadi dan terbilang menghebohkan seluruh nusantara tak terkecuali Jakarta. Dikabarkan pencopotan Kapolda Aceh Irjen Pol Rismawan diduga erat kaitan dengan kinerja Kepolisian yang dianggap gagal mengungkap berbagai peristiwa criminal seperti, pembunuhan, reror, intimidasi, penculikan pembakaran dan pemboman kantor partai. Menjelang Pemilu, eskalasi kekerasan semakin meningkat, bila aparat kepolisian tidak berhasil mengeliminir berbagai tindak kekerasan itu, kemungkinan konflik baru kembali melanda provinsi NAD itu, (Waspada, 15/2).

 

Ditengah suasana menjelang pemilu, Presiden dalam amanat(pidato)nya menyebutkan bahwa tidak ada istilah Daerah Operasi Militer (DOM) dan tidak ada istilah Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Menarik bagi kita untuk menyimak dan mengefaluasi kembali kedua mantan kesebelasan (pemain) perang yang sekarang sudah jeda dengan adanya MoU Helsinki.

 

Daerah Operasi Militer dengan sendirinya telah dicabut dan belasan ribu serdadu RI ditarik pulang keinduknya begitu proses penyelesaian politik kedua kubu tersebut ditandatangani. Begitu juga Gerakan Aceh Aceh Merdeka, 840 pucuk senjata sebagai peralatan perangnya dipotong dan dihancurkan oleh Tim Monitoring Aceh Mission (AMM) sebagai pertanda penghentian permusuhan telah berakhir di Aceh. Lalu, kenapa juga masih terjadi pembantaian sejumlah penduduk sipil dan berbagai bentuk pelanggaran HAM lainnya di Aceh disaat DOM tidak ada lagi? Apakah penghentian pembunuhan warga Aceh itu baru berlaku semenjak pidato Presiden (23/2), atau memang implementasi penghentian drama ”genocida” tersebut berlaku ketika MoU diteken? Saya kira Presiden selaku pemegang payung negara memiliki kemampuan untuk menjawab dan mendongkrak pihak Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) dan Gerakan Pemusnahan Damai (GPD) yang selama ini berusaha menyeret kembali Aceh kejurang konflikt. Inilah riak-riak gangguan yang selama ini meresahkan masyarakat Aceh dan mengganggu eksperiment-eksperiment politik yang ada.

 

Bersamaan kunjungan dua hari Kepala Negara ke Aceh, berikutnya mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari-pun mengunjungi NAD yang kesekian kalinya. Kehadiran peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2008 ke Tanoh Rencong kali ini mengundang keprihatinannya terhadap kondisi buruk Aceh yang menyebutnya sebagai “dramatis”. Namun kehadirannya menjelang pemilu bulan depan menjadi momentum penting bagi Aceh sekaligus untuk menjawab teka-teki seputar perlu-tidaknya tim pemantau pemilu yang independen dari Eropa. Ahtisaari menegaskan soal tim pengawal pemilu Internasional ke Aceh merupakan bagian dari kesepakatan MoU Helsinki 2005.

 

Penegasan Martti Ahtisaari dalam hal ini untuk menangkis desas-desus pihak yang mempolitisir seputar pemantau asing dalam pemilu Aceh seperti tuduhan bahwa; ”Crisis Management Initiative (CMI) dan Uni Eropa bersembunyi di belakang alasan "tidak diundang Pemerintah Indonesia" untuk tidak melakukan pemantauan di Aceh begitu tulis M. Nur Djuli salah seorang yang terlibat dalam perundingan Aceh di Helsinki, Finlandia pada 15 agustus 2005.

 

Pemerintah Indonesia juga secara terbuka menyatakan welcome, tapi tidak akan memberi undangan khusus dalam hal pemantauan pemilu di Aceh, karena itu pada anggapannya tidak perlu, lanjutnya.

 

"Akan tetapi Ketika kita mengkonfirmasi hal ini kepada EU dan CMI, kata M. Nur Djuli, mereka mengatakan bahwa waktunya sudah terlalu singkat untuk bisa mengirim team."

 

"Kalau EU bisa membuat team Aceh Monitoring Mission dalam waktu 2 minggu dulu, kenapa sekarang tidak bisa?" Nur Juli mempertanyakan.

 

Apalagi dulu sudah pernah dibuat team pemantau untuk PILKADA (Pemilihan Kepala Daerah) jadi orang-orangnya tinggal diaktifkan saja, lanjutnya, (achehpress, 13/2).

 

“Perdamaian Aceh harus diselamatkan dan harus berlangsung hingga mencapai satu titik yang permanen” katanya. Namun masih ada beberapa klausul dålam MoU yang belum dilaksanakan, seperti pembentukan pengadilan HAM dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). (Serambi, 26/2).

 

Keprihatinan Martti Ahtisaari sebagai sesuatu keadaan yang jarang terjadi sebelumnya dan menyebabkan dirinya harus menyebutkan kondisi Aceh dramatis. Seolah-olah Ahtisaari sudah mengantongi semua kronologis peristiwa kekerasan (serial drama) selama damai Aceh terwujud termasuk yang paling besar adalah pembunuhan tokoh-tokoh Partai Aceh dan sebagainya. Kegelisahan masyarakat Aceh ia tangkap dari pengaduan-pengaduan yang disampaikan dalam forum pertemuan di Banda Aceh (Selasa, 24/2) sehingga kini menimbulkan keprihatinan dunia.

 

Masyarakat Aceh mengadu dan melaporkan prihal situasi Aceh terkini kepada Bapak Perdamaian Ahtisaari ketika dalam suatu pertemuan di Banda Aceh; “Suara Perempuan: Sesudah kita melihat tiga tahun perdamaian, sekarang ini di Aceh sudah muncul-muncul lagi ciri-ciri konflik dan sudah banyak lagi pembunuhan-pembunuhan. Sampai sekarang juga masih di pihak ABRI mengatakan orang tak dikenal.

 

Maka kami mengharapkan ketulusan dari pemerintah dan dari perdamain Aceh sekarang ini masih terjajah di antara kita. Dan kedua, kami dari Aceh mengharapkan pendampingan dan juga pemantauan dari pihak internasional penuh serius. Apalagi dalam masa pemilu yang akan datang”.

 

Ahtisaari: ”Saya juga prihatin. Semestinya insiden itu tidak boleh terjadi lagi di negeri ini. Saya harap pemimpin politik juga berpikir demikian. Ketika saya berjumpa dengan presiden dan wapres di Jakarta, mereka mengatakan, tidak akan membiarkan adanya kekerasan. Di dalam MoU perdamaian, ada fasal yang jelas tentang monitor perdamaian,” (Radio Nederland Weredomroep, 25/2).

 

Penulis adalah Junaidi Beuransah, Aktifis World Acehnese Association(WAA) menetap di Denmark


Anda punya berita, artikel, foto, atau video? Publikasikan di sini
Kontak Redaksi di This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

 

Perintah Kapolri : Tembak Mati Oknum Personel Polri sebagai Bandar Narkoba
Senin, 23 April 2018

KOPI, Pekanbaru - Kunjungan kerja Kapolri Jendral (Pol) Tito Karnavian kepulau Sumatera berawal dari propinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Palembang. Dalam rangka meningkatkan Solidaritas dan sinergiritas antar dua lembaga institusi Polri dengan TNI mengamankan terselenggaranya Pemilu serentak 2018 serta Pilpres 2019. Kunjungan dua Jendral bintang empat ini ke Propinsi Riau, hari Jum’at (20/4-17). Kedatanganya disambut oleh Kapolda Riau,... Baca selengkapnya...

Cucu Pahlawan Nasional Bra Koosmariam Tersiram Air Panas oleh Pramugari Garuda
Minggu, 15 April 2018

KOPI, Jakarta – Cucu pahlawan nasional Pakubuwono X yakni B.R.A Koosmariam Djatikusumo (69) mengalami cacat payudara akibat tersiram air panas di kabin pesawat oleh oknum pramugari. Insiden terjadi saat penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta menuju Banyuwangi pada 29 Desember 2017 lalu. Saat itu, pramugari Garuda sedang melayani para penumpang atau serving. Tak disangka, teh panas tumpah dan mengenai tubuh korban. Cucu pahlawan nasional... Baca selengkapnya...

Wartawan Dimeja-hijaukan, Dewan Pers Mutlak Dibubarkan
Sabtu, 14 April 2018

KOPI, Jakarta – Ketua Umum PPWI Nasional, Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA kembali bersuara keras atas tindakan kriminalisasi terhadap wartawan yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Kali ini, Wilson merasa sangat prihatin atas perlakuan sewenang-wenang aparat kepolisian di Polda Sumatera Barat yang menyeret Ismail Novendra, pimpinan redaksi Koran Jejak News yang terbit di Padang, Sumatera Barat, ke meja hijau. Laporan terkini yang... Baca selengkapnya...

Ada Apa Dengan KPK ? Tak Berani Mengusut Kasus Izin Kehutanan Melibatkan Zulkifli Hasan
Jumat, 13 April 2018

KOPI, Jakarta - Keterlibatan mantan Mentri Kehutanan Zulkifli Hasan memberikan izin pembebasan lahan hutan di Propinsi Riau dan Banten. Hampir semua kasus korupsi alih fungsi lahan berawal dari keputusan menteri yang berwenang dan saat itu Zulkifli Hasan sebagai Menteri Kehutanan melalui SK No. 673/ 2014 menyetujui alih lahan sebesar 30.000 ha yang berujung pada pemberian suap oleh mantan Gubernur Annas Makmun . Dalam persidangan terdakwa... Baca selengkapnya...

Erasmus Huis Hadirkan Konser Alexander Ullman di Jakarta
Kamis, 12 April 2018

KOPI, Jakarta – Lembaga Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, mengadakan acara konser tunggal menghadirkan Alexander Ullman, bertempat di The Erasmus Huis, Kedubes Belanda, Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 11 April 2018. Alexander Ullman adalah pemenang pertama Franz Liszt Piano Competition ke-11 yang berlangsung di Utrecht, Belanda, tahun 2017 lalu. Tidak kurang dari 300 penonton menyaksikan konser anak muda berkebangsaan Inggris... Baca selengkapnya...

Mendes PDTT Eko Putro Ingatkan Kades Tak Selewengkan Dana Desa , Telpon Satgas Bila Ada Kendala
Kamis, 12 April 2018

KOPI, Jakarta – Masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dengan Jusuf Kalla, Selama Tiga tahun ini dana desa mampu membangun lebih dari 121.000 kilometer jalan desa. Ini belum pernah ada dalam sejarah Indonesia. Desa mampu membangun 1.960 kilometer jembatan, tambatan perahu, embung air (sumur resapan air), sarana olahraga, irigasi, serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro... Baca selengkapnya...

Inilah Puisi “Ibu Indonesia” Dibacakan oleh Sukmawati Bikin Heboh Umat Islam
Sabtu, 07 April 2018

KOPI, Jakarta - Putri Presiden pertama Indonesia Soekarno yakni Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi berjudul “Ibu Indonesia” di acara Pagelaran peragaan busana “Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week ke 29” bertempat di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Selatan, pada Kamis, 29 Maret 2018. Ibu Indonesia Aku tak tahu Syariat Islam Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah Lebih cantik dari... Baca selengkapnya...

INTERNASIONALNew European Report Points Fingers at Po.....
25/04/2018 | Redaksi KOPI

KOPI, Maroko - The involvement of the polisario in terrorist acts in the Sahelo-Saharan region has once again been singled out in a report funded by t [ ... ]



NASIONALIni 10 Jurus Andalan Pemerintah, Hadapi.....
27/04/2018 | Yeni Muezza
article thumbnail

KOPI,  Jakarta - Pemerintah telah menetapkan 10 langkah prioritas nasional dalam upaya mengimplementasikan peta jalan Making Indonesia 4.0. Dari st [ ... ]



DAERAHRatusan Kepala Kampung SeKabupaten Jayaw.....
24/04/2018 | Wawan Setiawan

KOPI-Wamena, Plt. Bupati Kab. Jayawijaya Doren Wakerkwa, SH menerima lebih kurang 100 Orang Kepala Kampung se Kab. Jayawijaya dalam sebuah aksi demo d [ ... ]



PENDIDIKANSMK Telkom Pekanbaru Siapkan 100 unit K.....
25/04/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru - Pelaksanaan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Telkom Pekanbaru, tahun ajaran 2017-2018 meny [ ... ]



HANKAMTNI Memasak untuk Pengungsi Gempa Kalibe.....
23/04/2018 | Marsono Rh

KOPI - Banyaknya jumlah warga Kalibening Banjarnegara mengungsi membuat dapur umum yang didirikan di sejumlah lokasi harus bekerja ekstra keras untuk  [ ... ]



OLAHRAGAViral Medsos Rekaman Video Paspampres Ha.....
25/02/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Sebenarnya kegiatan ini bukan kegiatan kenegaraan. Kegiatan tersebut seremonial menyaksikan pertandingan Final antar dua kubu grup [ ... ]



PARIWISATAAston Luncurkan Minuman Anyar “Cocore.....
27/03/2018 | Buddy Wirawan
article thumbnail

KOPI, Bandung – Trend “nongkrong” atau berkumpul sudah menjadi gaya hidup anak muda maupun dewasa saat ini, mulai dari makan dan minum hingga  [ ... ]



OPINIMemperkuat Peran Tiga Pilar Utama Pendid.....
21/04/2018 | Harjoni Desky, S.Sos.I., M.Si

KOPI - “Pendidikan merupakan alat yang memiliki tenaga untuk mengubah dunia” ini salah satu mutiara terkait dengan pentingnya pendidikan. Dari ka [ ... ]



PROFILBrigjen Pol. Drs. H. Faisal Abdul Naser,.....
02/03/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

KOPI-Jakarta,Bila Kita perhatikan bahwa Bumi Aceh sangat subur sekali. Bahkan tanaman ganja tumbuh seperti rumput hijau di tanah. Bumi Aceh sangat sub [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAIkuti FLS2N Lampung Barat, SMPN 2 Bandar.....
22/04/2018 | Jamsi Martien

KOPI, Lampung Barat - Siswa/i SMP N Bandar Negeri Suoh juara 1 (satu) FLS2N Musik Tradisional di kabupaten Lampung Barat. Festival Lomba Seni Siswa Na [ ... ]



ROHANIGerakan Belajar dan Mengajar Al-Qur'an.....
04/04/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir
article thumbnail

KOPI, Jakarta - Sebagai daerah yang menganut sistem syariat Islam maka daerah Aceh banyak sekali terdapat tempat-tempat pendidikan belajar Alquran. U [ ... ]



RESENSIHeboh Buku Fire and Furry Ungkap “ D.....
05/01/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Washington DC- Heboh buku Fire and Fury ungkap “Dapur Gedung Putih” Menjelang Pemilu Pilres Amerika Serikat . Dilansir dari The Guardian, R [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto
article thumbnail

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIMenatap Rasa.....
07/06/2017 | Mas Ade

Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



CURAHAN HATIAnggota DPRD Riau Suhardiman Amby Di-OTT.....
09/04/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru – Operasi Tangkap Tangan (OTT) bukan milik Institusi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) saja. Para istripun melakukan aksi serupa,  [ ... ]



SERBA-SERBIKonsul Amerika Serikat Tertarik Lingkun.....
12/04/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

KOPI-Jakarta, Kawasan lingkungan alam perlu dilestarikan. Apalagi kawasan lingkungan hidup seperti di Gunung Leuser merupakan paru-paru dunia. Pad [ ... ]



Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.