Draf RUU Rahasia Negara Dinilai Tak Memenuhi Parameter Kerahasiaan

0
24

Pewarta-Indonesia, JAKARTA – Draf rancangan Undang-undang Rahasia Negara yang saat ini telah berada dipanitia kerja DPR RI dinilai tak layak disahkan. “RUU itu harus ditunda dibahas, harus dikaji ulang dulu,” kata Direktur Pacivis Universitas Indonesia Andi Widjojanto dalam sebuah diskusi Institut Studi Arus Informasi di Hotel Nikko, Jakarta, Rabu (5/8).

Menurut Andi, RUU tersebut tak memenuhi satu dari tiga parameter pembentukan undang-undang rahasia negara. Parameter yang tidak terpenuhi adalah kategorinya yang terlalu luas, sedangkan yang terpenuhi adalah prosedur dan governens. “Kategorinya tidak memenuhi syarat karena terlalu luas, seharusnya kan cukup informasi strategis saja,” ujarnya.

Pengkategorian rahasia negara dalam RUU ini sekarang masuk dalam pasal enam yang akan dibahas dalam panitia kerja Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Menurut anggota komisi satu DPR RI dari Partai Amanat Nasional Dedi Djamaludin, pembahasan di panitia kerja akan dimulai pekan depan. “Biasanya panja tertutup namun untuk RUU ini kami akan upayakan bisa terbuka,” ujarnya ditempat yang sama. Di DPR sendiri, lanjut Dedi, masih ada perbedaan pendapat tentang RUU ini. Namun pembahasan akan tetap dijalankan karena RUU ini memang diperlukan. “Hanya harus diperbaiki dan disempurnakan”.

Staf Khusus Kepresidenan Bidang Hukum, Denny Indrayana, memastikan bahwa presiden memperhatikan RUU ini. “Presiden menghormati proses di DPR, kalau bisa selesai dengan substansi yang baik, kalau tidak ya perbaikan lagi,” ujar kata Denny. Menurutnya mengundangkan RUU ini bukan berniat mengembalikan otoritarian di Indonesia, melainkan agar ditemukan keseimbangan. “Karena itu RUU ini harus disinkronkan dengan UU keterbukaan informasi publik”.

Soal keinginan kembali ke era otoriter, Andi mengatakan kemungkinan itu kecil. Namun memang terlihat ada niatan untuk menutupi banyak hal. “Itu bisa dilihat dari draf yang ada sekarang,” ujarnya. Proses legislasi RUU ini menurutnya juga tidak normal, dan terputus-putus. “Awalnya kan sandi negera, beberapa tahun masih sama, lalu menghilang, dan tiba-tiba muncul lagi sebagai RUU rahasia negara,” ujar Denny.  (tempo)

BAGIKAN
Berita sebelumyaMbah Surip Minta Keluarga Hibur Masyarakat
Berita berikutnyaFacebook Haram di Lingkungan Marinir
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.