Film 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta itu Solusi Pernikahan Beda Agama

0
27
Pewarta-Indonesia, “Di saat Indonesia menghadapi problem terkait soal toleransi, film produksi Mizan Productions ini menjawab keresahan tersebut. Ini nilai lebih yang membuat film ini layak ditonton semua kalangan dari berbagai agama dan etnik,” ungkap Bachtiar Effendy, Intelektual Muslim dalam diskui Film 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta bertajuk Merawat Keberagaman Indonesia di Cinema XXI, Pondok Indah Mall Jakarta, Sabtu, (10/7)

Menurut Muhammad Ja’far, panitia Diskusi Film menuturkan “Berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemuka agama Katolik, intelektual Muslim, aktivis sosial, budayawan, kritikus film, pengamat media, dan wartawan dari berbagai media menghadiri diskusi ini” tegasnya

Selain itu, juga diundang perwakilan dari berbagai Paroki, Remaja Masjid, serta ormas-ormas Katolik dan Islam hadir di tempat ini, tambahnya

Romo Benny Susetyo mewakili kelompok Katolik, Bachtiar Effendy, intelektual muslim, menjadi narasumber diskusi film ini dengan dipandu Ade Armando, pakar media dan kritikus film.

“Juga Reza Rahardian dan Laura Basuki sebagai pemeran utama pria dan wanita dalam film ikut menjadi pembicara” tegasnya.

Mengenai film 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta, ia menuturkan “Film ini berkisah tentang seorang lelaki muslim dan gadis Katolik yang jatuh cinta dan berencana untuk menikah. Namun, kedua orang tua mereka menentang keras. Orang tua mereka tidak setuju, karena menurut keyakinan yang dianut, menikah beda agama tidak legal, alias haram”

Kisah cinta lintas agama dan etnik bercerita tentang seorang pemuda keturunan Arab beragama Islam yang menjalin cinta dengan gadis Katolik etnik Menado. Hubungan keduanya tak mendapat restu dari orang tua masing-masing. Tapi, sepasang kekasih itu terus berusaha mencari jalan agar cinta mereka menyatu. “Pesan utama yang ingin diangkat dalam film ini tentang toleransi beragama dan kesadaran untuk menjaga keragaman etnik di Indonesia” tuturnya

Saat acara berlangsung sangat ramai dan mendapat antusiasme penonton yang memenuhi ruang studio 5 XXI berkapasitas 113 penonton. Apalagi pada waktu pemutaran film, sebagian penonton larut dalam kisah yang penuh romantika berbaur komedi tersebut. Sesekali penonton dibuat bergelak tawa disuguhi akting lucu Rosyid yang diperankan Reza. Namun, dilain sisi penonton juga hanyut melihat beberapa adegan dimana Delia (kekasih Rosyid, diperankan Laura Basuki) dan Rosyid merasa putus asa dan berusaha saling melupakan. “Penonton benar-benar hanyut dalam alur film” katanya

Ini dibenarkan oleh salah satu peserta mewakili remaja masjid memuji film yang dinilainya sangat segar dan berhasil membuat tema agama dan etnik jadi enak ditonton. “Padahal, biasanya film-film semacam itu cenderung membosankan” cetusnya

Bachtiar, mengakui bahwa tema yang diangkat dalam film 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta sangat strategis dengan problem aktual yang dihadapi Indonesia saat ini. Yaitu soal toleransi beragama dan keharmonisan etnik.

Film ini, bagi Bachtiar, benar-benar merefleksikan realitas sosial, keagamaan dan budaya yang ada di Indonesia saat ini.

Namun, ia memiliki dua catatan kritis terhadap film ini. Selain ending film yang dinilai kurang berani menyuguhkan solusi yang “berani”, Bachtiar melihat ada beberapa adegan yang melompat dan kurang tergambarkan secara utuh.

Bagi Romo Benny berpendapat ihwal film 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta patut diacungi jempol. Di tengah-tengah kecenderungan film Indonesia yang terseret arus komersialisasi, Mizan Productions berani menempuh jalur idealis dan prinsip. Masyarakat Indonesia membutuhkan pendidikan melalui media film. “Dan melalui film ini, Mizan Productions melakukan langkah itu. Film ini sangat mendidik dan pantas ditonton oleh semua kalangan,” paparnya

Meski menisbahkan ending yang dianggapnya kurang berani pada ketakutan-ketakutan warisan Orde Baru, Mohamad Sobary, memuji film ini sebagai salah satu film terbaik yang pernah ditontonnya.

Ia merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh para intelektual dan akademisi.

Menjawab ending film yang dinilai kaku, Putut Widjanarko, justru pada ending yang dirasa bersifat kompromistis itu terangkum pesan utama yang ingin disampaikan dari film tersebut. “Film 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta adalah tentang terbukanya berbagai alternatif solusi bagi persoalam pernikahan beda agama, dan bahwa jalan menuju kebahagiaan kehidupan perkawinan tidaklah tunggal” jelasnya

“Selain itu, Ending juga kami rancang sedemikian rupa, sehingga dapat menyajikan plot yang twisted dan mengejutkan penonton,” pungkasnya [Ibn Ghifarie]