IFFINA 2009: ASMINDO Kecewa, Dukungan Pemerintah Tidak Nyata!

0
54

Pewarta-Indonesia, Ketua ASMINDO, Ambar Cahyono merasa sangat kecewa terhadap sikap pemerintah yang tidak serius mendukung pertumbuhan industri mebel di Indonesia melalui IFFINA 2009 dan hanya gembar-gembor belaka tanpa realisasi nyata. Kekecewaan Ambar diungkapkan kepada wartawan pada jumpa pers, Jumat (13/3)  di Media Center, Pameran IFFINA 2009 di Arena Pekan Raya Jakarta.

 Ambar beralasan bahwa hingga hari ketiga pameran IFFINA 2009, tidak ada kontribusi yang rill dari pemerintah terkait dengan stimulan yang diharapkan Asmindo akan dapat membantu pertumbuhan industri furniture di Indonesia melalui IFFINA.

Menurut Ambar, ditengah perjuangan ASMINDO memajukan industri mebel Indonesia melalui IFFINA 2009 yang seharusnya mendapat dukungan penuh dari pemerintah, justru terhambat oleh adanya dikotomi dari pemerintah yang menganggap bahwa pekerjaan memajukan industri mebel Indonesia (melalui IFFINA) merupakan pekerjaan swasta.

“Dikotomi  yang dibangun pemerintah bahwa tanggung jawab untuk memajukan industri mebel Indonesia ada ditangan swasta ini yang harus kita hilangkan. Harusnya ini menjadi tanggung jawab bersama. Dan pemerintah memberikan kontribusi riil berupa dana stimulan untuk promosi dan kegiatan pameran semacam ini. Pemerintah harus membackup penuh pameran seperti ini, mendukung biaya promosi,  membiayai kedatangan semua buyer dari luar negeri.”

 “Menggerakkan semua kedutaan untuk berperan serta mengundang buyer, dan apabila terjadi transaksi dalam jumlah besar, negara juga akan mendulang devisa, industri di tanah air akan tumbuh, dan pengangguran akan terkurangi,” ungkap Ambar.

Lebih jauh menurut Ambar, IFFINA akan menciptakan multimplayer effect yang akan menggerakkan sektor perekonomian tidak hanya di Jakarta tetapi juga di daerah-daerah. “Dengan adanya IFFINA buyer akan datang, hotel dan restoran akan dipenuhi oleh mereka, setelah itu buyer akan pergi ke daerah dimana industri ini berasal dan disana terjadi transaksi sehingga roda perekonomian di daerah juga berjalan. Hal  seperti inilah yang harus dilihat dan dipahami oleh pemerintah.”

Kekecewaan Ambar akan minimnya dukungan pemerintah makin nyata ketika tidak ada satupun perwakilan dari pemerintah dan departemen terkait yang datang setelah acara pembukaan IFFINA 2009.

“Usai pembukaan mereka menghilang. Seharusnya mereka datang kemari (IFFINA 2009), melihat, menganalisa dan berdiskusi dengan kami untuk memberikan masukan dan solusi. Ini sama sekali tidak ada, dari departemen perdagangan, BPEN, BAPENAS, Depnaker dan departemen-departemen lainnya, sama sekali tidak ada,” tandas Ambar.

 “Pemerintah jangan hanya membantu dengan memberi doa lalu menjawab dengan amin. Stimulan yang digembar-gemborkan melalui media, seminar, dan diskusi hanya menyentuh jari-jari kecil, bukan menyentuh pada jantungnya langsung yaitu IFFINA. Sekali lagi saya tegaskan ASMINDO butuh langkah nyata secara financial untuk mendukung kebangkitan industri kreatif di tanah air,” tegas Ambar.

“Dalam perkembangan industri kreatif manusianya harus dimunculkan dan industri ini telah memunculkan pejuang-pejuang kreatif dari ASMINDO. Mereka berdarah-darah menuju kesini tanpa bantuan sepeserpun dari pihak manapun.  Dengan harapan untuk membuktikan bahwa industri mebel di Indonesia memang masih ada.”

Namun ditengah kekecewaannya terhadap pemerintah, Ambar juga merasa gembira melihat perkembangan pameran IFFINA 2009 yang mengalami kemajuan luar biasa. Pada hari ketiga, Jumat (13/3), sebanyak 1200 pengunjung dan 1000 trader hadir dalam pameran yang diikuti oleh 311 exhibitor dari ASMINDO dan luar negeri. 

ASMINDO berharap target 1500 pengunjung pada IFFINA 2009 yang  berlangsung selama lima hari (11-15 Maret 2009) di Arena Pekan Raja Jakarta akan tercapai. “Kemajuan ini tampak pada perkembangan stand, kualitas barang, dan keramah tamahan kita sebagai tuan rumah pameran furniture terbesar di Indonesia. Ini akan menjadi modal Asmindo kedepan,” kata Ambar.

 Hingga hari ini tercatat sudah 60 persen exhibitor terlibat kontrak dengan buyer, dan diharapkan target nilai transaksi 170 juta US dollar akan tercapai di akhir pameran IFFINA 2009.

“Tidak cuma 60 persen tetapi 100 persen peserta IFFINA 2009 mendapat kontrak, itu yang kita inginkan. Kita juga terbantu dengan kedatangan delegasi Uni Eropa dan UK-TTF kemarin yang membawa banyak buyer dari Eropa,” jelas Ambar.

Sebagai organisasi besar, ASMINDO memayungi industri yang menghidupi  lebih dari 11 juta tenaga kerja dari hulu ke hilir. Oleh karena itu kelangsungan hidup dan pertumbuhan industri ini sangat penting. Meskipun saat ini pertumbuhan pasar cenderung melambat, bukan berarti ASMINDO diam tetapi terus berpikir bagaimana mempercepat pertumbuhan pasar

”Kedepan ASMINDO melalui IFFINA akan menjadikan pameran ini menjadi yang terbaik di Asia. Tidak besar tetapi Small Sweet Beautifull dan membangun brand baru dari ASMINDO menjadi Asian Style Resources. Jadi tolong pemerintah mendengarkan keinginan kami dan segera mengambil langkah kongkrit,” pungkas Ambar. (kanomedia)