ILO/EAST: Minus Kesempatan Kerja di Aceh Tahun 2012

0
25

Pewarta-Indonesia, Tahun 2012 akan terjadi kesenjangan negatif antara kesempatan kerja dengan jumlah angkatan kerja. ILO/EAST bekerjasama dengan Aceh Institute mengadakan Survai Pasar Kerja (SPK). Tujuan dari SPK ini adalah untuk mengetahui berapa besar peluang pasar kerja di Aceh ke depan, kebijakan terkait yang menyangkut perluasan pasar kerja serta program pelatihan yang tersedia, serta kesenjangan antara lapangan kerja yang tersedia di masa mendatang, serta kecendrungan pasar kerja mendatang (labour market trend) di Aceh.

Pandji Putranto, Program Koordinator ILO-EAST untuk Aceh, mengatakan tujuan dari survai ini ialah untuk mengetahui kebutuhan pelatihan apa yang diperlukan bagi orang muda usia 15 – < 29 tahun. ILO/EAST, kata Pandji, merencanakan akan menindak lanjuti hasil survai dengan memberikan pelatihan ketrampilan kepada lebih dari 1.000 calon pekerja muda di 6 kabupaten/kota di Aceh yaitu di Banda Aceh, Aceh Besar, Sabang, Pidie, Lhokseumawe, dan Langsa.

”Program pelatihan yang akan dilaksanakan tersebut tidak semata-mata hanya berdasarkan kepada minat atau bakat dari para remaja (laki-laki dan perempuan), akan tetapi lebih berdasarkan pada kebutuhan pasar kerja dan wirausaha serta memenuhi kebutuhan rumah tangga atas barang dan jasa ke depan yang terdapat pada masyarakat dan daerah sekitarnya,” kata Pandji.

Pandji mengatakan, proses SPK ini dilakukan secara bertahap, dimulai dengan curah pendapat (brainstrorming) dengan melibatkan para pemangku kepentingan (stake holders), loka karya, wawancara dan focus group discussion (FGD); serta penyebaran kuestionair kepada responden di tiga kabupaten/kota yang dianggap sebagai pihak yang kompeten mengenai masalah ini, seperti pengusaha, karyawan senior, pengambil keputusan, serikat buruh, dan lain-lain. Rangkaian kegiatan ini diarahkan untuk mendapatkan gambaran tentang jenis pekerjaan apa yang akan banyak muncul pada masa yang akan datang.

Sedangkan untuk memprediksi jumlah kesempatan kerja secara keseluruhan digunakan data BPS, dan dianalisa menggunakan software statistic (SPSS) dan memakai peralatan regresi linier sederhana. Variabel dependentnya jumlah Kesempatan Kerja dan variable independentnya adalah Product Domestic Regional Bruto (PDRB) antara 2003 sampai dengan 2007.

Hasil sementara dari prediksi ini yang agak mengkhawatrikan, kata Pandji, ialah besarnya proyeksi kesenjangan negatif pada tahun 2012 antara kesempatan kerja (job opportunities) dengan jumlah angkatan kerja (incoming labour force) di tiga kabupaten/kota yang menjadi wilayah kajian SPK ini yaitu Kabupaten Aceh Besar, Pidie dan Kota Banda Aceh.

”Di kabupaten Aceh Besar, kesempatan kerja berbanding angkatan kerja adalah 176.154 : 216.036 (- 40.157 atau -23 %). Di Banda Aceh, 51.062 : 67.179 (-16.117 atau – 32 %). Sementara kecendrungan yang lebih tinggi ada di Kabupaten Pidie, termasuk Pidie Jaya, dimana perbandingannya adalah 118.984 : 397.214 (-278.231 atau – 234 %),” kata Pandji.

Menurut Pandji, dengan segala kekurangannya, bahwa SPK ini menyoroti kurangnya fasilitas pelatihan yang merujuk pada kebutuhan pasar kerja yang ada. Pelatihan ketrampilan yang ada pada umumnya telah dilaksanakan dan telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa mengalami perubahan berarti untuk dapat menjawab kebutuhan pasar kerja ke depan. Hal ini, kata Pandji, juga dikonfirmasikan oleh hasil asesmen pasar kerja di komunitas (community employment assessment) atau CEA di Aceh yang  telah dilaksanakan oleh Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Aceh Mei 2009, yang juga bekerjasma dengan ILO/EAST. Survey CEA yang mewawancarai 370 pengusaha/pemilik usaha dan masyarakat pengguna barang atau jasa ini menemukan kekurangan tenaga kerja yang terampil sebagai permasalahan terbesar yang dialami pengusaha atau pengguna tenaga kerja di 6 kabupaten/kota tersebut.

Kedua, dengan kapasitas dan kemampuan yang rendah, tenaga kerja tersebut nyatanya meminta upah dan tunjangan yang lebih banyak. Akibatnya banyak pengguna tenaga kerja di Aceh memilih untuk mendatangkan tenaga kerja dari luar Aceh. Hal ini menyebabkan tenaga kerja lokal kurang dapat diserap.

Survey CEA yang dilaksanakan PKPA dan 32 PKBM/BLK/SKB/CC ini juga menemukan bahwa kebutuhan pasar kerja bagi orang muda di 6 kabupaten/kota di Aceh didominasi oleh sektor jasa sebanyak 61,08 persen terdiri dari jasa perbaikan barang elektronik, menjahit dan bordir, perbengkelan dan las, salon kecantikan dan pertukangan (meubel dan furniture). Sektor berikutnya adalah perdagangan sebanyak 13,51 persen, sektor pertanian sebanyak 5,68 persen, serta beberapa sektor lain seperti perikanan dan kelautan dan peternakan.

Menurut Pandji, ke depan, pembangunan ekonomi di Aceh masih tetap didorong oleh sumber daya alam, sementara dari hasil SPK, ternyata kesempatan kerja yang tersedia, lebih banyak didominasi oleh sektor jasa dan perdagangan (52 %). SPK juga merujuk pada sedikitnya realisasi berbagai kesepakatan investasi yang selama tiga tahun belakangan ini didengungkan, dari 40 MOU, hampir tidak ada yang terealisir.

”Apa yang dilakukan oleh Survai Pasar Kerja (SPK) ini bukanlah ditujukan untuk mengeritik secara terbuka berbagai pihak terkait, atau untuk menimbulkan keresahan bagi masyarakat luas. Namun survai ini lebih diperuntukkan agar berbagai pihak, khususnya para pemangku kepentingan (stake holders) dapat lebih waspada dan dapat melakukan berbagai kebijakan untuk mengintervensi dan mencegah berbagai kemungkinan negatif yang akan terjadi dikemudian hari,” tambah Pandji.