JOTHI Selenggarakan Workshop Nasional Treatment Summit

0
29

Pewarta-Indonesia, Jakarta (21/12) – JOTHI (Jaringan Orang Terinfeksi HIV) bekerjasama dengan APN+ (Asia Pacific Network for People Living with HIV/AIDS melaksanakan workshop nasional mulai hari ini, 21 sampai dengan 23 Desember 2009 di Jakarta. Acara yang dibuka oleh Koordinator nasional JOTHI, Bapak Abdulah Denovan yang dihadiri oleh Prof. Irwanto dari LPA ATMA JAYA, sebagai peneliti senior HIV/AIDS, juga dari PBHI, Jhonson Panjaitan sebagai Praktisi Hukum dan beberapa fasilitator dari jaringan populasi kunci dari 14 provinsi, yang bernaung dibawah KPA (Komisi Penanggulangan HIV/AIDS), dan juga dari NGO luar negri yaitu, satu perwakilan dari India dan satu perwakilan dari Malaysia.

National Coordinator untuk workshop nasional ini, Abdulah Denovan yang juga Koordinator Nasional Jaringan Orang Terinfeksi HIV/AIDS dalam sambutannya menyampaikan Kegiatan ‘Treatment Summit” ini diharapkan bisa memberikan dampak yang sangat besar terhadap akses layanan kesehatan yang terkait dengan HIV/AIDS bagi penasun, yang terinfeksi HIV di Indonesia. Adapun masih banyaknya masalah-maslah seperti stigma dan diskriminasi, kemiskinan, kriminalisasi kepada penggunan NAPZA. Terbatasnya fasilitas layanan terapi antiroviral dan kurangnya tersedianya ahli kesehatan yang terlatih untuk pengobatan HIV. Meski berbagai penelitian telah menghasilkan kerangka kerja dalam memahami dan mengatasi berbagai hambatan yang muncul dari isu gender, seksualitas, ketenaga kerjaan dan status sosial pengguna NAPZA, dalam penyediaan layanan pengobatan, perawatan dan dukungan bagi komunitas yang termarjinal terhadap akses layanan inti terkait HIV tetap rendah.

Hasil Survey dan penelitian berbasis jaringan, yang dilakukan pada tahun 2008 oleh Asia Pacific Network of People Living Whit HIV/AIDS. Yang mempelajari beberapa pengalaman para perempuan, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki dan laki-laki/ transgender (LSL/Waria) serta pengguna NAPZA suntikan (PENASUN) yang hidup dengan HIV, dalam mengakses layanan ARV dan layanan kesehatan terkait-HIV lainnya. Penelitian yang melibatkan lebih dari 3000 orang dengan HIV dari sepuluh Negara Asia. Dan lebih spesifik lagi penelitian tersebut juga mempelajari hubungan antara orang-orang HIV dengan organisasi yang menyediakan dukungan terhadap orang-orang HIV, seperti layanan koseling dan testing HIV, kepatuhan pengobatan ARV, pengobatan infeksi opurtunistik, selain juga mempelajari sikap para penyedia layanan kesehatan kepada kelompok-kelompok termarjinalisasi.

Dalam temuan hasil survey yaitu, isu-isu yang terkait instalasi dan kepatuhan pengobatan ARV. Hampir separuh (52.5%) penasun yang hidup dengan HIV membutuhkan pengobatan ARV. Dari jumlah ini hanya sekitar 65.4% yang menjalani pengobatan ARV. Juga isu-isu yang terkait dengan penyediaan layanan kesehatan. Diantara kebanyakan peserta (86%), menbuka status pengguna NAPZA mereka kepada penyedia layanan kesehatan hampir atau (45%) atau separuhnya melaporkan layanan kesehatan mereka memiliki sikap netral atau bahkan ramah dan terbuka terhadap para penasun. Namun beberapa orang(8%), melaporkan pernah ditolak oleh penyedia layanan kesehatan. Dari hasil penelitian ini yang dilakukan oleh APN+, memberikan rekomendasi yaitu berupa;

1. Disediakannya pendidikan tentang pengobatan, (termasuk ARV, IO, dan HCP) dan pendidikan hukum serta hak asasi manusia untuk semua penasun yang terinfeksi HIV.

2. Mengatasi stigma dan diskriminasi yang dihadapi oleh penasun yang terinfeksi HIV, dengan menerapkan kebijakan anti-diskriminasi ditempat-tempat layanan kesehatan dan tempat kerja, serta melalui pelatihan untuk tenaga kesehatan.

3. Mengatasi hambatan perorangan dalam memulai pengobatan ARV seperti ketakutan terhadap efek samping dan fatalisme.

4. Mengembangkan mekanisme untuk menyediakan tes diagnostik yang terjangkau atau tanpa biaya (CD4, Viral load, tes HBC/HCV, tes fungsi liver dan ginjal, dll) serta semua pengobatan IO yang diperlukan dirumah sakit umu.

5. Mengembangkan rencana dan mobilisasi sumber daya untuk menyediakan pengobatan ARV lini kedua dan pengobatan ko-infeksi HCV/HBV, bagi orang-orang HIV.

6. Mengaitkan para pengguna NAPZA aktif yang terinfeksi HIV dengan program-program terapi rumatan metadon untuk membantu mereka melalui dan patuh pada pengibatan ARV.

7. Mendukung jaringan-jaringan orang terinfeksi HIV dan penasun dalam memulai program income generation yang sustainable.

8. Mengembangkan dan menerapkan kebijakan nasional dan rencana aksi nasional untuk memastikan akses untuk pengobatan ARV tersedia bagi seluruh komunitas yang termarjinalkan, termasuk penasun.

9. Melibatkan kelompok-kelompok penasun dan jaringan orang yang terinfeksi HIV di semua tingkat pembuat kebijakan untuk  memastikan bahwa dan keahlian mereka digunakan secara efektif dalam memonitor dan mengevaluasi peningkatan dan perluasa program ARV dan layanan pengobatan lainnya.

Dari hasil rekomendasi survey ini, sehingga pada tahun 2010 nanti melalui aksi nasional yang di tetapkan oleh KPA, maka bagi para orang-orang yang terinfeksi HIV/AIDS juga para penasun, mendapat akses layanan kesehatan yang lebih baik juga terhadap ketersediaan obat-obatan yang mendapat subsidi mencapai 100% dari world bank dan global fund. Demikialan paparan yang disampaikan oleh Abdulah Denovan, acara workshop nasional ini yang juga di hadir oleh sekretaris KPAN, DR. Nafsiah Mboi, Spa.