Kongres Nasional Tokoh Agama III; Bentuk Karakter Bangsa

0
22
Pewarta-Indonesia, Kongres Nasional Tokoh Agama III di Hotel Mercure Convention Centre Ancol Jakarta, 9-11 Juni 2010 yang bertajuk “Kongres Umat Beragama untuk Memantapkan Etika Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara” telah berakhir.

Perlunya dilakukan revolusi mental, berupa perubahan mendasar atas pranata, lembaga, dan kebijakan publik yang berlandaskan kepatutan etika, moral, dan akal sehat dengan mengimplementasikan nilai-nilai agama dalam perilaku sehari-hari menjadi seruan penting bagi keberlangsungan bangsa.

 

“Diserukan kepada seluruh komponen masyarakat, terutama para pemimpinnya, segera melakukan langkah nyata untuk terus-menerus menegakkan kedaulatan moral sebagai ruh dari kedaulatan rakyat, kata Abdullah Fattah, Ketua Pusat Kerukunan Umat Beragama.

Semuanya dilakukan untuk mengembalikan nilai-nilai luhur sebagai pendorong tercapainya kemajuan dalam setiap segi kehidupan.

“Kami tokoh-tokoh agama memiliki tanggungjawab untuk terjadinya langkah-langkah yang nyata agar proses penggerusan itu berhenti dengan menjadikan agama menjadi sumber moralitas, etik, dan spiritualitas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” paparnya. (bumnwatch, 11/06)

Ikhtiar para pemuka agama ini guna membentuk karakter bangsa. Mengingat, peran edukasi yang memiliki makna utuh sangat penting dimiliki para petinggi agama-agama. Ini diamini oleh Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional.

Peranan pencerahan, dan membangun nilai kemanusiaan menjadi tugas utama para pemuka agama yang tak bisa dibantah.

Paling tidak, ada lima pilar dari tokoh agama yang diharapkan dapat lahir melalui kongres nasional tokoh agama III, diantaranya; Pertama, pola pikir berpengetahuan; Kedua, pola pikir mengombinasikan disiplin ilmu; Ketiga, pola pikir dengan kreatif (istihaj); Keempat, pola pikir saling menghormati; Kelima, menghargai dan pola pikir atas etika, jelasnya.

Mendiknas berharap dari kongres ini para tokoh agama dapat meningkatkan silaturahmi. Sebab, harus diyakini bahwa kongres ini sangat berarti bagi kehidupan berbangsa ke depan. “Kongres ini paling aman, tak perlu diwaspadai, seperti perselisihan,” tegasnya

Namun, ada yang unik saat berlangsung Kongres ini. Menteri Agama Suryadharma Ali sempat menyinggung beredarnya video porno artis lokal. Meski tak membicarakannya sampai detail.

Menurutnya, seharusnya para artis dapat memberi contoh keteladanan bagi para idolanya, bukan malah sebaliknya merusak moral bangsa.

Pasalnya,  keteladanan sangat penting di tengah anak bangsa yang tengah mengalami degradasi etika. “Penguatan etika sangat penting dalam membentuk karakter bangsa ke depan,” tegasnya.

Ingat, peneguhan karakter bangsa bukan semata tugas Kementerian Agama, melainkan pemangku kepentingan lain juga harus ikut terlibat di dalamnya. (Metro TV, 10/06)

Pembentukan karakter bangsa diharapkan menjawab segala persoalan kebangsaan yang tengah dilanda dekadensi moral akut.

Bagi Hasyim Muzadi, memudarnya sikap budi pekerti ini memang banyak faktor yang mempengaruhinya. Karena itu, penyembuhannya tidak dapat dibebankan pada salah satu sektor, misalnya pada tokoh-tokoh agama.

Semoga dengan adanya Kongres Tokoh Agama dapat diperoleh solusi yang tepat untuk mengatasi krisis moralitas bangsa kita, ungkap Romo Yohanes Pujo Sumarto Sekjen Kongres Waligereja Indonesia (KWI). (pro3rri, 10/06)

Keterlibatan semua pihak akan memperkuat mewujudnya karakter bangsa (nilai etika dan moral) sebagai agent of social change (agen perubahan sosial) dapat dianut masyarakat Bumi Pertiwi ini. Semoga. [Ibn Ghifarie]