Prita Menangis Bacakan Pembelaan

0
28

Pewarta-Indonesia, TANGERANG – Prita Mulyasari menangis saat membacakan pembelaan setebal delapan halaman, pada persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Banten, Kamis (11/6) yang dipimpin hakim Karel Tuffu SH.

Dalam pembelaan atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rahma Utami SH itu, perempuan 32 tahun itu tak kuasa membendung air mata sehingga pembacaan sempat tertunda beberapa saat.

Pembelaan berjudul “Galau” itu merupakan ungkapan perasaan yang selama ini dipendam akibat dipenjara selama 21 hari di LP Wanita Tangerang.

Pada awal pembelaan Prita menyebutkan, “Aku orang awam akan hukum tapi aku tidak mau melanggar hukum, bagiku pengertian hukum adalah tidak melanggar hak orang lain.”

Menurut Prita, bahwa ketika masuk Rumah sakit (RS) Kamis, 7 Agustus 2008, dengan cekatan dokter memeriksa kesehatan, darah disedot untuk pemeriksaan laboratorium, kemudian dokter Indah Prameswari menginformasikan secara lisan bahwa trombosit 27 ribu, dan diagnosa gejala Demam Bedarah Dengue (DBD).

Prita didakwa oleh JPU karena mencemarkan nama baik melalui surat elektronik (e-mail) kepada rekannya atas pelayanan RS Omni Internasional, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten sehingga dianggap melawan hukum dan bertentangan dengan UU Nomor 11/ 2008 Tentang Informasi Transaksi Elekronika (ITE).

Di hadapan kuasa hukum OC Kaligis SH, Prita berulangkali menyeka air matanya dan mempertanyakan rekam medis kepada manajemen RS, namun tidak diperoleh dengan baik dan malahan diabaikan begitu saja.

Padahal, katanya, dirinya sudah ngotot meminta rekam medis secara lengkap selama perawatan di RS Omni mulai masuk 7 Agustus 2008 pukul 20.30 WIB hingga tanggal 12 Agustus 2008.

“Meski sudah dipaksa meminta rekam medis namun manajemen selalu mengelak dengan beragam alasan,” kata ibu dua anak yang masih balita dan istri dari Andry Nugroho itu.

Prita juga mempertanyakan, apakah salah menyatakan bahwa pihak rumah sakit telah berbohong dengan memberikan dua keterangan yang berbeda menyangkut trombosit. Sedangkan pernyataan lisan dokter, katanya trobosit sebesar 27.000 sedangkan keterangan tertulis 181.000, mana yang benar, bahwa masalah kesehatan adalah menyangkut nyawa manusia.

Sidang di PN Tangerang itu akan dilanjutkan Kamis (18/6) pekan depan untuk mendengarkan jawaban JPU.(**)