RICHA, Gadis Magetan Korban Jatuhnya Pesawat Yemenia di Samudera India

0
34

Pewarta-Indonesia, MAGETAN – Ada warga Indonesia yang ikut menjadi korban jatuhnya pesawat Yemenia di Samudera India Selasa lalu (30/6). Dia adalah Richa Dwiyana Margareta, warga Desa Duyung, Kecamatan Takeran, Magetan. Ibunya yang menjadi TKW (tenaga kerja wanita) di Hongkong, berharap sang putri masih hidup meski kemungkinannya kecil sekali.

UMUR Richa baru 21 tahun. Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Suyono dan Dwi Nuryanti. Sejak berumur 11 tahun, dia ditinggal ibunya bekerja di Hongkong. Selanjutnya, dia diasuh kakek dan neneknya.

Suharto, paman Richa, menceritakan, keluarga besar di Duyung terus memantau perkembangan kecelakaan pesawat Yemenia lewat koran dan televisi. Hanya, kabar yang datang masih simpang siur. Ada yang menyatakan Richa selamat, yang lain menyebutkan telah meninggal. ”Kabar dari maskapai malam itu menyatakan, salah seorang pramugari (pesawat yang celaka) adalah Richa,” ujar guru SMP Negeri 1 Takeran tersebut.

Kemarin Radar Madiun (Jawa Pos Group) mengunjungi rumah keluarga Richa di Desa Duyung. Rumah sederhana itu tampak sepi. Ayah Richa sudah berada di Jakarta untuk mencari tahu kepastian nasib putrinya.

”Seminggu lalu Richa mengabari Citra (kakak kandungnya) dan pamit hendak terbang,” tutur Tri Wahyuni, salah satu kerabat Richa.

Bahkan, tiga bulan lalu Richa pulang ke Duyung untuk mengambil cuti sebulan. Selama di rumah, gadis yang dikenal pendiam itu jarang pergi jauh. ”Ketika cuti itu Richa juga sempat bilang sebentar lagi pulang. Tapi, pulang karena alasan apa, kami tidak tahu,” ungkap Suharto.

Paman Richa lainnya, Agus Riyanto, menuturkan, Ditjen Perlindungan Hukum WNI Deplu belum memastikan nasib keponakannya tersebut saat dikonfirmasi. ”Kami berharap Richa selamat. Kalau toh meninggal, kami minta agar Deplu dan maskapai Yemenia mengurus kepulangan jenazahnya,” katanya.

Anggota DPRD Kabupaten Magetan yang juga adik kandung Dwi Nuryanti, ibu Richa, itu lantas menyebutkan, pihak keluarga sudah mengonfirmasi kabar keponakannya itu ke perwakilan Yemenia di Indonesia yang berkantor di kawasan H.R. Rasuna Said, Jakarta.

”Perwakilan Yemenia bilang masih berkoordinasi dengan perwakilan di Komoro. Mudah-mudahan Richa selamat,” ujar Agus.

Kadiman, pakde Richa, ketika ditemui di rumahnya mengatakan, sejak kecil keponakannya itu memang berbeda dari dua saudaranya. “Dia punya keinginan kuat menjadi pramugari,” cerita Kadiman.

Berdasar informasi, Richa menjadi pramugari setelah mendaftar melalui sebuah lembaga di Kota Madiun yang bekerja sama dengan salah satu sekolah kejuruan. Dia sempat menjadi salah satu model dalam leaflet sebuah sekolah pramugari di Jogja.

”Waktu itu salah seorang guru (di SMAN 6 Kota Madiun, tempat sekolah Richa) tahu bahwa Richa menjadi model pramugari di selebaran. Selebaran tersebut sempat dibagikan di sekolah kami. Semua tahu model itu adalah Richa,” tutur salah seorang guru di SMAN 6 Kota Madiun.

Di mata teman dan gurunya di SMA, Richa dikenal sebagai sosok pendiam dan tak banyak tingkah. ”Anaknya manis dan anteng. Dia itu pendiam serta tingkah lakunya sopan,” ujar Enggar Widiastuti, guru Richa di kelas X, kepada koran ini kemarin (1/7).

Di SMAN 6, Richa masuk pada tahun ajaran 2003/2004. Ketika naik kelas XI, dia mengambil jurusan IPS. Dari catatan rapor dalam buku induk, cewek kelahiran 31 Maret 1988 itu tergolong siswi yang berprestasi.

Saat kelas X semester I, dia meraih peringkat 11 dan di semester II turun dua setrip ke peringkat 13. Prestasinya kian meningkat ketika naik kelas XI.

”Untuk pelajaran bahasa Inggris, dia juga menonjol,” kata Budiyono, guru bahasa Inggris Richa di kelas XII.

Kalangan guru di SMAN 6 mengaku tidak menyangka bahwa Richa ikut menjadi korban kecelakaan pesawat Yemenia di Samudera India. Mereka tahunya hanya ada satu WNI yang menjadi pramugari burung besi nahas tersebut.

Budiyono dan sejumlah guru juga mengaku merinding ketika dikabari koran ini soal musibah yang dialami Richa. Bersama koran ini, beberapa guru sekolah di Jl Nuhud Nosingo itu silih berganti melihat foto Richa di buku induk. Sembari mengingat-ingat sosok alumnus 2006 yang menjadi pramugari maskapai Yemenia, mereka berharap Richa selamat dari kecelakaan itu.

”Richa memang pantas menjadi pramugari. Dari sisi penampilan, posturnya memang cukup tinggi. Performance-nya juga mendukung. Apalagi, bahasa Inggrisnya cukup bagus,” terang Enggar.

Di bagian lain, hingga kemarin, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Sana’a, Yaman, belum bisa memastikan kondisi Richa. Nasib gadis asal Magetan itu hingga kini masih simpang siur.

”Kami belum bisa memastikan karena baru nanti malam (dini hari tadi, Red) ada pertemuan dengan maskapai Yemenia,” ujar Pelaksana Fungsi Konsuler KBRI Yaman Sunani Ali Asrori ketika dihubungi Jawa Pos kemarin petang (1/7).

Berdasar laporan sementara, musibah itu diperkirakan menewaskan 152 orang, termasuk 11 awak. Hanya seorang penumpang yang dipastikan selamat dan saat ini dirawat di rumah sakit Moroni, Komoro.

Menurut dia, Richa bukanlah sosok yang asing di kalangan KBRI Yaman. Sejumlah staf mengenal dia sebagai sosok yang periang. ”Kami juga turut berduka dan berdoa semoga ada kabar baik dari pertemuan nanti,” ungkapnya.

Deplu juga belum memastikan apakah pramugari Indonesia itu meninggal. Sebab, Richa dilaporkan belum ditemukan. ”Pencarian juga terus berjalan,” tegas Juru Bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) Teuku Faizasyah kemarin.

Pemerintah melalui KBRI Yaman terus membangun komunikasi dengan maskapai penerbangan Yemenia. Berdasar keterangan yang diperoleh Deplu, sudah puluhan korban yang ditemukan dalam kecelakaan pesawat tersebut. ”Tapi, belum termasuk Richa,” katanya.

Menurut Faiza, Deplu belum bisa bertindak lebih jauh karena Richa belum ditemukan. Meski demikian, Deplu akan menjadi fasilitator terkait pemulangan WNI yang menjadi korban hingga tiba di kampung halaman. Deplu juga sudah memberitahukan berita duka itu kepada keluarga korban.

Dia menjelaskan, kompensasi untuk korban merupakan tanggung jawab maskapai sepenuhnya. Namun, Deplu akan terus mengawal hingga korban mendapatkan hak-haknya secara penuh. ”Saat ini kami juga sedang memproses upaya memberangkatkan keluarga korban ke Komoro untuk memantau di crisis center,” ungkapnya. (**)

Sumber teks: JPNN 

BAGIKAN
Berita sebelumyaWaspadai Teror Noordin M. Top Saat Pilpres
Berita berikutnyaCandi Peninggalan Sejarah di Sumatera Utara
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.