Status Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga

0
20

Pewarta-Indonesia, SERANG – Status Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda hingga saat ini masih siaga atau level III sehingga masyarakat sekitar tetap diminta waspada.“Sampai saat ini pengunjung dan warga hanya diperbolehkan berada dalam radius dua kilometer dari titik letusan,” kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten Anton Prambudi, Sabtu kemarin.

Anton mengatakan, sejak 6 Mei 2009 status gunung itu dinaikkan dari waspada atau level II menjadi siaga atau level III, kini kondisi Gunung Anak Krakatau berbahaya karena mengeluarkan lava pijar berupa batu dan kerikil yang suhunya berkisar 600-1.000 derajat Celcius.Oleh karena itu, hingga saat ini Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung memeberikan rekomendasi bahwa daerah aman berada dua kilometer dari titik letusan gunung berapi yang berada di perairan Selat Sunda.

“Saya mengimbau kepada pengunjung dan nelayan agar tidak medekati Anak Krakatau karena khawatir terkena lava pijar,” ujarnya.Menurut dia, aktiviats kegempaan Gunung Anak Krakatau sepanjang Sabtu ini mengalami penurunan dibandingkan dua hari lalu.Saat ini, kegempaan mencapai 981 kali terdiri atas vulkanik dangkal sebanyak 116 kali, letusan 455 kali, tremor 274 kali, dan embusan 136 kali. Sementara kegempaan vulkanik Gunung Anak Krakata, Jumat (19/6) sebanyakl 1.257 kali yakni vulkanik dangkal 157, tremor 377, letusan 452 dan embusan 271 kali.

Meskipun kegempaan mengalami penurunan, tetapi pihaknya tetap siaga mengingat terjadi peningkatan jumlah letusan dibanding dua hari yang lalu.Untuk itu, tim pemantau tetap siaga serta saling berkoordinasi dengan tim lain yang ada di Banten, untuk saling memberikan informasi. Sementara itu, saat ini kondisi Gunung Anak Krakatau masih diselimuti kabut tebal sehingga sulit mendeteksi secara visual.“Saya berharap pengunjung dan nelayan tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau karena masih membahayakan keselamatan,” katanya.(**)

 

Sumber teks: Antara