Keriuhan (yang Gagal?) di Stasiun Kota Pada Malam Minggu

0
45

Pewarta-Indonesia, Apa hubungannya Stasiun Kota dengan musik trance? Tidak ada, sampai pada Sabtu malam (18/4), sebuah produsen rokok impor menggelar rave party dengan tema Trail Hunt di tempat itu. Ribuan partygoers tumplek menjadi satu di area stasiun yang malam itu tampak seperti sebuah diskotik bertema vintage.

Gaung acara ini sebenarnya tidak terlalu berhembus kencang. Tidak heran, mengingat acara ini sengaja tidak dipublikasikan secara umum. Hanya sebatas billboard yang menyatakan bahwa sebuah party akan diselenggarakan oleh sebuah produsen rokok ternama. Untuk keterangan lebih lanjut, para clubbers diharapkan melihat info lebih lanjut di situs ravelex.net. Jangankan nama DJ yang akan bermain, tempat acaranya saja tidak diberitahukan dalam billboard tersebut.

Berharap sesuatu yang sensasional, begitulah mungkin harapan pihak penyelenggara. Pemilihan tempat yang nyeleneh untuk rave party seperti Stasiun Kota menandakan harapan tersebut. Kurang lebih 100 polisi tdengan pakaian preman dikerahkan untuk mengamankan party di tempat yang terhitung “kandang macan” tersebut. Begitu juga dengan valet parking dadakan yang sengaja diadakan oleh pihak panitia.

Konsep yang lain daripada yang lain ini juga dapat dirasakan pada acara konferensi pers yang digelar siang harinya. Para wartawan dari berbagai media dikumpulkan di Stasiun Dukuh Atas. Dari sana, para kuli tinta dihentarkan ke Stasiun Kota melalui KRL eksekutif yang sengaja disewa untuk helatan ini. Di atas kereta, berbagai penganan ringan disajikan. Tidak lupa games untuk mengisi waktu dalam perjalanan.

Sebuah ruangan dalam Stasiun yang juga dikenal dengan nama Beos ini disulap menjadi ruang konferensi pers. Sesi tanya-jawab ini diakhiri dengan ramah tamah bersama. Selesai mencicipi beberapa hidangan, para wartawan dikembalikan lagi ke Stasiun Dukuh Atas dengan kereta yang sama.
Berbagai fasilitas dan keunikan yang dirasakan siang itu seperti menjanjikan sebuah acara party yang sensasional.

Tapi…..
Mendadak segala gambaran yang memukau mengenai acara ini musnah begitu memasuk arena pesta pada malam harinya. Tata ruang dan bentuk Stasiun Kota dengan langit-langit yang tinggi membuat akustik ruang venue itu sangat buruk. Tak pelak lagi, suara dari soundsystem berdaya besar di sana mental kemana-mana. Bentuk lorong Stasiun Kota yang memanjang ke belakang membuat suara dari soundsystem tidak mampu mencapai ujung venue. Walhasil, hanya mereka yang berdiri di depan DJ Booth saja yang bisa merasakan dentuman bass yang berulang.

Kondisi yang sedemikian diperparah oleh DJ Mike Shiver dari Swedia yang khusus didatangkan untuk acara itu. Entrance fenomenalnya dengan mengendarai kereta api lengkap dengan seragam masinis, berjalan melewati peron terus hingga DJ booth ternyata hanya pemanis belaka. Musik yang ia mainkan malam itu kurang dari yang diharapkan. Tidak sanggupnya ia menjaga tensi dan hype dari crowd yang tercipta karena terlalu cepatnya ia mengganti lagu menyebabkan banyak clubbers yang hadir kesal. Pemandangan yang terlihat pun adalah sang DJ asyik sendiri dengan lagunya sedangkan para pedansa di bawahnya diam tak bergeming.

Tak heran, waktu masih menunjukkan jam 02.00, tetapi beberapa partygoers sudah beranjak dari tempatnya dan beralih ke tempat lain.

Eksekusi yang buruk untuk sebuah acara dengan konsep yang unik. Menurut pihak penyelenggara, acara serupa akan digelar lagi di Bandara Juanda, Surabaya (2/5) dan Pantai Festival, Ancol (16/5). Rasanya, banyak PR yang harus dibenahi oleh pihak penyelenggara agar party ini berjalan dengan seharusnya.(**)