Obat Dosis Tinggi Bunuh Jacko, Polisi Buru Dokter Pribadi

0
40

Pewarta-Indonesia, LOS ANGELES – Misteri masih menyelimuti kematian mendadak Michael Jackson. Meski tim medis Ronald Reagan UCLA Medical Center menyebutkan bahwa cardiac arrest (gagal jantung akibat sirkulasi darah berhenti tiba-tiba) sebagai penyebab resmi kematian penyanyi yang dijuluki Jacko pada Jumat (26/6) pagi WIB, hingga kemarin (27/6) polisi masih menelusuri kemungkinan penyebab lain.

“Tim otopsi tidak menemukan bukti trauma eksternal atau ketidakwajaran pada jasad Jackson,” terang Jubir Divisi Koroner Los Angeles County Craig Harvey seperti dikutip Agence France-Presse kemarin (27/6). Namun, diduga ada pengaruh obat dalam kematian selebriti 50 tahun itu. Sebab, mendekati akhir hidupnya, dia dikabarkan mengonsumsi beberapa jenis obat setiap hari.

Karena itu, tim koroner masih enggan membeberkan hasil penyelidikan dan memilih menunggu hasil uji toxic lengkap. Menurut Harvey, hasil uji toxic lengkap baru bisa diketahui empat atau enam pekan lagi. Dengan demikian, penyebab pasti kematian King of Pop itu masih akan menjadi misteri hingga beberapa pekan mendatang.

Namun, dalam sebuah wawancara dengan CNN, guru Deepak Chopra dengan tegas menyatakan bahwa Jacko meninggal karena obat-obatan yang dia konsumsi. ”Saya rasa, obat telah membunuh dia,” ujar perempuan kepercayaan Jacko yang juga seorang ahli jantung andal tersebut. Dugaan senada juga diungkapkan mantan pengacara keluarga Jackson, Brian Oxman, beberapa saat setelah Jacko dinyatakan meninggal. Dia juga sempat menyampaikan kekhawatirannya itu kepada keluarga sang superstar.

Dalam program Today yang ditayangkan stasiun televisi NBC, Oxman menerangkan bahwa Jacko mulai mendapatkan obat-obatan dengan resep dokter sebelum 2005. Yakni, setelah Jacko mengalami patah kaki dan tulang belakang karena jatuh dari panggung dalam salah satu konser. ”Saya pernah meramalkan tragedi ini akan terjadi. Setelah Anna Nicole Smith meninggal, saya juga memperingatkan keluarga untuk mencegah hal yang sama terjadi pada Michael Jackson. Tapi, inilah yang terjadi sekarang,” sesalnya.

Media-media Amerika Serikat (AS) melaporkan bahwa satu jam sebelum dinyatakan meninggal, Jacko sempat diberi suntikan Demerol. Jenis obat keras tersebut juga sempat disita polisi dari kediaman pelantun tembang Black or White itu pada 2005. Tepatnya saat dia didakwa melakukan pelecehan seksual kepada seorang bocah laki-laki. Tapi, ikon musik dunia yang merintis karir dari The Jackson Five itu dinyatakan tidak bersalah dan bebas dari segala tuduhan.

Selain Demerol, saat itu polisi menyita sejumlah obat keras lain yang hanya bisa dibeli dengan resep dokter. Sebagian besar di antaranya adalah antibiotik. Resep yang ditemukan di tempat tinggal Jacko di Neverland itu menggunakan beberapa nama berbeda. Kepada Associated Press, seorang pakar farmasi AS menyatakan, Demerol bukan obat yang bisa diberikan secara sembarangan. Obat itu juga tidak bisa dikonsumsi bersamaan dengan obat-obat tertentu karena bisa menyebabkan cardiac arrest dan napas terhenti.

Media-media AS juga melaporkan bahwa tingkat ketergantungan Jacko terhadap obat sangat tinggi. Fatalnya, jenis obat yang dia konsumsi itu termasuk obat keras. TMZ, media AS, menuliskan, Jacko mengonsumsi tiga obat pereda rasa sakit sekaligus tiap hari. Yaitu, satu suntikan Demerol serta dua pil pereda sakit, Dilaudid dan Vicodin. Parahnya, tiga obat itu tidak seharusnya dikonsumsi secara bersamaan. Sebab, ketiga obat itu tidak boleh dikombinasikan dengan obat lain. Selain itu, Jacko mengonsumsi obat keras lain, yakni Soma, Xanax, Zoloft, Paxil, dan Prilosec.

Selain obat, perhatian dunia seputar kematian mendadak Jacko mengarah kepada dokter pribadi dia, Conrad Robert Murray. Kemarin (27/6) Kepolisian Los Angeles (LAPD) masih mencari dokter itu yang diidentifikasi sebagai orang terakhir yang bertemu dengan Jacko sebelum dia tidak sadarkan diri dan akhirnya meninggal. ”Penyelidik kami sempat bertemu dengan dia dan melakukan wawancara singkat Kamis (25/6). Tapi, kami masih butuh mewawancari dia lebih lanjut,” ujar Wakil Kepala Polisi Charlie Beck.

Dalam wawancara lanjutan nanti, LAPD akan membahas sejumlah pertanyaan penting yang belum terjawab seputar kematian Jacko. ”Kami berharap, dia bisa memberikan petunjuk kepada kami dalam mengungkap misteri kematian ini,” imbuh Beck. Los Angeles Times melaporkan bahwa Murray sedang melakukan CPR saat paramedis tiba di rumah mewah yang disewa Jacko di kawasan elite Holmby Hills, Los Angeles. Mobil dokter ahli jantung itu juga dibawa ke kantor polisi setelah Jacko dinyatakan meninggal.

”Kami tidak menyebut dia (Murray) tak kooperatif. Kami rasa, dia akan bersedia membantu kami dalam kasus ini,” lanjut Beck. Mobil Murray, kata Beck, akan menjadi bukti penting dalam penyelidikan. Polisi yakin, sebagai dokter pribadi yang tidak pernah jauh dari Jacko selama tiga tahun terakhir, Murray juga menyimpan dokumen medis, atau bahkan obat yang dikonsumsi pencipta gerakan tari moonwalk itu di dalam mobil.

Namun, sejumlah media mengabarkan bahwa hingga kemarin (27/6), Murray belum menampakkan batang hidungnya. Dokter lulusan Meharry College di Nashville pada 1989 itu membuka praktik medis di California, Nevada, dan Texas. Setelah Jacko meninggal, tiga tempat praktiknya itu tutup hingga kemarin (27/6). Murray yang, konon, sering bermasalah dengan keuangan dan pajak juga tidak mau menjawab telepon. Beberapa wartawan yang mencoba menemui dia di rumahnya diusir bodyguard.

Sementara itu, rekaman telepon saat seseorang di rumah Jacko mengontak 911 dipublikasikan Jumat (26/6) waktu setempat (kemarin WIB). Penelepon yang dari nadanya terdengar sangat resah itu mengatakan bahwa Jacko tidak sadarkan diri dan beberapa upaya untuk menyadarkan dia gagal. ”Dokter sedang memompa dadanya, tapi tidak ada respons apa pun. Tolong, Pak,” ujar si penelepon. Pernyataan itu menunjukkan bahwa Murray adalah satu-satunya saksi yang berada di samping Jacko saat tidak sadarkan diri.

Komentar menarik dilontarkan mantan produser Jacko, Tarak Ben Ammar, terkait kematian pria yang dilahirkan pada 29 Agustus 1958 itu. Dia menyalahkan dokter-dokter yang pernah menangani Jacko atas akhir tragis sang legenda. Bahkan, dia menyebut mereka semua sebagai kriminal. ”Sangat jelas bahwa kriminal dalam kasus ini adalah para dokter yang berada di sekitar Jackson sepanjang karir bermusiknya. Termasuk, mereka yang telah menghancurkan wajah Jackson dan meresepkan obat penghilang rasa sakit untuk dia,” keluhnya.

Setelah melakukan otopsi, petugas Koroner Los Angeles County, Jerry McKibben, mengatakan bahwa jenazah Jackson sudah diserahkan kepada keluarga pada Jumat malam waktu setempat. Namun, tidak ada pengumuman tentang rencana pemakaman. Kabarnya, jenazah Jackson disemayamkan di ruang bawah tanah sebuah rumah jenazah di Los Angeles.

Jenazah Jackson dibawa sebuah mobil van pada Jumat (26/6) sekitar pukul 21.30 waktu setempat. Asisten Kepala Forensik Los Angeles County Ed Winter mengatakan, keluarga Jackson meminta lokasi rumah jenazah itu dirahasiakan. ”Kami meminta Anda menghormati keinginan keluarga. Mereka semua berkabung dengan cara masing-masing,” kata Winter kepada CNN.

Soal rekayasa medis yang ikut membesarkan karirnya, Daily Mail sedikit mengulas tentang perubahan fisiknya. Salah satu alasan yang membuat Jacko ingin tampil sebagai seorang kulit putih, bukan Afro, adalah olok-olok sang ayah. Joseph ”Joe” Walter Jackson, ayah Jacko, selalu memanggil dia Hidung Besar. Diduga karena latar belakang itulah, dia lantas melakukan operasi hidung saat menginjak dewasa dan karirnya menanjak. Transformasi pertama itu terlihat pada sampul album Bad yang dirilis 1987.

Transformasi kedua diperlihatkan Jacko pada 1992. Kali ini kulitnya terlihat lebih cerah. Meski publik yakin bahwa dia melakukan rekayasa medis, Jacko menampik. Menurut dia, yang membuat kulitnya terlihat cerah adalah vitiligo, auto-imunne langka yang menjadikan kulit penderitanya lebih putih. Tapi, seiring berjalannya waktu, kulitnya menjadi semakin putih dan terlihat sehat.

”Jackson suka melakukan operasi plastik sejak masih belia. Mulai rekonstruksi dagu, pipi, hingga alis, dan juga melakukan skin bleaching,” ujar Dr Pamela Lipkin, ahli bedah asal New York. Biasanya, imbuh dia, operasi plastik menjadi semacam candu bagi mereka yang pernah menjalani. Tapi, Jacko hanya mengaku melakukan dua kali operasi plastik pada wajahnya. Semua dilakukan di bagian hidung.

Stres Siapkan Konser
Teman dekat Jacko, Uri Geller, mengatakan bahwa King of Pop itu mengalami stres berat dalam mempersiapkan konser. Untuk tampil prima dalam comeback tour yang akan digelar 8 Juli, Jacko melakukan persiapan maksimal. Menruut Geller, Jacko merasa harus memberikan penampilan yang terbaik setelah lama tenggelam. Karena itu, dia merasa tertekan dan stres berat.

”Meskipun saya bukan dokter, saya tahu kondisi fisik Jacko cukup baik. Tetapi, saya melihat Jacko mengalami tekanan yang sangat berat sehingga menimbulkan stres. Rasa itulah yang ‘membunuh’ Jacko,” kata Uri Geller seperti dalam VIVAnews yang dikutip dari Femalefirst.

Sikap perfeksionis Jacko makin ”membunuhnya”. ”Dia menginginkan semua hal dalam konser berjalan dengan baik dan sempurna. Mungkin, itu juga yang membuat stress dia,” tambah Geller. Konser kembalinya Michael Jackson yang bertajuk This is It tersebut, rencananya, digelar 50 kali hingga 2010. Hebatnya, semua tiket dari 50 konser yang akan digelar itu ludes.

”Saya piker, target 50 penampilan itu berlebihan untuk Jacko, mengingat kondisi kesehatannya. Mungkin, sepuluh kali konser saja sudah cukup,” tambah Geller. Hal senada juga disampaikan pengacara keluarga Jackson, Brian Oxman, bahwa Jacko sangat stres dalam mempersiapkan konsernya. ”Michael melakukan latihan berkali-kali setiap hari. Dia melakukan latihan dengan sungguh-sungguh,” kata Oxman.

Untuk mengenang Jacko sekaligus mengobati rasa kecewa, artis-artis yang juga sudah memborong tiket konser, seperti Justin Timberlake, akan menggelar konser Tribute to Michael Jackson di O2 pada 8 Juli 2009. (**)

Sumber teks: AP/AFP/Rtr/hep/iro – johnjohnsaidit.com