Airmata Darah itu Ada!

0
25

Pewarta-Indonesia, – TIGA remaja dari Amerika dan India tidak mengenal satu dan lainnya, tetapi Calvinno Inman, Twinkle Dwivedi dan Rashida Khatoon itu mengalami misteri yang sama:  dari kedua bola mata mereka, bisa mengalirkan air mata darah!

Inman, dari Tennessee – AS, adalah figur baru yang mengalami masalah misterius itu dan fenomena yang dialami dan dirasakannya menjadi perhatian warga. Apalagi kemudian diliput dan disiarkan oleh media internasional akhir bulan ini.

ABG laki-laki berusia 15 tahun itu mengaku tak bisa mencegah setiap kali dari bola matanya keluar darah yang mengalir tiga kali sehari yang berlangsung selama 15 menit hingga sejam! Tak dijelaskan sejak kapan itu terjadi.

Bagi Inman masalah itu telah mengganggu kehidupannya. Dia merasa dan juga dianggap tidak normal. Dia merasa beda dengan remaja lain. Dia juga sering disindir dan diolok-olok tengah “kerasukan” saat air mata darahnya sedang mengalir.

“Kadang-kadang saya dapat rasakan ia keluar, sama seperti air mata. Saya berasakan mata saya berair. Kadang-kadang, kedua bola mata saya terlalu sakit seperti mau copot,” katanya kepada wartawan ABC News, baru-baru ini.

Apakah akan Mati?

Ibu Inman, Tammy Mynatt, yang bimbang dengan keadaan itu berkata, dia sudah membawa anaknya menjalani pemeriksaan MRI, imbasan CAT dan ultra bunyi serta mengadakan konsultasi dengan pakar, namun hasilnya masih nihil.

Ironis, bahkan di negara semaju Amerika sekali pun, belum ada pakar medis yang dapat mengenal pasti fenomena Inman itu. Alih-alih berupaya mengobati, para pakar medis malah turut ikut-ikut bingung dengan keadaan Inman itu.

Tammy Mynatt, Ibunda Inman menuturkan saat detik-detik bagaimana dia mengontak nomor panggilan 911 (darurat) saat pertama melihat anaknya menitiskan air mata darah itu. “Yang paling menakutkan dalam hidup saya adalah ketika anak saya itu memandangi saya dan bertanya, ‘Mam, apakah saya akan mati?’ Pertanyaan itu sangat menusuk hati karena – sebagai ibu –  saya hanya bisa memandangnya, tanpa mampu berbuat apa-apa,” katanya.

Pakar Oftalmologi, Dr Rex Hamilton, berkata remaja itu mungkin menderita keadaan yang oleh dunia medis disebut Haemolacria atau ringkasnya “air mata darah”. Katanya; “Ia hanya sebutan untuk manifestasi air mata darah. Ia tidak menyebut apa-apa. Kemungkinannya terjadi satu dalam sejuta orang,” tambahnya .

Ada yang yang mengaitkan masalah air mata itu dengan kecacatan saluran air mata dalam otak. Namun sejauh ini belum ada bukti yang mendukung argumen itu.

MULIA DAN “KERAMAT”

Yang pasti, Inman tak sendirian. Rashida Khatoon, sesama remaja dari Patna, di Timur Laut India mengalami hal yang sama. Seperti juga di Amerika, pakar medis India juga tidak mempunyai jawaban yang meyakinkan atas penderitaan gadis itu.

“Saya tidak merasa sakit saat air mata darah itu keluar. Tetapi saya terganggu juga dengan kondisi ini, air mata darah yang mengalir dan bukannya tangisan biasa,” kata Rashida.

Beda dengan perlakukan rekan-rekannya kepada Inman di Amerika, yang dituduh kerasukan, apa yang diderita Rashida dipandang mulia penganut Hindu – India, yang menganggap dirinya sebagai “keramat”.

Kadang warga berduyun-duyun ke rumahnya untuk mendapatkan restu sembari memberi bingkisan kepada Rashida dan keluarganya.

Kutukan

Seorang lagi remaja India, Twinkle Dwivedi, 13, juga kehilangan darah melalui kulitnya, termasuk mata tanpa mengalami luka atau goresan.

Malah, menurut berita harian online – Malaysia,  dia terpaksa menjalani transfusi darah, bila ia keluar darah lewat mata, hidung, garis rambut, leher dan tapak kaki. Ada kalanya, keadaannya terus memburuk bila bangun dengan keseluruhan tubuhnya diselaputi darah kering.

Penderitaan Dwivedi sebaliknya dipandang sebagai kelainan oleh penduduk kampung yang meyakini dia telah dikutuk, sehingga gadis itu kerap mendapatkan cacian dan cercaan.

Keluarganya tak kurang-kurang mendatangi para ahli medis, dukun, pakar spiritual, tokoh agama, untuk mendapatkan bantuan namun hingga kini masih menemui jalan buntu.

“Saya amat terdesak untuk membantu anak saya. Kami sebenarnya tak percaya takhyul tetapi ini amat terdesak. Kami sudah ke kuil, masjid, gereja tetapi tak ada yang dapat menyembuhkan anak saya,” keluh Nandani, 42, ibunya. (ABCNews/BHO/dms)

Keterangan foto : Rashida Khatoon dan Calvinno Inman (atas), Twinkle Dwivedi (tengah kanan)

BAGIKAN
Berita sebelumyaPresiden Kembali Gelar Open House di Cikeas
Berita berikutnyaRemisi Lebaran 276 Napi di Banyuwangi
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.