Dialog itu Penting untuk Persatuan

0
43

Oleh: Hariati Azizan*)

Pewarta-Indonesia, Madrid – Seperti negara-negara Eropa lainnya, Spanyol tengah bergelut dengan masalah komunitas imigrannya yang beragam. Tetapi, tak seperti kebanyakan tetangganya, Spanyol memiliki warisan kemajemukan yang kaya yang bisa dicontoh.

“Ada sekitar 192 bangsa di Spanyol sekarang ini. Namun demikian, ada pemahaman di kalangan warga Spanyol bahwa mereka menyambut siapa pun yang ingin hidup di sini,” tutur Dr. Justo Lacunda Balda, pastur yang tergabung dalam Society of Missionaries of Africa (Perkumpulan Misionaris untuk Afrika).

Bagusnya, tambah Balda, warga negara Spanyol memahami bahwa untuk hidup berdampingan dengan damai mereka harus menerima pluralisme dan kemajemukan mereka serta bekerja sama.

“Tentu saja, semua itu terbentuk oleh warisan sejarah kami yang majemuk,” ujarnya.

Spanyol mungkin merupakan contoh terbesar sejarah pluralisme keagamaan bagi dunia ketika wilayah itu dikuasai oleh Muslim sejak abad ke-8 hingga abad ke-15 di mana kemudian penganut berbagai agama monoteis-Muslim, orang Kristen, dan Yahudi-hidup berdampingan satu sama lain selama berabad-abad. Orang Kristen dan Yahudi memang mendapat pembatasan tertentu, tetapi secara umum koeksistensi tiga kelompok penganut agama ini meninggalkan warisan budaya yang kaya di Semenanjung Iberia ini.

Jejak-jejak pengaruh budaya Islam masih bisa dilihat dalam banyak sisi kehidupan orang Spanyol sekarang, hingga lebih mudah bagi Spanyol untuk menghadapi kemajemukan dunia modern ini, ujar Balda.

Meski demikian, situasi menjadi agak rumit pada beberapa tahun lalu. “Bom teroris tahun 2004 di stasiun kereta api pusat di Madrid yang membunuh kira-kira 192 orang dan melukai ratusan lainnya menumbuhkan rasa saling curiga di antara penganut agama Katolik dan Muslim Spanyol,” aku Balda.

Tetapi pemerintah Spanyol melakukan berbagai cara untuk menyadarkan publik tentang bagaimana mereka mesti menghargai keragaman di negara mereka. Mereka melakukannya lewat dialog antaragama yang diselenggarakan dengan kerjasama berbagai kelompok agama di Spanyol.

Tampaknya memang pada tempatnya kalau Madrid terpilih sebagai tuan rumah untuk acara Dialog Antar Agama Asia Europe Meeting (ASEM) yang keenam yang bertajuk, “Konsolidasi kebebasan beragama dan kesalingmengertian melalui dialog antar agama dan budaya”, yang dilaksanakan pada 7 hingga 9 April lalu.

Dihadiri oleh sekitar 120 perwakilan dari 27 (dari 50) negara yang menjadi anggota ASEM, acara ini diharapkan bisa mempromosikan hubungan yang lebih baik dan saling menghormati di antara berbagai budaya dan agama di Eropa dan Asia, serta membicarakan tiga isu utama: kebebasan beragama dan hak asasi manusia; kesalingmengertian dan penghormatan; serta dialog antara berbagai budaya dan agama sebagai jembatan antara berbagai kelompok masyarakat.

ASEM, yang dimulai pada 1996, adalah forum tingkat tinggi pemerintah-pemerintah di dua kawasan ini. Balda, yang menjadi salah satu pembicara penting dalam pertemuan tahun ini, berpendapat bahwa situasi di Malaysia adalah seperti masa Islam di Spanyol dulu.

“Hampir tak mungkin berpikir tentang Malaysia tanpa berpikir tentang tiga kelompok besar di negara tersebut [Melayu, Cina, dan India]. Secara budaya, bahasa dan etnis, ketiga kelompok ini berbeda, tetapi bersama-sama mereka menjadi hebat. [Rakyat] Malaysia bisa menemukan titik temu dengan mengupayakan kesatuan bukan keseragaman. […] Spanyol bisa belajar banyak dari Malaysia tentang bagaimana menemukan wadah untuk menyelesaikan masalah yang disebabkan oleh perbedaan agama ini. Sebaliknya, Malaysia bisa belajar lagi dari Spanyol tentang tekad untuk menekankan ide bahwa meski kita (komunitas agama) boleh jadi berbeda, kita saling melengkapi,” ujarnya lagi.

Italia juga menemukan pentingnya dialog antaragama.

Perwakilan Italia, pejabat Kementerian Dalam Negeri Fabio Schina, menyatakan dalam konferensi itu bahwa pemerintah Italia semakin menyadari pentingnya dialog antaragama untuk menumbuhkan hubungan yang lebih baik di antara beragam komunitas, tidak hanya di Italia tetapi juga di arena internasional.

“Demografi kami mulai berubah karena meningkatnya imigrasi dari negara lain. Meski mayoritas orang Italia masih Katolik, kami menyadari jumlah penganut kelompok agama lain seperti Islam dan Budha semakin meningkat.”

Untuk semakin menumbuhkan kesalingmengertian antaragama, pemerintah Italia meminta bantuan organisasi-organisasi pemerintah yang “sudah melakukan kerja tersebut di lapangan. Jadi kami memilih untuk belajar dari mereka dan bekerja sama dengan mereka untuk semakin menumbuhkan kesalingmengertian antaragama, juga untuk memenuhi kebutuhan setiap komunitas dan masyarakat pada umumnya.”

Dan ada pula teladan dari Singapura.

Pada 2006, Majelis Ugama Islam Singapura (Muis), majelis yang berada di bawah Kementerian Pengembangan Komunitas, Pemuda dan Olahraga, ingin lebih proaktif dalam memperkuat hubungan antargama dan memutuskan untuk berperan lebih aktif dalam mempromosikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap Islam dalam republik yang multikultur itu dengan mengonsolidasikan dan memusatkan program dialog antaragama dan komunitasnya di bawah satu atap.

Lembaga itu dinamai Harmony Centre dan terletak di dalam kompleks Masjid an-Nahdhah.

Ustaz Mohamed Ali Atan, kepala lembaga tersebut dan sekaligus ketua masjid, menjelaskan bahwa yang aspek yang paling penting dalam Harmony Centre adalah tujuannya yang jelas, untuk meraih kepercayaan non-Muslim. Tapi, ia menambahkan, “Ini tidak berarti kami bermaksud mengubah agama non-Muslim atau untuk mengajari Muslim tentang agama mereka. Kami ingin berbagi dengan non-Muslim tentang apakah Islam itu, mempromosikan pemahaman yang lebih mendalam tentang Islam, serta dialog dan kerjasama antaragama di semua level.”

Seperti kata Schina, “Ini adalah proses yang panjang, tapi proses ini perlu kita mulai dan lalui. Membicarakan masalah akan membuat kita paham, dan kepahaman itu yang akan mendorong terciptanya hubungan yang lebih baik.”

*) Hariati Azizan adalah wartawan The Star (Malaysia).

Sumber artikel: Kantor Berita Common Ground (CGNews), Sumber image di sini

BAGIKAN
Berita sebelumyaMengembalikan Timbuktu ke Peta Dunia
Berita berikutnya175 Prajurit TNI Dianugerahi Medali PBB di Kongo
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.