Ganja dan Gangguan Jiwa

0
45

Oleh: Muhammad Armiyadi Signori

Pewarta-Indonesia, Salah satu jenis Tumbuhan yang di kenal luas di seluruh dunia, termasuk Indonesia dan terutama di Aceh, tumbuhan yang dulunya biasa di gunakan sebagai penyedap masakan di Aceh, tumbuhan yang membuat banyak pemuda Aceh tertawa tanpa sebab, tumbuhan yang membuat banyak warga Aceh menjadi penghuni rumah tahanan di hampir seluruh indonesia dan satu lagi tumbuhan yang membuat banyak pasien gangguan jiwa harus keluar masuk Rumah Sakit Jiwa.

Ganja (Cannabis sativa syn. Cannabis indica) menurut Wikipedia bahasa Indonesia adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya, tetrahidrokanabinol (THC, tetra-hydro-cannabinol) yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab).

Walaupun sudah ada beberapa negara yang sudah melegalkan ganja termasuk 14 negara bagian di Amerika Serikat dalam rangka menaikkan devisa negara, bahkan Badan Narkotika Nasional (BNN) Indonesia pernah berkeinginan untuk melegalkan ganja di Indonesia karena melihat Negara Belanda telah melegalkan ganja, namun ganja tetap tumbuhan yang membawa dampak buruk, di luar pemakaian dalam dunia kedokteran.

Lalu dari mana asal mulanya ganja? Menurut Yatim, 1991, sejarah tentang penggunaan ganja paling dini yaitu di Cina tahun 2737 SM. Konon, waktu itu ganja atau cannabis digunakan untuk mengobati penyakit rematik, malaria, beri-beri, sifat pelupa dan sakit perut.(Kaukus. The largest Indonesia Community).

Pendapat umum mengatakan ganja merupakan jenis daun-daunan atau ramuan yang paling aman digunakan sebab mustahil mengakibatkan efek beracun dalam tubuh. Namun realita lapangan dan hasil penelitian menunjukkan hal berbeda.

Dampak yang Terjadi pada Pemakaian Ganja?

Menurut situs pengetahuan Narkotika, HIV, AIDS, dan Pendidikan Seks, ganja dapat menimbulkan efek samping yang berbeda bagi penggunanya. Efek yang paling umum dari ganja adalah perasaan teler atau melayang. Efek-efek lain termasuk paranoia, muntah-muntah, kehilangan koordinasi, kebingungan, nafsu makan meningkat, mata merah, dan halusinasi. Sedangkan efek jangka panjangnya, ganja dapat mengakibatkan risiko tinggi bronkitis, kanker paru-paru, serta penyakit pernapasan (sebab ganja mengandung tar dua kali lebih banyak dari rokok), kerusakan sistem kekebalan tubuh, kerusakan memori jangka pendek, daya pikir logika, dan koordinasi berat badan, serta gejala gangguan kejiwaan yang berat. Ganja juga dapat menyebabkan penggunanya menjadi ketergantungan dan kecanduan.

Gangguan lainnya adalah gangguan persepsi (sepuluh menit dirasakan seperti satu jam, jarak 10 meter dipersepsikan sebagai jarak 100 meter, dapat terjadi kecelakaan bila membawa kendaraan , Sindroma amotivasional, menurunnya kemampuan membaca, berbicara dan berhitung, perhatian terhadap sekitar berkurang sampai tidak bereaksi dipanggil, kurang semangat bersaing.

Gangguan Jiwa

Penyakit ini diakibatkan oleh multifaktor, bisa karena gangguan fungsional otak, trauma, genetik (keturunan), juga ketergantungan zat. Ganja juga mengambil peran penting dalam peningkatan penderita gangguan ini.

Kantor Berita Antara (30/07/07) memberitakan, suatu penelitian tentang ganja dan kesehatan jiwa yang dipimpin Theresa Moore dari University of Bristol, dan Stanley Zammit dari Cardiff University, menyebutkan bahwa penggunaan narkoba meningkatkan risiko timbulnya sakit jiwa hingga lebih dari 40 persen.

Di Inggris, 40 persen orang dewasa muda dan remaja pernah memakai ganja. Jika dihitung-hitung, sekitar 14 persen kasus kejiwaan kaum muda di Inggris dapat dihindari jika tidak ada pemakaian ganja.

Para dokter minta pihak – pihak yang berwenang untuk masalah kesehatan mengingatkan kaum muda tentang resiko ganja terhadap pikiran. Menurut pengalaman penulis, pasien Rumah Sakit jiwa yang sudah dibolehkan pulang karena sudah sembuh secara klinis, banyak yang harus di kembalikan lagi oleh keluarganya ke Rumah sakit jiwa.

Ada dua alasan umum yang membuat mereka harus kembali, pertama putus obat dan yang kedua menghisap ganja ketika kembali ke masyarakat.

Bagaimana dengan Penduduk Aceh?

Menurut badan kesehatan dunia, Word Health Organization (WHO), satu persen penduduk dunia mengalami gangguan jiwa. Data dari biro pemerintahan Aceh 14 April 2009. jumlah penduduk Aceh sekarang 4, 67 juta jiwa. Aceh mengalami konflik yang panjang, Tsunami yang dasyat dan menurut Kepala Pusat Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (Kapus Cegah Lakhar BNN) Drs Anang Iskandar , sebagaimana di kutip dari theglobejournal.com . Aceh merupakan penghasil ganja terbesar di dunia.

Muhammad Armiyadi Signori adalah Aktivis World Achehnese Association, Mahasiswa Magister Kesehatan Jiwa, Hedmark University, Norwegia dan bekerja di Rumah Sakit Jiwa Pemerintah Aceh

Sumber image: google.co.uk