Inspirasi dari Muslim Amerika di Apollo

0
182

Oleh: Sarah Jawaid*)

Pewarta-Indonesia , Washington, DC – Saat saya memandang dari balkon bawah Teater Apollo di Harlem yang terkenal itu, saya yakin saya tengah menyaksikan sesuatu yang bersejarah. Kampung Harlem telah menjadi mercusuar inspirasi bagi para seniman sepanjang abad ke-20; para novelis, penyair, musisi dan aktor menganggapnya sebagai surga untuk berekspresi melalui berbagai bentuk kesenian seperti musik dan teater. 23 Januari lalu, budaya Muslim Amerika yang tengah tumbuh juga mendapat tempat di panggung Apollo yang bersejarah itu.

Inner City Muslim Action Network (IMAN) menggelar edisi spesial Community Café, yang biasanya diselenggarakan di Chicago. Acara ini dimaksudkan untuk memberi ruang bagi orang-orang yang sadar secara sosial untuk menikmati dan terlibat dalam berbagai bentuk ekspresi seni. Muslim dari lintas spektrum mempertunjukkan bakat-bakat istimewa mereka melewati batas-batas ras, jender, aliran dan pandangan. Penonton yang memenuhi arena menikmati berbagai bentuk kreativitas para seniman, seperti penyanyi/aktor Mos Def, komedian Aasif Mandvi, Progress Theater, musisi Amir Sulaiman dan The ReMINDers.

Aspek yang paling menonjol dan berkesan dari acara ini bukanlah pada penampilan yang dipertunjukkan, melainkan pengaruh dari penampilan-penampilan tersebut terhadap mereka yang hadir. Kohesi sosial yang dihasilkan acara ini jauh melampaui batas-batas ruang di Apollo. Acara ini memantulkan gaungnya ke seantero Amerika saat para hadirin kembali ke tempat tinggal masing-masing. Karena kejadian bencana di Haiti baru-baru ini membekas dalam di benak para pemain, malam itu pun menjadi malam tanggung jawab sosial, sebuah aksi artistik tentang berbagi dan advokasi.

Acara ini diselenggarakan pada saat yang sangat tepat bagi pengalaman Muslim Amerika. Yang mana identitas secara terus-menerus dibentuk melalui keragaman, reaksi pada peristiwa-peristiwa dunia, dan kadang kala stereotip di dalam dan di luar masyarakat. Namun, Muslim Amerika secara proaktif membentuk identitas mereka sendiri dengan berkontribusi pada masyarakat melalui keterlibatan pada perjuangan-perjuangan yang benar-benar mereka yakini.

Misalnya, ada seorang perempuan yang meraih gelar doktor dalam psikologi yang menekuni cacat mental yang sering dipandang tak wajar di banyak masyarakat kita. Ada seorang laki-laki yang mendobrak berbagai miskonsepsi tentang maskulinitas dengan menekuni isu kekerasan domestik. Ada pelukis yang menyumbangkan pendapatan dari karya-karyanya ke para korban gempa di Haiti.

Mereka orang-orang biasa. Mereka tidak terkenal. Mereka tidak mengarang buku atau pernah bermain film. Mereka melakoni hidup mereka dengan melakukan amal baik yang tulus karena mereka percaya akan itu. Ya, mereka “hanya” orang-orang Muslim yang berbuat lebih.

Sering kali laporan media menyorot suara dari kelompok tertentu (yang minoritas) sebagai satu-satunya ekspresi tunggal Islam. Mereka yang ada di tengah (yang mayoritas) malah tak terperhatikan karena mereka tidak cukup “seksi”, lantang, ataupun menarik perhatian. Meski ekspresi dari yang di pinggiran itu juga adalah bagian dari dinamika komunitas Muslim Amerika, tapi mereka tak semestinya mendapatkan perhatian yang berlebihan. Harapan kolektif kita pada masyarakat yang harusnya menjadi pertimbangan utama, dan itu tak akan diraih dengan hanya berfokus pada mereka yang berada di posisi tertentu dalam masyarakat, yang memang paling terlihat.

Berfokus pada cerita orang keseharian dapat menuntun kita pada kohesi sosial yang lebih kuat. Individu-individu ini menyadarkan kita tentang sesuatu yang tak tampak tapi sangat berharga. Mereka tenang dan tetap, bak jantung yang terus berdetak meski tak terperhatikan. Individu-individu ini membantu menciptakan sebuah narasi Muslim Amerika yang berdasarkan kesadaran akan Tuhan dengan mengejawantahkan iman dalam bentuk amal saleh, keterlibatan sosial, dan demi sebuah tujuan yang melampaui eksistensi mereka.

Saat saya duduk di Apollo, menyimak takjub kemerduan suara Sumayya, perempuan Afro-Amerika dengan jilbab merah jambunya, dan Zeeshan, seorang “Andrea Bocelli” keturunan Bangladesh-Amerika, saya merasakan kedamaian. Mereka berbagi separo jiwa mereka dengan saya sembari mendobrak rintangan demi rintangan.

Seni berasal dari dalam batin, dan tumbuh dengan ketenangan dan penghayatan mental. Dan ketika berbagai seni saling berbagi, seni punya kekuatan untuk menginspirasi, menjadi jembatan ke tempat-tempat yang sebelumnya tak terjangkau, dan menyembuhkan luka. Sambil kita terus merajut cerita kita, mari mengingat jati diri kita dan bagaimana kita semua saling terhubung dengan penganut agama-agama lain, bumi dan komunitas kita-sebagai sebuah kesatuan.

*) Sarah Jawaid ialah penulis, seniman dan aktivis lintas agama yang bekerja di bidang tata kota di Washington, DC.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews); image: google.co.uk

BAGIKAN
Berita sebelumyaSyariat Islam Membela Hak-hak Minoritas di Mesir
Berita berikutnyaKetika Muslim Amerika Menyinari Kota New York
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.