Jagung Titi Desa Waienga – Lembata

0
31

”Upaya melestarikan Pangan Lokal”

Pewarta-Indonesia, LembataDari dalam pondok berukuran sekitar 2 x 3 m inilah Ibu Sarifah (48 tahun) memulai aktivitas hariannya. Pondok kecil ini berfungsi sebagai tempat memasak sehari-hari, juga untuk membuat “Jagung Titi”.  Hampir setiap hari Ia meniti jagung (menumbuk butiran jagung menjadi pipih seperti kripik). Seperti umumnya masyarakat di Desa Waienga, Lembata, Ibu Sarifah menggunakan peralatan yang sangat sederhana antara laian: priok tanah kecil untuk menyanggrai butiran jagung, batu ceper sebagai landasan untuk meniti, dan batu berbentuk lonjong yang berfungsi sebagai penumbuk (titi). 

”Beta membuat jagung titi sejak dari kecil, keterampilan dan kemahiran membuat jagung titi didapat secara turun temurun”. Kata Ibu Sarifah, ketika disambangi di pondok kecil dibelakang rumahnya.

Untuk membuat jagung titi biasanya dilakukan pada subuh sampai menjelang pagi. Kegiatan ini dilakukan Ibu Sarifah sebelum ke kebun. Proses pembuatan jagung titi dimulai dengan:  Butiran-butiran jagung pipilan disanggrai di dalam priok tanah. Cukup menggunakan kayu bakar yang sedikit saja, agar jagung tidak cepat gosong. Setelah berwarna agak kekuningan atau sekitar 3 menit disanggarai. Dan bila dari priok tanah tadi terdengar bunyi ’kletek- kletek-kletek’, itu  tandanya jagung sudah siap untuk dititi. 3 sampai 4 butir jagung diambil langsung dari priok menggunakan tangan tanpa alas, lalu diletakkan di atas batu landasan. Butiran jagung tadi ditumbuk (dititi) menggunakan batu lonjong seberat ±2 kg. Diperlukan ketepatan waktu antara meletakan butiran jagung, menarik telapak tangan  agar tidak terpukul. Dengan sekali titi saja, sudah jadilah Jagung Titi.

Korolus Kemawan, Ketua Komite FNS Desa Waienga menambahkan, ”Bahan jagung titi diambil dari hasil panen kami sendiri, biasanya yang paling enak berasal dari jagung pulut, sedangkan agar proses menitinya lebih mudah digunakan jagung yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua”

Lebih nikmat menyantap jagung titi dibarengi dengan ”Lawar”, sejenis pangan yang berbahan utama ikan-ikan kecil (sejenis ikan teri segar), dan direndam beberapa menit di dalam cuka yang telah ditambah dengan cabe dan bawang. Dengan sendirinya ikan-ikan kecil ini akan melunak dan setengah matang. Mirip dengan salah satu jenis makanan ala ’jepang”.

Tapi bila ada yang mau mencoba menyantap ”Jagung Titi” ini dengan Susu pasti akan terasa lebih enak lagi.

Jagung titi ini tidak hanya untuk konsumsi sendiri juga untuk di jual untuk menambah penghasilan keluarga. Tidak sulit untuk memasarkan Jagung Titi ini setidaknya itu yang diungkapkan oleh Bpk. Barnabas (Kades Waienga): ” Masyarakt desa kami umumnya melakukan kebiasaan membuat jagung titi ini. Sebagian untuk konsumsi, dan sebagian lagi untuk dijual.  Tiga mangkok plastik dihargai Rp 10.000,- Untuk keperluan konsumsi masyarakat meniti jagung bila dianggap persediaan sudah habis, selain itu masyarakat Desa Waienga juga akan meniti bilamana ada pesanan.”

Pola pemasaran yang dilakukan masih sangat sederhana. Biasanya jagung titi dijual kepada pemesan, disekitar kampung atau dijual di pasar setempat. Umumnya masih dalam jumlah yang terbatas.

Setidaknya masih ada upaya masyarakat Desa Waienga untuk melestarikan pangan lokal. Karena mereka cukup menyadari bahwa pangan utama mereka sebenarnya bukanlah ”Beras”.  Suatu kearifan lokal yang membutuhkan dukungan pemangku kepentingan.

Kita patut memberikan apresiasi terhadap kearifan lokal ini ditengah-tengah modernisasi genjarnya promosi makanan siap saji dari luar.

Lembata 2009

Tulisan ini kiriman Agusman Rizal,  FNS Project Coordinator Plan Indonesai NT Area

BAGIKAN
Berita sebelumyaRESENSI BUKU: Bersolek di Tengah Perang
Berita berikutnyaLintas Agama ikut Halal Bihalal Bupati Lutim
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.