Mungkin Sudah Dilupakan

0
39

 

Pewarta-Indonesia, Mengintip dari jendela bidik, memutar-mutar gelang fokus, mengatur exposure, memastikan komposisi yang dipilih sudah tepat, dan akhirnya menekan tombol pelepas rana.

 

Saat ini fotografi tidak hanya sebagai profesi, atau hobi. Tapi sudah menjadi gaya hidup. Mudah untuk mengabadikan momen atau potret orang-orang di sekitar kita, tentunya menggunakan kamera saku digital atau kamera ponsel yang sudah banyak beredar.

Sangat mudah untuk membuat sebuah foto, terlepas dari benar atau salahnya teknik pengambilan gambar. Tulisan ini mengajak untuk mengenang tahap-tahap pembuatan foto yang sudah kuno atau bahkan sudah dilupakan, sekalipun mungkin oleh fotografer profesional. Tahap-tahap di mana setiap bagiannya harus dilakukan dengan cermat untuk menghasilkan foto yang sesuai keinginan.

Mengintip dari jendela bidik, semua akan terlihat berbeda. Dengan mata telanjang kita terbiasa melihat dengan dua bola mata. Otomatis pandangan kita akan lebih luas dan alami, tetapi saat kita melihat dari balik jendela bidik, kita akan melihat pemandangan yang berbeda. Pemandangan dengan sudut yang lebih sempit, warna dan suasana yang berbeda. Bahkan perbedaaan skala dari objek yang akan kita foto. Butuh kesabaran untuk menyesuaikan perbedaan antara saat kita memandang dengan mata telanjang dan saat memandang melalui lensa. Pada kamera digital, kita bisa melakukan tahap ini menggunakan fasilitas live view. Yang membuat fotografer cukup melihat dari LCD yang ada di kamera.

Memutar-mutar gelang fokus. Salah satu tahap yang paling butuh kecarmatan. Agar kita mendapatkan foto yang tajam, wajib hukmnya untuk mengatur fokus secara tepat. Tidak mudah memang, apalagi saat menggunakan kamera analog yang masih belum dilengkapi fasilitas auto focus. Harus cepat, cermat, dan yakin bahwa titk fokus yang kita pilih sudah tepat. Pada kamera digital kita tinggal menyalakan mode auto focus untuk mendapatkan fokus yang akurat.

Mengatur exposure. Menentukan pencahayaan pada foto yang kita buat. Terlalu terang, terlalu gelap, atau sudah pas. Kata pas di sini tidak bersifat baku. Adakalanya Sang fotografer sengaja membuat fotonya sedikit lebih gelap dari normal untuk membuat efek tertentu, juga sebaliknya. Dengan mengatur besar atau kecilnya diafragma dan cepat atau lambatnya shutter speed yang kita gunakan, kita dapat menentukan intensitas cahaya yang ada pada foto. Tinggal menyalakan mode auto exposure, pencahayaan pada foto sudah otomatis dilakukan. Tentunya pada kamera digital.

Rasanya lelah jika berpikir apa saja yang harus dilakukan untuk mendapatkan selembar foto dengan peralatan dan cara yang konvensional.

Memastikan komposisi yang dipilih sudah tepat. Apakah objek ditaruh pada bagian kiri frame, kanan, atas, bawah? Atau bahkan di tengah? Gampang-gampang susah. Kuncinya ada pada selera dan naluri untuk membuat foto yang enak dilihati.

Dan akhirnya menekan tombol pelepas rana. Tombol pelepas rana yang hampir pasti berada di kanan atas body kamera. Berdekatan dengan jari telunjuk. Tombol ini adalah Sang eksekutor dalam proses pengembilan foto. Tombol yang saat ditekan membutuhkan keyakinan, kecepatan, dan tentunya ketenangan.

Mungkin hanya dua tahap terakhir yang tidak bisa digantikan peranannya oleh fasilitas yang ada pada kamera digital. Ada segelintir orang yang masih cinta kerumitan ini untuk mendapatkan foto sesuai dengan keinginan hati mereka. Segelintir orang yang dengan senang hati berusaha lebih keras dalam melakukan kegiatan fotografinya. Tapi bagaimanpun juga, kita sudah hidup di jaman yang memberikan kemudahan. Jaman di mana kita dapat melakukan segala hal dengan cepat dan mudah.

Hanya mengajak untuk mengenang kembali, suatu hal yang mungkin sudah lama dilupakan. Atau bahkan, sama sekali belum pernah kita lakukan. Karena kita terbiasa dengan peralatan serba otomatis yang memanjakan. (Mada)

Anda punya berita, artikel, foto, atau video? Publikasikan di sini
Kontak Redaksi di [email protected]