Pengamat : Dibanding Ambalat, Kasus Manohara Lebih Top

0
39

Pewarta-Indonesia, JAKARTA – Blok Ambalat kalah populer dengan kasus Manohara. Kedua kasus tersebut sangat erat kaitannya dengan diplomasi Indonesia-Malaysia.

Menurut Pengamat Hubungan Internasional UNPAD, Teuku Rezasyah dalam sebuah diskusi di Kawasan Pakubuwono, Jakarta Sabtu (6/6) bahwa kasus Ambalat merupakan masalah serius yang harus ditangani.

Namun substansi hubungan bilateral yang ditangani serius belakangan ini justru dipengaruhi kasus Manohara.

“Kasus Blok Ambalat seharusnya mendapat porsi yang lebih besar untuk ditangani secara diplomasi, namun yang terjadi justru kasus Manohara lebih populer”, ungkap Teuku.

Kata Teuku lagi, konsep mengenai perundingan Ambalat yang sudah dilakukan Pemerintah Indonesia itu tidak banyak diketahui publik. Publik sudah dibodohi dan masyarakat bawah terbebani isu yang salah kaprah.

Menurut Teuku, Indonesia perlu pencerahan untuk penyelesaian perundingan dengan Malaysia secara santun, untuk membuktikan status kepemilikan Ambalat.

“Patroli di laut baik dengan kapal besar atau kecil harus secara kontinyu dilakukan guna mempertahankan kedaulatan NKRI”, demikian kata Teuku.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Yusron Ihza Mahendra menegaskan, Departemen Luar Negeri tidak perlu melakukan perundingan dengan Malaysia untuk menguatkan status kepemilikan Blok Ambalat yang berada di wilayah Laut Sulawesi.

Yusron mengatakan, tahun 2008 lalu Malaysia lebih dari 28 kali melakukan pelanggaran dan telah lebih dari 13 kali pelanggaran di Blok Ambalat tahun 2009 ini.

Menurut Yusron, pelanggaran oleh Malaysia disebabkan lemahnya Pengawasan Departemen Luar  Negeri yang hanya berbicara pada tatanan tekhnis dari pada kondisi di lapangan.

Malaysia sudah terbukti melakukan pelanggaran namun Deplu belum bisa mengatakan bahwa Malaysia telah melakukan pelanggaran.

 

sumber image: google.co.id