Penunggu Green Canyon Tertangkap Kamera

0
78

Pewarta-Indonesia, Percaya atau tidak, namun ini adalah sebuah fenomena yang hampir pasti nyata adanya. Kamera seorang fotografer professional yang kebetulan ikut bersama kami dalam sebuah perjalanan liputan ke Green Canyon, Pangandaran, Jawa Barat, telah menangkap sebuah penampakan alam gaib di obyek wisata tersebut. Awalnya, sang fotografer tidak menyadari akan hal itu. Ketika semua foto hasil jepretan dari kamera digitalnya dipindahkan ke komputer jinjing, keberadaan sosok tidak diundang itu muncul di layar monitor.

Ceritanya, pada hari Minggu lalu (25/1) Tim Redaksi sebuah majalah pariwisata berpusat di Jakarta mengadakan perjalanan wisata sambil liputan. Sasarannya adalah obyek wisata Pangandaran dan sekitarnya, dengan fokus utama Green Canyon. Kebetulan sekali, seorang sahabat yang berprofesi sebagai fotografer professional di sebuah instansi lembaga parlemen Indonesia, di Senayan – Jakarta, ikut bersama rombongan dengan tujuan “hunting” obyek-obyek menarik yang layak diabadikan melalui kamera digital tercanggih yang disandangnya waktu itu.

Setelah menyusuri sungai Cijulang dalam tempo 15 menitan dari dermaga desa dengan perahu motor, kami akhirnya tiba di lokasi tujuan. Green Canyon merupakan “sambungan” rangkaian sungai Cijulang dengan tebing batu kapur yang tinggi di kiri-kanannya, hampir membentuk sebuah goa besar dengan dasar lantai air berbentuk kolam berarus deras. Tempat ini amat indah dan banyak dikunjungi wisatawan, baik dalam maupun luar negeri. Pada saat kami tiba, sudah cukup ramai pengunjung yang umumnya datang tidak hanya untuk melihat-lihat, tetapi juga merasakan berenang di “kolam” alami berbatu-batu sambil menjajal arus air yang cukup menantang.

Sebagai sebuah tempat yang indah menakjubkan, para tukang foto sudah pasti beraksi sejak awal hingga kepulangan dari tempat itu. Demikian juga dengan teman fotografer tadi. Ia pun “melaksanakan” tugas alaminya, potret sana potret sini. Ia memotret setiap sisi, sudut, dan obyek yang menarik hatinya. Hasilnya? Ada foto wisatawan berenang, ada pemandangan dinding batu kapur, foto peserta body rafting, kupu-kupu hutan, dan lain-lain.

Dari sekian foto yang dihasilkan, ada satu foto yang sangat unik karena jika dilihat dengan seksama akan tampak jelas gambar obyek aneh terselip di foto tersebut. Pada gambar di atas, Anda dapat melihat dalam lingkaran, sebuah sosok orang bertapa di dinding tebing sungai. Pada kondisi nyata di lapangan, sosok itu tidak ada di tempat itu.

Menurut cerita yang berkembang di kalangan terbatas di sana, sebagian masyarakat percaya bahwa Green Canyon, yang oleh masyarakat tempatan disebut Cukung Taneuh (Jembatan Tanah), ditunggui oleh mahluk gaib. Sang penunggu, konon katanya, adalah seorang pertapa muda yang gagah dan ganteng. Sebagai pertapa, ia setiap hari “nongkrong” di tempat yang berhutan lebat itu hingga berbilang bulan tidak kembali ke rumah. Si pertapa duduk berhari-hari di atas batu, berpindah dari batu yang satu ke batu lainnya. Biasanya di tengah sungai, dan tidak jarang di tebing-tebing yang ada tonjolan untuk bersemedi. Makanannya dedaunan, ikan di sungai, binatang di hutan sekitar, dan buah-buahan hutan yang tersedia melimpah di tempat pertapaan.

Suatu saat, seperti biasa ia bertapa lagi di sana. Berbulan-bulan lamanya. Karena sudah terbiasa demikian, masyarakat tidak merasa heran dan bertanya-tanya. Namun, ditunggu dan ditunggu, sang pertapa belum juga pulang. Terus demikian hingga berganti tahun, si pertapa belum muncul juga. Beberapa kali terjadi banjir cukup besar, namun ia tidak kunjung kembali ke rumah, hingga kini. Masyarakat akhirnya berkesimpulan bahwa ia sudah menyatu dengan batu-batu di Green Canyon, tapi tidak terlihat dengan mata biasa. “Harus punya indra ke-6, atau semacam kekuatan spiritual, baru bisa melihatnya,” kata seorang warga.

Sekali lagi, percaya atau tidak, penilaian dan kesimpulan akhir ada pada masing-masing pembaca. Realitasnya, silahkan lihat foto tanpa rekayasa (kecuali tambahan lingkaran warna biru) di atas. Atau datang sendiri ke lokasi untuk membuktikannya. “Selamat Datang di Cukung Taneuh!” mungkin demikianlah suara gaib menyapa Anda sesaat tiba di Green Canyon.***

Anda punya berita, artikel, foto, atau video? Publikasikan di sini
Kontak Redaksi di [email protected]

BAGIKAN
Berita sebelumyaSetjen DPD RI Laksanakan Raker di Bandung
Berita berikutnyaParlok, Wajah Baru dan Test Perdana
I came from a poor family in Central Celebes, Indonesia. “Shony” - that’s what my family and friends call me. With help from IFP, I completed a master’s in Global Ethics from the University of Birmingham, England in 2006. My interest in this field of study was based on over 15 years’ worth of studying and teaching “Indonesian Moral Education”. I believe the moral ethics of a nation is influenced by the global hegemonic values that are adopted and developed by the nation itself. Writing is one of my favorite hobbies.