Poling SMS Capres Mengganggu

0
31

Pewarta-Indonesia, JAKARTA – Jajak pendapat (polling lewat SMS) di tengah penayangan debat capres putaran kedua dengan tema “Pemberantasan Kemiskinan dan Pengangguran”, Kamis kemarin, dianggap mengotori jalannya debat. Keberadaan jajak pendapat dianggap mengganggu esensi dari tujuan debat tersebut.

 

Demikian Koordinator Divisi Kepemiluan Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin.”Jajak pendapat lewat SMS itu mengotori debat. Debat capres bukanlah ajang pemilihan tokoh idola yang ditentukan pemenangnya melalui SMS,” tegas Said, Jumat.

Menurut Said, hasil jajak pendapat SMS yang ditayangkan di televisi itu tidak bisa dijadikan bahan penilaian terhadap capres tertentu. “Debat adalah paparan, bukan penilaian. Jajak pendapat lewat SMS itu, sudah mengaburkan objektivitas dalam debat,” ujarnya.

Selain itu, Said juga berpendapat bahwa substansi debat telah hilang dengan adanya jajak pendapat lewat SMS itu.
“Substansi debat itu harus berimbang dan bebas dari nilai-nilai subjekti. Segelintir orang dengan kemampuan finansial untuk mengirim SMS tidak bisa mewakili suara ratusan juta masyarakat Indonesia yang terkesan ingin dipengaruhi,” lanjut Said.

Ditambahkan Said, selain diragukan akurasinya, jajak pendapat lewat SMS sama sekali tidak memberikan pendidikan politik bagi rakyat. Dia beralasan, jajak pendapat lewat SMS ditentukan oleh seberapa besar uang atau pulsa yang dimiliki kelompok tertentu. Dia berharap hal itu tidak terulang pada debat berikutnya. (**)

 Sumber teks&image: poskota -www.aliasnawi.com

BAGIKAN
Berita sebelumyaSelebaran SARA, JK-WIN Terpojok
Berita berikutnyaCeloteh Wilson Lalengke – NEGARA INDONESIA : Benarkah Ia Eksis? (bagian 5)
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.