Sebuah “Hadiah” Berharga dari Explore Indonesia

0
34

 
Pewarta-Indonesia
, Rabu – 29 April 2009 dengan menumpang KM. Express Bahari yang bertolak dari Pelabuhan Ulu Siau, saya menuju Manado. Urusan kali ini, adalah mempersiapkan partisipasi kab. Kepl. Sitaro dalam Event International WOC dan CTI Summit di Manado pada 11-15 Mei mendatang.

Start dari Ulu pukul sekitar pukul 12 siang. Dibawah terik matahari (karena selama di kapal saya hanya duduk di dek luar) dan ditemani oleh tarian segerombolan lumba-lumba disekitar perairan Mantehage, saya menginjakkan kaki kembali di Pelabuhan Manado sekitar pukul 4 sore. Kali ini dijemput istri tercinta yang baru pulang dari rutinitas pekerjaannya di Bank Mandiri Cabang Manado.

Dengan senyum kangen dan kehangatan seorang istri dia menyambut kedatangan saya tepat di pintu keluar Pelabuhan Kapal Cepat yang masih terlihat darurat itu. Saya senang karena istri menjemput. Dan lebih senang lagi ketika istri saya menyodorkan sebuah bungkusan berwarna coklat agak tebal, yang menandakan bahwa itu adalah paket kiriman. Tebakan saya tepat. Datangnya dari Redaksi Explore Indonesia.


Menumpang Taxi Blue Bird kami menuju rumah di Tateli, lebih kurang 8 KM dari pusat Kota Manado. Tak sabar saya membuka paket yang datang. Isinya beberapa edisi Explore Indonesia. Ada amplop kecil yang ikut dalam paket itu. Hmmmm…. setelah membuka amplop kecil itu, hati saya jadi sangat gembira. Isinya: Kartu Tanda Pengenal dari Explore Indonesia.

Sebuah Kartu berukuran standar, seukuran KTP atau SIM atau ATM Card. Dengan warna background kehijauan, diselingi art image tangkai bunga lengkap dengan daunnya berwarna putih pudar. Terpampanglah foto saya (dengan pose resmi), dalam bingkai garis hitam tegas. Dibawah bingkai itu tertulis nama saya: Ronny Buol. Kalimat berikutnya dengan huruf kecil tapi tercetak dengan style bold: No. 016/EI-R/IV/2009. Dan satu baris dibawahnya lagi tertera: berlaku hingga 31 April 2014.

Diatas foto saya tercetak dengan sangat jelas logo: Explore Indonesia. Tabloid khusus pariwisata dan investasi ini telah meresmikan saya sebagai salah satu kontributornya. Dan paling atas kartu yang didesign siap dikalungkan di leher ini, tercetak dengan huruf yang sangat besar dan mencolok: PERS.

Ah, kini saya telah menjadi bagian dari “Pers?”. Jawaban ketegasan datang dari balik kartu tadi. 3 point tertera penjelasan singkat. Point pertama dan itu yang merupakan jawabannya: “Pemegang Kartu Pers yang namanya tertera di depan ini adalah benar wartawan tabloid Explore Indonesia.” Paling bawah ditandatangani oleh Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA sebagai editor in Chief Explore Indonesia.

Sebuah Hadiah yang sangat berharga.

Dan sejak hari itu, saya ketambahan sebuah profesi baru: “Wartawan”.

Terima kasih buat seluruh awak Explore Indonesia. Jika memang apa yang saya “sumbangkan” selama ini melalui tulisan saya dianggap layak untuk mendapat penghargaan, saya kira tidak ada jawaban lain selain “sebuah janji untuk tetap setia mengawal potensi negeri ini yang dilimpahi sejuta kedalaman eksotis yang patut diexplore.”

Semoga pula identitas baru itu tidak membuat saya menjadi “sok pemberita” yang asal menabrak etika. Jurnalistik hanyalah sebuah jalan. Tujuan utama pers pada hakikatnya adalah penyambung realita dari sebuah domaian ke domain lain. Dan diantara domaian itu, terletak sub domain yang perlu dijaga dengan integritas penuh: “idealisme.”

Hanya saja, dari lubuk hati yang paling dalam kadang saya bertanya, “kearah manakah idealisme seorang insan pers diarahkan?” Bukankah, kadang dengan Kartu Pers itu seorang wartawan terlanjur menganggap dirinya “seorang yang sakti mandraguna” dalam mengeksploitasi fakta?. Sehingga terkadang, fakta telah berubah menjadi sebuah komoditas. Tapi beruntunglah saya selama ini, 4 edisi menyumbang tulisan di Explore Indonesia, tanpa sekalipun menyodor selembar kwitansi untuk ditagihkan ke orang atau institusi yang saya muat dalam tulisan-tulisan saya.

Semoga, Kartu Pers itu membuat saya menjadi berubah. (http://www.sitaro.wordpress.com)