Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Negeri Para Preman

KOPI - Karena bingung, tak tahu harus bagaimana mencari pekerjaan. Dukri dan kawan-kawannya (dukri and the genk) pergi ke bos preman. Bos para preman, penguasa Negerinya. "Aku ingin mendapat pekerjaan bos, aku ingin kaya, aku ingin merubah nasib", katanya dengan penuh harapan.

Pak bos preman terkenal punya banyak wilayah kekuasaan. Ia preman yang paling mashyur dan di segani di negerinya, semua orang takut padanya. Ia sangat berwibawa dan paling perkasa tapi murah senyum. Sampai-sampai orang-orang di negerinya kerap menyebutnya dengan julukan "The Smiling Preman". Ia orang yang berkepala dingin dan bertangan besi, segala yang ia inginkan harus tercapai. Tapi bung bos, eh maaf pak bos. Lantaran kami tak punya modal banyak baik ketrampilan maupun uang. Lantas kami harus bagaimana?"

Pak bos pun terdiam dan berfikir.

"ehhmmm... ente mau kaya? kalau mau jadi preman tak perlu modal macam-macam."

"Wah ente jangan sembarangan pak bos. Hari gini... serius pak bos?"

"Serius coy..."

"Gua nggak bisa main silat pak bos, karate cuma ikut sekali, kungfu cuma nonton di tivi. Gimana gua mau jadi preman pak bos?"

"Kalau masalah itu nggak usah di pikirin coy, itu perkara mudah. Sekarang ente mau nggak jadi preman?"

"Mau.. mau pak bos. Tapi bisa kaya kan?"

"Yang penting ente nurut apa kata gua dan mau jadi gerombolan gua"

"Gerombolan apa pak bos?"

"Gerombolan golongan preman coy.."

"Itu paguyuban atau partai pak bos?"

"Apa aja boleh...." Huahaha

"Ah pak bos bisa aja... Ini gua bener bisa kaya kan pak bos?"

"Bisa coy... Santai.."

"Terus gua harus ngapain pak bos?"

"Ente gua kasih lahan proyek di pasar, ente pegang wilayah pasar."

"Gimana caranya bos? Kalau ada preman juga disitu gua harus ngapain?"

"Santai bro.. Siapa yang berani sama gua disini? Nanti gua kasih ente surat kuasa".

"Ini beneran bisa kaya pak bos?"

"Ya bisa coy... Yang penting ente nurut sama gua dan jadi anggota gerombolan gua"

"Ok bos... jadi sekarang gua pegang proyek di pasar ya bos?"

"Ente dari tadi nanya mulu... Lola amat ente!"

"Ya ente kan si bos, pasti ente lebih pinter dari gua".

"Ok deh.. Sekarang ente urus tuh proyek di pasar. Ente urus jatah dari orang-orang pasar".

"Siap komandan...!!!"

Dukri pun akhirnya mendapat pekerjaan, ia mengurusi segala macam proyek di pasar atas dasar mandat surat kuasa dari pak bos. Pekerjaan dukri and the genk hanya sekedar memanaje uang jatah dari orang-orang pasar. Hampir kaya manajer perusahaan coy.. Sekarang dukri and the genk berkuasa di salah satu pasar di negerinya. Di sela-sela waktu kerjanya, Dukri bertemu teman lamanya yang dulu satu SMA dengannya.

"Eh.. Ente Dukri ya? Yang dulu waktu SMA suka ngintip cewe di kakus?"

"Ente siapa? Ente nggak tahu gua yang punya wilayah ini?", saut Dukri dengan kondisi mabuk.

"Oh... Tambah ada kemajuan ente, pake dasi dan jas segala. Udah kaya milionare yang sering nongol di tivi-tivi aja. Wah keren ente duk.. Ente sekarang yang pegang wilayah ini ya? Sudah berapa lama ente kerja dengan si bos?"

"Mau tahu aja ente... Ente pengen gua kepret dollar? Pergi sana... Ganggu orang lagi seneng aja ente.. Hooooaaaahhhhhh"

Tak lama, teman-teman dukri berlarian menghampirinya. Dengan nafas berengosan teman-temannya menyampaikan kabar.

"Gawat coy... Gawat..!!!"

"Ada apa bro? Siapa yang di rawat?"

"Gawat coy... Gawat.. Pokoknya gawat, kita harus pergi dari sini"

"Ada apa emangnya? Gawat apanya?"

"Orang-orang pasar... Gawat.. Kita harus cepat-cepat pergi dari sini"

"Orang-orang pasar kenapa coy? Apanya yang gawat?"

"Orang-orang pasar coy.. Orang-orang pasar..!!! Ayo buruan kita pergi dari sini"

"Ada apa coy? Ente ngomong yang bener... Nih ente minum anggur dulu, biar ente bisa tenang ngomongnya"

Gleekkkk... Gleeekkkk... Gleekkkk...

"Sekarang ente ngomong... Ada apa coy? Apanya yang gawat?"

"Orang-orang pasar coy... Haaahh...Haaahhh... Haaahhh... Orang-orang pasar"

"Kenapa dengan orang-orang pasar?"

"Mereka... Mereka sekarang mau demo, mau protes sama kita"

"Mereka mau demo soal apa?"

"Mereka menolak di mintain jatah coy... Mereka juga mau memboikot proyek pembangunan pasar yang udah kita atur"

"Waduh... Sebaiknya sekarang kita lapor si bos aja. Sebelum kondisi semakin gawat"

"Ok...."

Dukri and the genk pun berlari menuju rumah pak bos preman, dengan gegap gempita dan penuh kepanikan, ia menyampaikan apa yang terjadi di wilayah pasar yang ia pegang kepada pak bos preman..

"Lapor pak bos, situasi gawat darurat, bener-bener gawat pak bos!!!", lapor dukri dengan situasi gugup.

"Ada apa ente kesini? Ada masalah apa coy?"

"Waduh.. Gawat Pak Bos... Orang-orang Pasar"

"Emang ada apa dengan mereka?"

"Mereka menolak untuk di mintain jatah, mereka demo dan memboikot proyek kita pak bos"

"Apa???? Apa kau bilang???"

"Ya, pak bos.. Mereka menolak dan berdemo di depan pasar"

"Mulai berani memberontak mereka... Mulai berani melawan gua"

"Jika situasi di biarkan akan bertambah gawat pak bos"

"Ok coy... Mereka mau cari mati rupanya... Baiklah"

"Kita harus bagaimana pak bos?"

"Tenang coy... Gua akan kirim pasukan preman untuk membubarkan mereka dan membantai mereka satu per satu" Hahaha

"Bener pak bos?"

"Ente jangan khawatir coy... Semua pasti beres"

Pak bos pun segera mengirim pasukan preman yang dilengkapi dengan pentungan, alat penyetrum, bayonet bahkan senjata api untuk menghalau orang-orang pasar yang membangkang. Selang kemudian, orang-orang pasar yang berdemo pun segera di serbu oleh para pasukan preman, sebagian dari mereka lari terbirit-birit menyelamatkan diri dan sebagian di tangkap untuk di interogasi. Di antara mereka yang tertangkap di bekap di sebuah gudang oleh para pasukan preman, dan di bawah ancaman pistol serta lototan mata para preman, mereka di tuntut untuk membuka mulut atas aksi mereka..

"Heh cecunguk...!!! Kenapa ente berani-beraninya membangkang?", saut preman kepada salah satu orang pasar.

Orang pasar tersebut pun terdiam..

"Heh kenapa ente diam? Jawab kuple!"

Dan dia pun tetap terdiam..

"Ente kalau nggak mau ngomong, gua setrum gigi ente!"

Dia masih terdiam...

"Ente nekat mau mati? Kalau ente nggak mau ngmong, bukan hanya ente yang bakal mati, tapi istri dan anak ente"

"Gua belum kawin bung preman... Jadi gua nggak punya istri dan anak", jawab si orang pasar.

"Ok... Berarti keluarga ente yang bakal mati, orang tua dan saudara-saudara ente bakal gua cincang"

"Gua nggak tahu apa-apa, gua cuma ikut-ikutan aja bung preman, percaya deh.."

"Siapa ketua gerombolan demo itu?"

"Gua nggak tahu bung preman"

"Ente bisa selamat, asal ente ngomong siapa ketua gerombolan demo itu?"

"Kita hanya mendapat informasi dari Dasman bung preman, jika hidup di tengah ketidakadilan tak boleh hanya diam"

"Ohhh jadi Dasman, dalang dari semua ini... Gua sikat dia"

"Tapi benar apa yang di katakan Dasman bung preman, jadi Dasman bukan dalang... Kita dan Dasman hanyalah penonton yang interupsi di tengah adegan yang tidak senonoh yang di mainkan para dalang di atas panggung pertunjukan!"

"Diam kau...!!! Ente cuma cecunguk pasar... Gua injek aja ente mampus. Jadi jangan sok ente, mau jadi politisi? Gua setrum mulut ente!"

Aaaaaauuuuuwwwwwww .......ampun bung preman... Si orang pasar pun berteriak kesakitan..

Tak lama, para pasukan preman pun melaporkan kepada pak bos hasil interogasinya dengan orang-orang pasar yang berhasil mereka bekap...

"Lapor komandan... Kami telah menemukan ketua gerombolan demo kemarin di pasar!"

"Tumben ente pinter coy? Nggak percuma gua pelihara ente..."

"Oya jelas bos..."

"Emang siapa orang yang berani melawan gua?"

"Si Dasman bos, bakul lele di pasar"

"Beraninya dia... Sekarang juga suruh Dukri untuk menyelidiki si cecunguk Dasman dan culik dia kemari... Gua bikin bregedel dia"

"Ok pas bos, laksanakan....!!!"

Pasukan preman pun segera menyampaikan perintah pak bos kepada Dukri and the genk.. .

"Bung Dukri and the genk, si bos memerintahkan ente untuk menyelidiki si Dasman, dalang dari demo kemaren!"

"Ohhh... Jadi si bakul lele itu, dalang dari semua ini... Ok siap, perintah pak bos segera gua laksanakan!"

Dengan cepat Dukri and the genk segera menyelidiki aktivitas sehari-hari Dasman, dan nggak pake lama Dukri and the genk meculik Dasman...

"Heeeiiiii Dasman.... Sini ente.."

"Ada apa bro?"

"Cepat ente ikut gua"

"Ada apa nih? Mau kemana?"

"Pokoknya ikut!", bentak Dukri sambil menyeret baju Dasman.

"Eh... Mau kemana nih? Jangan asal tarik donk..."

"Ente berani sama gua? Ayo cepet ikut... Banyak cingcong ente", celetuk Dukri dengan penuh emosi dan semakin kencang menarik baju Dasman.

Dukri and the genk pun membawa Dasman ke rumah pak bos... Ia pun mendorong Dasman ke hadapan pak bos.

.

"Lapor pak bos... Ini dia orang yang si bos cari"

"Ohhh.... Jadi ini yang bernama Dasman... Bakul lele yang katanya mau memperjuangkan keadilan? Hahaha"

Dasman pun terdiam dan merunduk...

"Ente cecunguk pasar, berani sama orang besar kaya gua... Gua pites ente jadi rempeyek!"

"Bukan begitu bos... Aku hanya.."

"Ah diam ente...!!! Pelayan, ambilkan alat setrum... Berani sama gua rupanya dia"

Pelayan pun memberikan alat setrum itu kepada pak bos...

"Rasakan ini....!!!"

Auuuuuuwwwwww..... Ampun pak bos... Dasman pun berteriak sambil kejang-kejang kesakitan... Sampai tergeletak lemas..

"Berani melawan gua ente? Maksud ente apa mempengaruhi orang-orang pasar untuk memberontak?"

Dukri hanya tergelak di lantai sambil meraung kesakitan.... Dan si bos pun menendangi Dasman..

"Jawab ente... Maksud ente apa? Ayo jawab! Pengecut ente...!!!"

Dasman pun masih meraung kesakitan sambil tergeletak di lantai.... Dan si bos pun terus menendangi sambil terus meluapkan kemarahannya...

Mata Dasman pun berkaca-kaca, matanya tertuju ke arah muka si bos... Ia terus memandang...

Tatapannya tajam... Dan ia terus menatap...

Pak bos pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Dasman, tak sampainya di muka pintu... Tiba-tiba Dasman mengeluarkan kata-kata terakhirnya... Sambil tergeletak dan memegangi perutnya, ia berkata dengan nada merintih....

"Ente bisa membuat takhta dari bayonet, tapi ente tidak akan mampu duduk terlalu lama di atasnya!"

Dan si bos pun hanya menoleh sembari memberikan senyuman yang kecut...

"Habisi dia, buang dia ke laut", perintah si bos ke anak buahnya

"Siap bos"

Keeseokan harinya, warga pasar pun terheran-heran... Dasman tidak kelihatan di sekitar pasar, tidak seperti biasanya ia selalu muncul di warung kopi.. Semua warga menanyakan keberadaan Dasman. Kondisi semakin runyam, ketika mulai geger atas hilangnya Dasman.. Suasana pasar gegap gempita dan mencekam.... Karto teman dekat Dasman mencari dan bertanya kepada semua orang pasar yang pernah berkomunikasi dengan Dasman, menanyakan kapan dan dimana mereka terakhir bertemu Dasman... Di temani istri Dasman yang sangat panik, Karto terus mencari dan bertanya ke semua orang yang berada di pasar.... Tapi tetap tak ada hasil.... Karto pun melaporkan hilangnya Dasman ke yang berwajib tapi tetap tak ada hasil...

Karto berinisiatif mengumpulkan semua orang-orang pasar, ia berkeinginan melanjutkan perjuangan Dasman guna menumpas ketidakadilan... Dukri and the genk bertambah kejam semenjak hilangnya Dasman... Karena kekuatan orang-orang pasar sebagai warga yang senasib dan sepenanggungan sedikit demi sedikit hancur karena rasa takut... Mereka lebih memilih patuh kepada Dukri and the genk untuk mengobati rasa takutnya dan sebagai upaya menyelematkan dirinya..

"Wahai Saudara-saudaraku, apakah perlawanan kita akan sampai disini saja?", ujar Karto dengan nada berkobar-kobar kepada khalayak pasar.

Situasi segera ramai, dengan nada bising semua orang mulai berkerumun dan berkumpul di tengah pasar... Tak lama, mereka berdiskusi saling bertukar perasaan kesal, lara nan gelisah atas kelakuan Dukri and the genk selama ini.. Akhirnya mereka sepakat melakukan demontrasi besar-besaran guna menentang kuasa pak bos preman.

Di tengah terik matahari, mereka melakukan demonstrasi besar-besaran sampai semua aktivitas pasar terhenti. Keadaan mulai tak normal, aktivitas perdagangan mati dan transaksi terhenti. Dukri and the genk tak terlihat di TKP, mereka memilih pergi menjauh menyelamatkan diri.. Dan Dukri and the genk luput dari perhatian. Demonstrasi mulai mencapai puncak keganasannya, dan tuntutan pun berpuncak pada penolakan kuasa sosok si bos preman semata.. Situasi mulai aneh... Aneh... Aneh... Dan aneh...

Tuntutan mengarah pada "kebebasan" bukan pada "pembebasan", pembebasan dari ketidakadilan. Ada apa ini? Aneh... Tiba-tiba mereka hanya menuntut agar situasi bebas lepas dari jeratan kuasa. Mereka mengira dengan situasi diri yang bebas lantas bisa memperbaiki keadaan mereka yang papa sengsara. Akhirnya si bos pun turun dari tahkta, terjungkal dari kursi kekuasaannya. Dan Dukri and the genk dari kejauhan mendengar bahwa orang-orang pasar menuntut situasi bebas. Dukri and the genk pun berfikir atas situasi yang terjadi...

"Sepertinya situasi dapat kita manfaatkan dan ini akan menguntungkan kita", cetus Dukri kepada gerombolannya.

"Maksud ente apa duk? Mulai kaya dukun ente..."

"Ente ini mau jadi orang besar nggak bro? Makanya otak ente di pake coy... Hahaha"

"Wah ente kaya profesor aja duk..."

"Oblong ente... Ini kesempatan coy... Kesempatan kita untuk bisa berkuasa"

"Gimana caranya duk?, tanya temannya.

"Dengan situasi bebas kita justru bisa leluasa untuk menancapkan kuasa"

"Gua masih belum bisa ngerti omongan ente duk, ente mulai kaya profesor yang kepalanya botak itu"

"Payah ente, dengan "kebebasan" kita bebas berkuasa, karena yang sakral adalah kebebasan itu sendiri... Hahaha... Ngerti nggak ente?"

"Terserah ente deh duk... "

Dan akhirnya Dukri and the genk mengambil tampuk kekuasaan, atas nama "kebebasan" ia kembali bebas berkuasa. Ia bersama kelompoknya luput dari pukulan angin perubahan. Ia dan kelompoknya berhasil dengan cepat beradaptasi dengan iklim perubahan. Gelombang perubahan ternyata tidak cukup memiliki kemampuan untuk menyapu bersih Dukri dan kelompoknya, justru ia mampu menyesuaikan diri terhadap logika perubahan bahkan dengan cepat melakukan penataan diri kembali dan tetap memiliki akses yang sangat kuat atas kekuasaan.

Kondisi pun tak banyak berubah, hanya sekedar berganti jubah bersama aneka kosmetik dan aksesorisnya. Orang-orang pasar pun tetap sulit untuk mengartikulasikan kepentingannya sekalipun berada di dalam atmosfer kebebasan. Mereka tetap termajinalkan dan hidup di bilik kesengsaraan. Di dalam situasi pedih nan sengsara, tiba-tiba muncul bayang-bayang di persimpangan jalan menuju pasar, "Piye kabare? Enak jamanku to?"

 

Perintah Kapolri : Tembak Mati Oknum Personel Polri sebagai Bandar Narkoba
Senin, 23 April 2018

KOPI, Pekanbaru - Kunjungan kerja Kapolri Jendral (Pol) Tito Karnavian kepulau Sumatera berawal dari propinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Palembang. Dalam rangka meningkatkan Solidaritas dan sinergiritas antar dua lembaga institusi Polri dengan TNI mengamankan terselenggaranya Pemilu serentak 2018 serta Pilpres 2019. Kunjungan dua Jendral bintang empat ini ke Propinsi Riau, hari Jum’at (20/4-17). Kedatanganya disambut oleh Kapolda Riau,... Baca selengkapnya...

Cucu Pahlawan Nasional Bra Koosmariam Tersiram Air Panas oleh Pramugari Garuda
Minggu, 15 April 2018

KOPI, Jakarta – Cucu pahlawan nasional Pakubuwono X yakni B.R.A Koosmariam Djatikusumo (69) mengalami cacat payudara akibat tersiram air panas di kabin pesawat oleh oknum pramugari. Insiden terjadi saat penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta menuju Banyuwangi pada 29 Desember 2017 lalu. Saat itu, pramugari Garuda sedang melayani para penumpang atau serving. Tak disangka, teh panas tumpah dan mengenai tubuh korban. Cucu pahlawan nasional... Baca selengkapnya...

Wartawan Dimeja-hijaukan, Dewan Pers Mutlak Dibubarkan
Sabtu, 14 April 2018

KOPI, Jakarta – Ketua Umum PPWI Nasional, Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA kembali bersuara keras atas tindakan kriminalisasi terhadap wartawan yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Kali ini, Wilson merasa sangat prihatin atas perlakuan sewenang-wenang aparat kepolisian di Polda Sumatera Barat yang menyeret Ismail Novendra, pimpinan redaksi Koran Jejak News yang terbit di Padang, Sumatera Barat, ke meja hijau. Laporan terkini yang... Baca selengkapnya...

Ada Apa Dengan KPK ? Tak Berani Mengusut Kasus Izin Kehutanan Melibatkan Zulkifli Hasan
Jumat, 13 April 2018

KOPI, Jakarta - Keterlibatan mantan Mentri Kehutanan Zulkifli Hasan memberikan izin pembebasan lahan hutan di Propinsi Riau dan Banten. Hampir semua kasus korupsi alih fungsi lahan berawal dari keputusan menteri yang berwenang dan saat itu Zulkifli Hasan sebagai Menteri Kehutanan melalui SK No. 673/ 2014 menyetujui alih lahan sebesar 30.000 ha yang berujung pada pemberian suap oleh mantan Gubernur Annas Makmun . Dalam persidangan terdakwa... Baca selengkapnya...

Erasmus Huis Hadirkan Konser Alexander Ullman di Jakarta
Kamis, 12 April 2018

KOPI, Jakarta – Lembaga Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, mengadakan acara konser tunggal menghadirkan Alexander Ullman, bertempat di The Erasmus Huis, Kedubes Belanda, Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 11 April 2018. Alexander Ullman adalah pemenang pertama Franz Liszt Piano Competition ke-11 yang berlangsung di Utrecht, Belanda, tahun 2017 lalu. Tidak kurang dari 300 penonton menyaksikan konser anak muda berkebangsaan Inggris... Baca selengkapnya...

Mendes PDTT Eko Putro Ingatkan Kades Tak Selewengkan Dana Desa , Telpon Satgas Bila Ada Kendala
Kamis, 12 April 2018

KOPI, Jakarta – Masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dengan Jusuf Kalla, Selama Tiga tahun ini dana desa mampu membangun lebih dari 121.000 kilometer jalan desa. Ini belum pernah ada dalam sejarah Indonesia. Desa mampu membangun 1.960 kilometer jembatan, tambatan perahu, embung air (sumur resapan air), sarana olahraga, irigasi, serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro... Baca selengkapnya...

Inilah Puisi “Ibu Indonesia” Dibacakan oleh Sukmawati Bikin Heboh Umat Islam
Sabtu, 07 April 2018

KOPI, Jakarta - Putri Presiden pertama Indonesia Soekarno yakni Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi berjudul “Ibu Indonesia” di acara Pagelaran peragaan busana “Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week ke 29” bertempat di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Selatan, pada Kamis, 29 Maret 2018. Ibu Indonesia Aku tak tahu Syariat Islam Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah Lebih cantik dari... Baca selengkapnya...

INTERNASIONALNew European Report Points Fingers at Po.....
25/04/2018 | Redaksi KOPI

KOPI, Maroko - The involvement of the polisario in terrorist acts in the Sahelo-Saharan region has once again been singled out in a report funded by t [ ... ]



DAERAHRatusan Kepala Kampung SeKabupaten Jayaw.....
24/04/2018 | Wawan Setiawan

KOPI-Wamena, Plt. Bupati Kab. Jayawijaya Doren Wakerkwa, SH menerima lebih kurang 100 Orang Kepala Kampung se Kab. Jayawijaya dalam sebuah aksi demo d [ ... ]



PENDIDIKANSMK Telkom Pekanbaru Siapkan 100 unit K.....
25/04/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru - Pelaksanaan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Telkom Pekanbaru, tahun ajaran 2017-2018 meny [ ... ]



HANKAMTNI Memasak untuk Pengungsi Gempa Kalibe.....
23/04/2018 | Marsono Rh

KOPI - Banyaknya jumlah warga Kalibening Banjarnegara mengungsi membuat dapur umum yang didirikan di sejumlah lokasi harus bekerja ekstra keras untuk  [ ... ]



OLAHRAGAViral Medsos Rekaman Video Paspampres Ha.....
25/02/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Sebenarnya kegiatan ini bukan kegiatan kenegaraan. Kegiatan tersebut seremonial menyaksikan pertandingan Final antar dua kubu grup [ ... ]



PARIWISATAAston Luncurkan Minuman Anyar “Cocore.....
27/03/2018 | Buddy Wirawan
article thumbnail

KOPI, Bandung – Trend “nongkrong” atau berkumpul sudah menjadi gaya hidup anak muda maupun dewasa saat ini, mulai dari makan dan minum hingga  [ ... ]



POLITIKPilkada Biak Numfor 2018, Ujian Terberat.....
23/04/2018 | Redaksi KOPI
article thumbnail

KOPI, Jakarta – Proses persiapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Biak Numfor terus berlangsung, seperti halnya juga di 100 lebih daera [ ... ]



OPINIMemperkuat Peran Tiga Pilar Utama Pendid.....
21/04/2018 | Harjoni Desky, S.Sos.I., M.Si

KOPI - “Pendidikan merupakan alat yang memiliki tenaga untuk mengubah dunia” ini salah satu mutiara terkait dengan pentingnya pendidikan. Dari ka [ ... ]



PROFILBrigjen Pol. Drs. H. Faisal Abdul Naser,.....
02/03/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

KOPI-Jakarta,Bila Kita perhatikan bahwa Bumi Aceh sangat subur sekali. Bahkan tanaman ganja tumbuh seperti rumput hijau di tanah. Bumi Aceh sangat sub [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAIkuti FLS2N Lampung Barat, SMPN 2 Bandar.....
22/04/2018 | Jamsi Martien

KOPI, Lampung Barat - Siswa/i SMP N Bandar Negeri Suoh juara 1 (satu) FLS2N Musik Tradisional di kabupaten Lampung Barat. Festival Lomba Seni Siswa Na [ ... ]



ROHANIGerakan Belajar dan Mengajar Al-Qur'an.....
04/04/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir
article thumbnail

KOPI, Jakarta - Sebagai daerah yang menganut sistem syariat Islam maka daerah Aceh banyak sekali terdapat tempat-tempat pendidikan belajar Alquran. U [ ... ]



RESENSIHeboh Buku Fire and Furry Ungkap “ D.....
05/01/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Washington DC- Heboh buku Fire and Fury ungkap “Dapur Gedung Putih” Menjelang Pemilu Pilres Amerika Serikat . Dilansir dari The Guardian, R [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto
article thumbnail

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIMenatap Rasa.....
07/06/2017 | Mas Ade

Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



CURAHAN HATIAnggota DPRD Riau Suhardiman Amby Di-OTT.....
09/04/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru – Operasi Tangkap Tangan (OTT) bukan milik Institusi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) saja. Para istripun melakukan aksi serupa,  [ ... ]



SERBA-SERBIKonsul Amerika Serikat Tertarik Lingkun.....
12/04/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

KOPI-Jakarta, Kawasan lingkungan alam perlu dilestarikan. Apalagi kawasan lingkungan hidup seperti di Gunung Leuser merupakan paru-paru dunia. Pad [ ... ]



Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.