Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Kang Tejo Bingung

KOPI - Ketika hari mulai sore kang Tejo melangkahkan kakinya dari sawah, seperti biasanya setelah ia menengok sawahnya di pagi hari ia harus sampai ke rumah sebelum magrib tiba. Walau lokasi sawahnya tak jauh dari rumahnya, ia tak enak hati jika pulang setelah magrib. Lagipula, ia tak mau terlambat menghabiskan waktu sorenya dengan anak dan istrinya untuk menyiapkan makan malam. Sebelum itu pun ia harus memberi makan ayam-ayam peliharaannya di rumah.

Di kampungnya sedang ramai-ramainya mempersiapkan pemilihan umum, tak heran jika di penjuru jalan menuju rumahnya penuh dengan umbul-umbul dan gambar foto model caleg dengan berbagai gaya. Sambil pulang menuju rumahnya, ia memandangi satu per satu foto-foto caleg itu, kira-kira siapa diantara mereka yang sekiranya mewakili keinginannya. Paling tidak masalah pertanian terutama perkara tanah dan harga pangan diangkat dalam program kepemimpinanya. Tapi sepertinya ia belum yakin, belum ada di antara para calon-calon itu yang dengan jelas mengangkat masalah-masalah yang terkait dengan kehidupannya sehari-hari. Sesampainya ia di pertigaan dekat rumahnya, ia bertemu dengan Pak RT yang ternyata sedang berkeliling kampung.

"Assalamualaikum Kang Tejo", tegur Pak RT kepadanya

"Walaikumsalam... Dari mana Pak RT?"

"Ini sedang keliling kampung, habis ke sawah ya pak?"

"Ya pak, ini baru mau pulang"

"Jangan lupa pak kita 2 bulan lagi memilih wakil rakyat, jangan lupa gunakan hak pilih bapak"

"Insya Allah saya akan memilih pak"

Selepas bertemu dengan pak RT pun, ia melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti sejenak. Setapak demi setapak, di tengah langkah kakinya itu hati kang Tejo pun semakin tak menentu ketika ia mendengar istilah "wakil rakyat". Batinnya menandaskan bahwa pemilihan umum bukanlah pagelaran kacangan, bukan seperti pertunjukan sirkus di pasar malam, bukan pula seperti parhelatan debus di emperan alun-alun.

Pemilihan umum sebuah perhelatan akbar, dimana orang sekucel kang Tejo, seorang petani yang tanahnya tinggal secuil yang biasanya hanya menjadi korban "cubitan" kebijakan, kini di tagih haknya. Tak habis pikir, biasanya hanya ada seorang renternir yang rajin datang kepadanya untuk menagih hutang. Kini ia di tagih soal hak pilih, hak politik seorang warga negara. Dan mungkin hanya hak memilih saja yang di tagihkan kepadanya, untuk hak-hak yang lain tak pernah datang di pintu pengharapannya.

Tapi sekali lagi, kang Tejo belum mendapatkan pilihan yang "srek" untuk kelangsungan hidupnya. Ia takut nasibnya di gantung dan tak pernah di angkat dari teriknya singasana peradaban. Tak terasa, langkah kakinya telah mengantarkan ia di depan pagar rumahnya. Di depan halaman rumah, terlihat Laela anak perempuannya sedang menyapu halaman. Melihat ayahnya pulang dari kebun, Laela tergopoh-gopoh menyambut ayahnya itu dengan ciuman tangan.

"Eh... Bapak baru pulang", saut Laela kepada sang Ayah

"Ibu mu mana nak?"

"Ibu di dapur pak,  lagi menyiapkan makanan"

Kang Tejo pun segera masuk ke dapur rumahnya, terlihat sang istri sedang sibuk meniupkan udara ke arah tungku dengan pipa kayu. Mendengar suara langkah kaki dan ketukan meja, bu romlah pun segera menengok ke arah belakang dan ternyata suaminya sedang mengucurkan air di gelas kemudian di teguknya. Tak lama, kang Tejo pun pergi ke belakang rumah untuk memberi makan ayam-ayam peliharaannya. Ayam-ayamnya terlihat semakin besar, ayam-ayam itu adalah sebuah alternatif kang Tejo untuk menabung. Suatu saat ketika ia membutuhkan uang mendadak, ayam ini bisa ia jual.

Hanya ini satu-satunya alternatif yang bisa ia jadikan jaminan ketika kondisi nasibnya di rasa semakin terhimpit dan hendak tenggelam. Dan kini mentari pun semakin terhimpit ke ufuk barat, ia mulai tenggelam meninggalkan bumi. Malam pun tiba, kini sang istri memanggilnya untuk berkumpul di meja makan. Tak tahu makanan apa yang hendak ia makan malam ini. Namun bagi keluarganya, yang terpenting adalah mangan ora mangan asal kumpul (makan tidak makan asal kumpul). Ternyata masih seperti biasanya, selalu ikan asin dan sambal korek yang selalu hinggap di meja makannya. Hanya dari asinnya ikan asin dan pedasnya sambal korek asupan gizi yang ia dapatkan hampir sepanjang hari. Sambil menikmati hidangan makan malam, istrinya berkata..

“Tadi ada petugas kelurahan datang meminta data anggota keluarga pak”, ungkap sang istri

“Untuk apa bu?”

“Katanya untuk data daftar calon pemilih di pemilihan umum nanti pak”

“Hanya itu yang ia minta? Tak ada pesan yang disampaikannya bu?”

“Kata pak petugas, jangan lupa 2 bulan lagi kita harus datang ke TPS dekat kelurahan untuk memilih”

“Bapak dari pagi sampai sore harus pergi ke sawah, kalau tidak kita mau makan apa?”

“Kan kalau di itung-itung paling cuma tiga menit pak di bilik suara, sehabis itu bapak bisa kembali ke sawah”, sela Laela di tengah perbincangan

“Masalahnya bapak juga belum mendapatkan pilihan yang “srek”, yang sekiranya bisa mendatangkan kemudahan bagi kehidupan kita… Walau tiga menit itu menentukan nasib kita selama 5 tahun”

"Ya sudah-sudah terserah bapak aja, sekarang makannya diselesaikan. Ibu mau beres-beres, Laela kamu bantu ibu beres-beres"

"Ya bu", jawab Laela

Seusai makan malam yang di hujani perdebatan tentang hak pilih dan cukup melelahkan kang Tejo, ia memilih mengakhiri malamnya untuk berbaring di kamarnya. Menghempaskan beban sejenak, dengan lelap ia merengkuh kenyamanan guna meraih energi untuk di pakainya esok di sawah. Ketika singasana mentari mulai mengepakan sinarnya, kang Tejo sudah terbangun dan telah bersiap untuk bergegas ke sawah. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju ke sawah.

Di tengah perjalanannya ke sawah, ia bertemu dengan sekumpulan pemuda kampungnya. Sepertinya para pemuda itu sedang sibuk menempelkan gambar di sepanjang dinding gang dan di badan tiang-tiang yang menancap di pinggiran jalan. Kang Tejo pun menyapa para pemuda itu.

"Lagi sibuk apa mas?", sapa kang Tejo

"Ini kang, lagi menempel gambar kang Dasman. Dia kebetulan nyalon anggota DPR. Maklum kang lagi musim kampanye"

"ohh... Kang Dasman saudaranya pak Lurah itu?

"Ya kang, nanti siang juga dia mau mengadakan sosialisasi di balai desa. Datang saja kang Tejo"

Kang Tejo pun hanya bisa tersenyum dan merunduk mendengar ajakan pemuda tersebut. Kang Tejo melanjutkan perjalanannya menuju ke sawah. Sawahnya sudah lama di bayang-bayangi kemarau panjang, sehingga tak banyak yang ia lakukan di sawah. Hanya sekedar mengecek tanaman cabai dan sedikit memberi semprotan pembasmi hama.

Setelah di rasa tak ada lagi yang harus di kerjakan, ia pun bergegas pulang. Ketika langkah kakinya sampai di pinggir jalan balai desa, kang Tejo pun terhenti sambil memandangi halaman balai desa itu. Suasana di balai desa terlihat ramai, warga kampung silih berganti berdatangan. Dari pemuda kampung sampai ibu-ibu berduyun-duyun masuk ke halaman balai desa. Kang Tejo pun bertanya pada salah satu ibu-ibu yang datang..

"Mbok, ini ada apa?", tanya kang Tejo

"Kang Dasman, saudaranya pak lurah lagi sosialisasi mau nyaleg kang... Ayo masuk saja kang, lumayan dapat uang 50 ribu+nasi uduk dan ada acara dangdutnya pula."

Ibu-ibu itu pun segera lari masuk ke halaman balai desa, kang Tejo berdiri terdiam di pinggir jalan balai desa sambil menatap ke arah halaman balai desa itu. Ternyata benar apa yang dikatakan pemuda itu tadi pagi. Dan akhirnya kang Tejo pun memilih untuk masuk ke halaman balai desa, ia berdiri di tengah kerumunan warga yang menyaksikan sosialisasi tersebut. Nampaknya acara baru saja di buka.

Dan sepertinya acara ini sengaja di gelar sangat meriah, terdapat panggung yang di penuhi peralatan musik dari organ, gitar, seruling sampai gendang serta podium kecil berdiri di sebelah kirinya. Tiba-tiba para warga berteriak ingin acara musik dangdutnya segera di mulai. Teriakan warga semakin kencang ketika MC masih tetap terus bercuap-cuap. Permintaan warga pun segera di penuhi, musik dangdut pun segera berdendang. Selang 4 lagu dangdut berkumandang, para warga kembali berteriak. Kali ini para warga berteriak untuk meminta uang 50 ribu+nasi uduk yang di janjikan oleh panitia penyelenggara. Akhirnya apa boleh buat, panitia penyelenggara pun membagikan uang 50 ribu+nasi uduk yang sebenarnya di bagikan di akhir acara.

Warga pun berebut uang tersebut dan nasi uduk, suasana semakin sesak dan berjejalan. Setelah panitia selesai membagikan uang dan nasi, kang Dasman pun naik ke atas panggung. Dan MC pun menghimbau kepada audience bahwa acara inti akan segera di mulai. Kang Dasman pun membuka pidatonya dengan ucapan salam. Tak sempat menyampaikan banyak isi pidatonya, warga satu per satu meninggalkan acara itu.

Halaman balai desa terlihat semakin lengang bahkan sudah tak ada lagi kerumunan. Panitia penyelenggara pun kebingungan, mencoba menghentikan langkah warga yang berhamburan pulang. Namun usahanya percuma, warga tak mau di bujuk untuk kembali ke balai desa. Melihat tak ada audience yang mendengar pidatonya, kang Dasman akhirnya turun dari panggung dan menghampiri panitia penyelenggara. Dengan nada kecewa ia berkata..

"Kok acaranya jadi berantakan seperti ini?", ungkap kang Dasman kepada panitia penyelenggara

"Ini di luar konsep yang di rencanakan pak"

"Ahhhh.... Goblok kalian.. Payah..."

"Kami tak bisa berbuat apa-apa pak, setelah acara musik dangdut dan pembagian uang dan nasi warga berduyun-duyun pulang. Kami sudah berusaha mencegahnya pak, tapi sulit"

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Saya belum menyampaikan isi kampanye saya"

"Bagaimana jika bapak siapkan uang dan nasi lagi, agar warga mau datang kembali ke sini"

"Kalau urusannya seperti ini, bisa bangkrut saya"

Akhirnya acara pun mendadak bubar berantakan, kang Dasman pulang dengan hati yang sangat kecewa. Rancananya gagal total, ia tak berhasil menarik simpati warga. Terlihat di pnggir jalan kang Tejo melangkahkan kakinya, tiba-tiba di tengah jalan ia bertemu sekumpulan warga yang sedang berbincang-bincang di warung kopi. Ia pun beranjak ke warung itu dan salah satu warga menyapanya..

"Kang, habis dari balai desa ya?", saut  orang itu kepada kang Tajo

"Ya ini, tapi acara belum selesai kok orang-orang sudah pada bubar yah"

"Lah emangnya mau ngapain lagi kang? Kita suruh dengerin dia ngomong? Kita sudah bosen kang di kasih janji ini janji itu, janjinya sih enak-enak kang tapi kalau dia sudah jadi pejabat mana dia ingat sama orang kecil kaya kita? Yang ada dia cuma besarin perutnya saja!

"Lah terus sampeyan menjagokan siapa?"

"Kang... Kang... Nyoblos gak nyoblos sama saja, nasib tetep sengsara. Harga sembako naik, anak sekolah bayarannya mahal, harga pupuk mahal, harga bibit mahal dan hasil panen kita di hargai murah karena kalah saing dengan barang impor. Gimana kita mau sejahtera? Kita masih mau bertani saja untung"

"Saya juga heran, sebenarnya pejabat-pejabat itu mewakili siapa yah? Katanya wakil rakyat tapi tidak pernah merasa jadi wakil rakyat. Jangan-jangan cuma mewakili dirinya sendiri dan orang yang kasih modal kampanye"

"Kang... Kang... Sekarang orang jadi pejabat memang mau kaya kang. Habis banyak duit tidak masalah, yang penting balik modal. Boro-boro mikirin rakyat, sesudah jadi pejabat yang ada sawah di sulap jadi hotel, jadi Mall"

"Saya tambah bingung mau memilih siapa"

"Bukannya saya tidak mau milih kang, tapi apa ada pilihan yang bener? Yang bisa kasih jaminan hidup kita?"

"Nah itu, yang bikin saya bingung..."

Kang Tejo pun tak kunjung menemukan pilihannya, ia semakin bingung ketika di hadapkan pada realita wakil rakyat yang tak bisa ia percayakan nasibnya begitu saja kepadanya. Harapan kang Tejo akan hidupnya yang lebih baik tak lagi menjadi harapan. Ia tak mau harapannya yang besar di gantikan dengan uang recehan dan nasi uduk. Hatinya terombang-ambing di antara tuntutan untuk memilih dengan realita wakil rakyat yang tak lagi menjadi wakil rakyat. Hari mulai sore, di tengah kegelisahan hatinya ia mengakhiri perbincangannya dan memilih untuk pulang. Ia pun tak tahu harus berbuat apa di pemilihan umum nanti. Ia tak tahu hari depan akan berkata apa pada dirinya. Mungkinkah ia harus menunggu ramalan jayabaya? atau menunggu datangnya sang Ratu Adil untuk merubah nasibnya?

 

Perintah Kapolri : Tembak Mati Oknum Personel Polri sebagai Bandar Narkoba
Senin, 23 April 2018

KOPI, Pekanbaru - Kunjungan kerja Kapolri Jendral (Pol) Tito Karnavian kepulau Sumatera berawal dari propinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Palembang. Dalam rangka meningkatkan Solidaritas dan sinergiritas antar dua lembaga institusi Polri dengan TNI mengamankan terselenggaranya Pemilu serentak 2018 serta Pilpres 2019. Kunjungan dua Jendral bintang empat ini ke Propinsi Riau, hari Jum’at (20/4-17). Kedatanganya disambut oleh Kapolda Riau,... Baca selengkapnya...

Cucu Pahlawan Nasional Bra Koosmariam Tersiram Air Panas oleh Pramugari Garuda
Minggu, 15 April 2018

KOPI, Jakarta – Cucu pahlawan nasional Pakubuwono X yakni B.R.A Koosmariam Djatikusumo (69) mengalami cacat payudara akibat tersiram air panas di kabin pesawat oleh oknum pramugari. Insiden terjadi saat penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta menuju Banyuwangi pada 29 Desember 2017 lalu. Saat itu, pramugari Garuda sedang melayani para penumpang atau serving. Tak disangka, teh panas tumpah dan mengenai tubuh korban. Cucu pahlawan nasional... Baca selengkapnya...

Wartawan Dimeja-hijaukan, Dewan Pers Mutlak Dibubarkan
Sabtu, 14 April 2018

KOPI, Jakarta – Ketua Umum PPWI Nasional, Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA kembali bersuara keras atas tindakan kriminalisasi terhadap wartawan yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Kali ini, Wilson merasa sangat prihatin atas perlakuan sewenang-wenang aparat kepolisian di Polda Sumatera Barat yang menyeret Ismail Novendra, pimpinan redaksi Koran Jejak News yang terbit di Padang, Sumatera Barat, ke meja hijau. Laporan terkini yang... Baca selengkapnya...

Ada Apa Dengan KPK ? Tak Berani Mengusut Kasus Izin Kehutanan Melibatkan Zulkifli Hasan
Jumat, 13 April 2018

KOPI, Jakarta - Keterlibatan mantan Mentri Kehutanan Zulkifli Hasan memberikan izin pembebasan lahan hutan di Propinsi Riau dan Banten. Hampir semua kasus korupsi alih fungsi lahan berawal dari keputusan menteri yang berwenang dan saat itu Zulkifli Hasan sebagai Menteri Kehutanan melalui SK No. 673/ 2014 menyetujui alih lahan sebesar 30.000 ha yang berujung pada pemberian suap oleh mantan Gubernur Annas Makmun . Dalam persidangan terdakwa... Baca selengkapnya...

Erasmus Huis Hadirkan Konser Alexander Ullman di Jakarta
Kamis, 12 April 2018

KOPI, Jakarta – Lembaga Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, mengadakan acara konser tunggal menghadirkan Alexander Ullman, bertempat di The Erasmus Huis, Kedubes Belanda, Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 11 April 2018. Alexander Ullman adalah pemenang pertama Franz Liszt Piano Competition ke-11 yang berlangsung di Utrecht, Belanda, tahun 2017 lalu. Tidak kurang dari 300 penonton menyaksikan konser anak muda berkebangsaan Inggris... Baca selengkapnya...

Mendes PDTT Eko Putro Ingatkan Kades Tak Selewengkan Dana Desa , Telpon Satgas Bila Ada Kendala
Kamis, 12 April 2018

KOPI, Jakarta – Masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dengan Jusuf Kalla, Selama Tiga tahun ini dana desa mampu membangun lebih dari 121.000 kilometer jalan desa. Ini belum pernah ada dalam sejarah Indonesia. Desa mampu membangun 1.960 kilometer jembatan, tambatan perahu, embung air (sumur resapan air), sarana olahraga, irigasi, serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro... Baca selengkapnya...

Inilah Puisi “Ibu Indonesia” Dibacakan oleh Sukmawati Bikin Heboh Umat Islam
Sabtu, 07 April 2018

KOPI, Jakarta - Putri Presiden pertama Indonesia Soekarno yakni Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi berjudul “Ibu Indonesia” di acara Pagelaran peragaan busana “Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week ke 29” bertempat di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Selatan, pada Kamis, 29 Maret 2018. Ibu Indonesia Aku tak tahu Syariat Islam Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah Lebih cantik dari... Baca selengkapnya...

INTERNASIONALNew European Report Points Fingers at Po.....
25/04/2018 | Redaksi KOPI

KOPI, Maroko - The involvement of the polisario in terrorist acts in the Sahelo-Saharan region has once again been singled out in a report funded by t [ ... ]



DAERAHRatusan Kepala Kampung SeKabupaten Jayaw.....
24/04/2018 | Wawan Setiawan

KOPI-Wamena, Plt. Bupati Kab. Jayawijaya Doren Wakerkwa, SH menerima lebih kurang 100 Orang Kepala Kampung se Kab. Jayawijaya dalam sebuah aksi demo d [ ... ]



PENDIDIKANSMK Telkom Pekanbaru Siapkan 100 unit K.....
25/04/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru - Pelaksanaan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Telkom Pekanbaru, tahun ajaran 2017-2018 meny [ ... ]



HANKAMTNI Memasak untuk Pengungsi Gempa Kalibe.....
23/04/2018 | Marsono Rh

KOPI - Banyaknya jumlah warga Kalibening Banjarnegara mengungsi membuat dapur umum yang didirikan di sejumlah lokasi harus bekerja ekstra keras untuk  [ ... ]



OLAHRAGAViral Medsos Rekaman Video Paspampres Ha.....
25/02/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Sebenarnya kegiatan ini bukan kegiatan kenegaraan. Kegiatan tersebut seremonial menyaksikan pertandingan Final antar dua kubu grup [ ... ]



PARIWISATAAston Luncurkan Minuman Anyar “Cocore.....
27/03/2018 | Buddy Wirawan
article thumbnail

KOPI, Bandung – Trend “nongkrong” atau berkumpul sudah menjadi gaya hidup anak muda maupun dewasa saat ini, mulai dari makan dan minum hingga  [ ... ]



POLITIKPilkada Biak Numfor 2018, Ujian Terberat.....
23/04/2018 | Redaksi KOPI
article thumbnail

KOPI, Jakarta – Proses persiapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Biak Numfor terus berlangsung, seperti halnya juga di 100 lebih daera [ ... ]



OPINIMemperkuat Peran Tiga Pilar Utama Pendid.....
21/04/2018 | Harjoni Desky, S.Sos.I., M.Si

KOPI - “Pendidikan merupakan alat yang memiliki tenaga untuk mengubah dunia” ini salah satu mutiara terkait dengan pentingnya pendidikan. Dari ka [ ... ]



PROFILBrigjen Pol. Drs. H. Faisal Abdul Naser,.....
02/03/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

KOPI-Jakarta,Bila Kita perhatikan bahwa Bumi Aceh sangat subur sekali. Bahkan tanaman ganja tumbuh seperti rumput hijau di tanah. Bumi Aceh sangat sub [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAIkuti FLS2N Lampung Barat, SMPN 2 Bandar.....
22/04/2018 | Jamsi Martien

KOPI, Lampung Barat - Siswa/i SMP N Bandar Negeri Suoh juara 1 (satu) FLS2N Musik Tradisional di kabupaten Lampung Barat. Festival Lomba Seni Siswa Na [ ... ]



ROHANIGerakan Belajar dan Mengajar Al-Qur'an.....
04/04/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir
article thumbnail

KOPI, Jakarta - Sebagai daerah yang menganut sistem syariat Islam maka daerah Aceh banyak sekali terdapat tempat-tempat pendidikan belajar Alquran. U [ ... ]



RESENSIHeboh Buku Fire and Furry Ungkap “ D.....
05/01/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Washington DC- Heboh buku Fire and Fury ungkap “Dapur Gedung Putih” Menjelang Pemilu Pilres Amerika Serikat . Dilansir dari The Guardian, R [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto
article thumbnail

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIMenatap Rasa.....
07/06/2017 | Mas Ade

Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



CURAHAN HATIAnggota DPRD Riau Suhardiman Amby Di-OTT.....
09/04/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru – Operasi Tangkap Tangan (OTT) bukan milik Institusi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) saja. Para istripun melakukan aksi serupa,  [ ... ]



SERBA-SERBIKonsul Amerika Serikat Tertarik Lingkun.....
12/04/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

KOPI-Jakarta, Kawasan lingkungan alam perlu dilestarikan. Apalagi kawasan lingkungan hidup seperti di Gunung Leuser merupakan paru-paru dunia. Pad [ ... ]



Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.