Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Fatamorgana

KOPI - Malam ini begitu gelap, hujan tak kunjung berhenti. Bintang-bintang terlihat tak menampakan diri. Dengan angin malam yang selalu menerjang jendela kamarku, aku terdiam dan menatap langit-langit seraya berkata di dalam hati; apakah suatu saat nanti bulan akan berhenti memancarkan sinarnya ketika semua dari kita masih menginginkan sinarnya? Telah berjam-jam aku habiskan malam di meja belajarku, suasana malam ini begitu membuat hatiku gelisah. Sehingga aku tak bernafsu untuk tetap bertahan menatap tumpukan kertas yang berserakan di atas meja.

Aku bangun dari tempat duduku, dan melangkah ke arah jendela. Kembali aku menatap langit-langit dan gerimis yang berlomba-lomba jatuh ke bumi seraya berfikir apakah air ini suatu saat nanti akan tiada di tengah kehidupan yang kian cepat berubah ini? Angin malam terasa menusuk tulang dadaku, menusuk hingga ke lorong hati yang sedang gelisah ini. Malam akan kian berputar, berputar menuju pagi. Aku memilih meninggalkan malam, tertidur menutup mata bersama hati yang gelisah... Semoga esok hari aku bisa menyambut pagi.

Mentari bersinar, semakin keras menyorotkan cahayanya ke dalam relung-relung kehidupan. Menembus celah-celah terbuka di balik jendela, hingga aku tak kuasa terbangun tanpa kata-kata hanya ada senyum bunda di depan mata. Ternyata pagi lah yang menyambutku terlebih dahulu, tanpa suara ayam berkokok. Ketika terbangun dari ranjang, pagi terlihat tak memberiku kekuatan untuk berjalan di atas kenyataan yang terbangun dan terlanjur terbentuk yang kerap disebut orang dengan "kebiasaan". Melihat genangan air pun aku tak nyaman, namun mau tak mau aku harus menyiramkannya ke sekujur badan hingga menggigil kedinginan. Air merupakan bagian dari kehidupan, bahkan ia lambang dari "kesegaran". Terbangun dari tidur, aku harus mendapatkan kesegaran agar tidak terlarut dan terhampar dalam kelelahan.

Tidur merupakan akibat dari kelelahan dan bangun haruslah di sambut dengan kesegaran. Agar aku siap untuk survive dalam menghadapi waktu yang panjang dari siang hingga senja datang. Air pun selalu bermakna kejernihan, maka ia menjadi sandaran kebersihan. Dengan demikian untuk menangkap makna kebersihan, air lah yang menjadi pasokan dan tumpuan.

Mentari semakin naik ke atas langit, sebelum semakin naik aku harus bergegas dan bersiap menuju ke sekolah. Segera aku berpakaian rapi dan menuju meja makan.Hanya aku yang tertinggal di meja makan, ayah telah berangkat ke kantornya dan mas Gatot baru saja pergi ke kampusnya. Akhirnya aku sarapan dengan tergesa-tergesa untuk mengejar jam masuk sekolah. Setelah selesainya sarapan, aku terbirit-birit menghampiri ibu di dapur bersalaman dan berpamitan berangkat ke sekolah. Segera aku keluar dari rumah dan menanti bus di pinggir jalan. Datang bus dengan penuh penumpang, dan mau tak mau aku harus bergalantungan karena tak ada kursi penumpang yang tersisa. Ini adalah bus terakhir yang menuju ke arah sekolahku dan mungkin aku adalah pelajar terakhir yang menumpang bus ini. Sesampainya aku di sekolah, beruntunglah aku menginjakan kaki di depan kelas tepat bunyi bel masuk berdering.


Suasana kelas terlihat ramai, tak akan berhenti menjadi damai sebelum guru masuk ke dalam kelas. Ada yang mondar-mandir menghampiri meja teman di sebelahnya, bahkan ada pula yang bercanda tawa. Tak luput pula, ada yang sibuk dan gelisah karena baru mengerjakan PR. Meminjam pekerjaan teman dan di pindahkan semua isi lembaran ke dalam lembaran bukunya. Aku memilih untuk tenang, karena keramaian selalu berada di tempat duduk barisan belakang. Sementara aku berada di barisan depan. Tiba-tiba sebagian teman berlarian menuju tempat duduknya dan sontak suasana berubah menjadi diam, hening dan mencekam. Datang seorang guru membawa tumpukan buku di pelukannya, mengucapkan salam dan membuka pelajaran. Kali ini saatnya pelajaran Matematika di mulai, pelajaran yang selalu di anggap sebagian teman sebagai "maut" yang mengubah semua keindahan hidup menjadi menyeramkan.

Memang guru Matematika selalu memberi pertanyaan di depan papan tulis dan menyuruh sebagian siswa untuk maju menjawabnya. Namun bagiku semua itu bukan perkara yang sulit dan menyeramkan. Aku selalu bisa menjawabnya dengan mudah dan tak ada masalah yang menghadang. Nilai Matematikaku selalu teratas di antara semua teman-teman sekelas. Bahkan di akhir tahun ajaran, aku selalu di nobatkan sebagai juara kelas.

Sampai-sampai semua guru Matematika di sekolah, jika melemparkan pertanyaan tak mau aku menjawab di awal bagian. Selalu menunda keinginanku untuk menjawab terlebih dahulu, justru teman-teman yang berada di barisan belakang lah yang di tunjuk lebih awal. Karena guru-guru menjadi bosan jika hanya aku saja yang mampu menjawab dengan jitu dan tepat. Baru lah ketika semua teman-teman di kelas tak mampu menjawab dan kesusahan, aku mendapat giliran untuk mengurai perkara yang mereka bingungkan. Soal menghitung cepat, aku selalu menjadi pemenang dan sampai saat ini belum terkalahkan. Hingga teman-teman kerap menjuluki aku si "kepala angka", si "kalkulator berjalan".

Tak pernah sekalipun aku di hukum di depan kelas, bahkan aku selalu di istemawakan dalam berbagai hal. Selalu mendapat perhatian dan menjadi orang kesayangan. Sekolah selalu mengatakan bahwa "kau lah icon sekolah kita", di tangan mu lah nama sekolah mengudara di atas awan.

Nama baik dan harumnya dinding-dinding sekolah berngantung dengan nasib hidupku hingga sejalan dengan nasib hidupku. Sekolah telah menyerahkan nasibnya di pundakku agar sekolah mendapat kepercayaan dari Menteri Pendidikan dan masyarakat sekitar, di saat ajang-ajang olimpiade bergengsi. Dan aku telah mampu membuktikan, di tingkat nasional aku berturut-turut menjadi pemenang, hingga di ajang internasional aku keluar sebagai juara bertahan, juara yang belum terkalahkan. Di saat upacara bendera, kepala sekolah selalu mengatakan segudang prestasiku lah yang membuat akreditasi sekolah kian merangkak naik ke atas. Hingga seorang guru pernah berkata padaku bahwa di dalam dirimu lah baik-buruknya pendidikan yang kita lakukan selama ini di uji keberhasilannya. Aku menjadi jawaban dan bukti dari pendidikan yang mereka selenggarakan.

Bukan hanya di sekolah, di tengah keluarga aku selalu menjadi kebanggaan. Aku adalah impian ayah dan malaikat kebahagiaan bunda seorang. Dari kecil hingga dewasa ini aku selalu di desak untuk menjadi juara kelas. Gagalnya kakakku menjadi sosok yang mereka cita-citakan, membuat perhatian mereka tercurahkan padaku seorang. Hingga mereka pernah berkata, apapun susahnya mereka akan berusaha agar impian keluarga yang ada pada diriku terwujudkan. Aku menjadi sumber kebahagiaan mereka, bahkan aku seperti menjadi anak emas yang selalu di jaga benar keemasannya. Aku selalu menjadi pusat perhatian dan lubang tumpahnya semua kasih sayang yang mereka punya.

Di setiap acara keluarga dan acara kantornya, bunda selalu memaksaku untuk ikut bersamanya. Ketika bunda memberitahukan segudang prestasiku kepada saudara dan teman sejawatnya, maka pujian segera mengalir dan berhamburan di sekelilingku. Pernah sekali aku menolak ajakan bunda, namun bunda selalu berkata bahwa dirimu lah bukti kemampuan orang tua mendidik anaknya. Sekali lagi, aku menjadi bukti dan jawaban dari pendidikan yang mereka selenggarakan. Menjadi gambaran "cara mendidik" anak yang di anggap paling baik dan ideal.  
Ayah dan bunda selalu dengan teliti mengamati perkembangan belajarku, sampai-sampai hari penerimaan raportku menjadi "hari raya keluarga", menjadi momentum yang mereka tunggu dan selalu di tunggu serta tak pernah terlewatkan. Sesibuk apapun ayah dan bunda, mereka akan menyempatkan diri untuk mendapat penghargaan di depan semua wali murid yang datang. Namun semua kebahagiaan yang aku dapatkan, tak pernah terjadi pada mas Gatot kakakku. Kata bunda mas Gatot adalah orang yang keras kepala, susah di atur orang tua. Bahkan di dalam keluarga, mas Gatot selalu di gambarkan sebagai sosok "pembangkang", yang jangan sampai aku tiru kelakuannya. Mas Gatot adalah wujud orang yang "keluar" dari gambaran ideal yang ayah dan bunda harapkan. Mas Gatot tak pernah mendapat kasih sayang sehangat yang aku dapatkan. Sehingga aku kerap tak enak hati padanya.

Aku sering bersikap tak enak hati padanya di tengah mengalirnya kasih sayang dan pujian padaku. Aku sering mencoba membela mas Gatot ketika ia sedang di marahi ayah dan aku tak suka sikap ayah yang selalu mencela mas Gatot sembari membanding-bandingkannya denganku. Namun mas Gatot selalu berkata, "Janganlah engkau khawatir, kau lah kebanggaan ayah dan bunda. Ayah dan bunda sangat menyayangimu, jangan engkau hiraukan aku. Teruslah menjadi kebahagiaan mereka, jangan kecewakan mereka. Aku telah memilih hidupku sendiri, aku telah memutuskan pilihanku dan inilah aku. Mungkin engkau lah yang mampu memenuhi harapan mereka, aku menyayangimu, kau lah satu-satunya adik kesayanganku"... Seraya di ucapkannya dengan mata yang berkaca-kaca.

Bagiku mas Gatot adalah kakak yang sangat bijaksana, ia tak pernah menaruh rasa iri dan dengki padaku. Walau perlakuan tak adil selalu menimpanya. Bahkan mas Gatot adalah orang pertama yang selalu menjadi tempat curahan hatiku di saat aku kebingungan dan di landa masalah akibat beban berat yang ku pikul. Mas Gatot selalu menyuntikan semangat ketika aku hampir jatuh dan kelelahan menghadapi beban hidup yang semakin berat. Ia selalu berkata bahwa "kau harus mampu memberi makna pada dunia, agar hidupmu terasa lebih hidup". Kata-katanya selalu memberi inspirasi baru bagiku, memberikan kesegaran di tengah kelelahan dan beratnya hidup yang aku jalani. Bagiku mas Gatot bukanlah sekedar kakak, namun ia lah tempat dimana aku bersimpuh, tempat aku berbagi keluh kesah di tengah kebesaran dan pujian yang aku dapatkan.

Sejak aku kecil mas Gatot adalah orang yang selalu mengalah demi keinginanku terpenuhi. Ia selalu mengorbankan keinginannya demi diriku. Dulu ketika aku duduk di sekolah dasar, dia rela menunda keinginannya untuk membeli sepeda hanya demi memenuhi keinginanku untuk membeli mobil-mobilan. Ia memilih agar uang ayah di gunakan untuk membeli mobil-mobilan sehingga aku tidak merengek dan menangis terus-terusan. Ia rela berangkat sekolah berjalan kaki hanya demi memenuhi rengekan ku membeli mobil-mobilan. Masa kecil mas Gatot tak sebahagia masa kecilku yang di penuhi dengan mainan-mainan canggih dari robot-robotan hingga permainan digital. Karena di masa kecil mas Gatot ekonomi keluarga sedang mengalami kejatuhan. Sehingga dia harus banyak menahan diri untuk punya ini dan itu. Berbeda dengan masa kecilku yang keinginannya selalu di turuti, permintaannya selalu di penuhi.

Bahkan kakek pernah bercerita bahwa ketika mas Gatot kecil ia kerap bermain layang-layang di sawah, mandi di sungai dan memburu burung dengan ketapel. Ia sering pulang larut sore bahkan pakainnya terlihat kotor. Sehingga bunda kerap memarahinya.

Walau di masa kecil mas Gatot terkenal nakal dan bandel, namun ia sangat sayang padaku. Ia selalu melindungiku dari berbagai ancaman dan ia tak mau aku menangis, ia tak mau aku di sakiti orang lain... Itulah mas Gatot. Di tengah orang banyak menaruh pandangan buruk dan mencela diri mas Gatot namun di dalam hati kecil ku, diam-diam aku menaruh rasa bangga padanya. Dia lah juara di dalam hati ku, dia lah pengasih dan pemberi kasih sayang yang sesungguhnya.

Waktu pun terus berjalan. Situasi sepi, hening dan mencekam hanya karena pelajaran Matematika. Namun tiba-tiba perutku keroncongan. Aku pun tak kuasa menahan lapar hingga konsentrasiku terpecah dan tak bisa lagi mengikuti arah pelajaran yang sedang berjalan. Namun beruntunglah, tepat di pukul 9 pagi bel berdering, pertanda jam istirahat tiba. Situasi kelas pun berubah menjadi ramai, suara kerumunan hadir di tengah ruang kelas. Seperti burung-burung yang baru saja di lepas dari kandang, dari sangkar menuju alam bebas. Pak Haryo, guru Matematika pun segera meninggalkan kelas.

Namun sebelum ia meninggalkan kelas, ia menghampiri tempat dudukku seraya berkata; sehabis istirahat kau menemuiku di ruang guru! Ya, pak, kembali aku berkata padanya. Aku segera membereskan buku yang berserakan di atas meja, aku memasukannya ke dalam laci. Dan aku bergegas lari menuju kantin belakang sekolah. Mataku berputar mencari tempat duduk dan berhenti tertuju pada meja makan paling depan. Segera aku memesan satu mangkok bakso dan satu gelas es teh. Beberapa menit aku menunggu, seseorang datang membawa makanan pesananku.

Aku pun bersiap menyantap. Ketika aku hendak memasukan bakso ke mulutku, aku melihat Melani, seorang dara yang aku kagumi. Ia sedang bersama teman-temannya duduk di depanku. Hanya berjarak dua meja dari meja makan ku. Aku terus menatapnya.... Sendok yang berisi bakso pun terhenti di depan mulutku. Aku terus menatapnya...

Ia sedang bercanda tawa dengan temannya, ku lihat senyum manisnya. Sungguh aku menaruh hati padanya. Bagiku, Melani bukanlah wanita biasa, bukan layaknya wanita yang selama ini aku kenal. Ia adalah wanita tangguh, wanita yang tak mau menerima begitu saja apa yang ada. Wanita yang tak mau di perdaya oleh keadaan. Dia bukanlah tipe wanita yang hanya membebek dan mengambing pada laki-laki. Tanpa kehilangan perasaannya, tanpa kehilangan kelembutannya sebagai seorang wanita, ia selalu percaya diri dan berani berfikir sendiri. Ia adalah wanita yang tak gampang putus asa dan tak mudah melampiaskan kegamangannya pada keindahan-keindahan yang menyilaukan, ia tak pernah lari dari masalah.

Ia bukanlah wanita yang mudah terbuai, namun aku terbuai padanya. Rasa laparku pun terhenti, terganti dengan kemelut perasaan yang tak menentu. Perut yang keroncongan pun terhenti, terganti dengan guncangan hati yang berdebar-debar. Rambut panjangnya pun terurai ketika ia melenggangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba ia berhenti bergurau dengan temannya, dan mengarahkan tatapan matanya ke arahku. Aku pun menghindar dari tatapannya, tersenggut malu dan memilih untuk menyantap bakso yang sempat terhenti. Ketika aku mencuri pandangan ke arahya, ternyata dia masih menatapku. Aku kembali menghindar dan melanjutkan santapanku. Tetapi perasaanku mendadak gugup, ingin segera selesai dan pergi dari meja makan ini. Ketika semangkuk bakso selesai ku santap, aku mengangkat pandanganku ke arah meja makan dimana Melani duduk.

Mataku terbelalak, melihat Melani sedang berbincang dengan Aryo teman sekelasku yang juga jatuh hati dengannya. Dan tak lama, Melani pergi berdua dengan Aryo.. Berjalan layaknya dua sejoli yang di kelilingi luapan kebahagiaan di antara mereka. Wajah mereka berdua di liputi senyum yang bercahaya. Cahayanya meyilaukan hatiku, hingga membuat hati ini gamang dan gelisah. Sosok dara cantik itu pun menjauh dari tatapanku.. Ia semakin menjauh.. Menjauh dan menjauh...

Ternyata situasi tak berpihak padaku, aku memilih pergi untuk memenuhi janjiku ke ruang guru menemui pak Haryo. Suasana ruang guru begitu ramai, semua orang sibuk dengan perbincangannya. Aku hanya berdiri membeo ketika dua kali ketukan pintu yang aku ketukan tak mampu menghentikan ramainya perbincangan. Sekali lagi, aku sematkan ketukan pintu yang lebih nyaring dari sebelumnya. Perbincangan pun terhenti, seketika pak Haryo mengajakku ke ruang lobi dan segera aku membuka perbincangan dengannya..

"Ada masalah apa bapak panggil saya?"
"Sebentar, kamu tunggu disini.. Ada yang hendak saya tunjukan"

Tiba-tiba pak Haryo pergi ke ruang guru dan menyuruhku menunggunya di lobi. Namun tak lama aku menunggu, ia kembali membawa tumpukan kertas di tangannya. Ia duduk sembari meletakan kertas di hadapanku..

"Ini bapak berikan diktat-diktat persiapan Ujian Nasional, isinya latihan-latihan soal Ujian Nasional yang terbaru", ungkap pak Haryo
"Bukankah semester yang lalu sekolah sudah memberikan 3 tumpuk buku latihan-latihan soal Ujian pak?"
"Ya, tapi ini versi terbaru dan untuk tambahan kau dan teman-temanmu belajar. Kalian harus banyak belajar untuk Ujian ke depan"
"Baik pak, terima kasih"

Aku pun mengambil tumpukan diktat-diktat itu, diktat itu adalah soal latihan ujian dari mata pelajaran matematika sampai bahasa indonesia. Sekolah kami lebih dari 1 tahun sibuk mempersiapkan datangnya ujian nasional. Hampir setiap hari semua siswa kelas 3 di SMU kami selalu di beri wejangan soal-soal ujian. Sekolah dengan sekuat tenaga mempersiapkan muridnya agar siap menempuh ujian, semua energi di kerahkan padanya. "Itu semua demi mendongkrak angka kelulusan dan mempertahankan status sekolah kami sebagai sekolah bertaraf internasional", setidaknya demikian kata pak kepala sekolah. Jika sekolah kami tak mampu melakukan itu semua, maka sekolah harus siap seluruh bantuan dana dari pemerintah akan di cabut. Ujian nasional bukan hanya kompetisi bagi kami si murid namun juga kompetisi bagi sekolah-sekolah di daerah kami agar mendapat bantuan dana. Karena pemerintah menjanjikan, barang siapa yang berhasil mencapai angka kelulusan mendekati 100% maka akan di beri insentif dana tambahan bantuan dan operasional sekolah.

Di daerah kami, ujian nasional adalah arena dimana gengsi sekolah di pertaruhkan. Semua aktivitas belajar kami di kerahkan untuknya, untuk menggapai angka kelulusan setinggi-tingginya. Sehingga semua sekolah menghamba pada angka kelulusan, angka kelulusan menjadi berhala yang sakral dan suci bagi sekolah-sekolah di daerah kami. Bahkan ujian nasional layaknya hajatan besar bagi sekolah. Di sudut-sudut sekolah sangat ramai di perbincangkan dan di persiapkan setengah mati untuk menyambutnya. Itulah ujian nasional, yang di sambut dengan penuh khidmat. Dengan keadaan khusyuk dan keikhlasan berserah diri pada yang maha pengampu kebijakan.

Tak lama setelah berbincang dengan pak Haryo, aku pun pergi dan kembali ke ruang kelas, kembali bersama teman-teman mengikuti pelajaran di kelas. Kembali mengerjakan latihan soal-soal ujian. Beberapa lama, matahari semakin naik ke atas langit. Tepat di atas kepalaku, terik sinarnya pun menyengat. Seakan hendak membakar seisi bumi. Rumput-rumput di halaman mulai menguning, kering terbakar. Seakan-akan ia meronta-ronta kepanasan dan berharap hujan turun membasahinya. Suasana kelas pun sepi, terlihat lelah dan lemas menghantui para murid di jam terakhir pelajaran. Layaknya tak ada lagi energi untuk berfikir dan memahami apa yang tertera di papan tulis dan apa yang terlontar dari mulut para guru.

Jarum jam kian berdenting, waktu menunjukan tepat pukul 14.00 WIB. Bel pulang sekolah pun berbunyi dan suasana kelas mendadak ramai penuh dengan suara orang berteriak kegirangan. Seakan-akan perang yang sangat menegangkan telah berakhir dan bendera kemenangan telah berkibar di temani sorak sorai para pasukan. Semua murid terbirit-birit keluar dari ruang kelas. Hanya aku yang tertinggal di ruangan, karena harus membereskan diktat-diktat yang telah ku dapat dari para guru. Aku pun kerepotan, tanganku harus memeluk tumpukan diktat hingga aku harus meniti pelan gerak langkah kaki ini. Namun tiba-tiba aku mendengar suara teriakan perempuan, suara teriakan memanggil namaku. Aku menoleh ke belakang tapi tak aku temukan seseorang pun di belakangku. Sekolah telihat lengang, sunyi tak ada orang. Aku melanjutkan perjalanan pulang, namun aku mendengar kembali suara teriakan itu. Aku pun kembali menoleh ke belakang, namun tetap tak ada orang. Sungguh menyebalkan..!!!

Aku memilih cuek dan terus melanjutkan perjalanan pulang. Tak peduli dengan suara tanpa batang hidungnya itu. Aku terus berjalan, mencoba melupakan suara yang tak bertanggung jawab itu. Aku mencoba berjalan dengan tenang dan hanya berkonsentrasi untuk pulang. Namun tiba-tiba muncul suara hentakan keras di belakangku, aku terkaget... Jantungku berdebar kencang. Aku berkeringat dan susah menghela nafas. Hampir aku mati berdiri. Semua buku di pelukanku terjatuh berantakan. Dan ternyata itu Melani sengaja mengagetkanku. Ia tertawa tersengkal-sengkal sambil meminta maaf...

"Hahaha.. Hahaha.. Hahaha... Maaf.. Maaf... Aku hanya bercanda saja, maaf.. maaf", sautnya sambil memunguti buku ku yang tercecer di ubin.
"Ah.. Bercanda mu tak lucu, jantungku hampir copot"
"Maaf.. Habis kau jam segini masih saja di sekolah, masih saja kau sibuk dengan diktat-diktat ini"
"Ya gara-gara diktat-diktat ini aku pulang terlambat"
"Kau sepertinya sangat serius menghadapi ujian yang akan datang"
"Yah... Begitulah... Tak mungkin aku kesampingkan ujian nasional, bisa-bisa aku di hujat semua orang di sekolah dan di rumah"
"Hahaha.. Bisa saja kau ini... Mau kemana kau sekarang?
"Aku mau langsung pulang.. Kau?
"Yah aku juga hendak pulang"

Kami pun berjalan berdua di lorong-lorong sekolah, namun kami berpisah di depan pintu gerbang karena arah rumah kami bertolak belakang. Aku harus berjalan sendirian ke selatan, dan hanya di temani oleh tumpukan diktat-diktat ujian nasional di pelukanku. Langit terlihat petang, tak begitu bercahaya. Namun senja belum datang. Mega mengepul hitam, suara gemuruh meraung di balik awan. Di sepanjang jalan, semua orang terlihat sibuk mengamankan jemuran. Namun anak-anak justru berteriak kegirangan sambil menikmati tetesan hujan yang riuh berjatuhan. Aku pun berlari melawan hujan, melawan hujan untuk cepat sampai tujuan agar badan ini tak basah kuyup dan kedinginan. Genangan air aku terjang dan kubangan demi kubangan aku hentakan hingga air itu terlontar keluar. Tetesan air terus menyambar, terus menyambar, tetesan air yang bersenyawa dengan tiupan, bersenyawa dengan tiupan angin yang semakin deras menyambar, memercik pedas di raut muka, raut muka yang menyusuri jalan pulang.

Akhirnya tangan ini sampai pula menggenggam pintu, pintu itu ku buka namun isi rumah terlihat lengang dan tak ada aktivitas yang melenggang. Sampai ku masuk, tetap tak ada orang, tak ada suara, dan tak ada kehidupan. Aku pun segera membersihkan badan, badan yang basah kuyup di terjang hujan yang deras menyambar. Ku basuh badan ini serta berganti pakaian. Aku pun menggigil kedinginan, ku coba pergi ke dapur mencari sumber kehangatan. Ku tuang air panas ke atas gelas, ku tambah sesendok kopi dan gula. Asapnya mulai memberi kehangatan, ku teguk kopi untuk mengobati dinginnya badan yang pasca di terjang hujan. Setelah mendapat sedikit kehangatan, aku pun pergi ke kamar menata diktat-diktat yang separuh basah kehujanan. Ku nyalakan kipas angin, berharap bisa mengeringkan diktat-diktat yang tergeletak basah.

Sambil menunggu keringnya diktat yang baru sekolah berikan, aku membuka kembali latihan-latihan soal ujian yang baru saja di ajarkan di sekolah. Aku mencoba mempelajari kembali dengan teliti dan lebih ringkas lagi. Aku harus mendapat cara yang paling cepat, paling efisien untuk menjawab soal. Dan aku harus banyak mengkonsumsi soal-soal yang beragam bentuknya sehingga aku teruji dan siap untuk menerima soal dalam bentuk apapun di saat ujian. Namun tak lama, aku mendengar suara pintu kamarku terbuka. Aku menoleh ka arah pintu dan ternyata mas Gatot sedang berada di depan pintu.. Ia pun masuk ke kamarku..

"Sudah pulang dari tadi kau dek?", tanyanya padaku
"Sudah mas"
"Sedang sibuk belajar kau?"
"Ya mas, 3 minggu lagi aku hendak ujian nasional"
"Wow.. Pantas kau akhir-akhir ini makin lama di dalam kamar"
"Banyak latihan-latihan soal yang harus aku kerjakan"
"Rencananya kau ketika lulus nanti, mau ambil jurusan apa sewaktu kuliah?"
"Ibu dan ayah mendorong aku masuk di kedokteran, sekolah pun begitu namun sebenarnya aku ingin menjadi seorang arsitek"
"Oh begitu.. Namun sekarang kau sudah besar, sudah saatnya kau memutuskan sendiri kau ingin menjadi seperti apa, menjadi dirimu sendiri"
"Tapi tak mungkin ayah setuju aku menjadi seorang arsitek, ayah selalu berkata menjadi dokter lebih terjamin masa depannya.. Seperti teman-teman ayah katanya"
"Mungkin menjadi dokter itu baik bagi teman-teman ayah, namun apakah itu baik bagimu? apakah itu sesuai dengan suara hatimu?"
"Tidak.. Tapi apa yang harus aku lakukan, ayah tak mungkin setuju dengan keinginanku"
"Kau harus memilih jalanmu.. Jalan yang esa untuk semua, itu tidak ada. Masa depan tidak pernah pasti. Berkehendak dan memilih itulah yang akan membawamu ke masa depan"

Aku hanya terdiam dan kebingungan....

"Jika kau hanya ikut-ikutan seperti teman-teman ayah.. Kau hidup hanya sekedar menjadi pengecut bukan karena apa-apa, namun lantaran pilihanmu tidak jujur, membohongi dirimu sendiri dan kau tidak berkehendak"
"Tapi bukankah maksud ayah baik agar masa depanku terjamin?"
"Sesuatu yang baik bagi dirimu haruslah kau cari sendiri, kau geluti sendiri sampai kau temukan sendiri, bukan di sodorkan di depan matamu dengan label baik. Disitulah kau akan menemukan kepastian tentang kebaikan, tentunya kebaikan untuk dirimu sendiri"

Aku pun kembali terdiam, gelisah dan kebingungan...

Aku seperti kehilangan energi untuk berdiri dan menjawab kegelisahan hati ini. Namun aku sadar, selama ini diriku hanya selalu di gambarkan lewat kaca mata orang lain. Sehingga aku kehilangan kekuatan untuk melihat, memahami dan memberi arti bagi diriku sendiri. Aku selalu menolak untuk menyusun dunia ku sendiri, membangun jati diriku sendiri. Apakah selama ini aku hanya menjadi tanah liat yang seenaknya di bentuk? Atau hanya sepotong perangkat mekanis yang bertindak berdasarkan prinsip yang sudah di tentukan sebelumnya?

Kata-kata mas Gatot terus terngiang di kepalaku, kini aku seperti orang yang tak lagi punya sandaran hidup. Tak lagi punya pegangan. Segala sesuatu yang dulu aku jadikan pegangan dan sandaran hanya lah bayangan, bayangan yang ternyata semu belaka. Membuat aku tak mampu membuat bayangan untuk diriku sendiri dan menerka diriku sendiri. Aku merasa hidupku di kelilingi oleh tembok-tembok fiksi, tembok-tembok fiksi yang terus menerus di bangun di sekelilingku, membuatku tak berdaya atas diriku sendiri. Hingga aku menerima begitu saja peran-peran yang di sodorkan di hadapanku. Aku layaknya manusia yang terasing di tengah rimba raya. Di tengah mangalirnya pujian, aku tak mampu memperoleh kedirian. Di tengah orang-orang membanggakan diriku, aku tak mampu melihat siapa aku.

Sekolah dengan sekuat tenaga memupuk kecenderungan-kecenderungan tertentu, dan mengikis kecenderungan-kecenderungan yang lain. Keinginan-keinginan tertentu di halangi dan bangunan-bangunan mental tertentu serta skema-skema yang telah di siapkan olehnya di tanamkan terus-menerus. Hingga aku tak tahu masih "ada" kah aku? Bukankah pemupukan kecenderungan tertentu sambil menyingkirkan kecenderungan yang lain adalah tindakan manipulatif? Aku selalu di paksa untuk menyesuaikan diri dengan apa yang di anggap tepat. Sehingga yang ada hanya "aku" apa kata mereka, bukan "aku" apa kata diriku sendiri.

Jika aku tak mampu menerka diriku sendiri, mungkinkah aku mampu memahami sesuatu di luar diriku? Bagaimana ketika kelak nanti aku berada di tengah-tengah kerumunan masyarakat? Yang pastinya aku akan bertemu dengan masalah-masalah yang lebih pelik nan rumit. Bagaimana ketika aku harus menghadapi masalah ketidakadilan dan diskriminasi, harus menghadapi masalah kesenjangan kaya miskin yang sebenarnya kerap aku lihat di dalam ruang kelas. Bukankah nanti ketika aku berada di tengah masyarakat, aku akan bertemu para pecandu narkoba, para pelacur, pemabuk, penjudi, pencopet, serta para pengangguran yang hatinya terbenam dalam keputusasaan? Bagaimana aku harus berperan jika sekolah tak mengajarkan muridnya aturan main yang aktual yang membangun kenyataan? Lantas, apa gunanya berfikir jika terpisah dari masalah-masalah kehidupan?

Mungkin sekolah sibuk dengan igauan-igauannya bahwa kita harus maju seperti Amerika, kita harus maju seperti Jepang sehingga ia lupa mengajarkan apa arti kemerdekaan? Mungkin sekolah sibuk memberi julukan "internasional" pada dirinya sehingga ia lupa mengajarkan apa arti keadilan? Mungkinkah sekolah hendak melarikan diri dari masalah-masalah kehidupan yang berada di balik gedungnya yang menjulang tinggi? Atau mungkin sekolah benar-benar ketakutan dengan struktur-struktur sosial raksasa di luar pintu kelasnya? Atau ia hendak menjadi mak comblang bagi struktur-struktur sosial raksasa itu? Sehingga ia memilih hanya mengajarkan kepatuhan dan ketaatan, tidak mengajarkan muridnya untuk memeriksa keadaan dan mengurai kenyataan serta menggugat ketidakadilan.

Namun mau tak mau, sekolah tetap saja terlibat dalam kegiatan penegakan makna. Makna yang di tegakannya berlaku dalam sudut pandang yang di pakai oleh murid-muridnya dalam memahami problema-problema kehidupan yang ada di depan mata. Tapi rasanya aku tak pernah di beri kesempatan untuk melihat, benar-benar melihat diriku sendiri dengan mataku sendiri, melainkan selalu di upayakan agar aku melihat dengan mata yang telah di pasangkan. Akan tetapi aku tak bisa... Aku tak bisa lari dan bersembunyi dari diriku sendiri. Diri ini selalu memanggil-manggil agar ia di pandang dengan matanya sendiri. Suara hati ini selalu mendorongku, agar aku keluar dari senja.. Meninggalkan ruangan yang tiap jengkalnya sudah aku kenali. Kini ia berteriak keras dan berkata; "Kau harus tangkap maknanya dengan kehendakmu, lepaskan semua mata yang terpasang maka matamu yang lembut akan menggantikannya"....

 

Mantan Ajudan Presiden Megawati, Budi Gunawan Kembali Jabat Ka BIN
Minggu, 07 Januari 2018

KOPI, Jakarta - Kapolri Jendral (Pol) Tito Karnavian dalam Surat Telegram Kapolri dengan nomor ST/15/I/2018. Dalam surat tersebut BG dimutasikan menjadi Perwira Tinggi (Pati) Baintelkam Polri dalam rangka pensiun, diungkapkan oleh Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Mohammad Iqbal. "Pak BG pensiun dari Polri, tetapi tetap jadi kepala BIN karena BIN tidak berdasar dari Polri. Sebagai Polisi beliau pensiun karena usia sudah 58 tahun,... Baca selengkapnya...

Kapolri Mengakui : Ada Pungli Bidokkes , Oknum Perwira Tinggi “Wong Kito Galo” Terlibat Bro
Sabtu, 30 Desember 2017

KOPI, Jakarta – Bukan rahasia umum lagi diduga penerimaan siswa calon Sekolah Kepolisian Negara (SPN) menggunakan rumus 2 F . Para orang tua yang ingin anak menjadi anggota Polri harus mempersiapkan 2 F (Fulus, Fisik). Kapolri Jenderal Tito Karnavian akhirnya pun mengakui adanya perilaku koruptif di lingkungan Biddokkes Polri. Ditempat kerjanya, Sugeng Triwardono menuturkan “ Yang herannya masyarakat kenapa Kapolri baru mengetahui... Baca selengkapnya...

Putin Mencalonkan Kembali Sebagai Capres Rusia
Senin, 25 Desember 2017

KOPI, Kremlin – Pria kelahiran 7 Oktober 1952 di daerah Leningrad atau St Petersburg awalnya adalah  Ia kuliah hukum dan bergabung dengan KGB setelah lulus. Putin menyamar sebagai Turis serta bertemu dengan Presiden Ronal Reagen . Saat itu Putin bertugas di Jerman timur . Sejumlah rekannya sesama agen rahasia beberapa kali menempati posisi penting di era Putin berkuasa sebagai Presiden maupun Perdana Mentri. N Kini ribuan jumlah media... Baca selengkapnya...

Paradise Paper Ungkap Kelicikan Bisnis Taipan Sukanto Tanoto
Senin, 25 Desember 2017

KOPI, Jakarta – Dulu heboh Panama Paper, melibatkan para oknum petinggi negara Asia pasifik memiliki harta   dari hasil korupsi disimpan suatu bank. Serta mendirikan perusahaan fiktif untuk menghindari pajak. Kini heboh Paradise Paper , pengungkapan bisnis Taipan Sukantotanoto oleh ICJI (Jejaring Jurnalis Investigas Internasional). Nama April Group, perusahaan bubur kayu dan kertas (pulp andpaper) milik Sukanto Tanoto, disebut dalam... Baca selengkapnya...

Partai Oposisi Israel, Gotong Royong Memasukan Netayahu Kedalam Penjara
Kamis, 21 Desember 2017

KOPI, Yerusalem – Para Ketua, pengurus Partai Oposisi Israel gotong royong memasukan PM Israel Benyamin Netayahu kedalam penjara. ini buktinya pembaca setia Pewarta Indonesia dikutif dari kantor berita Ap, BBC, Media Israel. Media Israel heboh memberitakan penyidik tiba di kediaman Netanyahu sebelum 9.00, Jumat waktu setempat (15/12). Dia ditanya soal kesaksian milyuner Australia James Packer yang memperkuat kemungkinan Sang Perdana... Baca selengkapnya...

Pertemuan Prabowo dengan Pengurus Teras DPD Gerindra Jabar, Menentukan Cagub dan Wagub
Sabtu, 09 Desember 2017

KOPI, Bandung – Ketua DPP Partai Gerindra Sodik Mujahid menuturkan hingga saat ini Prabowo masih terus menggodok 5 nama sambil terus berkomunikasi dengan sejumlah partai yang akan menjadi mitra koalisi. "Belum ditetapkan. Hari-hari ini masih digodok di internal untuk kemudian dibicarakan dengan mitra PKS, PAN," ujar Sodik kepada kumparan.com , Jumat (8/12). Adapun nama-nama yang digodok itu antara lain mantan Gubernur BI Burhanudin Abdullah,... Baca selengkapnya...

Pengamat : Percepat Pergantian Panglima TNI “Hak” Presiden Bro
Jumat, 08 Desember 2017

KOPI, Jakarta – Ditempat kerjanya, Sugeng Triwardono menuturkan “ Percepat pergantian Panglima TNI merupakan “Hak Presiden “ sebagai Panglima Tinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Media Sosial (red. Facebook, Twitter, Istagram, WA/ What’s App, Youtube, dan lain-lain ) merespons cepat keputusan Presiden Joko Widodo terkait dengan pergantian Panglima TNI. Pergantian Panglima TNI (Tentara Nasional Indonesia) Jendral... Baca selengkapnya...

INTERNASIONALTiongkok Islam Phobia Larang Kegiatan K.....
20/01/2018 | Didi Rinaldo

KOPI- RRC - Ditempat kerjanya , Goh Peng Peck  menuturkan " Ketakutan Islam berkembang pesat di negara Tiongkok. Pemerintah membatasi kegiatan keaga [ ... ]



NASIONALAnak Anda Mau Jadi Anggota Polri Sia.....
29/12/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Sumatera Selatan – Anak Anda ingin jadi anggota Polri, siapkan 2 F (Fulus, Fisik). Netizenpun berkomentar, Akun Wesly Sneijder Ambarita menul [ ... ]



DAERAHMenteri Lingkungan Hidup Apresiasi Penge.....
22/01/2018 | Buddy Wirawan

KOPI, Bandung - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI, Siti Nurbaya Bakar mengapresiasi perubahan-perubahan besar yang terjadi di Kota Bandu [ ... ]



EKONOMIKOMPAK Gagas Optimalisasi Pelaksanaan OT.....
22/01/2018 | Rachmad Yuliadi

KOPI,Banda Aceh-Berbicara tentang Otsus pastilah bicara tentang dana yang khusus dikeluarkan untuk Provinsi Aceh, Provinsi Papua dan Provinsi Papua Ba [ ... ]



HANKAMDanlanal Berterima Kasih Atas Bantuan Pi.....
23/01/2018 | Buddy Wirawan
article thumbnail

KOPI, Bandung - Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Bandung, Letkol Laut (P) Sunar Solehuddin menyampaikan terima kasih kepada Pemkot Bandung yang  [ ... ]



OLAHRAGASempena Hut Kuansing : Bupati H. Mursini.....
13/10/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Kuantan Singingi – Dari pantauan Pewarta Indonesia , Kamis pagi (12/10-17) dari luar Gedung DPRD kabupaten Kuansing, puluhan karangan bunga u [ ... ]



PARIWISATAKunjungan Turis Manca negara ke Indones.....
03/01/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru - Pariwisata andalan pendapatan negara non migas, negeri Indonesia kaya akan keindahan alam dan budayanya. Dulu para turis mancanegara [ ... ]



HUKUM & KRIMINALSerangkaian Kegiatan Budi Waseso Kepala .....
19/01/2018 | Rachmad Yuliadi

KOPI,Banda Aceh-Masalah narkoba tentu merupakan pekerjaan besar bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Aceh yang terkenal dengan ganja nomor sat [ ... ]



OPINIKali Ini Enak Ditonton.....
15/01/2018 | Siti Khumaira

KOPI - PILWAKO kali ini enak ditonton, karena semua petarungnya sama-sama sudah pernah menang dan dua diantaranya pernah pula kalah karena dicoret. "A [ ... ]



PROFILBripka Ralon Manurung Tulus Berbagi untu.....
21/12/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Gunung Sahilan - Ditempat kerjanya, Ucu Rosyid mengatakan “ Selama ini kami lihat Dinas Pendidikan propinsi rela menghabiskan dana puluhan mil [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAPuluhan Penyair Siap Meriahkan HUT ke-9 .....
08/01/2018 | Buddy Wirawan
article thumbnail

KOPI, Bandung–Di Hari Ulang Tahunnya yang ke-9, Majelis Satra Bandung (MSB) kembali menggelar acara. Jika tahun-tahun sebelumnya ada pentas dangdu [ ... ]



ROHANIMengenal Abuya Syaikh H. Muhammad Muda W.....
26/09/2017 | Ismayadi Yadi
article thumbnail

KOPI - Abuya Syaikh H. Muhammad Muda Waly al-Khalidy an-Naqsyabandy Abu Abuya Syaikh H. Muhammad Muda Waly al-Khalidy an-Naqsyabandy DAYAH-DARUSSALAM [ ... ]



RESENSIHeboh Buku Fire and Furry Ungkap “ D.....
05/01/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Washington DC- Heboh buku Fire and Fury ungkap “Dapur Gedung Putih” Menjelang Pemilu Pilres Amerika Serikat . Dilansir dari The Guardian, R [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto
article thumbnail

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIMenatap Rasa.....
07/06/2017 | Mas Ade

Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



CURAHAN HATILSM KPK Laporkan Polresta Pekanbaru ke.....
27/12/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru - Kasus dugaan salah tangkap oleh anggota Polresta Pekanbaru, yang dialami oleh Syamsi Ramed (21) yang diduga pelaku perampokan Teras  [ ... ]



SERBA-SERBIDipicu Facebook Blokir Akun FPI, Ratus.....
13/01/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Dalam rilisnya Facebook Indonesia menyatakan laman webnya  ingin menjadi tempat yang aman untuk berbagi cerita dengan teman atau [ ... ]



Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.