Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?

PEWARTA ONLINE

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Si Burik

KOPI - Si Burik adalah julukan warga kampung pada seorang gadis kecil yang selalu berdiam di sudut lapangan saat teman-teman sebayanya riang bermain. Sepertinya dia merasa rendah diri dan minder untuk bergabung dengan mereka.

Diam-diam dia memperhatikan kaki dan tangannya yang penuh bintik hitam bekas kudis akibat kulitnya teramat sensitif. Hingga satu gigitan nyamuk saja bisa meninggalkan jejak hitam yang lama, bahkan bila digaruk akan menjadi kudis kecil yang berair.
Gadis kecil itu menarik napas pelan. Pantas saja bila tak ada yang mau main denganku, bisiknya. Tentunya mereka jijik melihat kulitku yang tidak semulus kulit mereka.

Dalam diam dia ingat cerita ibunya bahwa hidup mereka sangat sulit saat dia baru lahir. Apalagi setelah orang tuanya berpisah, ibu hampir tak bisa memberinya susu. Sebelum saatnya dia telah terpaksa makan nasi putih yang dilumuri sedikit garam, yang penting asal perutnya kenyang dan tidak menangis.

Apalagi dia punya kakak lelaki yang tak genap setahun di atasnya. Tak mudah bagi ibunya menghidupi dua bayi sekaligus. Mungkin aku kurang gizi, bisiknya pada dirinya sendiri.

Tanpa sadar iya membandingkan kulitnya dengan kulit kakak lelakinya. Kenapa kulit kakak tak seperti kulitku? Apakah dulu kakak mendapatkan gizi yang baik, sementara aku tidak?. Gadis kecil itu kembali terdiam, dia tak menemukan jawaban apapun.

Dalam hatinya dia mencoba mengingat-ingat perlakuan ibu dan neneknya yang lebih menyayangi kakaknya. Apakah karena kakak mempunyai kulit yang lebih sempurna? ditambah lagi dengan otaknya yang sangat cemerlang? Ataukah karena dia laki- laki? Pasti dulu kakak mendapatkan gizi yang sangat sempurna, bisiknya pelan seolah pada dirinya sendiri.

Si Burik makin menunduk. Menatap tiap butir pasir yang mengotori kakinya. Namun pikirannya menerawang jauh pada nasib yang seolah tak pernah berpihak. Dia tiba-tiba ingat ayahnya. Ayah, kenapa kau tidak membawaku bersamamu saja? rintihnya.

Dia juga ingat kata-kata ibunya bila dia melakukan kesalahan dan menangis menyebut nama ayahnya. Ibunya selalu bilang bila dia ikut ayahnya maka dia akan tinggal dengan ibu tiri yang tidak akan memberinya makan nasi yang baik. Mungkin hanya akan memberinya makan kerak yang telah direndam dengan air.

Dulu dia sangat takut membayangkan hal itu terjadi pada dirinya, hingga dia berusaha keras untuk tidak melakukan kesalahan yang membuat ibunya marah. Tapi kini dia berpikir bahwa mungkin itu lebih baik daripada dia harus menyaksikan takdir yang seolah tak bersikap adil padanya.

Sebenarnya si Burik juga tak kalah pintar dari kakak lelakinya. Hanya saja hampir setiap malam matanya tak bisa tidur. Pikirannya selalu menerawang mencari jawaban dari teka-teki di kepalanya. Kenapa aku begitu berbeda? Apakah aku bukan terlahir dari rahim yang sama?.

Pertanyaan itu seakan tak pernah berhenti berputar di kepalanya tiap malam tiba. Saat seisi rumah lelap dalam buaian mimpi dia menangis dengan teramat pelan agar tak ada yang mendengar rintihannya. Toh tak satupun yang memperhatikan kesedihannya.

Dan seperi biasanya dia akan terbangun lebih awal. Membantu mengantar kue-kue buatan ibunya ke warung. Mencuci piring kotor ke sungai, dan setelahnya baru mandi dan bersiap untuk sekolah. Kadang dia merasakan tubuh kecilnya begitu lelah. Namun dia bertekat untuk tetap berangkat sekolah.

Di sekolah si Burik tak bisa fokus menangkap pelajaran yang diterangkan. Matanya terasa berat dan kepalanya pusing. Kurang tidur dan akibat menangis semalaman membuat seluruh tubuhnya lemas. Tapi dia tak ingin mengeluh dan bercerita kepada siapapun. Toh dia juga tak punya teman yang bisa mengerti keadaanya. Dan begitulah hari-hari yang harus dilewatinya.

****
Suatu hari mereka kedatangan nenek dari rantau nan jauh. Beliau adalah kakak dari nenek kandungnya. Namun si nenek tak beruntung karena tidak mempunyai satu keturunanpun dari kedua kali perkawinannya.
Saat nenek bercakap-cakap dengan ibunya, si Burik secara tak sengaja mendengarkan. Waktu itu dia sedang duduk melipat kain di balik lemari, mungkin tak ada yang menyadari keberadaannya di sana.

Si Burik mendengar nenek meminta kepada ibunya agar dibiarkan untuk membawa serta kakanya ke rantau karena dia tidak punya anak. Nanti kakak akan diurus dan disekolahkan seperti anaknya sendiri. Dan si Burik telah menduga jawaban ibunya. Pastilah ibunya akan menolak melepas nak kesayangannya. Namun satu hal yang membuatnya ingin menjerit dan meraung adalah karena dia mendengar ibu menawarkan bagaimana kalau nenek membawa dirinya saja. Ternyata ibu begitu tak menginginkanku, rintihnya.

Si Burik menahan tangisnya. Dalam hati dia berharap nenek itu mau mebawanya. Dia berjanji akan berusaha menjadi cucu yang baik. Setidaknya dia akan lebih tahu diri karena tinggal menumpang pada orang lain. Walaupun sebenarnya itu adalah neneknya juga.

Namun beberapa hari selanjutnya dia belum mendengar jawaban si nenek. Ibunya juga tak pernah bicara apapun tentang hal itu. Dalam hati si burik tak sabar menunggu. Mudah-mudahan nenek akan mau membawanya pergi, bisiknya.

Sampai pada saat sebelum nenek berangkat kembali ke rantau, dia mendengar ibunya sedang bercakap-cakap dengan suara pelan di dapur. Rasa ingin tahunya memuncak, membuatnya bediri diam dan memasang kuping di balik pintu. Perlahan dia mendengar neneknya bilang bahwa dia tak ingin membawa si burik, dia hanya ingin membawa kakaknya. Bila tidak diizinkan, ya sudah.

Si Burik tersentak kaget. Begitu sedih hatinya mendengar penolakan itu. Ternyata memang tak ada yang bisa menerima keadaanku. Bahkan nenek merasa lebih baik dia tidak ditemani oleh siapa-siapa daripada harus ditemani aku, batinnya.
Perlahan dia melangkah ke luar rumah. Berjalan pelan sambil menghitung langkahnya sendiri. Dia ingin merenung di pinggir kali, sambil membiarkan ikan-ikan kecil bermain-main di kakinya.

****

Beberapa waktu selanjutnya mereka kembali kedatangan tamu. Kali ini bibinya. Sepupu dari ibunya yang tinggal di kota. Dia pulang membawa ketiga anak lelakinya yang masih balita.
Saat mereka duduk di teras si Burik juga mendengar percakapan mereka. Bibinya bilang bahwa dia kerepotan mengurus ketiga anaknya yang masih balita, dan dia berharap akan menemukan gadis kecil yang bisa di bawanya ke kota untuk menjaga anak-anaknya.

Selintas dia mendengar bahwa bibinya bilang akan menyekolahkan nanti anak yang mau menjaga anaknya sampai ke tingkat SMA. Rasanya si Burik ingin sekali ikut dengan bibinya ke kota. Dalam hati dia berjanji kelah akan merawat dan menjaga ketiga adik sepupunya dengan baik. Dia hanya berharap akan ada ynag menyekolahkan dia sampai tingkat SMA.

Maka mulailah si burik mendekati sepupu-sepupunya. Mengajaknya bermain dan mengganti celananya bila pipis, juga memandikan mereka. Si bibi sangat senang melihat si Burik begitu dekat dengan anak-anaknya. Sementara di hati si burik mulai tumbuh harapan semoga saja bibinya akan menawarkan padanya untuk ikut ke kota dan tinggal bersama mereka.

Tapi untuk kesekian kalinya si Burik harus menelan kekecewaan. Tak sekalipun dia mendengar bibinya mengajaknya untuk ikut ke kota. Walaupun bibinya selalu memperlakukannya dengan baik.

Akhirnya bibinya memang harus segera kembali ke kota. Namun dia tak berhasil membawa satu orang anak perempuanpun dari kampungnya untuk membantu dia mengasuh anaknya. Tapi bibinya juga tidak menawarkan kesempatan itu padanya. Kembali si burik menelan ludahnya yang getir.

Memang sudah takdir bahwa aku harus menjalani hariku di sini, bisiknya. Tak seorangpun yang sudi mengajakku tinggal bersama mereka walaupun hanya sebagai pembantu. Baginya yang terpenting dia bisa hidup dan sekolah, hanya itu. Sementara dalam kehidupannya sekarang dia merasa hampir tak punya harapan untuk sekolah walaupun hanya sampai SMA.

Ibunya pasti akan sibuk mengurusi sekolah kakaknya nanti. Dia dengar ibunya akan menyekolahkan kakaknya sampai ke perguruan tinggi. Sementara dia mungkin hanya akan sekolah sampai tamat SD saja, paling mujur dia di masukkan smp bila ada keringanan karena mereka berasal dari keluarga tidak mampu. Selebihnya mungkin dia akan disuruh kursus menjahit, atau mungkin bekerja sebagai buruh atau pembantu rumah tangga.
Si Burik kembali menelan keluh. Kenapa cita-cita untukku sangat sederhana? apakah karena aku bernasib buruk seperti kulitku yang burik ini?. Perlahan airmatanya jatuh di pipinya yang tirus. Ingin rasanya dia mencari keadilan pada Tuhan. Namun dia tak berani karena takut dosa.

****

Suatu senja si Burik duduk diam di pinggir sungai tempat biasanya dia menyembunyikan kesedihan. Telah seharian dia berada di sana. Otaknya mulai berpikir bahwa dia harus pergi dari rumah. Meninggalkan orang-orang di kampungnya yang tak pernah memandangnya sebelah mata.

Aku akan mencari ayah, bisiknya. Tak peduli apakah nanti dia akan menjadi bahan ejekan atau tempat tumpahan kemarahan ibu tirinya. Mungkin juga dia harus makan kerak yang direndam air seperti kata ibunya. Aku akan tetap pergi, sekali lagi siBurik meyakinkan hatinya.

Si Burik ingat neneknya pernah bilang bahwa kampung ayahnya tak begitu jauh. Bila dia menyusuri sungai arah ke hilir dan memebus hutan, maka dia akan sampai di kampung ayahnya. Tapi sebentar lagi malam, bisiknya. Bukankah akan sangat mengerikan melewati hutan pada saat malam?. Dia kembali terdiam. Diputuskannya untuk pergi besok pagi-pagi saat semua prang tidak ada di rumah.

Keputusannya sudah bulat. Dia kembali ke rumah dengan langkah pelan seperti biasanya. Dengan mata yang selalu luruh seakan menghitung jejak yang tertinggal.
Sampai di halaman, dia melihat wajah ibunya begitu pucat dan menatapnya dengan bibir yang gemetar. Sementara neneknya juga menyiratkan keresahan di matanya yang biasanya selalu beku saat menatapnya. Si Burik heran, ada apakah gerangan?.

Dia melihat ibu menyusulnya ke halaman. tangannya terulur seakan ingin menariknya ke pelukan. Matanya merah dan sembab seperti habis menangis. Sedang nenek juga menyusul dan berdiri di samping ibunya.

Si Burik masih diam dalam seribu ketidakmengertian. Sementara ibunya telah meraih tangannya dan memeluknya erat. Hal yang selama ini nyaris tak pernah dia rasakan. Yang hanya ada dalam angannya saat dia tertidur kelelahan setelah menagis semalaman.
"Ke mana saja kau nak?" terdengar suara ibunya pelan. Si Burik masih diam.
"Seharian kami mencarimu, bahkan seisi kampung juga ikut mencari ke seluruh kampung, termasuk ke pinggir sungai biasanya kau duduk menyendiri."

Si Burik tersentak. Bukankah tadi dia tidak ke mana-mana?. Dia hanya duduk seharian di bawah pohon rindang di pinggir sungai. Mana mungkin ibu dan orang-orang lainnya tidak melihatnya di sana? pikirnya. Dia juga bahkan tidak melihat seorangpun menyusulnya ke sungai.

Ibunya makin erat memeluknya. Airmatanya kian menganak sungai di pipinya yang pucat.

"Kami takut kau tak akan pulang, Nak. Kata tetua di kampung kamu telah di bawa oleh penunggu sungai." Terdengar suara ibunya di sela isak tangisnya.
Kini Si burik mulai paham apa yang terjadi. Dia mencoba membalas pelukan ibunya dan tersenyum.

"Aku tidak ke mana-mana Bu. Aku hanya duduk di tepi sungai merenungi nasibku." katanya pelan. "Dan aku tak tahu bahwa ibu akan menghawatirkanku," lanjutnya.
Ibunya kembali menatapnya. Matanya telah bersimbah air mata. Tapi tak lagi sepias tadi.

"Maafkan ibu, Nak. Ibu telah salah padamu. Membiarkan kamu hidup sendiri dalam pikiranmu. Sementara ibu terlalu sibuk mengurus kakak lelakimu." Suara ibunya terdengar tulus.

"Ibu berjanji akan menjadi ibu yang baik bagi kalian berdua, bukan hanya untuk kakakmu. Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkan Ibu." Kali ini suara ibunya lebih terdengar sebagai sebuah permohonan.

Si Burik mencari kejujuran di telaga mata ibunya. Dan dia menemukan mata air damai
di sana. Dia tersenyum sambil memeluk ibunya erat.

"Aku sayang ibu. Aku tak akan meninggalkan ibu. Kita akan lupakan segala hal buruk yang kita alami dan memulainya dengan hari baru."
Terdengar suara si Burik pelan di sela tangisnya yang tak lagi terbendung. Tapi kali ini adalah tangis bahagia karena ibunya telah menyadari kekhilafannya.

Malam mulai turun. kedua ibu dan anak itu masih saja berpelukan. Namun di hati mereka kini ada kedamaian. Ada detak kasih yang selama ini terlupakan.
Medio April 2014

Biodata Penulis :

Nova Linda, lahir di Pekanbaru tanggal 29 Januari, di bawah naungan bintang Aquarius, berdarah Minang, mempunyai ketertarikan terhadap dunia penulisan sejak duduk di bangku sekolah menengah.
Namun, karena kesibukan bekerja di sebuah perusahaan swasta, membuatnya hampir tak punya waktu menyalurkan minat menulisnya. Hingga beberapa tahun terakhir ini, ia kembali menulis puisi, menekuni minatnya yang tertunda ini.

Alhamdulillah di penghujung Januari 2014 telah menerbitkan Kumpulan puisi tunggal yang berjudul “Gerbang Senja” yang diterbitkan oleh “Star Publishing- Jakarta “.

Beberapa puisinya pernah terbit di Koran “New Times Sabah" Malaysia diantaranya :
1. Puisi berjudul “Cinta Mati Muda” di terbitkan hari Minggu tanggal 16 Desember 2012.
2. Puisi berjudul “Saat Senja Pulang” di terbitkan hari Minggu tanggal 13 Oktober 2013.
3. Puisi berjudul “Padamu yang Kusebut Luka” di terbitkan hari Minggu tanggal 15 Desember 2013.

Antologi bersama yang pernah diikutinya, Antologi Puisi PBKS antar 4 (empat) Negara "Lentera Sastra" 2013 (Penerbit: Sembilan Mutiara Publishing), Antologi Puisi 45 Penyair Coretan Dinding Kita “Manusia dan Mata-mata Tuhan” 2013, Antologi Puisi “Daun Bersayap Awan “ 2013 (Penerbit: Alinea Baru), Antologi Puisi dan Apresiasi “Mendekap Langit” 2013 (Gempita Biostory Indi), Kumpulan Puisi “Jendela Senja” 2013 ( Penerbit : Wangsa Indira Jaya)

Saat ini juga terlibat penerbitan puisi di beberapa antologi bersama lainnya.

Sejumlah puisi secara berkala di publish di Koran Online Buletin Indonesia, Koran Online Pewarta Indonesia. Koran Online Rima News dan Koran Online Lawupos.

 

Dewan Pers Mengeluarkan Surat Edaran ke Pemda Sudah Melanggar Konstitusi
Selasa, 17 Juli 2018

Pejabat Menolak Wartawan Meliput, Wawancara dan Konfirmasi Informasi Publik, Senator DPD RI: Itu Melanggar Konstitusi. KOPI, Jakarta – Ditempat kerjanya, sebut saja namanya Aji Harmoko menuturkan” Heran saya oknum staf Dewan Pers datang ke Propinsi Riau mengunjungi “dapur redaksi” perusahaan Media online untuk memverifikasi media. Bagaimanapun juga “dugaan” terjadi praktek suap berkemungkinan ada . Pasti pemilik perusahaan media... Baca selengkapnya...

Presiden Jokowi : Survey Gallup Law and Order Indonesia 10 Negara Teraman untuk Iklim Investasi
Sabtu, 14 Juli 2018

KOPI, Jakarta – Memperingati hari Bhayangkara ke-72 kita dapat kabar baik, dari hasil survey lembaga Internasional  yakni Gallup Law and Order menempatkan Indonesia ke dalam 10 negara teraman  untuk iklim investasi di dunia. Pemerintah Indonesia  menjamin   keamanan  para investor menanamkan modalnya  ," kata Jokowi (Joko Widodo) di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (11/7). Jokowi pun meminta aparat keamanan untuk mempertahankan... Baca selengkapnya...

Polda Riau Memperingati HUT Bhayangkara ke-72 Beraneka Ragam Kegiatan
Jumat, 13 Juli 2018

KOPI, Pekanbaru - Memperingati Hari Ulang Tahun Bhayangkara ke-72, Kepolisian Daerah Riau menggelar syukuran di Aula Satbrimobda Polda Riau, bertempat Jl.K.H.Ahmad Dahlan – Pekanbaru, Rabu (11/7/2018). Acara tersebut dihadiri oleh Gubernur Riau , Wakapolda Riau Brigjen.Pol.Drs.HE.Permadi,SH,MH, Danrem 031 Wira Bima diwakili Kasrem 031 Wira Bima Kolonel Inf Asep Nugraha, SE, M.Si, Kabinda Provinsi Riau Marsma. TNI.Rakhman Haryadi, SA, MBA,... Baca selengkapnya...

Peringati HBA ke- 58, Kejati Riau Gelar Pasar Murah
Jumat, 13 Juli 2018

KOPI, Pekanbaru – Memperingati Hari Bakti Adyaksa (HBA) ke- 58 jatuh pada tanggal 22 Juli mendatang. Kejaksaan Tinggi Riau gelar pasar murah di gedung sementara bertempat Jalan. Arifin Ahmad, Kamis (12/07-2018). Pasar murah ini menjual Sembilan Bahan Pokok Kebutuhan (Sembako) serta beberapa counter kuliner masakan khas melayu Riau, kerajinan tangan (Home Industri) dan sebagainya. Pasar murah ini terlaksana kerjasama Koperasi Kejaksaan... Baca selengkapnya...

Bubarkan Dewan Pers, Ratusan Orang Wartawan Demo Kantornya
Senin, 09 Juli 2018

KOPI, Jakarta - Ratusan Wartawan dari berbagai media massa, baik cetak maupun online yang datang dari seluruh pelosok nusantara membanjiri halaman Hall Dewan Pers (HDP) Jakarta, Rabu (4/7/19). Kehadiran para pahlawan informasi ini yang didukung penuh oleh puluhan organisasi media maupun organisasi wartawan menuntut agar Dewan Pers melakukan perbaikan dalam mengambil kebijakan terutama terkait sengketa pemberitaan. Terkait rekomendasi Dewan Pers... Baca selengkapnya...

Pengamat: Prediksi, Peramal Pilgub Jatim 2018
Selasa, 26 Juni 2018

KOPI, Jawa Timur – Pilpres (Pemilihan Presiden) Amerika Serikat tahun kemaren. Masyarakat internasional memprediksi Hillary Clinton bakalan terpilih. Ternyata Donal Trump. Kami sudah dapat memprediksi jauh-jauh hari, yang terpilih sebagai Capres Amrik adalah Donal Trump. Ustad kondang terkenal dari Riau bernama UAS (Ustad Abdul Somad). Pengamat Genius dari Riau sebut saja namanya Aji Somek. Ditempat kerjanya, mengatakan “ Menentukan menang... Baca selengkapnya...

Top Secret : Inilah Wajah Palsu atau KW Donal Trump dengan Kim Jong Un
Minggu, 24 Juni 2018

KOPI, Singapura - Dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah SWT menciptakan seorang manusia dalam tujuh rupa/mirip dengan orang lain kadarnya ada 50 %, 60, 70, 80, 90 %. Kembaran, Serupa tersebut ada sudah meninggal, belum lahir, bahkan ada yang masih hidup. Kadangkala oknum pemilik wajah serupa itu mempergunakan untuk penipuan. Menyakinkan orang bahwa ia mengaku sebagai Adik atau keluarga dari pemilik wajah asli yakni meminta uang atau... Baca selengkapnya...

INTERNASIONALKunjungan Kerja ke Scotlandia Trump Men.....
19/07/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Amerika Serikat – Dilansir dari koran Skotlandia The Scotsman, saat mengunjungi Skotlandia pada akhir pekan lalu. Selasa (17/7-18), Trump me [ ... ]



NASIONALSatgas Pamtas Yonif 320/BP Membantu Pemb.....
18/07/2018 | Wawan Setiawan
article thumbnail

KOPI-Nanga Bayan, Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Yonif 320/BP membantu pembuatan saluran utama pipa air ke lingkungan masyarakat [ ... ]



DAERAHLantaran Didesak, Lurah Jelambar Baru Ja.....
17/07/2018 | Yeni Muezza
article thumbnail

KOPI,  Jakarta - Lantaran hanya mendapatkan informasi dari para ketua RT dan oknum wartawan yang belum jelas kebenarannya, Masykuri selaku Lurah  [ ... ]



PENDIDIKANGelar Reuni Alumni SMPN 2 Pekanbaru A.....
16/07/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru – Selama tiga puluh tiga  tahun tamat dari Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 (SPMN 2) Pekanbaru. Selain melepas rindu dalam kegi [ ... ]



EKONOMIKemenperin Klaim Susu Kental Manis Aman .....
07/07/2018 | Yeni Muezza
article thumbnail

KOPI,  Jakarta - Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa susu kental manis (SKM) merupakan produk yang aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat kar [ ... ]



HANKAMPratu HT Anggota Kostrad Otaki Pembob.....
09/07/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta - Ditempat kerjanya, Sugeng Triwardono mengatakan “ Yang merusak nama Korops TNI adalah oknum anggota TNI tersebut. Setiap apel selal [ ... ]



OLAHRAGAViral Medsos Rekaman Video Paspampres Ha.....
25/02/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Sebenarnya kegiatan ini bukan kegiatan kenegaraan. Kegiatan tersebut seremonial menyaksikan pertandingan Final antar dua kubu grup [ ... ]



HUKUM & KRIMINALInilah Riki Zanur Warga Jl. Rambutan .....
15/07/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru - Riki Zanur alias Riky (30), warga Jalan Rambutan, Kelurahan Sidomulyo Timur, Kecamatan Tampan, kota Pekanbaru, tangkap polisi. Pela [ ... ]



POLITIKIndonesia Diprediksi Raih Masa Keemasan .....
08/07/2018 | Yeni Muezza

KOPI,  Jakarta – Pandangan Dr Luthfi Assyaukanie, dosen Universitas Paramadina yang lansir di harian Rakyat Merdeka (4 Juli 2018) Wakil Presiden  [ ... ]



OPINIPengamat : "Dugaan" Oknum Dewan Pers Mem.....
05/07/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Kini zamanNow, zaman internet atau digital masyarakat saja bisa menginformasikan kegiatannya di media sosial (red. Istagram, WhatsAp [ ... ]



PROFILViral Dua Orang Turis Wanita Asal Tio.....
15/07/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Malaysia - Rekaman Video Viral di media social Malaysia, dua orang turis wanita asal China/Tiongkok melakukan handstand atau berdiri dengan k [ ... ]



ROHANIKemenag Riau Resmikan Rumah Qur’an di.....
13/07/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Siak - Berdirinya Pelayanan Terpadu Satu Atap (PTSP) di Kecamatan Bungaraya merupakan PTSP ke dua yang ada di Indonesia. Untuk di Kecamatan Siak [ ... ]



RESENSIHeboh Buku Fire and Furry Ungkap “ D.....
05/01/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Washington DC- Heboh buku Fire and Fury ungkap “Dapur Gedung Putih” Menjelang Pemilu Pilres Amerika Serikat . Dilansir dari The Guardian, R [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto
article thumbnail

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIMenatap Rasa.....
07/06/2017 | Mas Ade

Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



CURAHAN HATIPengamat : Pecat Ndan Perwira Polri ya.....
14/07/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pangkal Pinang – Beredar rekaman Video viral berdurasi 30 detik , di Media Sosial Grup WhatsApp di daerah Pangkal Pinang. Oknum Polisi P [ ... ]



SERBA-SERBICamat Perhentian Raja Sidak Persiapan .....
26/06/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Kampar - Camat Perhentian Raja Azhar S.Stp mengadakan sidak mengecek pengamanan persiapan pelaksanaan Pilkada Serentak 2018 ke desa Lubuk Sa [ ... ]



Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.