Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Si Burik

KOPI - Si Burik adalah julukan warga kampung pada seorang gadis kecil yang selalu berdiam di sudut lapangan saat teman-teman sebayanya riang bermain. Sepertinya dia merasa rendah diri dan minder untuk bergabung dengan mereka.

Diam-diam dia memperhatikan kaki dan tangannya yang penuh bintik hitam bekas kudis akibat kulitnya teramat sensitif. Hingga satu gigitan nyamuk saja bisa meninggalkan jejak hitam yang lama, bahkan bila digaruk akan menjadi kudis kecil yang berair.
Gadis kecil itu menarik napas pelan. Pantas saja bila tak ada yang mau main denganku, bisiknya. Tentunya mereka jijik melihat kulitku yang tidak semulus kulit mereka.

Dalam diam dia ingat cerita ibunya bahwa hidup mereka sangat sulit saat dia baru lahir. Apalagi setelah orang tuanya berpisah, ibu hampir tak bisa memberinya susu. Sebelum saatnya dia telah terpaksa makan nasi putih yang dilumuri sedikit garam, yang penting asal perutnya kenyang dan tidak menangis.

Apalagi dia punya kakak lelaki yang tak genap setahun di atasnya. Tak mudah bagi ibunya menghidupi dua bayi sekaligus. Mungkin aku kurang gizi, bisiknya pada dirinya sendiri.

Tanpa sadar iya membandingkan kulitnya dengan kulit kakak lelakinya. Kenapa kulit kakak tak seperti kulitku? Apakah dulu kakak mendapatkan gizi yang baik, sementara aku tidak?. Gadis kecil itu kembali terdiam, dia tak menemukan jawaban apapun.

Dalam hatinya dia mencoba mengingat-ingat perlakuan ibu dan neneknya yang lebih menyayangi kakaknya. Apakah karena kakak mempunyai kulit yang lebih sempurna? ditambah lagi dengan otaknya yang sangat cemerlang? Ataukah karena dia laki- laki? Pasti dulu kakak mendapatkan gizi yang sangat sempurna, bisiknya pelan seolah pada dirinya sendiri.

Si Burik makin menunduk. Menatap tiap butir pasir yang mengotori kakinya. Namun pikirannya menerawang jauh pada nasib yang seolah tak pernah berpihak. Dia tiba-tiba ingat ayahnya. Ayah, kenapa kau tidak membawaku bersamamu saja? rintihnya.

Dia juga ingat kata-kata ibunya bila dia melakukan kesalahan dan menangis menyebut nama ayahnya. Ibunya selalu bilang bila dia ikut ayahnya maka dia akan tinggal dengan ibu tiri yang tidak akan memberinya makan nasi yang baik. Mungkin hanya akan memberinya makan kerak yang telah direndam dengan air.

Dulu dia sangat takut membayangkan hal itu terjadi pada dirinya, hingga dia berusaha keras untuk tidak melakukan kesalahan yang membuat ibunya marah. Tapi kini dia berpikir bahwa mungkin itu lebih baik daripada dia harus menyaksikan takdir yang seolah tak bersikap adil padanya.

Sebenarnya si Burik juga tak kalah pintar dari kakak lelakinya. Hanya saja hampir setiap malam matanya tak bisa tidur. Pikirannya selalu menerawang mencari jawaban dari teka-teki di kepalanya. Kenapa aku begitu berbeda? Apakah aku bukan terlahir dari rahim yang sama?.

Pertanyaan itu seakan tak pernah berhenti berputar di kepalanya tiap malam tiba. Saat seisi rumah lelap dalam buaian mimpi dia menangis dengan teramat pelan agar tak ada yang mendengar rintihannya. Toh tak satupun yang memperhatikan kesedihannya.

Dan seperi biasanya dia akan terbangun lebih awal. Membantu mengantar kue-kue buatan ibunya ke warung. Mencuci piring kotor ke sungai, dan setelahnya baru mandi dan bersiap untuk sekolah. Kadang dia merasakan tubuh kecilnya begitu lelah. Namun dia bertekat untuk tetap berangkat sekolah.

Di sekolah si Burik tak bisa fokus menangkap pelajaran yang diterangkan. Matanya terasa berat dan kepalanya pusing. Kurang tidur dan akibat menangis semalaman membuat seluruh tubuhnya lemas. Tapi dia tak ingin mengeluh dan bercerita kepada siapapun. Toh dia juga tak punya teman yang bisa mengerti keadaanya. Dan begitulah hari-hari yang harus dilewatinya.

****
Suatu hari mereka kedatangan nenek dari rantau nan jauh. Beliau adalah kakak dari nenek kandungnya. Namun si nenek tak beruntung karena tidak mempunyai satu keturunanpun dari kedua kali perkawinannya.
Saat nenek bercakap-cakap dengan ibunya, si Burik secara tak sengaja mendengarkan. Waktu itu dia sedang duduk melipat kain di balik lemari, mungkin tak ada yang menyadari keberadaannya di sana.

Si Burik mendengar nenek meminta kepada ibunya agar dibiarkan untuk membawa serta kakanya ke rantau karena dia tidak punya anak. Nanti kakak akan diurus dan disekolahkan seperti anaknya sendiri. Dan si Burik telah menduga jawaban ibunya. Pastilah ibunya akan menolak melepas nak kesayangannya. Namun satu hal yang membuatnya ingin menjerit dan meraung adalah karena dia mendengar ibu menawarkan bagaimana kalau nenek membawa dirinya saja. Ternyata ibu begitu tak menginginkanku, rintihnya.

Si Burik menahan tangisnya. Dalam hati dia berharap nenek itu mau mebawanya. Dia berjanji akan berusaha menjadi cucu yang baik. Setidaknya dia akan lebih tahu diri karena tinggal menumpang pada orang lain. Walaupun sebenarnya itu adalah neneknya juga.

Namun beberapa hari selanjutnya dia belum mendengar jawaban si nenek. Ibunya juga tak pernah bicara apapun tentang hal itu. Dalam hati si burik tak sabar menunggu. Mudah-mudahan nenek akan mau membawanya pergi, bisiknya.

Sampai pada saat sebelum nenek berangkat kembali ke rantau, dia mendengar ibunya sedang bercakap-cakap dengan suara pelan di dapur. Rasa ingin tahunya memuncak, membuatnya bediri diam dan memasang kuping di balik pintu. Perlahan dia mendengar neneknya bilang bahwa dia tak ingin membawa si burik, dia hanya ingin membawa kakaknya. Bila tidak diizinkan, ya sudah.

Si Burik tersentak kaget. Begitu sedih hatinya mendengar penolakan itu. Ternyata memang tak ada yang bisa menerima keadaanku. Bahkan nenek merasa lebih baik dia tidak ditemani oleh siapa-siapa daripada harus ditemani aku, batinnya.
Perlahan dia melangkah ke luar rumah. Berjalan pelan sambil menghitung langkahnya sendiri. Dia ingin merenung di pinggir kali, sambil membiarkan ikan-ikan kecil bermain-main di kakinya.

****

Beberapa waktu selanjutnya mereka kembali kedatangan tamu. Kali ini bibinya. Sepupu dari ibunya yang tinggal di kota. Dia pulang membawa ketiga anak lelakinya yang masih balita.
Saat mereka duduk di teras si Burik juga mendengar percakapan mereka. Bibinya bilang bahwa dia kerepotan mengurus ketiga anaknya yang masih balita, dan dia berharap akan menemukan gadis kecil yang bisa di bawanya ke kota untuk menjaga anak-anaknya.

Selintas dia mendengar bahwa bibinya bilang akan menyekolahkan nanti anak yang mau menjaga anaknya sampai ke tingkat SMA. Rasanya si Burik ingin sekali ikut dengan bibinya ke kota. Dalam hati dia berjanji kelah akan merawat dan menjaga ketiga adik sepupunya dengan baik. Dia hanya berharap akan ada ynag menyekolahkan dia sampai tingkat SMA.

Maka mulailah si burik mendekati sepupu-sepupunya. Mengajaknya bermain dan mengganti celananya bila pipis, juga memandikan mereka. Si bibi sangat senang melihat si Burik begitu dekat dengan anak-anaknya. Sementara di hati si burik mulai tumbuh harapan semoga saja bibinya akan menawarkan padanya untuk ikut ke kota dan tinggal bersama mereka.

Tapi untuk kesekian kalinya si Burik harus menelan kekecewaan. Tak sekalipun dia mendengar bibinya mengajaknya untuk ikut ke kota. Walaupun bibinya selalu memperlakukannya dengan baik.

Akhirnya bibinya memang harus segera kembali ke kota. Namun dia tak berhasil membawa satu orang anak perempuanpun dari kampungnya untuk membantu dia mengasuh anaknya. Tapi bibinya juga tidak menawarkan kesempatan itu padanya. Kembali si burik menelan ludahnya yang getir.

Memang sudah takdir bahwa aku harus menjalani hariku di sini, bisiknya. Tak seorangpun yang sudi mengajakku tinggal bersama mereka walaupun hanya sebagai pembantu. Baginya yang terpenting dia bisa hidup dan sekolah, hanya itu. Sementara dalam kehidupannya sekarang dia merasa hampir tak punya harapan untuk sekolah walaupun hanya sampai SMA.

Ibunya pasti akan sibuk mengurusi sekolah kakaknya nanti. Dia dengar ibunya akan menyekolahkan kakaknya sampai ke perguruan tinggi. Sementara dia mungkin hanya akan sekolah sampai tamat SD saja, paling mujur dia di masukkan smp bila ada keringanan karena mereka berasal dari keluarga tidak mampu. Selebihnya mungkin dia akan disuruh kursus menjahit, atau mungkin bekerja sebagai buruh atau pembantu rumah tangga.
Si Burik kembali menelan keluh. Kenapa cita-cita untukku sangat sederhana? apakah karena aku bernasib buruk seperti kulitku yang burik ini?. Perlahan airmatanya jatuh di pipinya yang tirus. Ingin rasanya dia mencari keadilan pada Tuhan. Namun dia tak berani karena takut dosa.

****

Suatu senja si Burik duduk diam di pinggir sungai tempat biasanya dia menyembunyikan kesedihan. Telah seharian dia berada di sana. Otaknya mulai berpikir bahwa dia harus pergi dari rumah. Meninggalkan orang-orang di kampungnya yang tak pernah memandangnya sebelah mata.

Aku akan mencari ayah, bisiknya. Tak peduli apakah nanti dia akan menjadi bahan ejekan atau tempat tumpahan kemarahan ibu tirinya. Mungkin juga dia harus makan kerak yang direndam air seperti kata ibunya. Aku akan tetap pergi, sekali lagi siBurik meyakinkan hatinya.

Si Burik ingat neneknya pernah bilang bahwa kampung ayahnya tak begitu jauh. Bila dia menyusuri sungai arah ke hilir dan memebus hutan, maka dia akan sampai di kampung ayahnya. Tapi sebentar lagi malam, bisiknya. Bukankah akan sangat mengerikan melewati hutan pada saat malam?. Dia kembali terdiam. Diputuskannya untuk pergi besok pagi-pagi saat semua prang tidak ada di rumah.

Keputusannya sudah bulat. Dia kembali ke rumah dengan langkah pelan seperti biasanya. Dengan mata yang selalu luruh seakan menghitung jejak yang tertinggal.
Sampai di halaman, dia melihat wajah ibunya begitu pucat dan menatapnya dengan bibir yang gemetar. Sementara neneknya juga menyiratkan keresahan di matanya yang biasanya selalu beku saat menatapnya. Si Burik heran, ada apakah gerangan?.

Dia melihat ibu menyusulnya ke halaman. tangannya terulur seakan ingin menariknya ke pelukan. Matanya merah dan sembab seperti habis menangis. Sedang nenek juga menyusul dan berdiri di samping ibunya.

Si Burik masih diam dalam seribu ketidakmengertian. Sementara ibunya telah meraih tangannya dan memeluknya erat. Hal yang selama ini nyaris tak pernah dia rasakan. Yang hanya ada dalam angannya saat dia tertidur kelelahan setelah menagis semalaman.
"Ke mana saja kau nak?" terdengar suara ibunya pelan. Si Burik masih diam.
"Seharian kami mencarimu, bahkan seisi kampung juga ikut mencari ke seluruh kampung, termasuk ke pinggir sungai biasanya kau duduk menyendiri."

Si Burik tersentak. Bukankah tadi dia tidak ke mana-mana?. Dia hanya duduk seharian di bawah pohon rindang di pinggir sungai. Mana mungkin ibu dan orang-orang lainnya tidak melihatnya di sana? pikirnya. Dia juga bahkan tidak melihat seorangpun menyusulnya ke sungai.

Ibunya makin erat memeluknya. Airmatanya kian menganak sungai di pipinya yang pucat.

"Kami takut kau tak akan pulang, Nak. Kata tetua di kampung kamu telah di bawa oleh penunggu sungai." Terdengar suara ibunya di sela isak tangisnya.
Kini Si burik mulai paham apa yang terjadi. Dia mencoba membalas pelukan ibunya dan tersenyum.

"Aku tidak ke mana-mana Bu. Aku hanya duduk di tepi sungai merenungi nasibku." katanya pelan. "Dan aku tak tahu bahwa ibu akan menghawatirkanku," lanjutnya.
Ibunya kembali menatapnya. Matanya telah bersimbah air mata. Tapi tak lagi sepias tadi.

"Maafkan ibu, Nak. Ibu telah salah padamu. Membiarkan kamu hidup sendiri dalam pikiranmu. Sementara ibu terlalu sibuk mengurus kakak lelakimu." Suara ibunya terdengar tulus.

"Ibu berjanji akan menjadi ibu yang baik bagi kalian berdua, bukan hanya untuk kakakmu. Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkan Ibu." Kali ini suara ibunya lebih terdengar sebagai sebuah permohonan.

Si Burik mencari kejujuran di telaga mata ibunya. Dan dia menemukan mata air damai
di sana. Dia tersenyum sambil memeluk ibunya erat.

"Aku sayang ibu. Aku tak akan meninggalkan ibu. Kita akan lupakan segala hal buruk yang kita alami dan memulainya dengan hari baru."
Terdengar suara si Burik pelan di sela tangisnya yang tak lagi terbendung. Tapi kali ini adalah tangis bahagia karena ibunya telah menyadari kekhilafannya.

Malam mulai turun. kedua ibu dan anak itu masih saja berpelukan. Namun di hati mereka kini ada kedamaian. Ada detak kasih yang selama ini terlupakan.
Medio April 2014

Biodata Penulis :

Nova Linda, lahir di Pekanbaru tanggal 29 Januari, di bawah naungan bintang Aquarius, berdarah Minang, mempunyai ketertarikan terhadap dunia penulisan sejak duduk di bangku sekolah menengah.
Namun, karena kesibukan bekerja di sebuah perusahaan swasta, membuatnya hampir tak punya waktu menyalurkan minat menulisnya. Hingga beberapa tahun terakhir ini, ia kembali menulis puisi, menekuni minatnya yang tertunda ini.

Alhamdulillah di penghujung Januari 2014 telah menerbitkan Kumpulan puisi tunggal yang berjudul “Gerbang Senja” yang diterbitkan oleh “Star Publishing- Jakarta “.

Beberapa puisinya pernah terbit di Koran “New Times Sabah" Malaysia diantaranya :
1. Puisi berjudul “Cinta Mati Muda” di terbitkan hari Minggu tanggal 16 Desember 2012.
2. Puisi berjudul “Saat Senja Pulang” di terbitkan hari Minggu tanggal 13 Oktober 2013.
3. Puisi berjudul “Padamu yang Kusebut Luka” di terbitkan hari Minggu tanggal 15 Desember 2013.

Antologi bersama yang pernah diikutinya, Antologi Puisi PBKS antar 4 (empat) Negara "Lentera Sastra" 2013 (Penerbit: Sembilan Mutiara Publishing), Antologi Puisi 45 Penyair Coretan Dinding Kita “Manusia dan Mata-mata Tuhan” 2013, Antologi Puisi “Daun Bersayap Awan “ 2013 (Penerbit: Alinea Baru), Antologi Puisi dan Apresiasi “Mendekap Langit” 2013 (Gempita Biostory Indi), Kumpulan Puisi “Jendela Senja” 2013 ( Penerbit : Wangsa Indira Jaya)

Saat ini juga terlibat penerbitan puisi di beberapa antologi bersama lainnya.

Sejumlah puisi secara berkala di publish di Koran Online Buletin Indonesia, Koran Online Pewarta Indonesia. Koran Online Rima News dan Koran Online Lawupos.

 

Perintah Kapolri : Tembak Mati Oknum Personel Polri sebagai Bandar Narkoba
Senin, 23 April 2018

KOPI, Pekanbaru - Kunjungan kerja Kapolri Jendral (Pol) Tito Karnavian kepulau Sumatera berawal dari propinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Palembang. Dalam rangka meningkatkan Solidaritas dan sinergiritas antar dua lembaga institusi Polri dengan TNI mengamankan terselenggaranya Pemilu serentak 2018 serta Pilpres 2019. Kunjungan dua Jendral bintang empat ini ke Propinsi Riau, hari Jum’at (20/4-17). Kedatanganya disambut oleh Kapolda Riau,... Baca selengkapnya...

Cucu Pahlawan Nasional Bra Koosmariam Tersiram Air Panas oleh Pramugari Garuda
Minggu, 15 April 2018

KOPI, Jakarta – Cucu pahlawan nasional Pakubuwono X yakni B.R.A Koosmariam Djatikusumo (69) mengalami cacat payudara akibat tersiram air panas di kabin pesawat oleh oknum pramugari. Insiden terjadi saat penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta menuju Banyuwangi pada 29 Desember 2017 lalu. Saat itu, pramugari Garuda sedang melayani para penumpang atau serving. Tak disangka, teh panas tumpah dan mengenai tubuh korban. Cucu pahlawan nasional... Baca selengkapnya...

Wartawan Dimeja-hijaukan, Dewan Pers Mutlak Dibubarkan
Sabtu, 14 April 2018

KOPI, Jakarta – Ketua Umum PPWI Nasional, Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA kembali bersuara keras atas tindakan kriminalisasi terhadap wartawan yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Kali ini, Wilson merasa sangat prihatin atas perlakuan sewenang-wenang aparat kepolisian di Polda Sumatera Barat yang menyeret Ismail Novendra, pimpinan redaksi Koran Jejak News yang terbit di Padang, Sumatera Barat, ke meja hijau. Laporan terkini yang... Baca selengkapnya...

Ada Apa Dengan KPK ? Tak Berani Mengusut Kasus Izin Kehutanan Melibatkan Zulkifli Hasan
Jumat, 13 April 2018

KOPI, Jakarta - Keterlibatan mantan Mentri Kehutanan Zulkifli Hasan memberikan izin pembebasan lahan hutan di Propinsi Riau dan Banten. Hampir semua kasus korupsi alih fungsi lahan berawal dari keputusan menteri yang berwenang dan saat itu Zulkifli Hasan sebagai Menteri Kehutanan melalui SK No. 673/ 2014 menyetujui alih lahan sebesar 30.000 ha yang berujung pada pemberian suap oleh mantan Gubernur Annas Makmun . Dalam persidangan terdakwa... Baca selengkapnya...

Erasmus Huis Hadirkan Konser Alexander Ullman di Jakarta
Kamis, 12 April 2018

KOPI, Jakarta – Lembaga Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, mengadakan acara konser tunggal menghadirkan Alexander Ullman, bertempat di The Erasmus Huis, Kedubes Belanda, Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 11 April 2018. Alexander Ullman adalah pemenang pertama Franz Liszt Piano Competition ke-11 yang berlangsung di Utrecht, Belanda, tahun 2017 lalu. Tidak kurang dari 300 penonton menyaksikan konser anak muda berkebangsaan Inggris... Baca selengkapnya...

Mendes PDTT Eko Putro Ingatkan Kades Tak Selewengkan Dana Desa , Telpon Satgas Bila Ada Kendala
Kamis, 12 April 2018

KOPI, Jakarta – Masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dengan Jusuf Kalla, Selama Tiga tahun ini dana desa mampu membangun lebih dari 121.000 kilometer jalan desa. Ini belum pernah ada dalam sejarah Indonesia. Desa mampu membangun 1.960 kilometer jembatan, tambatan perahu, embung air (sumur resapan air), sarana olahraga, irigasi, serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro... Baca selengkapnya...

Inilah Puisi “Ibu Indonesia” Dibacakan oleh Sukmawati Bikin Heboh Umat Islam
Sabtu, 07 April 2018

KOPI, Jakarta - Putri Presiden pertama Indonesia Soekarno yakni Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi berjudul “Ibu Indonesia” di acara Pagelaran peragaan busana “Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week ke 29” bertempat di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Selatan, pada Kamis, 29 Maret 2018. Ibu Indonesia Aku tak tahu Syariat Islam Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah Lebih cantik dari... Baca selengkapnya...

INTERNASIONALNew European Report Points Fingers at Po.....
25/04/2018 | Redaksi KOPI

KOPI, Maroko - The involvement of the polisario in terrorist acts in the Sahelo-Saharan region has once again been singled out in a report funded by t [ ... ]



DAERAHRatusan Kepala Kampung SeKabupaten Jayaw.....
24/04/2018 | Wawan Setiawan

KOPI-Wamena, Plt. Bupati Kab. Jayawijaya Doren Wakerkwa, SH menerima lebih kurang 100 Orang Kepala Kampung se Kab. Jayawijaya dalam sebuah aksi demo d [ ... ]



PENDIDIKANSMK Telkom Pekanbaru Siapkan 100 unit K.....
25/04/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru - Pelaksanaan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Telkom Pekanbaru, tahun ajaran 2017-2018 meny [ ... ]



HANKAMTNI Memasak untuk Pengungsi Gempa Kalibe.....
23/04/2018 | Marsono Rh

KOPI - Banyaknya jumlah warga Kalibening Banjarnegara mengungsi membuat dapur umum yang didirikan di sejumlah lokasi harus bekerja ekstra keras untuk  [ ... ]



OLAHRAGAViral Medsos Rekaman Video Paspampres Ha.....
25/02/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Sebenarnya kegiatan ini bukan kegiatan kenegaraan. Kegiatan tersebut seremonial menyaksikan pertandingan Final antar dua kubu grup [ ... ]



PARIWISATAAston Luncurkan Minuman Anyar “Cocore.....
27/03/2018 | Buddy Wirawan
article thumbnail

KOPI, Bandung – Trend “nongkrong” atau berkumpul sudah menjadi gaya hidup anak muda maupun dewasa saat ini, mulai dari makan dan minum hingga  [ ... ]



POLITIKPilkada Biak Numfor 2018, Ujian Terberat.....
23/04/2018 | Redaksi KOPI
article thumbnail

KOPI, Jakarta – Proses persiapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Biak Numfor terus berlangsung, seperti halnya juga di 100 lebih daera [ ... ]



OPINIMemperkuat Peran Tiga Pilar Utama Pendid.....
21/04/2018 | Harjoni Desky, S.Sos.I., M.Si

KOPI - “Pendidikan merupakan alat yang memiliki tenaga untuk mengubah dunia” ini salah satu mutiara terkait dengan pentingnya pendidikan. Dari ka [ ... ]



PROFILBrigjen Pol. Drs. H. Faisal Abdul Naser,.....
02/03/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

KOPI-Jakarta,Bila Kita perhatikan bahwa Bumi Aceh sangat subur sekali. Bahkan tanaman ganja tumbuh seperti rumput hijau di tanah. Bumi Aceh sangat sub [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAIkuti FLS2N Lampung Barat, SMPN 2 Bandar.....
22/04/2018 | Jamsi Martien

KOPI, Lampung Barat - Siswa/i SMP N Bandar Negeri Suoh juara 1 (satu) FLS2N Musik Tradisional di kabupaten Lampung Barat. Festival Lomba Seni Siswa Na [ ... ]



ROHANIGerakan Belajar dan Mengajar Al-Qur'an.....
04/04/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir
article thumbnail

KOPI, Jakarta - Sebagai daerah yang menganut sistem syariat Islam maka daerah Aceh banyak sekali terdapat tempat-tempat pendidikan belajar Alquran. U [ ... ]



RESENSIHeboh Buku Fire and Furry Ungkap “ D.....
05/01/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Washington DC- Heboh buku Fire and Fury ungkap “Dapur Gedung Putih” Menjelang Pemilu Pilres Amerika Serikat . Dilansir dari The Guardian, R [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto
article thumbnail

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIMenatap Rasa.....
07/06/2017 | Mas Ade

Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



CURAHAN HATIAnggota DPRD Riau Suhardiman Amby Di-OTT.....
09/04/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru – Operasi Tangkap Tangan (OTT) bukan milik Institusi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) saja. Para istripun melakukan aksi serupa,  [ ... ]



SERBA-SERBIKonsul Amerika Serikat Tertarik Lingkun.....
12/04/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

KOPI-Jakarta, Kawasan lingkungan alam perlu dilestarikan. Apalagi kawasan lingkungan hidup seperti di Gunung Leuser merupakan paru-paru dunia. Pad [ ... ]



Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.