Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Lontong Balango

KOPI - Rabu sore sebelum senja menjemput malam, Gadis pergi ke simpang Bunian, mencoba melulur lidah dengan makanan yang di jajakan di depan bekas gedung pengadilan Payakumbuh, gedung yang mengisyaratkan adanya keadilan dan ketidak adilan dalam palu yang menghantam gendang telinga dan menciptakan otot-otot jemari yang terpaksa tunduk pada tulang. Sekilas mengenang pengadilan itu, tersibaklah sebuah kisah orang yang menentang hukum yang di usung mulai dari pasar sampai pada penjara hanya berjalan kaki, pokoknya salingka nagari.Malu, memang tapi tujuanya saat itu untuk memberikan pelajaran pada masyarakat agar berhati-hati dalam bertindak di tengah keramaian.

Gadis terpana kedepan mencoba melihat dengan teliti gedung tua yang meninggalkan bekas mengerikan di tengah masyarakat tempo dulu, gedung yang makin lama makin tak terawat, dinding mulai keropos, kaca mulai pecah dan berkarat, dan begitu kusam, di tambah lagi kemegahan gedung itu di zaman dahulu telah di kentuti oleh bangunan liar yang numpang eksis meraup rupiah di sepanjang panggung matanya gedung tua.

Gadis coba memesan dengan isyarat tak bersuara pada Buyuang, agar setelah memandang penuh tanda tanya di gedung tua bisa di bungkuskan satu porsi, ah..tapi isyarat itu tak di dengar olehnya, melainkan taparongoh melihat penduduk putih dalam mulutku yang hilang. Ompong. Gadis mencoba mendekati steleng yang saat itu kosong, tak ada mie kuning yang di rayu oleh minyak untuk menerima pertemanan dengan serai, bawang merah, bawang putih, juga rombongan garam yang bisa memadakan lidah juga menggelitik tenggorokan yang telah dulu di mandikan dengan air ludah. Begitu juga mihun sama- sama telah di tipu oleh minyak untuk bisa bersatu dengan sedikit ketumbar, tapi tipuan untuk mihun sedikit ekstrim, mihun yang hidupnya tegang telah menjelma menjadi keibuan pada mata, rasa yang menikmati.

“Ah.., sudah tu kawan jangan mengerutu juga, lihat aku, aku hanya di mandikan dengan air mendidih, yang di kasih baju, mungkinkah beras itu masih bertahan dalam pelukan daun yang sesekali mati tergayut, walau aku terpaksa menjadi lontong.”

“Kamu enak tak ada yang mendemomu, sedangkan aku mie kuning, harus dapatkan cekekan kuat sehingga badanku bisa di taklukan dengan air mendidih, sehingga aku pasrah pada keadaan, di belah dan di kepung massa pada bumbu-bumbu yang memedihkan mata.”

“Eep.. tunggu dulu jangan merasa tersiksa dong.., aku kacang yang lagi enak hidup di tanah, di paksa minggat demi memuaskan hasrat manusia, hmm, geram rasanya aku lihat manusia, tahu aja bahwa manfaat dari tubuhku ini, apalagi aku harus menerima mentah-mentah disiram garam, cuka, dan cabei, menurutku kita lihat saja bagaimana kabar telur dan ayam yang juga di paksa memuaskan hasrat untuk mendapatkan rupiah yang berwajahkan Sukarno-Hatta, ataupun Patimura.

“Akupun tak sama menderitanya dengan kalian semua, saat telur akan menjadi regenerasi antar kami di kandang majikan, di ambil di jadikan pameran untuk pelaris dagangan Buyuang, juga indukupun di tebas, di cincang-cincang menjadi empat suku kata. Kata yang tertuang pada kelapa dan perangkat desa lainnya untuk di jadikan gulai touco, gulai paku, dan gulai cempedak.

“Sttt… sudah, lihat manusia itu akan menanyakan harga kita, mungkin juga kita semua akan di terkam hidup-hidup” api mencoba mengomandoi percakapan yang sengit antara; mie kuning, mihun, kacang, ayam dan lainnya.

Semenjak delapan bulan kebelangan ini, pada awalnya daging mentah yang biasa diolah menjadi rendang, baso, suir lado dan kalio ingin di rubah rasa dengan menghadirkan olahan kuliner yang bisa suatu saat terkenal di Kota Batiah ini, kota yang telah ternama dengan beranekaragam masakan sehat.

Seperti biasa dimanapun Gadis berada, ia selalu menanyakan ini dan itu, tepatnya menghilangkan kepenatan kaki yang marah pada betis berdiri menjulur pada jalan, dan menikmati alunan bising kendaraan yang lalu lalang persis di hadapan lontong, tanpa kaget maupun takut.

“Bara bungkuih Ni..?”

“Ciek sajo Da, masukkan semuanya, jangan lupa kerupuk berwarna putih itu. Bukan peyek.

“Gulai cubadak, toco atau gulai paku Ni?”

“Toco sajo Da.”

Terkumpulah dalam satu wadah seterofom, lontong yang di belah kecil-kecil, mie kuning satu sendok makan, mihun dua sendok garpu, ayam goreng dengan kemulusan pahanya yang di keprok sehingga terpaksa menutupi itu semua, juga kerupuk ubi putih yang di paksa juga memagari, dengan tanpa bersalah siraman cabei yang diperkacangan dengan kecap juga ikut menghimpit menerobos ke jantung lontong. Tapi gulai tauco tadi hanya plastiklah yang bisa menghentikan aliran tubuhnya kedalam badan sterofom.

“Bara Da?”

“Limo baleh jo karupuak lado”

Hmm, hanya segitu harga kalian semua kata balango,lihat aku, jadi figur dikala manusia datang kesini, duduk mengunjur sembari memandang tubuhku yang hitam, anakku, suamiku, dan sanak familiku. Kalian semua tak mesti bertengkar seperti itu, mengingat kalian akan di masukkan dalam goa gelap yang dilumatkan selumat-lumatnya, masuk pada ular putih yang bersemayam dalam perut manusia yang berjumlah dua belas jari, bagi yang beruntung bisa langsung berenang dengan air teh talua, kopi talua, air tawar dan penggodokan jus dalam blender. Haha..ha, aku tak perlu demikian walau ku terbuat dari tanah liat, tak perlu menangisi ini semua kecuali sesekali aku merasa hangat dikala di panggang, dan dingin menggigil saat aku harus di ceburkan dibawah kran airnya manusia.

Lama-kelamaan suatu saat kalian semua akan mulai menumbuhkan rasa suka padaku. Berharaplah kalian semua agar suatu saat kalian bisa bermain dalam tubuhku, yang tak pernah ku otak-atik, bahkan memakan kalian, tapi hanya untuk persinggahan saja, menompang tidur, berdiam diri, bahkan bersembunyi dari ganasnya gigi manusia.

Gadis mencoba menghitung uangnya yang berada di balik saku lengannya yang tampak sobek, pertanda tak adanya keinginan mengepung semua di hadapan matanya dari selera rakus yang terbatas. Bayaran tak seberapa dari pengorbanan semua pasukan lontong yang terkumpul di pinggan sebesar tapak tangan.

Buyuang mencoba menatap bungkusan yang ia bungkus tadi, takut tak cukup, debaran jantungnya mewakili deru petir yang menyambar lidahnya saat dia mulai menonohkan tanpa seteguk yang singgah di giginya yang rapi. Hangat, dan pedih.Air kopi khas Kerinci, yang di hadiahkan kawanya waktu bertandang ke gunung kerinci. Tapi pungkasan Ni Reno tentang olahan si Buyuang membuah sedikit bangga, karena siapapun yang memberikan uang sebagai ganti yang tersaji di rak-rak di badan jalan, akan terus kembali, mengisi lambuang tengah di malam hari.

Lebih kurang dua ratus empat puluh hari, kedai ini menyapa langit, menyapa malam dan berdamai pada hujan, agar lontong yang gulainya di olah dalam balango ini bisa diterima oleh semua mulut, rasa, dan lagi-lagi lambuang tengah. Laris seperti kacang goreng buatan mendiang Mande Itam, juga selaris lamang tapai Pak Mansyur, juga lontong pical Mak Karuik.

Gadis mencoba memainkan rantai pada pedal kuncinya, menaruh perlahan bungkusan dari asoy berwarna putih transparan, seperti bungkusan mantel yang tahanya sama dengan batang bambu yang di tempel di depan wajah mantel tersebut.

Buyuang melangkah kemeja yang direkayasa persis lesehan di pojok bank perkreditan rakyat, numpang eksis juga seperti eksisnya kedai-kedai mini di depan mata gedung pengadilan yang hanya tinggal nama dan kenangan itu.

Bagi Gadis lesehan yang di dekor Buyuang merupakan tempat ternyaman disenja ini yang ia singgahi di kota kuliner .Walaupun sedikit macet menuju simpang Bunian, tapi keramah-tamahan, masakan yang merakyat juga sesuai dengan kantong pencinta kuliner seperti Gadis, yang sengaja memuji pramusaji demi terhindarnya dari rasa kecewa. Ya, memang ada makan dan tempat favorit Gadis di pasar sana, namun harganya selangit, hanya sekali sebulanlah Gadis bisa memakanya sembari menanti gajian dari menjual tertawa dalam frekuensi 98.

“Bolehkah aku memakai nama lontong dan balango dalam tarian diatas tintaku, pada ujung pena yang tak pernah bengkok Da Buyuang?”

“Pakailah kenalkan pada mata hati yang tak pernah buta, lidah yang tak pernah panduto dan mulut yang tak pernah berpenyakit.”

Bagiku olahan tangan kreatif seperti ini patut di jadikan contoh untuk pegiat kuliner lainnya, punya cipta sendiri, tanpa menirukan masakan orang lain, aku bahagia memakai nama itu untuk ku jadikan baju keseharianku, baju pesta, baju anak-anak, dan baju adat. Juga menjadi bahan obrolan di manaku berada. Sekurang-kurangnya jadi bahan promosi gratis.

Klakson sedan menghentikan pembicaraan antara Gadis, Buyuang. Pembicaraan yang sutu saat bisa di sambung dengan tema lainnya, yang masih membicarakan sisi keuntungan dan ruginya produk lokal dan moderen.

“Baiklah Uni, nanti kita sambung lagi, tapi kami disini mencoba kembali melereai keinginan kami untuk mengikuti arus moderen, karena terlalu sedih ku rasa, produk tradisional ini di biarkan saja dipandang tak memiliki nilai. Cara inilah kami bisa membantu menaikkan harga diri para pengrajin, dan menghargai peluh mereka dengan sedikit harga yang mereka keluarkan.

Buyuang meraih balango ukuran sebesar telapak tangan, ukuran paling kecil, dirabanya dengan penuh kehati-hatian, dan mencerminkan ada cinta yang melekat, baik itu cinta pada bentuk balango, maupun fungsinya yang besar. Balango yang dulu jadi primadona bagi kancah kuliner minang, yang kini hanya dibutuhkan sesekali saja, hanya memasak sampadeh, cincang daging di rebus dengan kulit pisang, juga sebagai perebus obat. Bagi Buyuang balango ini akan di pakai setiap hari, dalam kondisi apapun. Lagian rasa masakan dari balango ini sangat harum, enak dan aroma khas tanah liek memberikan warna tersendiri dalam kelezatan makanan ini.

Apalagi ada trik tersendiri agar balango ini bisa sehati, dan padu padan dengan Buyuang, yaitu tiap selesai balango di pergunakan tenaganya sampai larut malam, waktu benar-benar memaksa angin untuk menghalau diri pulang, dan menghayalkan bahwa hari esok lontong balango ini akan lebih banyak yang membeli dari hari ini, dengan cara membersihkan semua sisi badanya, lalu di pijat memakai minyak manis, dengan tujuan, agar goresan yang berbentuk kudis di pinggul balango bisa menyatu dengan yang lain, jadi terkesan licin kembali serta kuat.

“Ngo, terimakasih malam ini kau selalu menemaniku, memuaskan hasrat orang banyak, untuk mencicipi apa yang ada dalam tubuhmu, aku akan tetap merawatmu, dan tahanlah kau selalu sebagaimana aku akan tahan melihatmu selalu bergelimangan beraneka ragam olahan.

Gadis terharu melihat dan mendengar kisah cinta Buyuang dengan balango, dengan senyuman yang masih mengambang, gadis memperhatikan dengan seksama komunikasi tersebut, dan sesekali menyengitkan dahinya, seakan komunikasi itu memantrai balango untuk tetap setia akan cintanya Buyuang.

Makin senja, makin banyak pembeli yang datang, ada yang pesan lima sampai dua puluh porsi, Buyuang dalam kasmarannya melayani pembeli dengan tak mengabaikan Gadis sedikitpun. Gadis memberi kode, untuk pamit pulang, tapi belum juga bisa berangkat, melihat banyaknya kuda roda dua bermasin menghambat jalan Gadis.

Gadis seakan terpesona, melihat kekasih Buyuang yang terpanggang api, tidak menangis, juga tak meminta untuk putus. Masih menanti untuk menunggu jalan mengepakkan lebarnya agar Gadis leluasa pulang menemui suaminya tercinta, dan menceritakan tentang seorang pria benar cinta mati pada balango.

Sungguh macet di jalan raya menjadikan Gasis mencari jalan keluar, dengan itu Gadis memindahkan satu persatu yang menghalanginya, layaknya seperti juru parkir yang menyusunkan kendaraan lainnya, agar siapapun yang datang bisa di salekkan disana. Banyaknya kendaraan yang bolak balik melaju kencang dan perlahan di simpang Bunian, tak heran banyak yang mengalami kecelakaan, mewakafkan daranya tumpah ke tanah bundo, bisa jadi karena ke-tidak hati-hatian, atuapun suratan takdir yang berpihak saat itu.

“Aku kagum padamu Da Buyuang!”

“Hmm, kagum, ah janganlah. Masih banyak yang mesti Uni kagumi, aku hanya anak bujang yang mencoba menjadi pribadi yang kreatif, aku malu masih meminta uang jajan pada orang tua, apalagi meminta uang untuk beli kopiah yang berguna untuk dikemudian hari.

“Apa rasanya menjadi pribadi yang mencintai apa yang tak di cintai orang Da..?”

“Seperti menikmati aroma kentut kita sendiri, ha..ha..karena orang lain tak akan bisa menerima suara apalagi bau yang memekakkan hidung. Coba Uni renungkan, kalau di tahan tentunya akan menimbulkan penyakit, lagian biaya operasi sangat mahal, seharga lima sawah orang tua kita, kalau dilepas wah ada aja rasa lega di hati, perut dan pikira, bukan begitu Uni?”

“Haha... memang benar Da kalau di bawakan pada azas manfaat.”

“Dan Uni juga bisa mendefenisikan cinta itu seperti apa.”

“Baiklah Da, suatu saat cinta Uda akan masakan dan peralatan yang kembali ke alam akan bisa mengembalikan ingatan tetua akan pentingnya balango yang pernah beranak pinak di rumah mereka, juga sebagai ilmu untuk sipapun yang bertanya, termasuk saya.”

Gadis melambaikan tanganya sembari mengucapkan terimakasih atas ilmu yang didapat di senja ini. Meninggalkan Buyuang dalam kesibukannya, dan masih tampak jelas dari kaca spion Buyuang membelai balangonya semua, dan menatap dengan penuh cinta pada mie, kerupuk, telur, ayam, cabei, dan lainya, agar banyak yang akan kembali belanja lontong balango di simpang Bunian ini.

Talawi, 15 Agustus 2015

Catatan:

Balango : terbuat dari tanah liat berbentuk mangkuk besar

Buyuang : Panggilan nama laki-laki untuk orang minang

Taparongoh : kaget

Steleng : rak-rak

Memadakan : rasa yang kaku pada lidah

Kalio : olahan guali yang belum menjadi rendang

Bara : berapa

Bungkuih : bungkus

Ciek : satu

Sajo : saja

Jo : dengan

Teh taluah : teh telur

Kopi Taluah : kopi telur

Pinggan : piring

Lambuang : lambung tengah

Asoy : kresek

Panduto : berbohong

Di salekkan : bisa lewat di jalan yang kecil/ di selipkan

Kopiah : peci dipakai untuk melakukan solat

Penulis : Nova, lahir di Payakumbuh, 19 Juli 1982, bekerja sebagai guru, dan penyiar radio safasindo.

Pak Datuak

 

Perintah Kapolri : Tembak Mati Oknum Personel Polri sebagai Bandar Narkoba
Senin, 23 April 2018

KOPI, Pekanbaru - Kunjungan kerja Kapolri Jendral (Pol) Tito Karnavian kepulau Sumatera berawal dari propinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Palembang. Dalam rangka meningkatkan Solidaritas dan sinergiritas antar dua lembaga institusi Polri dengan TNI mengamankan terselenggaranya Pemilu serentak 2018 serta Pilpres 2019. Kunjungan dua Jendral bintang empat ini ke Propinsi Riau, hari Jum’at (20/4-17). Kedatanganya disambut oleh Kapolda Riau,... Baca selengkapnya...

Cucu Pahlawan Nasional Bra Koosmariam Tersiram Air Panas oleh Pramugari Garuda
Minggu, 15 April 2018

KOPI, Jakarta – Cucu pahlawan nasional Pakubuwono X yakni B.R.A Koosmariam Djatikusumo (69) mengalami cacat payudara akibat tersiram air panas di kabin pesawat oleh oknum pramugari. Insiden terjadi saat penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta menuju Banyuwangi pada 29 Desember 2017 lalu. Saat itu, pramugari Garuda sedang melayani para penumpang atau serving. Tak disangka, teh panas tumpah dan mengenai tubuh korban. Cucu pahlawan nasional... Baca selengkapnya...

Wartawan Dimeja-hijaukan, Dewan Pers Mutlak Dibubarkan
Sabtu, 14 April 2018

KOPI, Jakarta – Ketua Umum PPWI Nasional, Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA kembali bersuara keras atas tindakan kriminalisasi terhadap wartawan yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Kali ini, Wilson merasa sangat prihatin atas perlakuan sewenang-wenang aparat kepolisian di Polda Sumatera Barat yang menyeret Ismail Novendra, pimpinan redaksi Koran Jejak News yang terbit di Padang, Sumatera Barat, ke meja hijau. Laporan terkini yang... Baca selengkapnya...

Ada Apa Dengan KPK ? Tak Berani Mengusut Kasus Izin Kehutanan Melibatkan Zulkifli Hasan
Jumat, 13 April 2018

KOPI, Jakarta - Keterlibatan mantan Mentri Kehutanan Zulkifli Hasan memberikan izin pembebasan lahan hutan di Propinsi Riau dan Banten. Hampir semua kasus korupsi alih fungsi lahan berawal dari keputusan menteri yang berwenang dan saat itu Zulkifli Hasan sebagai Menteri Kehutanan melalui SK No. 673/ 2014 menyetujui alih lahan sebesar 30.000 ha yang berujung pada pemberian suap oleh mantan Gubernur Annas Makmun . Dalam persidangan terdakwa... Baca selengkapnya...

Erasmus Huis Hadirkan Konser Alexander Ullman di Jakarta
Kamis, 12 April 2018

KOPI, Jakarta – Lembaga Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, mengadakan acara konser tunggal menghadirkan Alexander Ullman, bertempat di The Erasmus Huis, Kedubes Belanda, Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 11 April 2018. Alexander Ullman adalah pemenang pertama Franz Liszt Piano Competition ke-11 yang berlangsung di Utrecht, Belanda, tahun 2017 lalu. Tidak kurang dari 300 penonton menyaksikan konser anak muda berkebangsaan Inggris... Baca selengkapnya...

Mendes PDTT Eko Putro Ingatkan Kades Tak Selewengkan Dana Desa , Telpon Satgas Bila Ada Kendala
Kamis, 12 April 2018

KOPI, Jakarta – Masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dengan Jusuf Kalla, Selama Tiga tahun ini dana desa mampu membangun lebih dari 121.000 kilometer jalan desa. Ini belum pernah ada dalam sejarah Indonesia. Desa mampu membangun 1.960 kilometer jembatan, tambatan perahu, embung air (sumur resapan air), sarana olahraga, irigasi, serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro... Baca selengkapnya...

Inilah Puisi “Ibu Indonesia” Dibacakan oleh Sukmawati Bikin Heboh Umat Islam
Sabtu, 07 April 2018

KOPI, Jakarta - Putri Presiden pertama Indonesia Soekarno yakni Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi berjudul “Ibu Indonesia” di acara Pagelaran peragaan busana “Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week ke 29” bertempat di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Selatan, pada Kamis, 29 Maret 2018. Ibu Indonesia Aku tak tahu Syariat Islam Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah Lebih cantik dari... Baca selengkapnya...

INTERNASIONALNew European Report Points Fingers at Po.....
25/04/2018 | Redaksi KOPI

KOPI, Maroko - The involvement of the polisario in terrorist acts in the Sahelo-Saharan region has once again been singled out in a report funded by t [ ... ]



DAERAHRatusan Kepala Kampung SeKabupaten Jayaw.....
24/04/2018 | Wawan Setiawan

KOPI-Wamena, Plt. Bupati Kab. Jayawijaya Doren Wakerkwa, SH menerima lebih kurang 100 Orang Kepala Kampung se Kab. Jayawijaya dalam sebuah aksi demo d [ ... ]



PENDIDIKANSMK Telkom Pekanbaru Siapkan 100 unit K.....
25/04/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru - Pelaksanaan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Telkom Pekanbaru, tahun ajaran 2017-2018 meny [ ... ]



HANKAMTNI Memasak untuk Pengungsi Gempa Kalibe.....
23/04/2018 | Marsono Rh

KOPI - Banyaknya jumlah warga Kalibening Banjarnegara mengungsi membuat dapur umum yang didirikan di sejumlah lokasi harus bekerja ekstra keras untuk  [ ... ]



OLAHRAGAViral Medsos Rekaman Video Paspampres Ha.....
25/02/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Sebenarnya kegiatan ini bukan kegiatan kenegaraan. Kegiatan tersebut seremonial menyaksikan pertandingan Final antar dua kubu grup [ ... ]



PARIWISATAAston Luncurkan Minuman Anyar “Cocore.....
27/03/2018 | Buddy Wirawan
article thumbnail

KOPI, Bandung – Trend “nongkrong” atau berkumpul sudah menjadi gaya hidup anak muda maupun dewasa saat ini, mulai dari makan dan minum hingga  [ ... ]



POLITIKPilkada Biak Numfor 2018, Ujian Terberat.....
23/04/2018 | Redaksi KOPI
article thumbnail

KOPI, Jakarta – Proses persiapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Biak Numfor terus berlangsung, seperti halnya juga di 100 lebih daera [ ... ]



OPINIMemperkuat Peran Tiga Pilar Utama Pendid.....
21/04/2018 | Harjoni Desky, S.Sos.I., M.Si

KOPI - “Pendidikan merupakan alat yang memiliki tenaga untuk mengubah dunia” ini salah satu mutiara terkait dengan pentingnya pendidikan. Dari ka [ ... ]



PROFILBrigjen Pol. Drs. H. Faisal Abdul Naser,.....
02/03/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

KOPI-Jakarta,Bila Kita perhatikan bahwa Bumi Aceh sangat subur sekali. Bahkan tanaman ganja tumbuh seperti rumput hijau di tanah. Bumi Aceh sangat sub [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAIkuti FLS2N Lampung Barat, SMPN 2 Bandar.....
22/04/2018 | Jamsi Martien

KOPI, Lampung Barat - Siswa/i SMP N Bandar Negeri Suoh juara 1 (satu) FLS2N Musik Tradisional di kabupaten Lampung Barat. Festival Lomba Seni Siswa Na [ ... ]



ROHANIGerakan Belajar dan Mengajar Al-Qur'an.....
04/04/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir
article thumbnail

KOPI, Jakarta - Sebagai daerah yang menganut sistem syariat Islam maka daerah Aceh banyak sekali terdapat tempat-tempat pendidikan belajar Alquran. U [ ... ]



RESENSIHeboh Buku Fire and Furry Ungkap “ D.....
05/01/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Washington DC- Heboh buku Fire and Fury ungkap “Dapur Gedung Putih” Menjelang Pemilu Pilres Amerika Serikat . Dilansir dari The Guardian, R [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto
article thumbnail

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIMenatap Rasa.....
07/06/2017 | Mas Ade

Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



CURAHAN HATIAnggota DPRD Riau Suhardiman Amby Di-OTT.....
09/04/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru – Operasi Tangkap Tangan (OTT) bukan milik Institusi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) saja. Para istripun melakukan aksi serupa,  [ ... ]



SERBA-SERBIKonsul Amerika Serikat Tertarik Lingkun.....
12/04/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

KOPI-Jakarta, Kawasan lingkungan alam perlu dilestarikan. Apalagi kawasan lingkungan hidup seperti di Gunung Leuser merupakan paru-paru dunia. Pad [ ... ]



Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.