Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE
None

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Ketika Gunung Juga Punya Cara

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunung. Sebongkah tanah tinggi yang mengacung ke langit. Pendiam namun sekali dia berkata, tak hanya huruf-huruf yang meluncur dari mulutnya, namun juga ada kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf. Bahkan, secawan wacana yang menuntut dengan gedoran-gedoran keras di pintu pagar dan genting rumah, meminta perhatian agar kita semua membacanya dengan tulus, dengan ikhlas.

Pandanganku mengabur saat Gunung Kelud meletus. Bukan lontaran lahar merah membuncah yang melintas seketika di angan. Saat berita letusan Gunung Kelud menjadi diraja pemberitaan media massa di tanah air, justru bayangan Mak Jannah berkelebat sepesat angin di ruang hatiku. Bayangan perempuan berusia lanjut tersebut lebih perkasa menyita perhatianku ketimbang berita tentang abu vulkanik letusan Gunung Kelud yang beranjangsana hingga beberapa kota besar di tanah air.

Degup jantungku beranjak naik dan terus naik intensitasnya. Keringat menetes jauh lebih deras ketimbang titik-titik hujan yang menyiram genting kamar kontrakan. Meski udara dingin mengiringi hujan tanpa alpa, tubuhku memanas tembaga. Menggelisah karena Gunung Kelud yang berbicara.

Ingin rasa hati sesegera mungkin menelpon Mak Jannah di kaki Gunung Kelud. Menanya, bagaimana keadaannya? Apakah beliau baik-baik saja? Di manakah beliau sekarang?

Tetapi sebongkah lempeng batu raksasa seakan menyumbat muntahan lava tanyaku kepada Mak Jannah. Lempeng batu raksasa itu adalah rasa ragu karena jelas nomor yang akan kuhubungi adalah nomor ponsel milik Aisyah, perempuan yang membuatku jengkar dari kaki Gunung Kelud, mengembara kemana-mana hingga terdampar di tanah panas seperti Jakarta.

“Kau tidak berpamitan dulu dengan Makmu, Jannah, Le?”

Tak kujawab segera pertanyaan Bapak. Aku tunggu beliau mengepulkan asap rokok dari mulut udzurnya lebih dulu.

Sembari mengaduk sendiri kopinya dalam cangkir kaleng putih besarnya, Bapak mengulangi lagi pertanyaannya saat aku hendak berangkat, pergi menjauhi kaki Gunung Kelud dan Aisyah.

Mboten, Pak,”

Kowe segan nanti ketemu Aisyah?”

Kalimat Bapak seperti mata mesin keruk mengaduk-aduk pasir hati. Tas yang sudah kurapikan kulepaskan di dekat almari pakaianku. Tubuhku menghempas tanpa belulang di dipan kayu tanpa kasur tempatku menabur mimpi. Mimpi tentang masa depan, mimpi tentang Aisyah serta Mak Jannah disisinya.

“Aisyah itu cantik, Pak,”

Tanpa sadar mulutku menggumam. Suara tawa Bapak pecah. Kepingannya semburat memenuhi ruangan kamar. Beberapa keping tertinggal di dinding, tergantung di poster rocker luar negeri yang aku sendiri tak bisa menghafal namanya dengan benar, satu dua menempel di kaca spion yang biasa kugunakan mematut diri sejak sekolah dulu.

“Memang jodoh, rejeki, dan kematian itu rahasia Gusti Allah, Le, tapi kowe dan Aisyah tidak boleh membangun rumah tangga. Cukup manjing paseduluran saja, Le. Karena..”

“Mengapa Emak harus mati? Dan mengapa Bapak harus bertetangga dengan Mak Jannah?” potongku menuntut takdir.

“Ssssttt... Kowe wani sama Gusti Allah??!! Bapak juga ingin emakmu punya umur panjang dan masih bisa momong kowe, Le,” suara Bapak bergetar, aku juga menyesal telah membiarkan kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Kulihat mata Bapak basah. Tapi tak ada setetes pun yang membulir-mengalir di lembah pipi tuanya. Aku cium tangan Bapak sebagai tanda maaf yang tak terkira. Ingin rasanya menelan kembali taklimat yang melukai hati Bapak dan melawan kehendak-Nya tersebut.

Kurasakan belaian lembut tangan Bapak memapar rambutku yang kubiarkan memanjang melewati krag baju. “Kowe mau kemana pergi kemana saja, doa Bapak selalu bersamamu, Le. Laki-laki memang harus panjang jangkahnya. Takdongakna, Le,”

Sedikit rasa sesal mengiringi ketika tetap kuputuskan untuk tidak mengucap pamit pada Mak Jannah, perempuan tua yang pernah merawatku di masa kecil. Tetapi, Mak Jannah pasti tahu. Bukan karena kurang baktiku kepada beliau, aku tidak berpamitan dan memohon doa restunya. Hal ini karena anak perempuannya, Aisyah, yang telah membuatku menjauhinya. Bahkan menjauhi tanah di kaki Gunung Kelud, selembar tanah-Nya yang kupijak kali pertama di dunia yang tidak abadi ini.

Langit mendung Jakarta tertawa di balik jendela kamar kontrakan. Seringainya mengejek kekalutanku. Aku melihat gigi-giginya sebesar genting rumah, kecoklatan tanpa sentuhan pasta gigi sama sekali. Aku memandangnya dengan kesal menumpuk.

*******

Sebelum aku bisa bijak memahami bahwa gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kedirianku. Sebelum aku dengan lapang dada mengerti tentang gunung yang memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Tentang gunung adalah gunung. Sebongkah tanah tinggi yang mengacung ke langit. Pendiam namun sekali dia berkata, tak hanya huruf-huruf yang meluncur dari mulutnya, namun juga ada kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf. Bahkan, secawan wacana yang menuntut dengan gedoran-gedoran keras di pintu pagar dan genting rumah, meminta perhatian agar kita semua membacanya dengan tulus, dengan ikhlas. Aku putuskan untuk pulang.

Kereta yang kutumpangi harus berhenti di Madiun. Malam kian menguburkan terang di kota brem tersebut. Udaranya berat bersimbah abu vulkanik Gunung Kelud yang menyambutku ramah. Dalam lembut butiran-butirannya ku dapati kehangatan sayang Mak Jannah. Saat perempuan itu dulu memandikanku, menyuapiku, dan menemaniku tidur dengan dongeng-dongeng Mahesa Sura yang menggetarkan hati.

Aku biarkan butir-butir abu vulkanik tersebut rebah di rambut dan tubuhku. Aku merasakan hangat tangan Mak Jannah. Bagaimana keadaan perempuan tua itu sekarang? Apakah dia baik-baik saja?

Langkahku berhenti di depan sebuah warung kecil. Orang-orang di dalam warung kecil tersebut sama dengan orang-orang yang singgah di ruang pandangku sejak stasiun kereta tadi. Selembar masker menutupi alat nafas mereka. Aku yang hanya menangkupkan sapu tangan sekenanya di wajahku, mengambil tempat di antara mereka. Sebuah televisi yang menayangkan berita tentang situasi terkini dampak letusan Gunung Kelud menjadi pusat perhatian.

Kepalaku mengangguk saat si tukang warung memberi isyarat tanya tentang makanan dan minuman yang hendak kunikmati. Seperti orang-orang lainnya, tayangan berita dalam kotak layar kaca di dinding warung kecil itu juga menjadi perhatianku. Besar harapanku, ada berita terkini tentang kondisi di kaki Gunung Kelud. Besar pula harapanku, aku segera tahu bagaimana kondisi Mak Jannah dan keluargaku lainnya karena aku masih belum berani menghubungi nomor ponsel Aisyah yang kudapatkan setahun lalu dari sepupuku yang juga merantau ke Jakarta.

Sepupuku tersebut tadi pagi telah memberitahuku bahwa Bapakku dan beberapa anggota keluarga lainnya telah aman di pengungsian. Itu cukup melegakan. Namun, sepupuku itu belum juga dapat kabar tentang Mak Jannah dan Aisyah. Hal ini yang membuatku senantiasa memelihara irama tinggi degupan jantung sejak dari Jakarta pagi tadi. Semoga Mak Jannah, juga Aisyah, baik-baik saja. Doa sederhana itu pula yang tak henti mengumandang di antara titir jantungku.

Satu hal yang aku syukuri. Saat aku putuskan untuk pulang ke kaki Gunung Kelud, selembar tiket kereta api dengan mudah ku dapatkan karena ada seorang pemesan tiket yang membatalkan keberangkatan. Keberuntungan yang tidak berpihak kepada sepupuku pengabar warta tersebut, karena dia harus menunggu seminggu lagi. Ketika basa-basi kutawarkan padanya, dia hanya tertawa karena aku tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran dari wajahku tentang Mak Jannah dan Aisyah di pelataran stasiun pagi tadi.

“Tuhan itu tidak tidur, Li. Mungkin sekarang Beliau sedang menjalankan skenario-Nya melalui urun rembug-nya gunung,” seloroh sepupuku tersebut dengan membenamkan sebuah amplop coklat ke dalam saku dalam jaketku. Dia titip uang buat orang tuanya.

Jujur aku tidak memahami kemana arah pembicaraannya, aku hanya mengejeknya dengan kata-kata tentang waktu yang terlalu pagi berbicara tentang Tuhan, apalagi gunung. Tapi ejekanku justru membuat tawa sepupuku itu semakin lantang terdengar, kesal aku mendengarnya karena suaranya mirip sekali dengan tawa langit mendung Jakarta kemarin malam.

Dengan lahap, nasi sedikit bertabur abu vulkanik Gunung Kelud berpindah dari piring ke dalam perutku. Rasa lapar yang menyiksa sejak pagi tadi terusir tanpa duka, tanpa air mata. Lagi-lagi, aku merasakan kehangatan cinta Mak Jannah ketika menyuapiku dulu. Cerita tentang ayamku yang mati jika tak kuhabiskan nasi berlauk tempe kering di piring membuat bayangan Mak Jannah semakin perkasa di ruang khayalku. Sosok perempuan keibuan itu mampu menggantikan ibuku sendiri yang dipanggil Sang Khalik ketika melahirkanku. Tak pernah kudapati kedahagaan figur ibu karena keikhlasan hati Mak Jannah. Terlebih, Aisyah yang lahir hanya berselang hari denganku menjadi salah satu alasan beliau untuk sudi membagi ranjang kasih-sayangnya dengan seorang anak yatim bernama Ali ini.

Malam ini juga, aku akan melanjutkan langkahku ke kaki Gunung Kelud. Mak Jannah, Aisyah, aku datang.

*******

Tak bisa aku ingkari gunung memang memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Aku hanya bisa mengangguk saat gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Memang gunung adalah gunung. Sebongkah tanah tinggi yang mengacung ke langit. Pendiam namun sekali dia berkata, tak hanya huruf-huruf yang meluncur dari mulutnya, namun juga ada kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf. Bahkan, secawan wacana yang menuntut dengan gedoran-gedoran keras di pintu pagar dan genting rumah, meminta perhatian agar kita semua membacanya dengan tulus, dengan ikhlas. Seperti halnya hidayah di hati, sesuatu akan terbuka pada saatnya.

Tangan-tangan anggota kepolisian juga beberapa anggota Basarnas menghalangiku untuk mendekati kampungku di kaki Gunung Kelud. Wajah-wajah mereka yang pucat karena abu vulkanik tampak membara. Sepotong dua potong kalimat kasar memerahkan telinga. Kawasan bencana memang objek wisata, hanya aparat yang terkait dan awak media yang boleh memasukinya. Tapi kawasan bencana itu adalah tanah tumpah darahku. Ada orang-orang yang aku cintai tinggal di bawah langitnya.

“Cari di pengungsian, di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi!!” bentak salah seorang dari mereka.

“Ini daerah rawan. Kami bisa kena masalah kalau masih ada warga yang blusukan,” mataku bergerak ke arah lelaki berjaket hijau loreng yang berbicara barusan.

“Ini bukan Jatim Park, Mas,” tak ku tahu siapa yang mengeluarkan kata-kata itu. Tapi kata-katanya membuatku tekanan darahku berlomba deburan lava panas di kubah kawah Gunung Kelud. Semakin meninggi.

Langkahku segera menuju ke sumber suara. Ingin rasanya memukul mulut yang memanaskan hati itu. Belum juga kesampaian, ponsel yang tersimpan di saku celanaku berbunyi. Suaranya mencuri perhatian siapa saja di dalam tenda komando itu. Suaranya juga menghentikan langkahku. Lelaki berjaket hijau loreng memberi isyarat kepadaku untuk mengangkat telpon dulu. Entah mengapa, aku segera saja mengiyakan isyaratnya. Seorang lelaki berkaos Basarnas dan berwajah tirus meninggalkan tenda komando, keliatannya dialah orang yang membuatku naik pitam barusan.

Mataku terbelalak melihat nama siapa yang muncul di layar ponselku. Aisyah. Dari mana dia mengetahui nomor ponselku? Mungkinkah sepupuku?

Aku tak segera memijit tombol bergambar tanda telpon hijau di papan kunci ponselku. Lagi-lagi, lelaki berjaket hijau loreng itu memberi isyarat agar aku segera menerima panggilan masuk mengagetkan itu. Sungguh, sesuatu yang tidak kubayangkan, perempuan pujaan yang membuatku jengkar dari kaki gunung ini sekarang menghubungiku. Andai segera kuterima, apa yang harus kuucapkan padanya.

Aku yang tidak enak segera meninggalkan tenda komando meninggalkan aparat keamanan dan satuan tanggap bencana di sana. Dua langkah dari tenda komando, aku beranikan diri untuk menerima panggilan masuk tersebut.

Assalamu’alaikum, Halo, Mas Ali..” aku terngungun, suara perempuan cantik putri perempuan yang penuh dengan kasih sayang merawatku dulu itu terdengar merdu sekali. Seperti ketakutanku sebelumnya, kata salam yang seharusnya segera kubalas pun berhenti di tenggorokan, “Assalamu’alaikum... Assalamu’alaikum... Assalamu’alaikum... Mas Ali, Halo...”

Wa’alaikum... Salam...” terbata dan terputus-putus jawab salamku, berikutnya suara renyah di seberang sana. Aisyah mengabarkan bahwa dirinya dan Mak Jannah baik-baik saja. Katanya sepupuku baru saja menelepon dan memberitahukan bahwa aku sudah sampai, sehingga dia memberanikan diri untuk menelepon.

Kabar menggembirakan itu masih kubalas dengan kata-kata gagap. Hingga Aisyah mentertawakan keguguanku hingga tanpa sadar ternyata perempuan cantik itu telah berdiri tak jauh di dekatku. Subhanallah, aku menyebut nama-Nya dalam hati, Aisyah tampak semakin cantik dalam seragam awak kesehatan membalut tubuhnya.

Abu vulkanik yang memenuhi udara di kaki Gunung Kelud itu terasa tak menyiksa saat kupeluk tubuh udzur Mak Jannah di salah satu tenda pengungsian. “Mengapa Bapakmu atau kamu sendiri tak pernah menanyakan, apakah dulu dirimu juga menikmati air susuku, Le?” di dekatnya Aisyah tersenyum kecil malu-malu, senyum itu persis seperti saat pertama mengiyakan ajakanku melewatkan malam minggu di alun-alun Kediri setahun yang lalu.

Tampak raut bijak Mak Jannah mengetahui musabab kepergianku meninggalkan kaki Gunung Kelud. Beliau melepaskan pelukannya dan melepaskan lava yang mengganjal di kubah hatinya selama ini.

“Ketika bapakmu pergi kerja ke Surabaya, memang kamu kurawat seperti halnya Aisyah, Le. Tapi, kamu tidak pernah aku susui karena bukan aku pilih kasih. Hanya saja, cuma sebelah yang mengeluarkan air susu. Sementara Aisyah itu neteknya kuat dan suka rewel. Jadi, maafkan emak, Le. Kamu harus mengalah,” Mak Jannah tersenyum lega, “Jadi, jika kamu ingin menyunting Aisyah itu halal,”

Suara tawa lepas sanak-saudara, tetangga, dan kerabat yang lain terdengar mengiringi kata-kata Mak Jannah. Kulihat Bapak hanya garuk-garuk kepala seperti memohon maaf karena membuat simpulan sendiri tanpa mencari tahu terlebih dahulu. Aisyah semakin menunduk dengan senyum malu-malu. Aku sendiri tak bisa membayangkan bagaimana warna raut wajahku. Hanya saja, gunung memiliki cara sendiri untuk urun rembug. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunung. Sebongkah tanah tinggi yang mengacung ke langit. Pendiam namun sekali dia berkata, tak hanya huruf-huruf yang meluncur dari mulutnya, namun juga ada kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf. Bahkan, secawan wacana yang menuntut dengan gedoran-gedoran keras di pintu pagar dan genting rumah, meminta perhatian agar kita semua membacanya dengan tulus, dengan ikhlas.

Alhamdulillah. Istimewa.

*******

Jombang, Pebruari-Maret 2014

 

Perintah Kapolri : Tembak Mati Oknum Personel Polri sebagai Bandar Narkoba
Senin, 23 April 2018

KOPI, Pekanbaru - Kunjungan kerja Kapolri Jendral (Pol) Tito Karnavian kepulau Sumatera berawal dari propinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Palembang. Dalam rangka meningkatkan Solidaritas dan sinergiritas antar dua lembaga institusi Polri dengan TNI mengamankan terselenggaranya Pemilu serentak 2018 serta Pilpres 2019. Kunjungan dua Jendral bintang empat ini ke Propinsi Riau, hari Jum’at (20/4-17). Kedatanganya disambut oleh Kapolda Riau,... Baca selengkapnya...

Cucu Pahlawan Nasional Bra Koosmariam Tersiram Air Panas oleh Pramugari Garuda
Minggu, 15 April 2018

KOPI, Jakarta – Cucu pahlawan nasional Pakubuwono X yakni B.R.A Koosmariam Djatikusumo (69) mengalami cacat payudara akibat tersiram air panas di kabin pesawat oleh oknum pramugari. Insiden terjadi saat penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta menuju Banyuwangi pada 29 Desember 2017 lalu. Saat itu, pramugari Garuda sedang melayani para penumpang atau serving. Tak disangka, teh panas tumpah dan mengenai tubuh korban. Cucu pahlawan nasional... Baca selengkapnya...

Wartawan Dimeja-hijaukan, Dewan Pers Mutlak Dibubarkan
Sabtu, 14 April 2018

KOPI, Jakarta – Ketua Umum PPWI Nasional, Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA kembali bersuara keras atas tindakan kriminalisasi terhadap wartawan yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Kali ini, Wilson merasa sangat prihatin atas perlakuan sewenang-wenang aparat kepolisian di Polda Sumatera Barat yang menyeret Ismail Novendra, pimpinan redaksi Koran Jejak News yang terbit di Padang, Sumatera Barat, ke meja hijau. Laporan terkini yang... Baca selengkapnya...

Ada Apa Dengan KPK ? Tak Berani Mengusut Kasus Izin Kehutanan Melibatkan Zulkifli Hasan
Jumat, 13 April 2018

KOPI, Jakarta - Keterlibatan mantan Mentri Kehutanan Zulkifli Hasan memberikan izin pembebasan lahan hutan di Propinsi Riau dan Banten. Hampir semua kasus korupsi alih fungsi lahan berawal dari keputusan menteri yang berwenang dan saat itu Zulkifli Hasan sebagai Menteri Kehutanan melalui SK No. 673/ 2014 menyetujui alih lahan sebesar 30.000 ha yang berujung pada pemberian suap oleh mantan Gubernur Annas Makmun . Dalam persidangan terdakwa... Baca selengkapnya...

Erasmus Huis Hadirkan Konser Alexander Ullman di Jakarta
Kamis, 12 April 2018

KOPI, Jakarta – Lembaga Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, mengadakan acara konser tunggal menghadirkan Alexander Ullman, bertempat di The Erasmus Huis, Kedubes Belanda, Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 11 April 2018. Alexander Ullman adalah pemenang pertama Franz Liszt Piano Competition ke-11 yang berlangsung di Utrecht, Belanda, tahun 2017 lalu. Tidak kurang dari 300 penonton menyaksikan konser anak muda berkebangsaan Inggris... Baca selengkapnya...

Mendes PDTT Eko Putro Ingatkan Kades Tak Selewengkan Dana Desa , Telpon Satgas Bila Ada Kendala
Kamis, 12 April 2018

KOPI, Jakarta – Masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dengan Jusuf Kalla, Selama Tiga tahun ini dana desa mampu membangun lebih dari 121.000 kilometer jalan desa. Ini belum pernah ada dalam sejarah Indonesia. Desa mampu membangun 1.960 kilometer jembatan, tambatan perahu, embung air (sumur resapan air), sarana olahraga, irigasi, serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro... Baca selengkapnya...

Inilah Puisi “Ibu Indonesia” Dibacakan oleh Sukmawati Bikin Heboh Umat Islam
Sabtu, 07 April 2018

KOPI, Jakarta - Putri Presiden pertama Indonesia Soekarno yakni Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi berjudul “Ibu Indonesia” di acara Pagelaran peragaan busana “Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week ke 29” bertempat di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Selatan, pada Kamis, 29 Maret 2018. Ibu Indonesia Aku tak tahu Syariat Islam Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah Lebih cantik dari... Baca selengkapnya...

INTERNASIONALNew European Report Points Fingers at Po.....
25/04/2018 | Redaksi KOPI

KOPI, Maroko - The involvement of the polisario in terrorist acts in the Sahelo-Saharan region has once again been singled out in a report funded by t [ ... ]



DAERAHRatusan Kepala Kampung SeKabupaten Jayaw.....
24/04/2018 | Wawan Setiawan

KOPI-Wamena, Plt. Bupati Kab. Jayawijaya Doren Wakerkwa, SH menerima lebih kurang 100 Orang Kepala Kampung se Kab. Jayawijaya dalam sebuah aksi demo d [ ... ]



PENDIDIKANSMK Telkom Pekanbaru Siapkan 100 unit K.....
25/04/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru - Pelaksanaan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Telkom Pekanbaru, tahun ajaran 2017-2018 meny [ ... ]



HANKAMTNI Memasak untuk Pengungsi Gempa Kalibe.....
23/04/2018 | Marsono Rh

KOPI - Banyaknya jumlah warga Kalibening Banjarnegara mengungsi membuat dapur umum yang didirikan di sejumlah lokasi harus bekerja ekstra keras untuk  [ ... ]



OLAHRAGAViral Medsos Rekaman Video Paspampres Ha.....
25/02/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Sebenarnya kegiatan ini bukan kegiatan kenegaraan. Kegiatan tersebut seremonial menyaksikan pertandingan Final antar dua kubu grup [ ... ]



PARIWISATAAston Luncurkan Minuman Anyar “Cocore.....
27/03/2018 | Buddy Wirawan
article thumbnail

KOPI, Bandung – Trend “nongkrong” atau berkumpul sudah menjadi gaya hidup anak muda maupun dewasa saat ini, mulai dari makan dan minum hingga  [ ... ]



POLITIKPilkada Biak Numfor 2018, Ujian Terberat.....
23/04/2018 | Redaksi KOPI
article thumbnail

KOPI, Jakarta – Proses persiapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Biak Numfor terus berlangsung, seperti halnya juga di 100 lebih daera [ ... ]



OPINIMemperkuat Peran Tiga Pilar Utama Pendid.....
21/04/2018 | Harjoni Desky, S.Sos.I., M.Si

KOPI - “Pendidikan merupakan alat yang memiliki tenaga untuk mengubah dunia” ini salah satu mutiara terkait dengan pentingnya pendidikan. Dari ka [ ... ]



PROFILBrigjen Pol. Drs. H. Faisal Abdul Naser,.....
02/03/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

KOPI-Jakarta,Bila Kita perhatikan bahwa Bumi Aceh sangat subur sekali. Bahkan tanaman ganja tumbuh seperti rumput hijau di tanah. Bumi Aceh sangat sub [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAIkuti FLS2N Lampung Barat, SMPN 2 Bandar.....
22/04/2018 | Jamsi Martien

KOPI, Lampung Barat - Siswa/i SMP N Bandar Negeri Suoh juara 1 (satu) FLS2N Musik Tradisional di kabupaten Lampung Barat. Festival Lomba Seni Siswa Na [ ... ]



ROHANIGerakan Belajar dan Mengajar Al-Qur'an.....
04/04/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir
article thumbnail

KOPI, Jakarta - Sebagai daerah yang menganut sistem syariat Islam maka daerah Aceh banyak sekali terdapat tempat-tempat pendidikan belajar Alquran. U [ ... ]



RESENSIHeboh Buku Fire and Furry Ungkap “ D.....
05/01/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Washington DC- Heboh buku Fire and Fury ungkap “Dapur Gedung Putih” Menjelang Pemilu Pilres Amerika Serikat . Dilansir dari The Guardian, R [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto
article thumbnail

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIMenatap Rasa.....
07/06/2017 | Mas Ade

Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



CURAHAN HATIAnggota DPRD Riau Suhardiman Amby Di-OTT.....
09/04/2018 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru – Operasi Tangkap Tangan (OTT) bukan milik Institusi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) saja. Para istripun melakukan aksi serupa,  [ ... ]



SERBA-SERBIKonsul Amerika Serikat Tertarik Lingkun.....
12/04/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

KOPI-Jakarta, Kawasan lingkungan alam perlu dilestarikan. Apalagi kawasan lingkungan hidup seperti di Gunung Leuser merupakan paru-paru dunia. Pad [ ... ]



Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.