Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Inspirasi Cerpen & Cerbung Ketika Gunung Juga Punya Cara

Ketika Gunung Juga Punya Cara

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunung. Sebongkah tanah tinggi yang mengacung ke langit. Pendiam namun sekali dia berkata, tak hanya huruf-huruf yang meluncur dari mulutnya, namun juga ada kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf. Bahkan, secawan wacana yang menuntut dengan gedoran-gedoran keras di pintu pagar dan genting rumah, meminta perhatian agar kita semua membacanya dengan tulus, dengan ikhlas.

Pandanganku mengabur saat Gunung Kelud meletus. Bukan lontaran lahar merah membuncah yang melintas seketika di angan. Saat berita letusan Gunung Kelud menjadi diraja pemberitaan media massa di tanah air, justru bayangan Mak Jannah berkelebat sepesat angin di ruang hatiku. Bayangan perempuan berusia lanjut tersebut lebih perkasa menyita perhatianku ketimbang berita tentang abu vulkanik letusan Gunung Kelud yang beranjangsana hingga beberapa kota besar di tanah air.

Degup jantungku beranjak naik dan terus naik intensitasnya. Keringat menetes jauh lebih deras ketimbang titik-titik hujan yang menyiram genting kamar kontrakan. Meski udara dingin mengiringi hujan tanpa alpa, tubuhku memanas tembaga. Menggelisah karena Gunung Kelud yang berbicara.

Ingin rasa hati sesegera mungkin menelpon Mak Jannah di kaki Gunung Kelud. Menanya, bagaimana keadaannya? Apakah beliau baik-baik saja? Di manakah beliau sekarang?

Tetapi sebongkah lempeng batu raksasa seakan menyumbat muntahan lava tanyaku kepada Mak Jannah. Lempeng batu raksasa itu adalah rasa ragu karena jelas nomor yang akan kuhubungi adalah nomor ponsel milik Aisyah, perempuan yang membuatku jengkar dari kaki Gunung Kelud, mengembara kemana-mana hingga terdampar di tanah panas seperti Jakarta.

“Kau tidak berpamitan dulu dengan Makmu, Jannah, Le?”

Tak kujawab segera pertanyaan Bapak. Aku tunggu beliau mengepulkan asap rokok dari mulut udzurnya lebih dulu.

Sembari mengaduk sendiri kopinya dalam cangkir kaleng putih besarnya, Bapak mengulangi lagi pertanyaannya saat aku hendak berangkat, pergi menjauhi kaki Gunung Kelud dan Aisyah.

Mboten, Pak,”

Kowe segan nanti ketemu Aisyah?”

Kalimat Bapak seperti mata mesin keruk mengaduk-aduk pasir hati. Tas yang sudah kurapikan kulepaskan di dekat almari pakaianku. Tubuhku menghempas tanpa belulang di dipan kayu tanpa kasur tempatku menabur mimpi. Mimpi tentang masa depan, mimpi tentang Aisyah serta Mak Jannah disisinya.

“Aisyah itu cantik, Pak,”

Tanpa sadar mulutku menggumam. Suara tawa Bapak pecah. Kepingannya semburat memenuhi ruangan kamar. Beberapa keping tertinggal di dinding, tergantung di poster rocker luar negeri yang aku sendiri tak bisa menghafal namanya dengan benar, satu dua menempel di kaca spion yang biasa kugunakan mematut diri sejak sekolah dulu.

“Memang jodoh, rejeki, dan kematian itu rahasia Gusti Allah, Le, tapi kowe dan Aisyah tidak boleh membangun rumah tangga. Cukup manjing paseduluran saja, Le. Karena..”

“Mengapa Emak harus mati? Dan mengapa Bapak harus bertetangga dengan Mak Jannah?” potongku menuntut takdir.

“Ssssttt... Kowe wani sama Gusti Allah??!! Bapak juga ingin emakmu punya umur panjang dan masih bisa momong kowe, Le,” suara Bapak bergetar, aku juga menyesal telah membiarkan kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Kulihat mata Bapak basah. Tapi tak ada setetes pun yang membulir-mengalir di lembah pipi tuanya. Aku cium tangan Bapak sebagai tanda maaf yang tak terkira. Ingin rasanya menelan kembali taklimat yang melukai hati Bapak dan melawan kehendak-Nya tersebut.

Kurasakan belaian lembut tangan Bapak memapar rambutku yang kubiarkan memanjang melewati krag baju. “Kowe mau kemana pergi kemana saja, doa Bapak selalu bersamamu, Le. Laki-laki memang harus panjang jangkahnya. Takdongakna, Le,”

Sedikit rasa sesal mengiringi ketika tetap kuputuskan untuk tidak mengucap pamit pada Mak Jannah, perempuan tua yang pernah merawatku di masa kecil. Tetapi, Mak Jannah pasti tahu. Bukan karena kurang baktiku kepada beliau, aku tidak berpamitan dan memohon doa restunya. Hal ini karena anak perempuannya, Aisyah, yang telah membuatku menjauhinya. Bahkan menjauhi tanah di kaki Gunung Kelud, selembar tanah-Nya yang kupijak kali pertama di dunia yang tidak abadi ini.

Langit mendung Jakarta tertawa di balik jendela kamar kontrakan. Seringainya mengejek kekalutanku. Aku melihat gigi-giginya sebesar genting rumah, kecoklatan tanpa sentuhan pasta gigi sama sekali. Aku memandangnya dengan kesal menumpuk.

*******

Sebelum aku bisa bijak memahami bahwa gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kedirianku. Sebelum aku dengan lapang dada mengerti tentang gunung yang memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Tentang gunung adalah gunung. Sebongkah tanah tinggi yang mengacung ke langit. Pendiam namun sekali dia berkata, tak hanya huruf-huruf yang meluncur dari mulutnya, namun juga ada kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf. Bahkan, secawan wacana yang menuntut dengan gedoran-gedoran keras di pintu pagar dan genting rumah, meminta perhatian agar kita semua membacanya dengan tulus, dengan ikhlas. Aku putuskan untuk pulang.

Kereta yang kutumpangi harus berhenti di Madiun. Malam kian menguburkan terang di kota brem tersebut. Udaranya berat bersimbah abu vulkanik Gunung Kelud yang menyambutku ramah. Dalam lembut butiran-butirannya ku dapati kehangatan sayang Mak Jannah. Saat perempuan itu dulu memandikanku, menyuapiku, dan menemaniku tidur dengan dongeng-dongeng Mahesa Sura yang menggetarkan hati.

Aku biarkan butir-butir abu vulkanik tersebut rebah di rambut dan tubuhku. Aku merasakan hangat tangan Mak Jannah. Bagaimana keadaan perempuan tua itu sekarang? Apakah dia baik-baik saja?

Langkahku berhenti di depan sebuah warung kecil. Orang-orang di dalam warung kecil tersebut sama dengan orang-orang yang singgah di ruang pandangku sejak stasiun kereta tadi. Selembar masker menutupi alat nafas mereka. Aku yang hanya menangkupkan sapu tangan sekenanya di wajahku, mengambil tempat di antara mereka. Sebuah televisi yang menayangkan berita tentang situasi terkini dampak letusan Gunung Kelud menjadi pusat perhatian.

Kepalaku mengangguk saat si tukang warung memberi isyarat tanya tentang makanan dan minuman yang hendak kunikmati. Seperti orang-orang lainnya, tayangan berita dalam kotak layar kaca di dinding warung kecil itu juga menjadi perhatianku. Besar harapanku, ada berita terkini tentang kondisi di kaki Gunung Kelud. Besar pula harapanku, aku segera tahu bagaimana kondisi Mak Jannah dan keluargaku lainnya karena aku masih belum berani menghubungi nomor ponsel Aisyah yang kudapatkan setahun lalu dari sepupuku yang juga merantau ke Jakarta.

Sepupuku tersebut tadi pagi telah memberitahuku bahwa Bapakku dan beberapa anggota keluarga lainnya telah aman di pengungsian. Itu cukup melegakan. Namun, sepupuku itu belum juga dapat kabar tentang Mak Jannah dan Aisyah. Hal ini yang membuatku senantiasa memelihara irama tinggi degupan jantung sejak dari Jakarta pagi tadi. Semoga Mak Jannah, juga Aisyah, baik-baik saja. Doa sederhana itu pula yang tak henti mengumandang di antara titir jantungku.

Satu hal yang aku syukuri. Saat aku putuskan untuk pulang ke kaki Gunung Kelud, selembar tiket kereta api dengan mudah ku dapatkan karena ada seorang pemesan tiket yang membatalkan keberangkatan. Keberuntungan yang tidak berpihak kepada sepupuku pengabar warta tersebut, karena dia harus menunggu seminggu lagi. Ketika basa-basi kutawarkan padanya, dia hanya tertawa karena aku tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran dari wajahku tentang Mak Jannah dan Aisyah di pelataran stasiun pagi tadi.

“Tuhan itu tidak tidur, Li. Mungkin sekarang Beliau sedang menjalankan skenario-Nya melalui urun rembug-nya gunung,” seloroh sepupuku tersebut dengan membenamkan sebuah amplop coklat ke dalam saku dalam jaketku. Dia titip uang buat orang tuanya.

Jujur aku tidak memahami kemana arah pembicaraannya, aku hanya mengejeknya dengan kata-kata tentang waktu yang terlalu pagi berbicara tentang Tuhan, apalagi gunung. Tapi ejekanku justru membuat tawa sepupuku itu semakin lantang terdengar, kesal aku mendengarnya karena suaranya mirip sekali dengan tawa langit mendung Jakarta kemarin malam.

Dengan lahap, nasi sedikit bertabur abu vulkanik Gunung Kelud berpindah dari piring ke dalam perutku. Rasa lapar yang menyiksa sejak pagi tadi terusir tanpa duka, tanpa air mata. Lagi-lagi, aku merasakan kehangatan cinta Mak Jannah ketika menyuapiku dulu. Cerita tentang ayamku yang mati jika tak kuhabiskan nasi berlauk tempe kering di piring membuat bayangan Mak Jannah semakin perkasa di ruang khayalku. Sosok perempuan keibuan itu mampu menggantikan ibuku sendiri yang dipanggil Sang Khalik ketika melahirkanku. Tak pernah kudapati kedahagaan figur ibu karena keikhlasan hati Mak Jannah. Terlebih, Aisyah yang lahir hanya berselang hari denganku menjadi salah satu alasan beliau untuk sudi membagi ranjang kasih-sayangnya dengan seorang anak yatim bernama Ali ini.

Malam ini juga, aku akan melanjutkan langkahku ke kaki Gunung Kelud. Mak Jannah, Aisyah, aku datang.

*******

Tak bisa aku ingkari gunung memang memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Aku hanya bisa mengangguk saat gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Memang gunung adalah gunung. Sebongkah tanah tinggi yang mengacung ke langit. Pendiam namun sekali dia berkata, tak hanya huruf-huruf yang meluncur dari mulutnya, namun juga ada kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf. Bahkan, secawan wacana yang menuntut dengan gedoran-gedoran keras di pintu pagar dan genting rumah, meminta perhatian agar kita semua membacanya dengan tulus, dengan ikhlas. Seperti halnya hidayah di hati, sesuatu akan terbuka pada saatnya.

Tangan-tangan anggota kepolisian juga beberapa anggota Basarnas menghalangiku untuk mendekati kampungku di kaki Gunung Kelud. Wajah-wajah mereka yang pucat karena abu vulkanik tampak membara. Sepotong dua potong kalimat kasar memerahkan telinga. Kawasan bencana memang objek wisata, hanya aparat yang terkait dan awak media yang boleh memasukinya. Tapi kawasan bencana itu adalah tanah tumpah darahku. Ada orang-orang yang aku cintai tinggal di bawah langitnya.

“Cari di pengungsian, di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi!!” bentak salah seorang dari mereka.

“Ini daerah rawan. Kami bisa kena masalah kalau masih ada warga yang blusukan,” mataku bergerak ke arah lelaki berjaket hijau loreng yang berbicara barusan.

“Ini bukan Jatim Park, Mas,” tak ku tahu siapa yang mengeluarkan kata-kata itu. Tapi kata-katanya membuatku tekanan darahku berlomba deburan lava panas di kubah kawah Gunung Kelud. Semakin meninggi.

Langkahku segera menuju ke sumber suara. Ingin rasanya memukul mulut yang memanaskan hati itu. Belum juga kesampaian, ponsel yang tersimpan di saku celanaku berbunyi. Suaranya mencuri perhatian siapa saja di dalam tenda komando itu. Suaranya juga menghentikan langkahku. Lelaki berjaket hijau loreng memberi isyarat kepadaku untuk mengangkat telpon dulu. Entah mengapa, aku segera saja mengiyakan isyaratnya. Seorang lelaki berkaos Basarnas dan berwajah tirus meninggalkan tenda komando, keliatannya dialah orang yang membuatku naik pitam barusan.

Mataku terbelalak melihat nama siapa yang muncul di layar ponselku. Aisyah. Dari mana dia mengetahui nomor ponselku? Mungkinkah sepupuku?

Aku tak segera memijit tombol bergambar tanda telpon hijau di papan kunci ponselku. Lagi-lagi, lelaki berjaket hijau loreng itu memberi isyarat agar aku segera menerima panggilan masuk mengagetkan itu. Sungguh, sesuatu yang tidak kubayangkan, perempuan pujaan yang membuatku jengkar dari kaki gunung ini sekarang menghubungiku. Andai segera kuterima, apa yang harus kuucapkan padanya.

Aku yang tidak enak segera meninggalkan tenda komando meninggalkan aparat keamanan dan satuan tanggap bencana di sana. Dua langkah dari tenda komando, aku beranikan diri untuk menerima panggilan masuk tersebut.

Assalamu’alaikum, Halo, Mas Ali..” aku terngungun, suara perempuan cantik putri perempuan yang penuh dengan kasih sayang merawatku dulu itu terdengar merdu sekali. Seperti ketakutanku sebelumnya, kata salam yang seharusnya segera kubalas pun berhenti di tenggorokan, “Assalamu’alaikum... Assalamu’alaikum... Assalamu’alaikum... Mas Ali, Halo...”

Wa’alaikum... Salam...” terbata dan terputus-putus jawab salamku, berikutnya suara renyah di seberang sana. Aisyah mengabarkan bahwa dirinya dan Mak Jannah baik-baik saja. Katanya sepupuku baru saja menelepon dan memberitahukan bahwa aku sudah sampai, sehingga dia memberanikan diri untuk menelepon.

Kabar menggembirakan itu masih kubalas dengan kata-kata gagap. Hingga Aisyah mentertawakan keguguanku hingga tanpa sadar ternyata perempuan cantik itu telah berdiri tak jauh di dekatku. Subhanallah, aku menyebut nama-Nya dalam hati, Aisyah tampak semakin cantik dalam seragam awak kesehatan membalut tubuhnya.

Abu vulkanik yang memenuhi udara di kaki Gunung Kelud itu terasa tak menyiksa saat kupeluk tubuh udzur Mak Jannah di salah satu tenda pengungsian. “Mengapa Bapakmu atau kamu sendiri tak pernah menanyakan, apakah dulu dirimu juga menikmati air susuku, Le?” di dekatnya Aisyah tersenyum kecil malu-malu, senyum itu persis seperti saat pertama mengiyakan ajakanku melewatkan malam minggu di alun-alun Kediri setahun yang lalu.

Tampak raut bijak Mak Jannah mengetahui musabab kepergianku meninggalkan kaki Gunung Kelud. Beliau melepaskan pelukannya dan melepaskan lava yang mengganjal di kubah hatinya selama ini.

“Ketika bapakmu pergi kerja ke Surabaya, memang kamu kurawat seperti halnya Aisyah, Le. Tapi, kamu tidak pernah aku susui karena bukan aku pilih kasih. Hanya saja, cuma sebelah yang mengeluarkan air susu. Sementara Aisyah itu neteknya kuat dan suka rewel. Jadi, maafkan emak, Le. Kamu harus mengalah,” Mak Jannah tersenyum lega, “Jadi, jika kamu ingin menyunting Aisyah itu halal,”

Suara tawa lepas sanak-saudara, tetangga, dan kerabat yang lain terdengar mengiringi kata-kata Mak Jannah. Kulihat Bapak hanya garuk-garuk kepala seperti memohon maaf karena membuat simpulan sendiri tanpa mencari tahu terlebih dahulu. Aisyah semakin menunduk dengan senyum malu-malu. Aku sendiri tak bisa membayangkan bagaimana warna raut wajahku. Hanya saja, gunung memiliki cara sendiri untuk urun rembug. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunung. Sebongkah tanah tinggi yang mengacung ke langit. Pendiam namun sekali dia berkata, tak hanya huruf-huruf yang meluncur dari mulutnya, namun juga ada kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf. Bahkan, secawan wacana yang menuntut dengan gedoran-gedoran keras di pintu pagar dan genting rumah, meminta perhatian agar kita semua membacanya dengan tulus, dengan ikhlas.

Alhamdulillah. Istimewa.

*******

Jombang, Pebruari-Maret 2014

 

 

Pawai Pembangunan Dinilai Kurang Memuaskan, Juga Minim Antraksi
Sabtu, 19 Agustus 2017

KOPI, Sarolangun - Pawai pembangunan pada perayaan kemerdekaan RI yang ke 72 dimeriahkan dengan berbagai penampilan budaya ditengah kehidupan masyarakat dan profesi. Tradisi pawai pembangunan ditampilkan oleh masing-masing pelajar dan juga pegawai dari setiap instansi pemerintah daerah kabupaten Sarolangun dinilai masih kurang memuaskan serta minim antraksi. Hal itu disampaikan oleh Bupati sarolangun, Sabtu  (19/8).   "Kita tidak melihat... Baca selengkapnya...

Gelar Paskibra 1.478 Personil di HUT Ke-72 Kemerdekaan RI, Pulau Sebatik Raih Rekor MURI
Jumat, 18 Agustus 2017

KOPI, Nunukan – Menjadi warga Pulau Sebatik boleh berbangga, tepat pada HUT Kemerdekaan RI yang ke 72 Tahun 2017 (Kamis, 17/08/2017), Pulau yang terletak diutara propinsi Kalimantan Utara tersebut menorehkan tinta emas, dengan berhasil meraih rekor MURI (Museum Rekor - Dunia Indonesia) lewat gelar Pasukan Pengibar Bendera terbanyak yang melibatkan 1.478 yang dilaksanakan di Dermaga TNI - Al Sungai Pancang dan Pelabuhan Batu.     Senior... Baca selengkapnya...

RSUD Sarolangun Kembali Menjadi Tempat Study Banding
Rabu, 16 Agustus 2017

KOPI,Sarolangun - Semenjak meraih akreditasi, rumah sakit umum daerah Prof DR HM Chatib Quzwen Kabupaten Sarolangun dianggap memiliki mutu dan kualitas memenuhi standart. Untuk itu RSUD Sarolangun kini telah menjadi tempat study banding rumah sakit umum baik dari luar maupun didalam daerah. Baru ini, RSUD Sungai bahar Muaro Jambi yang membawa pihak menajeman rumah sakit dan dokter sebanyak 15 orang untuk melakukan study banding di RSUD... Baca selengkapnya...

Danramil 08/Bakongan Pimpin Upacara Pengibaran 72 Bendera Merah Putih Di Pulau Dua
Minggu, 13 Agustus 2017

KOPI, ACEH SELATAN - Badan SAR Nasional (Basarnas) Kabupaten Aceh Selatan melaksanakan acara pengibaran Bendera Merah Putih dan penanaman terumbu karang di Pulau Dua, Kecamatan Bakongan Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Minggu (13/08/2017).   Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-72. Hadir dalam acara tersebut, diantaranya Danramil 08/Bakongan Kapten Inf Endang Ruhiyat dan juga Basarnas Kabupaten Aceh... Baca selengkapnya...

Bank Riau Kepri Salurkan Dana CSR kepada 20 Ribu Naker
Minggu, 13 Agustus 2017

KOPI, Pekanbaru - Bank Riau Kepri (BRK) salurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang diperuntukkan untuk memberikan perlindungan jaminan sosial melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan kepada 20.000 pekerja rentan yang ada di Provinsi Riau pada program Gerakan Nasional Peduli Perlindungan Pekerja Rentan (GN Lingkaran).     Para pekerja yang menerima bantuan perlindungan dari dana CSR Bank Riau Kepri ini... Baca selengkapnya...

Kapolda Se Sumatera Saksikan Simulasi Pencegahan Kebakaran Hutan di Kampar
Jumat, 11 Agustus 2017

KOPI, Pekanbaru - Di tempat kerjanya, Mas Sugeng Triwardono mengatakan, ”Mutasikan saja Komandan oknum Kapolda, Danrem yang wilayahnya terjadi kebakaran hutan ini berarti sang kepala satuan TNI/Polri tersebut tidak bisa menjaga daerah teritorialnya bebas dari kebakaran hutan. Berapa ratus milyar uang negara terbuang sia-sia setiap tahun hanya untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Lebih baik uang tersebut digunakan untuk membangun... Baca selengkapnya...

Penyair Maroko Anissa Taouil Menulis Puisi dan Bernyanyi dalam Bahasa Indonesia
Jumat, 11 Agustus 2017

KOPI, Jakarta - Anissa Taouil, seorang Profesor dari Universitas Hassan II Casablanca, Maroko, merupakan seorang penyair yang menulis puisi dalam lima bahasa, yakni Bahasa Arab, Inggris, Perancis, Spanyol, dan Indonesia. Anissa, demikian ia akrab disapa, adalah orang Maroko pertama yang menulis puisinya langsung dalam Bahasa Indonesia. Dirinya menjelaskan bahwa ia telah menjalin kerajsama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Rabat... Baca selengkapnya...

INTERNASIONALRibuan Pendonor Meriahkan Hari Donor Dar.....
19/08/2017 | Buddy Wirawan
article thumbnail

KOPI, Bandung - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan membuka kegiatan Gerak Jalan Sehat di halaman Kantor PMI Kota Bandung didampingi Sekretaris Daera [ ... ]



NASIONALInilah Harapan Pemuda Papua di Sulawesi .....
17/08/2017 | Saktiawan Wicahyono Putro
article thumbnail

KOPI, Manado – Peringatan HUT Ke – 72 Kemerdekaan Republik Indonesia disambut antusias oleh seluruh lapisan masyarakat. Momentum ini merupakan p [ ... ]



DAERAHPeringatan HUT Ke-72 Kemerdekaan Republi.....
20/08/2017 | Rahmat Bitay

KOPI, Banda Aceh - Negara Indonesia tepat merayakan kemerdekaannya yang ke-72 tahun. Hari ini Kamis 17 Agustus 2017, seluruh anak bangsa Indonesia mem [ ... ]



PENDIDIKANDPC PPWI Bekasi Gelar Rapat, Seminggu Je.....
19/08/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Bekasi Utara - Ketua DPC Bekasi, Sugiatmico menggelar rapat persiapan session 3 “Pelatihan Jurnalist Tingkat Pelajar dan Mahasiswa” bertempa [ ... ]



EKONOMIGrand Opening “Berrybenka Store - Peja.....
19/08/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Bagi para fesyen maniak, nama Berrybenka tentu sudah tidak asing lagi didengar. Situs belanja dengan fashion dan produk kecantikan te [ ... ]



HANKAMIngin Kibarkan Bendera Merah Putih, Seor.....
13/08/2017 | Haes Asel

KOPI, Aceh Selatan - Menjelang peringatan HUT RI ke - 72 tahun 2017 yang hanya tersisa waktu lima hari lagi, segala usaha pekerjaan kegiatan tindaka [ ... ]



OLAHRAGAIni Dia Para Pemenang Wrangler True Wand.....
21/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Sebuah petualangan besar tahun ini “Wrangler True Wanderer 2017” baru saja menemukan pemenangnya. Mereka telah menunjukan bahwa m [ ... ]



PARIWISATALesehan di Atas Bukit Cara Lain Menikmat.....
13/08/2017 | Femilia Zahra

KOPI, Palu- Beberapa waktu lalu kami selaku reporter KOPI berkesempatan untuk menginjakkan kaki di kota Lembah. Entah angin apa yang membawa kami hing [ ... ]



HUKUM & KRIMINALPengelola SMAK Dago Minta Hakim Tolak Gu.....
16/08/2017 | Buddy Wirawan

KOPI, Bandung - Pengelola Sekolah Menengah Atas Kristen (SMAK) Dago  Yayasan Badan Perguruan Sekolah Menengah Kristen Jawa Barat (BPSMKJB) meminta  [ ... ]



POLITIKSetelah Mendaftar ke PPP dan NasDem ‘.....
06/08/2017 | Rifnaldi
article thumbnail

KOPI, PADANG PAJANG - Setelah Drs. Yulfahmi dan Ir. H. Edwin, Sabtu (5/8) kemeren giliran Wakil Walikota dr. H. Mawardi Samah yang menyambangi Kantor  [ ... ]



OPINIWaspadalah… Modus Penipuan Menjual Nam.....
03/08/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Pekanbaru - Waspadalah Gerombolan begal beraksi wilayah Siak Hulu, kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Kami memantau gerak-gerik gerombolan Begal t [ ... ]



PROFILJamintel Adi Togarisman: TP4 Lahir Bukan.....
09/08/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta - Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Adi Togarisman menjelaskan, ”Tim Pengawal, Pengamanan Pemerintah dan Pembangunan (TP4) lahir  [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAPKPA Kembali Gelar FFA dan FTA 2017.....
25/07/2017 | Sulaiman Zuhdi Manik

KOPI - Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) kembali menggelar Festival Film Anak (FFA) dan Festival Teater Anak (FTA) tahun 2017 dengan t [ ... ]



ROHANIUskup Edmund Woga: Cinta Allah Itu Tidak.....
02/08/2017 | Mohamad Nur Arifin

KOPI, NTT – “Karya Tuhan itu sungguh luar biasa. Tuhan berkarya di mana saja, kapan saja dan untuk siapa saja tanpa kecuali dalam kelimpahan cint [ ... ]



RESENSIDrama Korsel Berjudul Man Who Dies to L.....
30/07/2017 | Didi Rinaldo

KOPI – Jakarta - Drama Korea Man Who Dies to Live berhasil masuk sepuluh besar rating drama terbaik di Korea Selatan.
drama yang tayang di MBC ini j [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIMenatap Rasa.....
07/06/2017 | Mas Ade

Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



CURAHAN HATIAnak Bupati Paluta Beserta Istri Refin.....
19/08/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Paluta – Resky Basyah Hrp PNS/ASN menjabat sebagai Kabid Mutasi pada BKD Kabupaten Paluta (Padang Lawas Utara) juga anak kandung Drs Bachrum [ ... ]



SERBA-SERBIDian Sastro Jadi #IbuTangguh di Acara Ta.....
19/08/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Lotte Mart dan “Baygon - Ibu Tangguh Pilih Yang Tangguh” menggelar Media Gathering “Ibu Tangguh 3 Generasi”, di Restaurant Ser [ ... ]



Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.