Nasib Masa Depan Anak Bangsa yang Terlantar
Pewarta-Indonesia, Bekerja jauh dari orang-orang yang kita cintai bukanlah impian semua orang, begitu juga dengan diriku. Apalagi sampai di negeri orang selama dua tahun kontrak baru bisa pulang ke tanah air untuk bertemu buah hatiku. Tapi, ini harus aku jalani demi hutang-hutangku pada salah satu saudara, belum lagi biaya untuk bayiku yang masih relatif kecil untuk berpisah denganku. Dengan perasaan hancur dan sedih akhirnya aku pergi juga bekerja menjadi pembantu rumah tangga, Negeri Hongkong tujuan utamaku untuk mengkais uang untuk membayar hutang operasi dan membeli kebutuhan bayiku.
Semilirnya agin malam, nyanyian sendu untuk meninabobokan insane yang berduka karena menahan rasa rindu pada bayi mungil di atas awan yang jauh dari rabaan tangan. Itulah yang aku rasakan saat ini, kerinduan pada anakku yang mungil dan suamiku yang entah dimana keberedaannya sekarang ini. Kerusuhan Pulau Ambon yang membuat kami berpisah, sehingga operasi kelahiran anakku tanpa seorang ayah yang mendampinginya. Inilah sebagai alasan kenapa aku harus meninggalkan anakku yang masih merah merantau ke Hongkong, karena aku sebagai orang tua tunggal.
Tidak terasa aku bekerja di Hongkong sudah tiga bulan lamanya. Sudah aku bayangkan sebelumnya, bagaimana hidup dan bekerja di negeri orang pasti enak dan mendapatkan gaji banyak. Tapi, kenyataan yang aku jalani sungguh ada di luar perkiraan nalarku. Bukan karena aku bodoh, tetapi aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Walaupun harus menerima gaji di bawah standart yang tidak sesuai dengan hukum undang-undang ketenaga kerjaan Hongkong, tapi aku tetap menjalaninya demi kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi.
Kadang aku ingin berontak, tapi tidak berdaya. Walaupun kadang kala aku harus menerima perlakuaan yang kurang manusiawi, bentakan-bentakan kasar yang tidak aku mengerti sebab akibatnya sudah sebagai nyanyian wajib di setiap hari. Kata-kata kasar dan caci maki sudah makanan yang paling mengenyangkan dari pada makan bakmi sepuluh mangkok. Usaha untuk tutup mulut adalah yang aku anggap terbaik bagiku dari pada harus di interminit. Aku bekerja di daerah perdesaan yang jauh dari keramaian kota, di villa tingkat rumah majikanku villa tingkat dua dengan pekarangan yang besar tepat di depan rumah.
Dalam rumah itu, hanya ada seorang kakek yang berusia 99 tahun dan cucunya yang janda tapi tidak mempunyai anak. Selama tiga bulan ini, pekerjaanku masih cukup ringan. Tugas utama hanya menjaga kakek, membawa jalan-jalan ke taman bunga, membersihkan rumah dan memasak untuk makan malam. Tapi, setelah memasuki bulan ke empat, segalanya berubah. Padahal banyak mengatakan bahwa tiga bulan pertama adalah masa adaptasi yang sangat sulit untuk dilewati. Namun, sekali lagi bukan demikian bagiku.
Setelah tiga bulan berjalan agak tenang, pada bulan selanjutnya aku semakin banyak menerima tugas baru yang menyulitkan, membersihkan dua rumah sekaligus dan masih di tambah lagi dengan berkebun. Pekerjaan ini terasa sangat sulit di tanggung sendiri. Setiap sore aku harus membersihkan rumah orang tua majikanku yang bertingkat tiga dan pada siang bolong aku harus menyiram sayuran di kebun. Aku hanya bisa diam, tiada kekuatan untuk menolak, karena sekali menolak bisa berarti break kontrak. Tidak! Aku tidak boleh gagal. Meskipun aku tidak tahu harus berbuat apa, tapi tetap ku tata hati agar senantiasa tegar menjalani ketidak adilan ini. Aku pernah mendengar bahwa memperkerjakan domestic helper di tempat selain yang tertera dalam kontrak apalagi dengan tambahan-tambahan tugas yang sedemikian adalah bertentangan dengan hukum ketenaga-kerjaan di Hongkong.
Tapi, pada siapa aku harus mengadu ? Sedang waktu untuk liburpun aku tidak pernah di beri kesempatan. Mengharapkannya seperti mengharapkan bunga mekar di musim dingin. Ah! Biarlah. Meski begitu banyak hal yang menyakitkan serta kian memojokkan aku dalam keterpurukan bekerja di negeri ini, aku sedikit terhibur dengan adanya seekor anjing di rumah ini. Setidaknya kepada anjing inilah aku mencurahkan segala keluhan, sakit hati dan beban bathin yang mendera. Aku menganggapnya sebagai teman dimana aku bisa mempercayakan seluruh rahasia hati tanpa ada kekhawatiran akan di ceritakan pada orang lain.
Setiap malam aku menangis dan kutumpahkan segala keluh kesah selama bekerja. Semakin hari semakin banyak pekerjaan menunggu untuk di selesaikan sehingga waktu istirahat termasuk barang langka bagiku. Sudah dibayangkan betapa berat yang harus aku tanggung sendiri, selain membersihkan dua buah villa dan berkebun, setiap malam aku harus menyiapkan makan malam untuk 9 sampai 15 orang. Semua menu harus aku sendiri yang menentukan dan memasaknya serta mereka menuntut aku untuk menyajikan dengan cepat. Sedikit teredor berarti bentakan. Sedikit pelan berarti teguran. Begitu ada pekerjaan yang tidak sesuai dengan pandangan mereka maka caci maki akan mengalun seperti nyanyian MP3 yang tak kenal henti sebelum listrik mati.
“Oh, Tuhan! Sampai kapankah aku harus menjalani nasib yang seperti ini ?” suara hatiku seolah tertelan hmbusan angin. Namun tiada jera bathin ini menjerit karena suasana pikiran yang semakin keruh. Aku ini apa ? Aku manusia bukan robot yang tak kenal lelah. Tapi tenagaku seperti di peras untuk melayani pekerjaan umum. Siapa butuh maka mereka boleh menyuruh, siapa perlu mereka boleh menggunakan kekuatanku tanpa memikirkan keadaan bahkan makanan untuk menyuplai tenagaku yang mereka tidak pernah memperhatikannya.
Pagi yang cerah, seperti biasa bangun tidur lalu aku langung cuci muka dan gosok gigi lalu masak bubur untuk sarapan kakek yang masih mendengkur di tempat tidur. Hari ini aku bekerja tidak seperti biasanya, mungkin karena ketahanan tubuhku yang melemah, sehingga aku merasakan kurang enak badan. Di tengah hari bermandi terik matahari, ibu majikanku yang biasa di panggil mama menyuruhku pergi ke ladang untuk menyiram sayuran. Melihat keadaanku yang tampak kurang sehat, kakek yang aku rawat menyuruhku untuk beristirahat dan melarangku pergi, maka akupun tetap dirumah.
Gara-gara hari itu aku tidak ke ladang, mama mengadu kepada majikanku dengan mengatakan aku malas kerja, tidak menuruti perintahnya untuk pergi ke ladang bahkan menuduhku sering tidur siang. Mendengar pengaduan itu majikanku sangat marah tetapi kakek menceritakan yang sebenarnya, bahwa aku sakit maka dia melarangku pergi. Akhirnya kemarahan majikanku mereda. Aku begitu berhutang budi pada kakek dan sejak saat itu hubungan diantara kami kian membaik, bahkan kakek sering mengajakku sarapan pagi di luar sebagaimana yang sudah menjadi tradisi orang Hongkong.
Tuhan Yang Maha Pengasih telah mendengar doaku lewat kakek tua ini, sehingga aku sedikit terbela apabila ada fitnahan yang dilontarkan kepadaku oleh mama itu. Aku bersyukur atas anugerah kebahagiaan dengan adanya kakek yang semakin hari semakin menyayangi aku. Aku sendiri semakin menyayanginya bahkan aku menganggapnya sebagai kakekku sendiri sehingga berat rasanya untuk meninggalkannya.
Dengan semua yang aku alami ini, ada hikmah yang aku pelajari bahwa kejahatan bila di balas dengan kebaikan akan membawa berkah bagi kita sendiri. Aku hanya mampu berdoa dan berdoa untuk meluluhkan hati majikanku agar mereka sayang kepadaku. Dengan hidup bersandar pada ketabahan dan doa aku mampu menyeleseikan dua tahun kontrakku yang pertama dengan rasa puas. Pada awalnya aku begitu terluka, sangsi apakah aku akan sanggup menjalani pekerjaan ini sesuai waktu yang di tanda tangani. Namun kini seolah ujian yang terberat telah berlalu.
Semua yang terjadi, penderitaan, kegetiran, semua kemarahan yang aku terima iyu membawa kebahagiaan dan kebaikan pada diriku. Setelah dua tahun bertanya kontrak pertama, kini aku telah mendapatkan majikan baru yang lebih baik dan mengerti dan kebutuhan pekerjanya. Mungkin inilah berkat ketabahan dan kesabaran hati. Inilah berkah dari doa yang senantiasa di ucap dengan keyakinan penuh bahwa tuhan yang Maha Kuasa merubah segalanya. Dan tuhan tidak pernah mengecewakan setiap hati yang sungguh-sungguh meminta hanya kepada-Nya. Setelah bekerja kurang lebih 2 tahun di Negara hongkong saya berhasil mengumpulkan uang sebesar US$ 150.000 Dolar yang setara dengan jumlah sebesar Rp 1.470.000.000 Milyar Rupiah yang pada saat itu nilai dolar adalah Rp 9.800 / Dolar. Saya berhasil pulang ketanah air dengan membawa uang yang cukup besar.
Planning saya jika sudah tiba di Indonesia akan mendaftar kuliah yang sangat terkenal, dan terkemuka di Indonesia yaitu Universitas Indonesia Depok. Saya dalam menjalankan kuliah dengan jangka waktu 4 (Empat) tahun berturut-turut yang penuh kesibukan yang cukup padat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kemudian setelah saya memperoleh gelas Sarjana Psikologi (S.Psi) saya sempat mengunjungi masjid terbesar yang berada di depok yaitu Masjid Besar Kuba Mas. Saya sempat beristirahat dimasjid yang tempatnya tidak jauh dari Universitas Indonesia Depok. Ketika saya memasuki masjid tersebut ada Seorang anak perjalanan yang sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya dalam keadaan berusia 15 tahun. Mereka sempat mengucapkan kepada siapa saya harus hidup, dan menjalankan pendidikan demi memperbaiki masa depan yang saya inginkan.
“ya….allah..kepada siapa aku harus bertahan hidup…??? Kepada siapa saya harus meminta bantuan untuk melanjutkan hidup, serta pendidikan aku ini ya allah…….??, ya allah berikanlah limpahan rezeki darimu yang sangat berguna, dan mulia bagiku.”
Ucapan tersebut ketika anak jalanan sedang kesepian bahkan tidak mendapatkan uang sedikitpun dari warga yang lewat dari tempat keberadaan beliau. Ketika waktu shalat ashar tiba, anak jalanan tersebut langsung melaksanakan wudhu untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam yang harus taat terhadap agama. Kemudian ada seorang ibu yang sangat peduli terhadap seluruh anak bangsa yang terlantar dijalanan yang dikarenakan faktor ekonomi dalam keadaan mengunjungi masjid untuk melaksanakan shalat ashar. Ibu tersebut sejak awal berada dimasjid sempat melihat anak jalanan yang dalam keadaan kurus kering, berkulit hitam, serta dalam keadaan melamun.
“anak itu kok…ngelamun aja yah….??? Ada apa dengan beliau…..!!! aahhh….sudahlah tidak usah dipikirkan, mungkin dalam keadaan capek”.
Setelah ibu tersebut mengucapkan hal tersebut, langsung melaksanakan shalat hingga selesai sambil membereskan perlengkapan shalatnya. Kemudian setelah menjalankan shalat, ibu tersebut sempat melihat ulang posisi anak tersebut. Yang ternyata alhasil posisi anak tersebut masih dalam keadaan melamun tanpa ada gerak-gerik sedikit-pun. Hal tersebutlah yang sangat terkejut bagi ibu yang peduli terhadap generasi penerus bangsa.
“astaghfirullah al-azhim…!!! Di anak tersebut ada apa ya…??? Sejak saya masuk ke masjid hingga menjelang pulang begitu-begitu saja posisi anak tersebut. Jangan-jangan ada masalah yang dihadapi anak tersebut..!!! ada apa ya…??? Coba lah mau ketempat anak tersebut”
Ibu langsung mengunjungi anak tersebut sambil memberikan senyuman yang sangat dibanggakan oleh setiap keluarga. “adek, maaf kan ibu ya..!!! jika seandainya adek terganggu, ibu pengen bertanya kepada adek boleh tidak…???”
Anak tersebut ketika melihat ada seorang ibu yang memperhatikannya. Anak tersebut sempat bergemetar sambil membalas senyuman “eeehh….ibu..!!! kalau mau bertanya sih…boleh-boleh saja, tapi saya tidak tau semua…!!!! Karena saya berterus terang saya bukan anak kota, melainkan anak pengamen…!!”
Setelah Ibu tersebut mendengar ucapan uacapan anak pengamen dalam keadaan tetap tersenyum yang dapat membingungkan anak tersebut “ada apa ya di diri ibu ini..??? kok sempat peduli amat dengan anak pengamen, padahal yang seperti biasanya masyarakat kota tidak ada yang peduli terhadap anak jalanan. Bahkan meminta uang-pun tidak ada satu pun yang mengasih…!!! Ada apa yah..???” ucapan anak jalanan hanya terungkap didalam hatinya dan beliaupun tidak sempat mengeluarkan ucapan tersebut yang dikhawatirkan ibu tersebut marah terhadap anak tersebut.
Ibu tersebut langsung memberikan petanyaan yang mudah dijawab oleh anak tersebut mengenai permasalahan beliau “begini dek…, ibu bukan bermaksud ingin ikut capur urusan kamu…!!! Justru yang membuat ibu ingin bertanya ini karena ibu sangat heran melihat kamu. Keheranan ibu melihat kamu adalah sejak awal ibu datang ke masjid hingga menjelang pulang posisi kamu duduk, kok posisinya seperti it uterus tidak ada perubahan…!!! Makanya itu ibu sempat menduga yang dikhawatirkan ada masalah yang sedang adek hadapi, kalau ibu boleh tau adek kenapa melamun terus..?? ada apa di diri adek…??? Ceritakan dong ke ibu, ibu siap membantumu”
Pada wajah anak tersebut sempat menunjukkan ke emosiannya kepada ibu tersebut yang dikhawatir ibu hanya mengerjakan beliau yang padahal ibu tersebut sangat serius “ibu…!!! Untuk apa sih ibu menanyakan hal tesebut ke aku…!!! Aku rasa tidak ada artinya jika sendainya saya ceritakan semua ke ibu…!!! Sedang ibu sendiri bukan bukan orang tua aku”
Ibu tersebut sebenarnya sudah mengetahui apa yang akan dijawab oleh anak jalanan tersebut. Karena ibu tersebut merupakan Dosen Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang sangat terkenal dibangsa ini bahkan beliaupun dalam mengajar ilmu psikologi diperguruan tinggi Universitas Indonesia sangat serius, dan konsentrasi dalam menerangkan materi mata kuliah yang berkaitan dengan psikologi. Maka sangat wajar ibu tersebut merupakan orang yang sangat halus, lembut, serta peduli terhadap sesama manusia.
Ibu tersebut langsung mengatakan hal yang sebenarnya kepada anak jalanan tersebut sambil memberitahu mengenai ibu yang sebenarnya dengan penuh keseriusan yang sangat menekan hati anak jalanan untuk mengungkapkan permasalahan yang sedang dihadapinya “adek, ibu memang bukan orang tua kamu…!!! Dan ibu bukan siapa-siapa kamu…!!! Ibu memang salah dalam melakukan tindakan ini, mungkin adek sudah tau, apa yang harus Negara berikan kepada setiap generasi penerus bangsa yang mempunyai keinginan yang sangat luas terutama pendidikan masa depan bagi anak bangsa yang sangat dinanti-nantikan oleh bangsa Indonesia”
Anak tersebut langsung sedih dalam keadaan mengeluarkan air mata yang dikarenakan tidak menyangka ada seorang ibu yang sangat peduli terhadap beliau khususnya anak jalanan yang sangat rajin dalam menjalankan ibadah terhadap allah SWT “ibu…!!! Apakah aku tidak salah dengar terhadap ucapan yang barusan ibu ungkapkan….???? Dan apakah ibu serius ingin membantu aku yang dalam keadaan seperti ini….??? Tolong jawabannya sekali lagi…!!!”
Ibu tersebut mempunyai hati yang sangat lega sambil mengeluarkan senyuman yang sangat indah bagi anak jalanan tersebut “adek, sekali lagi ibu mengatakan ibu memang bukan siapa-siapa kamu…!!! Ibu memang salah dalam melakukan tindakan ini, mungkin adek sudah tau, apa yang harus Negara berikan kepada setiap generasi penerus bangsa yang mempunyai keinginan yang sangat luas terutama pendidikan masa depan bagi anak bangsa yang sangat dinanti-nantikan oleh bangsa Indonesia sendiri. Justru yang harus adek ketahui ibu sangat heran melihat adek, keheranan ibu adalah sejak awal ibu datang ke masjid hingga menjelang pulang posisi kamu duduk, kok posisinya seperti it uterus tidak ada perubahan…!!! Makanya itu ibu sempat menduga yang dikhawatirkan ada masalah yang sedang adek hadapi, kalau ibu boleh tau adek kenapa melamun terus..?? ada apa di diri adek…??? Ceritakan dong ke ibu, ibu siap membantumu”
Anak tersebut mulai kelihatan serta mulai ketahuan apa yang akan dibicarakan dalam artian beliau mulai serius serta berkonsentrasi dalam menjelaskan mengenai latar belakangnya “ibu, sebelumnya saya mohon maaf agaka emosi sedikit terhadap ibu…!!!! Awalnya saya menduga ibu hanya mengerjakan saya, serta mempengaruhi saya…!!! Sedangkan saya sebagai masyarakat fakir tidak mau dibodohi, dan dipengaruhi. Makanya itu saya agak emosi sedikit terhadap ibu..!!! sekali lagi sebelumnya saya mohon maaf terhadap ibu yang ternyata saya ini salah paham dan salah kaprah terhadap ibu yang peduli terhadap anak jalanan”
Anak tersebut langsung mengatakan yang sebenarnya terhadap dosen Psikologi tersebut “ibu, saya sempat mendengar cerita dari mantan tetangga orang tua ketika usia saya 5 tahun bahwa ayah saya meninggal yang dikarenakan faktor penyakit struk, dan saya sendiri tidak mengetahui wajah ayah yang sebenarnya yang dikarenakan dokumen foto keluarga saya hilang. Saya pada waktu berusia 7 tahun sempat menangis yang dikarenakan tidak mengetahui wajah ayahku tercinta…!!! Kalau ibu saya meninggal ketika saya menduduki bangku SD dikelas 6 (Enam), ibuku meninggal yang dikarenakan banyak beban yang harus ditanggung yaitu biaya sekolah saya. Namun saya tetap berusaha, dan berjuang supaya supaya orang tuaku tidak beban yang memberatkan yaitu dengan cara menjadi pembantu rumah tangga selama 6 bulan berturut-turut yang dikarenakan sebentar lagi saya mau lulus Ujian Nasional”
Ibu tersebut setelah mendengar cerita dari anak jalanan tersebut terutama mengenai kedua orang tuanya sempat mengacungkan jempol terhadap usahanya yang cukup bagus walaupun pada dasarnya belum layak menjadi pembantu rumah tangga “adek, itu bagus…!!! Berarti adek merupakan anak generasi penerus bangsa yang paham terhadap keadaan orang tua yaitu beban orng tua, setelah ibu dengar dari cerita adek yang barusan ini, adek selalu berusah berjuang untuk meringankankan beban orang tua dengan cara menjadi pembantu rumah tangga selama 6 bulan berturut-turut yang dikarenakan ingin lulus dari Sekolah Dasar. Itu-pun merupakan usaha yang cukup bagus. Mengapa ibu menganggap demikian..?? karena tidak semua generasi penerus bangsa bisa berpikir seperti adek…!!!!”
Setelah anak tersebut mendapatkan pujian dari ibu tersebut langsung memeluk ibu tersebut walupun pada dasarnya bukan orang tua kandungnya “Ibu, terima kasih..ya ibu…terima kasih atas pujiannya. Saya sekarang bingung, bingung dalam menentukan masa depan yang dikarenakan tidak bisa melanjutkan sekolah yang dikarenakan faktor ekonomi. Kalau boleh minta pendapat dari ibu, apa yang harus saya lakukan demi mendapatkan bantuan pendidikan dari pemerintah…!!!! Pada dasarnya saya sebenarnya tidak mau menjadi pengamen jalanan, akan tetapi yang dikarenakan mengamen sebagai solusi terakhir untuk bisa bertahan hidup. Itu-pun secara terpaksa demi meringankan beban orang tua…!!! Sementara nasib aku seperti ini tidak bisa melanjutkan pendidikan. Kalau boleh minta pendapat sekali lagi terhadap ibu, apa yang harus saya lakukan demi mendapatkan bantuan pendidikan dari pemerintah…???”
Ibu tersebut tidak menduga yang ternyata walaupun nasibnya sebagai anak jalanan, tetap mempunyai rasa tanggung jawab untuk meringankan beban orang tuanya. Hal ini sesuai dengan pribahasa yang berbunyi “berakit-rakit dahulu berenang-renang ketepian, setiap orang yang sukses pasti akan mengalami pahitnya terlebih dahulu barulah bersenang-senang kemudian”
“adek, beban orang tua adek berdasarkan cerita dari adek yang ternyata cukup memberatkan. Ibu selaku dosen Psikologi Universitas Indonesia menyatakan “siap membantu adik untuk melanjutkan sekolah adik dari SMP (Sekolah Menengah Pertama) hingga jenjang pendidikan S1 (Strata Satu)” ibu menyatakan seperti ini karena ibu sudah bisa menilai, yaitu adek merupakan anak yang sangat cerdas, berwibawa, serta tegas dalam bertindak demi meringankan beban orang tua. Atas dasar itulah ibu menyatakan siap membantu adek”
Setelah berhasil melanjutkan pendidikan hingga S1 (Strata satu) adik tersebut mempunyai keingin untuk belajar dari pengalaman pahitnya untuk menjadi pemimpin daerah. Setelah berhasil menjadi Gubernur Provinsi, yang ternyata rasa tanggung jawab pemerintah terhadap seluruh masyarakat yang berada didaerahnya cukup berat, membutuhkan proses yang panjang, serta perjuangan yang harus dikorbankan demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat yaitu mental, serta berani mengambil tindakan yang cukup besar resikonya minimal bisa berkomunikasi.
Demikianlah cerita yang dapat penulis uraikan semoga pihak pemerintah bisa lebih memperhatikan nasib masa depan anak bangsa yang terlantar. Cerita ini adalah cerita karangan biasa bukan cerita fakta melainkan belajar mengarang cerita. Terima kasih atas perhatiannya kurang lebihnya mohon maaf. Terima kasih.
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Suara-suara Kehidupan
- Kisah Tak Berujung
- Suatu Senja
- Pelangi dalam Hatiku
- Persahabatan Itu Berharga
- Tangisku Habis Terjual
- Sejuta Luka di Tepi Senja
- Suatu Senja di Bilik Kamarku
- Aku Benci Menikah
- Jiwa yang Langka
- Senja itu- Lornie
- Suara-suara Kehidupan
- Ayahku Bukan Preman
- Gumulan Lornie
- Tentang Sekolah... Tentang Jakarta


























