Yek
KOPI, Malam ini tak ada kata yang bisa aku katakan dan tak ada kata yang bisa aku rangkaikan. Akan tetapi, ada satu cerita yang ingin aku ceritakan, cerita pertemananku, cerita jeritanku, cerita kebersamaan dengan Yek, orang yang telah menemaniku, mengajariku, dan menjadi pendengar yang baik dalam tiap tangis dan tawaku, orang yang istimewa yang pernah aku temui dalam hidupku.
Sudah cukup lama aku tidak menatap matanya yang selalu menjadi rembulan yang menerangi tiap-tiap jalan yang aku lewati dan rasanya sudah lama juga aku tidak menyalami tangannya yang dulu menjadi penunjuk arah kemana aku harus berjalan saat aku menempuh persimpangan.
Aku sangat merindukan wejangan yang selalu ia sampaikan padaku, tatkala aku dihadapkan pada pilihan yang akan aku pilih. Seperti dimana aku sekolah, kenapa sekolah itu, atau hanya sekedar wejangan untuk selalu mandi di sore hari.
Semua itu memang terdengar konyol dan gila, tapi kekonyolan dan kegilaan itulah yang selalu membawaku mengingatnya dan menyunggingkan seutas senyum saat pesan untuk mandi itu terlintas lantaran aku merebahkan tubuhku di ranjang dengan bau badan yang menusuk indera penciumanku.
Bayang-bayang itu terkadang terlalu kuat. Ia seakan menjelma sesosok Yek yang selama ini menemani hari-hariku di Palembang. Ia menjadi sosok yang nyata ketika aku bepergian dengan Busway. Aku ingat betul alasan ia mengajariku bersepeda motor ketika SMP, tak lebih karena ketidaktahanan beliau melihatku menunggu Angkutan Desa yang membawa anak-anak seusiaku ke sekolah.
Terkadang aku berandai, andai beliau ada di Jakarta, atau andai beliau tahu aku sedang menuggu Busway. Aku dapat pastikan bahwa ia tidak akan senang melihatnya, ia tidak pernah senang melihat siapapun juga menunggu, ia ingin melihat orang bekerja dan melakukan sesuatu. Beliau selalu mengatakan bahwa ia tidak pernah menunggu.
Alih-alih menunggu, ia pernah berbagi cerita denganku, bahwa selama bujangan ia pernah meninggalkan seorang wanita yang selalu menemani hari-hari tuanya saat ini lantaran keterlambatan si nenek menjumpai beliau di tempat yang telah dijanjikan. Spontan cerita itu menggelitik ‘urat tawaku’. Aku pun tak bisa membayangkan merahnya muka beliau jika ia tahu saat ini aku sedang menunggu temanku yang terjebak macet untuk memenuhi janji pertama kami.
Aku rasa andai pun beliau tahu aku sedang menungggu temanku yang terjebak macet itu, akan aku katakan pada beliau, ini bukan Taja Raya, desa tempat dimana aku dilahirkan, ini adalah Jakarta, ibukota negara yang selalu berisik dengan deru mobil di tiap detiknya. Mungkin aku pun akan mengatakan padanya, aku tidak akan menunggu lagi, karena aku akan segera pulang ke Banyuasin, kabupaten yang menjadi saksi bisu dari pesan-pesan beliau untuk cucunya yang nakal ini.
Beliau selalu menjadi daya tarik sendiri bagiku, ia bahkan lebih dari seorang Yek. Ia selalu menjadi cermin bagiku sebelum aku berangkat ke Paramadina. Beliau selalu mengatakan bahwa, aku adalah perpanjangan tangan dari kehidupan di masa mudanya. Tapi aku selalu mengatakan bahwa kehidupan aku sekarang adalah jalan hidupku, bukan perpanjangan dari kehidupan beliau.
Seperti biasanya, jika aku mengatakan kata-kata itu, mukanya selalu masam dan sedikit menggerutu serta ia mengernyitkan dahinya kemudian tertawa, menunjukkan giginya yang sudah tak lengkap lagi, aku pun tergelak menyaksikan tingkahnya yang kadang aku pikir terlalu kekanak-kanakan. Aku dan adikku memiliki panggilan khusus untuknya ‘Yek Jat’.
Sekarang aku tinggal di Jakarta, kuliah disini, merajut mimpiku. Secara tak langsung, apa yang beliau pernah katakan menjadi awal dari tiap langkah yang aku tempuh sekarang. Sekarang aku hidup di asrama, aku selalu berandai ada di Palembang bersama beliau, tetapi tetap saja, ketika aku bangun dari tidurku, aku di sini, di Jakarta. Itu semua yang selalu terngiang dipikiranku, moment itulah yang selalu aku mimpikan di setiap tidurku di sini, di Jakarta.
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Sesal Menanti Waktu
- Nafsu dan Narkotika
- CM2ML (Call Me to Make Love)
- Buaian Alkohol
- Hanya Cinta 1 Malam
- Tonggak Kehidupan
- Cinta Terlarang
- Aku Pelayan Isteriku
- Cinta Sebatas Meja
- Pelangi dalam Hatiku
- Nasib Masa Depan Anak Bangsa yang Terlantar
- Suara-suara Kehidupan
- Kisah Tak Berujung
- Suatu Senja
- Pelangi dalam Hatiku


























