Batanggang
ANAM
KOPI, Keseriusan berubah menjadi kegamangan, terlintas bayangan yang menghantui kewajibannya untuk berumah tangga dan dapat kerja yang menjamin dimasa tuanya nanti, dalam butir-butir peluh yang jatuh di pundak keluguan kita, apakah masih ada asa yang tersimpan dihati untuk menjadikan bintang yang berkedap kedip sebagai penunjuk arah langit yang meraba-raba lelap.
“Suatu saat aku akan mengundangmu dalam pesta keluargaku.”
Rexa hampir saja tenggelam dalam semangat untuk menggenggam dunia, menakhlukkan kekejaman dunia, membelai langit-langit duka, suka dan kehampaan terhadap kenikmatan sesaat.
“Penulis sebaiknya peka terhadap kejadian yang ada disekitarnya, nah itu bisa kamu jadikan sumber tepat untuk membidik pasar, mumpung ide ini masih hangat-hangatnya lebih baik dituang langsung dalam secarik kertas, takut nanti hilang kalau masih dalam memori.
“Iya Felly, tapi akukan masih terbilang sebagai penulis pemula.”
“Tapi kamu tetap menuliskan? sekurang-kurangnya tulisan kecil berupa diary, cerpen, atau novel.”
“Jujur bila dikata, apakah pantas curahan hatiku itu dikatakan sebuah tulisan, bernilaikah tulisanku itu..? terlalu banyak kekurangan, ejaan yang harus disempurnakan, pemakaian diksi yang tepat, dan.. yang jelas aku harus banyak belajar.”
“Apa yang menjadikanmu beralih profesi, jelimet dan pahlawan tanpa tanda jasa seharusnya telah membawamu menjadi guru tetap pegawai negeri, kerja yang punya masa depan gemilang, dikenang dan dirindukan setiap merasakan ilmu yang kamu sampaikan, sekurang-kurangnya imbas dari segala keberhasilan siswamu yang akan datang.
“Ku ingin mengganti profesi guruku menjadi dosen suatu masa, yang aktif menulis dan berkreasi yang jelas semua kesempatan dicoba.”
“Aku melihat kamu telah menjadi penulis, tak heran semua yang kau tempuh membawa perubahan yang mengakibatkan lidahmu berlumuran kata-kata sastra, apa yang yang kau inginkan belum tercapai masih berada dalam saku otakmu?”
“He..he dalam waktu dekat aku ingin membuka pustaka di garasi mobil orang tua angkatku, tapi aku sedikit butuh dana untuk memperbaiki kerusakan kecil yang disebabkan oleh gempa, dan penambahan menutup semua lubang-lubang air, batasan angin dan lampu, pokoknya masih banyak diperbaiki. Manatau nanti aku bisa membuka kesempatan masyarakat sekitar tentang pentingnya membaca, dan menarik simpati anak-anak usia sekolah dasar mampir tiap sepulang sekolah, sore atau hanya dihari libur saja, syukurlah aku sudah dapat izin dari empunya rumah, tinggal mencari strategi untuk sumbangan buku, dana atau ide.”
“Ne ambil buku panduan menjadi penulis profesional, semoga masa depanmu menjadi nyata, nobel dalam genggaman dan mengharumkan nama bangsa, he..he paling penting nama tempatmu lahir.”
Rexa membuka lembaran-lembaran pada buku berwarna coklat muda, dengan penuh harapan, disaat ia membuka dan membaca daftar isi karangan tahun 2006 menghantam membacanya, menciptakan keinginan yang belum terjamah oleh idenya manusia yang ia lihat sejauh pantauan mata memandang.
Memandang sekelompok manusia menulis yang tergabung dalam forum lingkar pena mencerminkan bahwa ia harus terus mencari yang baru didunia tulis menulis, tukar fikiran dan mengikuti pelatihan serta seminar.
“Ini benar-benar tulisan yang mengagumkan, kamu buat dengan lantang, mencerminkan keseriusanmu pada pencerahan langit dan bumi. Aku terus memberimu semangat kawan, karena tidak ada lagi waktu senggang yang bisa ku tuai untuk memberimu perhatian khusus, aku kerja, tanpa singgah dan selalu lembur itupun sesuai dengan liputan yang harus ku kemas sedemikian simpel dan mendabling suara di setiap gambar yang ku jepret.”
“Belumlah sedemikian rupa kawan, karena wanita di daerah kita banyak menuai kontrofersi dengan pakaian, pergaulan dan apakah aku mampu untuk menorehkan fenomenal wanita Minang dengan se abrek kebiasaan yang tidak biasa dimata orang, pakaian, pergaualan dan sekelumit yang ku biasakan, sekurang-kurangnya pakaianlah.”
“Siapa yang kamu maksudkan tadi Rexa? Aku..?
“Bukan Felly, aku meragukan generasi yang kita tinggalkan esok.”
“Ah.., kamu yang jelas hari ini di lakukan dulu, dan semua kecemasanmu itu tergantung pada apa yang telah kamu perbuat, dan kamu tinggalkan. Menurutku teruslah menulis, apa saja yang kamu anggap menarik. Tapi aku harap ini bukanlah tujuan akhirmu untuk menakhlukan dunia, masih panjang jalanmu untuk menggapai pengakuan dunia.”
“Sulit bagiku sebenarnya mengaggumi pengakuan tulusmu Felly, tapi di setiap kata itu aku mendapatkan ketulusan hatimu untukku agar selalu bangkit dan bangkit.”
Felly menggapai jaket kuningnya yang tebal, berusaha mengintip sisa-sisa semangat yang terekam sebelum liburan di hari kedua. Makin tua makin berisi hendaknya kita.
“Aku ingin melihatmu bersanding Felly, bersanding menggambarkan ikatan yang seimbang antara kamu dengan keagungan kesetian lelaki.”
Tatapan haru terpancar dari wajah Felly, tatapan sayang yang akan meninggalkan sahabatnya yang cengeng pada nasib, dan semangat pada impian. Perkataan yang tidak bisa direkayasa, perkataan yang menghantam Felly untuk menyatukan lagi kegundahan sesaat, namun pasti dalam kenyataan.
Pertengahan Januari 2010, Rexa tertarik menawarkan jasa kepada sahabatnya yang tak lain seorang dosen bahasa Inggris di UNP dia terkenal semasa kuliahnya sebagai mahasiswi teladan nasional di tahun 2004 membuat biografi dirinya, sesuai dengan hitungan kandungannya delapan bulan memasuki sembilan bulan, sebagian besar arsip penting, dokumentasi dirinya telah terkumpul rapi, bahkan Rexa memberanikan diri untuk memulai menulis sesuai dengan kemampuanya dalam merangkai dan mengolah sebuah kalimat. Dalam bulan Februari enam puluh persen tulisan itu terselesaikan, banyak pelajaran berharga yang dapat di petiknya dari semua arsip sahabatnya itu, tak heran Rexa kembali melanjutkan tulisannya sampai tahap hanting kebeberapa mahasiswanya, sahabatnya, dan orang yang mengenali dirinya, selama proses wawancara singkat dengan masyarakat kampus yang mengenalinya Rexa terserang penyakit aneh yang membuat dirinya makin hari makin kurus, wajah pucat dan tidak pernah tidur walaupun keinginan tidurnya sangat besar, kata dokter dia terserang penyakit insomia, anemia dan oksigen kepembuluh otak sangat sedikit bukan berarti tersumbat tapi sangat minim sekali.
Di ruangan fapiliun yang dulunya di pergunakan sebagai kantor penjualan karcis pesawat terbang oleh orang tua angkatku, yang kini telah beralih fungsi menjadi kamar tidurku yang di lengkapi dengan meja belajar, lemari baju, tempat tidur, ruangan yang dirasa cocok untuk mencari inspirasi kecil mungil dan nyaman.
Kebingungan yang memuncak membuatnya semakin tak betah dengan kondisinya saat ini, bagaimanapun dalam ketenangan jiwanya tersimpan suatu cita-cita yang menekuk lutut-kan dunia fana, sungguhpun hal yang terparah dalam hidupnya adalah kegemaran yang membuat mata di sekelilingnya marah, subuh, siang maupun malam es adalah sahabat karibnya, tiada es tiada pernah minum, lingkaran matanya yang mengitam ruas bibir ke abu-abuan tidak membatasinya agar tetap melanjutkan tulisan untuk sahabatnya itu walaupun masih dalam flesdis otaknya.
Rexa terbilang orang yang sangat biasa saja, tiada yang menonjol dalam dirinya, walaupun memiliki prestasi tapi belumlah bisa mewakili dirinya untuk di hargai dan di anggap “ada” bagi sekelilingnya.
Tapi ada hal yang menarik dalam keseharian Rexa, dia mau berjalan delapan kilo demi menjawab kebutuhan batinnya yang tidak ada kemungkinanya dalam kamus sahabatnya yang lain, di dalam tujuh hari Rexa mencoba membagi waktunya yang sibuk untuk memprogram senyum masyarakat yang butuh atau tidak bantuannya, sore hari senin Rexa berjalan menelusuri pasar raya Padang memantau perkembangan anak jalanan, anak yang mengamen di lapangan Imam Bonjol, taman Melati, di tepi laut, tidak ada data yang akurat dari hari kehari yang Rexa catat dalam diarynya mengenai berapa jumlah anak jalanan di kota Padang, tak heran kawan-kawan yang melihat aksinya mendapat perlawanan yang tak masuk dalam logika, ungkapan yang sangat berkesan sulit ia lupakan mengenai: mustahil uang akan turun begitu saja kalau kerjamu seperti ini, mendingan kamu jadi pembatu sekalian, itupun ada gaji perbulan atau apakah uang itu akan berjalan sendiri melalui tulisan ecek-ecekmu yang menciptakan hidup gali lobang tutup lobang, buanglah semua itu, atau cari kerja yang tepat. Tak termakan olehku gayamu yang santainya menjalani kehidupan yang sulit, atau masihkah kamu mengharapkan impian untuk jadi ”penulis” terkenal katamu dulu..?
Sahabat yang baik dia mampu mengkritisi kekurangan kawannya dengan solusi yang membangun, ada di saat susah maupun senang. “Sahabat” zaman sekarang sulit untuk dicari, ntah kemana lagi akan di cari sesuai dengan perhitungan nilai tertinggi pribadi seorang sahabat, Rexa punya jitu ampuh untuk mencari sahabat yang dihati, melalui cara menghargai apapun yang menjadi kesenangan kawannya itu dengan meluangkan waktu apa bila suatu saat seorang sahabatnya itu membutuhkan pertolongannya.
Rexa melangkah di sepanjang jembatan Siti Nurbaya sementara yang hadir di situ hanya manusia yang berkelompok, jarang menemukan orang dalam keadaan pergi sendiri sepertinya. Rexa menciptakan banyak tatapan dan senyuman orang yang menyuruh mampir di tempat penjualan pisang panggang, jagung panggang dan sebotol teh botol. Diam-diam Felly tersenyum geli melihatnya berjalan menuju pembatasaan jembatan seraya saat itu Felly masih dalam masa meliput berita.
“Haaa.., ngapain lu Rexa mondar mandir kayak stika aja..? masih pengintaian atau acara mencari inspirasi..? Hai.., loh di panggil nggak nyahut, maklum Felly yang badanya seperti bodigar mulutnya masih tertutup helm..
“Hai Fell, loh kok disini?”
“Kebetulan aku ada job bagian sini.”
"Waw kebetulan sekali Fell, aku sendirian, tuh orang pada pasangan,”
”We.. maunya, aku kan kerja Rex,”
”Iya aku tahu apakah aku bisa membantumu?”
”Apa yang akan kamu bantu?”
”Oh ya tema kamu kesini apa Felly?”
”Ne..ntar lagi kan malam minggu, pasti banyak pasangan muda-mudi memadu kasih disini, kecuali aku he.. he.
”Woh jomblo gersang...”
Selama pengintaian, Felly dan Rexa saling berbagi informasi sesuai dengan apa yang mereka lihat, baik dari keadaan yang sopan sampai pada tingkat ketidak wajaran sepasang muda mudi yang belum di ikat pernikahan.
Malam semakin larut, Felly dan Rexa melanjutkan pengintaian di sepanjang pantai Padang, suasana semakin heboh dengan adanya pertunjukan band lokal, tak heran malam yang mengisyaratkan hujan di meriahkan dengan kerlipan mercun menandakan malam minggu makin asik yang menikmati, dan makin terjepit bagi yang tidak menikmati, karena apabila hujan angkot sangat sulit di dapati karena sesak.
Tepatnya pukul sembilan malam, Felly mengajak untuk mentraktir Rexa di kafe Wanita, suasana Bali ala kota Padang, disana mereka mendiskusikan hasil pantauan tadi. Sungguh jauh berbeda cara pandang Felly memandang dengan cara Rexa memantau, setelah di perlihatkan hasilnya maka Felly seolah diam seribu bahasa.
”Ne.. Felly hasil ku tadi, gimana menurutmu...?”
Sesaat setelah Felly membaca..
“Haaa..???”
“Haaa?, maksudnya apa Felly..?”
Mata Felly tertuju jauh menerobos dinding mata Rexa.
“Aku tak percaya, kamu menulis ini..?, tiada dalam fikiranku memantau ini..”
”Yang jelas ngomong dong..!”
”Dari sudut pandang yang bagai mana kamu mengambil ini..” Felly sungguh terharu, seakan apa yang ia baca barusan adalah pukulan yang berarti membangunkan matanya yang mulai sepuluh watt.”
”Hoi... yang jelas dong aku tak faham apa yang kamu maksudkan.”
”Ini Rexa, sebenarnya oleh pimpinan pusatku, ide dan cara kamu menulis inilah yang diharapkan pada kami, kamu menulis sesuatu yang belum pernah di tulis orang.”
”Kalau kamu?”
”Aku hanya menilai dari sisi moral dan adat.”
”Di gabungkan saja gimana Felly, biar ceritamu dengan ceritaku sangat berkaitan, toh tujuannya sama kan?”
”Emang boleh?”
”Ya.. iyalah, kan kamu yang bawa saya untuk mengekor kerjamu, walaupun aku meminta di awal.”
Sepintas dalam pandangannya yang menuju titik pantai, teringat olehnya catatan yang masih terputus oleh sakitnya, melanjutkan biografi sahabatnya itu. Rexa bertekat sebelum tahun 2010 ini habis ia harus selesaikan semua tugas yang masih terbangkalai, novel, cerpen, biografi, segala macam tulisan yang akan di perlombakan.
Hanya 15 menit di kafe Wanita, Rexa mengajak pulang Felly, walaupun jarak rumah berjauhan, tapi vespa telah menelusuri langkah awal dan akhir Rexa sampai di pintu rumah, tapi kalau felly tidak langsung pulang, justru ia kembali lagi kekantornya menyetor berita yang ia dapat hari ini.
Setiba dirumah, sepaket laptop putih menarik perhatian Rexa, berusaha menuangkan apa yang ia dapat seharian tadi pada narasi, sebagai bahan tambahan tulisannya nanti.
Walaupun saat ini kelahiran anak Leni Marlina telah memasuki dua bulan, Rexa belum juga ada waktu berkunjung menemui sahabatnya itu, karena kerja makin hari makin menumpuk serta sakit yang juga tak enggan jauh dari dirinya.
Di penghujung bulan Maret 2010 Rexa di percayai oleh salah satu PH Jakarta untuk membuat proposal film perjuangan pahlawan nasional asal Sumatera Barat yang bekerja sama dengan salah satu karyawan stasiun tv lokal, walaupun belum resmi jadi salah satu personil kru film dan belum adanya surat keputusan mutlak Rexa dengan senang hati menjalani tugasnya itu. Satu paket proposal telah siap di buat, yang tinggal hanya aplikasi di lapangan, menawarkan kepada pejabat-pejabat. Selama membuat proposal, ada suatu kebanggaan yaitu saat memperingati hari kematian pahlawan nasional Bagindo Aziz Chan bertepatan pada hari ulangtahun Rexa, dalam hatinya menyeru pilu bercampur haru.
”Asik..akhirnya hari ulang tahunku bertepatan dengan kematian Bagindo Aziz Chan, 19 Juli.., seumur hidupku tak satupun yang peduli dengan hari lahirku, apakah lupa, atau.., ah biarlah yang jelas aku sedikit bahagia, sekurang-kurangnya pihak keluarga Bagindo Aziz Chan mengingat tragedi itu, tapi kalau di tanya dalam hatiku, sebenarnya aku ingin merasakan kawan-kawan membuat pesta kecil, hadiah yang banyak, bahkan makan yang enak-enak..wah kapan ya?”
Selama keinginan Rexa untuk menulis proposal yang kedua, ada saja yang membuat dirinya tidak mau melanjutkan menulis proposal itu, secara sepihak tidak terlihatnya keseriusan pada kru, dan kerjanya tiada modal sedikitpun, termasuk pada saat harus memutuskan untuk melanjutkan ketahap tinggi.
Kejenuhan yang memuncak, membuat Rexa malas melakukan itu semua, ia berusaha untuk menghibur diri pergi ke Bukittinggi tepatnya di lapangan jam gadang, berharap bisa berkumpul dengan komunitas punk, anak jalanan, pengamen untuk membuka kembali inspirasi yang terkunci oleh kejenuhan dalam mengolah proposal. Pertengahan April Rexa di hubungi oleh rekan kerjanya dahulu untuk bertemu sekaligus mengenalkan suaminya.
Pukul 19.40 di Kafe Aceh Ulak Karang Padang, secangkir kopi khas Aceh berawal pertemuan itu, sosok pria berdarah Aceh, berparas ke Arab-Araban memberanikan diri menyapa Rexa..
”Assalamu’alaikum Ukhti..?” bahasa Arab yang masih menyangkut di anak lidahnya menyapa Rexa dengan riang.
”Wa’alaikumussalam Akhi..!” kebetulan Rexa punya besic bahasa Arab yang di dapatnya pada perguruan tinggi pada jurusan sastra Arab, menawarkan diri untuk bisa bekerjasama dengan nya di salah satu komunitas kebencanaan di lapai, tanpa basa basi Rexa yang suka sekali dengan dunia bencana, mulai bencana cintanya yang kandas ditengah jalan sampai kepada cintanya di ujung pelaminan. Batanggang membuat dirinya kembali menggoreskan keluakaan hatinya yang ntah kapan ia bisa bertahan dengan menjadikan dirinya manusia yang berkarater, bukan hanya menahan kantuk yang menghantui sampai pada impiannya untuk bisa menjadi pembicara handal, penulis profesional dan menjelajahi dunia dengan lentiknya ujung pena.
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|


























