Tiga Cincin di Liang Lahat (02)
KOPI, Tiada belaian tiada pujian tiada sapaan dan tiada uang jajan yang berkelebihan, dan tiada pula yang istimewa dari penggalan kisah hidupku yang saat ini masih mencari jati diri sebagai jiwa “berkepribadi”, “berprinsip dan berinovasi”. Berlari tak cukup kencang mengejar bayangan sukses dari balik keberhasilan mereka yang ber-uang, tak heran keberhasilan itu susah di cari karena keseriusan menatap bayangan diri dengan semangat untuk bangkit sempit sekali, sesempit hidung yang sedang tersumbat dan begitu jugalah sempitnya hidup yang dijalani tiada dorongan semangat dari yang terdekat. Ada kemudahan di balik semua itu yaitu timbulnya nilai mudah semudah meraih prestasi dengan memilah masalah rumah dan sekolah agar beasiswa prestasi selalu menanti tiap bulan gajian para pegawai Negeri. Tujuh puluh lima ribu rupiah sudah cukup bagi siswa kelas tiga SMA, selama rezki yang selalu mengalir itulah niat hati menjadi manusia nekat berawal. Sedikitpun tonggak gengsi terpatahkan secara membabi buta agar aku tidak terhalang melangkahi jurang hidup untuk sekian kalinya.
2001, tahun kebebasan dalam hidup ku, tahun yang akan menjadi saksi bisu perjalanan menuju makbulnya impian, nyatanya setangkai doa; “Tuhan Izinkan hamba menjadi manusia yang bermartabat dan bermanfaaat bagi setiap sesama sampai ajal menjemputku” selalu berdoa hanya itu ke itu saja, dan jangan sampai Tuhan bosan mendengar kelanjutan doaku yang kemungkinan besar berulang-ulang dalam ucapan dan berkata-kata dalam bilangan dan menangkis sumpah saat kedurhakaan singgah sejenak lalu istiqfar, itulah aku sosok wanita muda yang berbulu remang di sekujur tubuh, memiliki rantaian retak tangan berbentuk huruf alfabet, bermata jeli pada penglihatan yang bukan penglihatan dari orang awam pada umumnya tapi penglihatan yang tak kalah canggih dari penglihatan para normal, bermata sayu penglihatan tajam berlingkar abu-abu dan tidak berbulu pada kelopak bawah.
Semenjak merantau ke daerah lain yang jaraknya lima jam perjalanan dari rumahku, keilmiahan berfikir masyarakat bercampur dengan kemustahilan dalam logika, karena kos yang kutempati semuanya berbau mistis, ditambah lagi dengan kemistisan yang kupunya saat masih dalam kandungan, semuanya aneh bagi masyarakat awam dan biasa saja bagiku, semua yang kulihat bila malam tiba ketransparanan terlihat jelas di sudut angker bagi orang, mengasyikkan bagi diriku. Pandainya aku melihat yang tidak bisa dilihat oleh orang lain membuat aku merasa berbeda dengan kawan kampusku, karena setiap ikut nimbrung makan di kafe tua di sebelah gedung fakultas maka terlihatlah jelas rombongan manusia halus di antara mereka, dan temanku tidak akan pernah merasakan dan tahu akan hal ini. Semua ku tutup rapat serapat musibah yang melanda mahasiswi ilmu akuntansi kerasukan tujuh jin di tubuhnya. Meronta, menjerit, marah dan dictator, mata melotot dan pingsan, tiada yang mampu menolongnya, dosen dengan sigap memanggil garin mesjid meminta pertolongan, hasilnya nihil, korban kerasukan semakin bertambah sampai pada tujuh orang, lagi-lagi tak ada yang sanggup menolong, kecuali ahli ruqiyah center yang di pesan datang dari telpon seluler, syukurlah bisa diselamatkan… Dan cerita singkat ini tidak perlu dirangkai lagi secara serius karena itu hanya penggalan sebuah arti rabun perjalanan, boleh percaya dan boleh juga tidak.
Gengsi tak mematahkan arangku untuk terus melanjutkan pertualangan yang masih kujajahi, antara kehidupan nyata dan kehidupan di bawah alam sadar, seperti temanku Rizal semenjak usianya menginjak dua belas tahun dia telah diwariskan oleh Eangnya ilmu meramal dan ilmu terawang lewat meditasi panjang dari Jawa Tengah, Sanusi pewaris tunggal ilmu pelet dari Banten, Ano calon “pemborong” handal yang keturunan Minang India, dan Ipung di gemleng sebagai buya kondang di ranah Minang.
Kami empat sekawan berusaha menerima keadaan kami dengan apa adanya, menjalani kehidupan yang serba tanggung dengan kepandaian hanya sebatas pengalaman, canggung menjalani pergaulan dengan bobot duit yang melimpah ruah, antipati terhadap dugem, menutup mata atas berpesta pora, memagar diri dari pacar yang selalu gonta ganti demi memuaskan nafsu sesaat dan dalam kamus hidupku, hidup ini adalah keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat dengan apapun jua, yang penting hidup harus dijalani sampai target Tuhan telah mencatat setiap ruh dalam jiwa untuk kembali kepangkuanNya. Syukurlah itu semua hanya pengamatanku kepada temanku yang tajir, seksi, dan…, ah sudahlah itu juga termasuk dalam daftar penyemangat hidup agar aku bisa menggenggam hidup sesuai dengan arah gelombang menerbangi angin badai pada satu poros lingkaran.
Mata kuliah bahasa Arab 2004
Setelah tamat dikeilmuan tanah, aku melanjutkan kuliah demi mengobati rasa pesaranku akan nilai-nilai berbahasa dalam mata pelajaran yang seratus derjat tidak adanya sangkut paut akan ilmu murni yang ku pelajari beberapa tahun nan lalu, pandai berbahasa selain bahasa ibu merupakan kesenangan batin yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, tapi bagiku yang awam Mata kuliah bahasa Arab menyulitkanku untuk mendapatkan IPK tertinggi seperti mudahnya ku meraih IPK di ilmu ketanahan, tapi sulitnya bahasa Arab memudahkan jalanku untuk mengurai kesulitan yang tersendat-sendat karena bekal kupunya hanya ilmu tanah bukan ilmu berbahasa untuk mengeja bacaan huruf Arab yang tidak punya baris sama sekali boleh dikatakan pelajaran kitab gundul.
Harapan yang terbesar untuk nimbrung kuliah berstatuskan Arab, berupaya bisa menjadi penerjemah handal walaupun yang diterjemahkan bahasa desa yang skandal dalam peperangan antara perang Pakistan dan Amerika.
Dari situlah bayang-bayang uang mulai memaksaku untuk mencari dan mengejarnya pada pekerjaan serabutan mulai dari tukang cuci, tukang ketik, tukang masak, tukang koran, tukang sayur dan sedikit bergengsi tukang guru ngaji. Demi uang lima puluh ribu, dua puluh pasang perhari baju karyawan kantor kucuci dalam seminggu, tiada sedikit pun yang bisa membuatku malu dan tak satupun juga kawanku mengetahui kerjaanku selain kuliah, selama tiga bulan suka dan duka sebagai tukang cuci borongan membuat aku berhenti dari pekerjaan itu, dukanya upah nyuci tidak dikasih selama dua bulan, dan sukannya aku mendapatkan pengelaman, sedangkan hidup dirantau orang menuntutku untuk selalu berusaha demi mengganjal lambung tengah.
Lain halnya dengan pekerjaan ku sebagai tukang masak, selama kuliah di jurusan Sastra Arab, aku sempat berkenalan dengan seorang Dosen, Zainab namanya, Bu Zainab menyuruhku pergi ke rumahnya untuk bersilaturrahmi, aku menyanggupi ajakan beliau, setelah enam kali selalu nyasar mencari keberadaan rumah bu zainab, akhirnya ku “ hallo, bu Zainab, saya Syekhana, udah enam kali saya nyasar mencari rumah ibu, kalau boleh tau alamat persisnya dimana ya bu? Dan bu Zainab menjawab dengan semampunaya ditambah dengan ketawa geli “ o….dekat kampus no 2” setiba disana bukannya duduk yang disuruh melainkan pergi ke dapurnya untuk membantu, apa yang bisa saya bantu.
“ bikin apa bu? Kataku sekenanya “o ini mau bikin rendang tapi aku tidak bisa maklum aku orang Sunda” kamu bisa Syekhana? “ Mmm..saya coba dulu bu habis udah lama tidak bikin masakan ini.
Ku mencoba sekuat tenaga untuk membantu masakan bu Zainab, tak terasa selama 3 jam aku belum juga dikasih minum layaknya sebagai tamu, tapi aku hanya diberi uang sembilan ratus ribu untuk upah ku memasak. Tak di sangka rezki itu tidak berpintu. Dan selama satu tahun aku dipercaya oleh bu Zainab sebagai tukang masak pribadinya.
Dan hari ini tepat tanggal 14 juli 2004, lima hari sebelum hari ulang tahunku, ibuk menelfonku untuk pulang ditanggal delapan belas, pulang untuk memenuhi keinginan kawan sepermainan semasa kecil untuk menerima pinangannya, bukan kata tidak ku utarakan pada ibuk tapi, kata ya yang kusampaikan dan lagipun dia adalah cinta monyet berkarakter lembut tegas dan pintar, segala persiapan yang telah dilakukan oleh kedua belah pihak untuk mencapai hari yang sangat spesial, cincin tunangan, simbolis mahar, dan penetapan hari yang sangat sakral juga telah secepat kilat dirancang demi menyatukan insan yang punya hati semenjak kecil.
Surat izin kuliah telah ku ajukan kepada pihak kampus untuk mendapatkan izin tidak kuliah selama waktu yang telah ditentukan. Tiada satupun dosen yang mengizinkan atas ajuan suratku itu tetapi dosen menyarankan agar aku bisa libur sebentar dan dianjurkan kuliah untuk secepatnya.
Dua hari sebelum hari tunangan itu, aku bermimpi tentang Liwi calon tungananku, dia tertawa terbahak-bahak dan duduk di atas kendaraan bekas tabrakan, mimpi itu menghantui jiwaku, debaran jantungku kencang sekali bila mengingat hari yang telah di tentukan oleh kedua pihak keluarga. Dan tanggal 17 sebelum tanggal 19 aku ditelpon oleh Liwi untuk tidak datang ke kampung karena dia mau pergi jauh sekali.
Liwi : assalamu’alaikum Na? kamu sehat?
Aku : wa’alaikumussalam Wi, aku sehat saja, ada apa ya? Bisa saya Bantu wi?
Liwi : Aku mau pergi jauh sekali, jadi kamu besok jangan pulang kampung ya
Aku : Lho…kok begitu wi ada apa wi? Apakah kedua orang tuamu udah tau? Dan bagaimana dengan hari pertunangan itu?
Liwi : Ah.. nggak usah dikasih tau kok, lagipun mahar, cincin dan hari ha nya untuk menentukan hari terakhirku kok.
Aku : Lho…kamu kok ngomong gitu sih?
Liwi : Ya karena aku pengen aja dengar suara kamu untuk malam ini saja besok belum tentu aku bisa mendengarnya.
Aku : Aku besok juga pulang wi, karena aku dah minta izin dari kampus dan orang tuaku juga berkali-kali menyuruhku pulang.
Liwi : ya terserah kamulah tapi, demi cinta, demi persaudaraan kita aku akan menunggumu di sana. “aku akan selalu Mencintaimu,
Aku : Wi…? (telpon udah ditutupnya)
Hanya lima belas minit lamanya percakapan kami, jiwaku gundah, apakah ada pertanda dengan mimpiku itu? Aku cemas, bimbang, dan sedih. Ada apa ya sebenarnya terjadi, apakah Liwi tidak suka samaku, atau aku tidak pantas untuknya? Berbagai pertannyaan menemaniku untuk begadang tidak ada sepejam matapun bisa tidur nyenyak seperti biasannya. Pagi- pagi sekali aku telah berada di terminal mau beli tiket untuk keberangkatan jam tujuh, selama dalam perjalanan gundahku semakin menjaadi-jadi banyak kejadian yang terlihat selama dalam perjalanan, tabrakan mobil dengan sepeda motor, tabrakan sepeda motor dengan sesama sepeda motor, dan mengakibatkan cidera dan banyak menelan korban. Aku tidak tahu apa hikmahnya itu, lima jam perjalanan akhirnya aku sampai juga di rumah.
Sepi, sunyi, dan tiada satupun yang menjawab salamku, ibuk, ayah, dan keluargaku kata tetangga pergi ke pasar sebrang, ada yang meninggal, aku heran diantara keluargaku siapa ya yang meninggal? Kebetulan duplikat kunci rumah ada dalam tasku, rumah begitu rapi, ada hiasan indah di dinding, bercat putih bercampur ungu, mahar, cincin, dan kamarku pun ikut rapi.
“ Eh… kamu kapan nyampainya na? Kata karyawan ibuku
“ Baru sebentar ini mang” oh ya Ibu, Ayah kemana sih… kok rumah sepi sekal?
“ Waduh Na, lebih baik kamu ikut deh.
“ Kemana Mang, ke pasar seberang, ada…ada…aduh aku tak sanggup bilangin ini semua sebelum kamu pergi sendiri tapi kamu yang sabar ya.
“ Sebenarnya ada apa an sih Mang? Ayah tabrakan ya atau…?
“Ah nanti aja deh kamu lihat.”
“Oke deh Mang”
Sesampainya di pasar seberang semua keluargaku, keluarga Liwi melihat dan memelukku, tapi aku tidak boleh melihat siapa yang mereka tutupi sama kain kuning itu.
“ Kamu sabar ya Na” Sahut ibu dengan sedihnya.
“Ada apa bu? Semua mata tertuju kaku padaku
Liwi… Na, Liwi… di tabrak orang terdampar tubuhnya sampai enam meter, dan benaknya bercerai berai di aspal itu. Dengan sangat sedihnya orangtuaku menyebutkan itu semua, akhirnya timbul keinginan spontanku untuk mengumpulkan ceceran benaknya yang masih jelas terlihat di aspal, banyak yang melarang, tapi aku tidak mendengarkannya, dan polisipun ikut melarangku dengan alasan itu masih tugasnya polisi, dan aku tetap juga tidak mendengarkannya, tak segan-segan polisi itu sempat marah padaku, dan masih dengan spontan aku juga ikut marah pada polisi tersebut, dan akhirnya semua masyarakat, polisi dan seluruh keluargaku dan keluarga Liwi hanya melihatku dengan tangisan yang sungguh dasyat, mengumpul satu persatu ceceran isi kepala Liwi, ku kumpulkan dengan jilbab yang masih kukenakan, tak satupun rasanya yang tersisa lagi, setelah terkumpul kulekatkan ke kepala Liwi, banyak sekali darah bertebaran kesana kemari, namun aku juga tidak bisa menangis, tangisannku sudah tertahan dengan rasa sayang ku kepadanya.
Walaupun wajahnya tidak bisa dikenal lagi namun dengan rasa sayang itulah aku gendong dia yang pertama dan yang terakhir untuk memasukkan kedalam mobil ambulance. Tak satupun orang yang menghalangiku, semuannya diam mengharu biru.
Darah dibajuku akan menjadi saksi bisu betapa tulusnya cinta itu. Walaupun dia tidak sempat kumiliki namun kenangan itu akan menjadi pengobat rinduku diasaat ada lelaki berwajah mirip dengannya. Malam harinya setelah pemakaman aku disuruh kerumahnya untuk menjemput pesan yang dititipkan pada kedua orang tua Liwi dan kebetulan ibuk dan ayahku juga datang untuk melakukan malam salawat suatu adat di kampung kami, dan setiap ada yang meninggal malamnya diadakan salawat tujuh hari berturut turut.
Sekali lagi air mataku kering. Malamnya sebelum pergantian waktu aku di beri oleh orang tua Liwi surat ber amplopkan hijau, ditengah keramaian itu pula aku diminta orang tua Liwi membacakan isi surat yang ia tulis.
“Pariangan
Kepada, sahabat dan kekasihku
Yang terhormat
“Sungguh aku tidak mengerti akan rahasia hidup sesudah ini, kau sahabatku tapi kau sejuk bila ku ingat bersamamu, tak satupun aku mengerti betapa kejamnya dunia jikalua tidak bisa ditaklukkan dengan sebuah hembusan nafas cinta, aku bangga bila mengenalmu dan menyelami kepribadiannmu semakin jauh. Kau dan aku sungguh berbeda, aku seorang musisi dan kamu seorang petualangan, aku berharap ingatlah aku di saat engakau masih bisa menempatiku pada posisi hatimu yang sangat merindukan indahnya dunia, maaf jika selama ini aku pernah menyakitimu, dan membuatmu terlalu berarti dalam hidupku., Selamat berkurangnya hidupmu, selamat hari wafatmu, selamat hari jadimu dan selamat bertambahnya umurmu.
Aku akan selalu menantikanmu di dermaga surga.
Pesanku jadilah bunga melati diantara riuhnya bau duniawi
Salam sayang selalu
Liwi
surat itu sampai sekarang masih tersimpan rapi bahkan surat itu kuberi bingkai warna kesukaannya. Hari- hari selalu kulalui dengan sedikit kemurungan, jujur aku belum siap bila ditinggal sendirian, namun itu semua terobati dengan keceriaan anak asuh yang kudapati selama menjadi penulis amatir.
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|


























