Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai

Login & Kirim Warta



Komentar Warga

Kolom Pewarta
Kriteria Calon Presiden Masa Depan (142/.....
20/05/2012 | Muhammad Haries

KOPI - Seperti yang kita ketahui pemilu capres dan cawapres semakin waktu semakin dekat. Seluruh ele [ ... ]



Yang Terpinggirkan
Penertiban PETI di Tanah Bumbu; Iya Kand.....
22/04/2012 | Imi Suryaputera

Sangat keterlaluan saya kira bila pengawasan terhadap aktivitas pertambangan batubara ataupun jenis  [ ... ]


Foto Pewarta
Pisah Sambut Camat CibitungMusik di Tenis Indoor SenayanKelapa Sawit Indonesia, Pasar Pemain Dunia
Gelora Sepeda
TelkomVision Gandeng Kemensos Gelar INDO.....
21/05/2012 | Yeni Herliani
article thumbnail

KOPI - TelkomVision dalam usianya yang ke-15 kian menunjukkan komitmen dan kepeduliannya terhadap masyarakat dengan memberikan kualitas produk yang baik, kemudahan layanan, dan kepedulian terhadap k [ ... ]



  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
Statistik
Anggota : 5024
Isi : 8250
Content View Hits : 1861700
mod_vvisit_counterPengunjung Hari ini2126
mod_vvisit_counterPengunjung Kemarin4119

Warga Online : 53
IP Kamu : 38.107.179.218













Inspirasi Cerpen-Cerbung Tiga Cincin di Liang Lahat (03)
Pemberitahuan: Bagi Peserta Lomba Lomba Menulis Artikel Tingkat Nasional tentang RI-Maroko yang belum mendapatkan kiriman Piagamnya hingga saat ini, mohon beritahukan ke Panitia melalui SMS/Call ke 081371051875 (Mbak Wina), PPWI akan mengirimkan soft-copy Piagam dimaksud melalui email yang bersangkutan. Untuk itu, kirim SMS ke nomor HP 081371051875 dengan format: NAMA LENGKAP spasi (NOMOR ARTIKEL) spasi ALAMAT EMAIL. Contoh: ALVIN TRI DANDY (598/S) noirescence@yahoo.com. Mohon segera dan beritahukan kepada rekan lainnya yang belum mendapatkan paigamnya juga. Terima kasih.

Tiga Cincin di Liang Lahat (03)

Satu Langkah Sekaut bayang

“Gadis banyak anak”

putri dari lorong kemiskinan,

ratu sengsara lewat, itu segelintir gurauan yang tak pernah menenggang (menghargai) perasaan orang lain. Maklum mereka yang tak mampu menerima kekurangan karena mereka belum sanggup dan tidak tahu apa rencana Tuhan dalam kemiskinan selama nyawa masih dikandung badan. Gadis tomboy serba cuek, suka bepergian dan sedikit suka mengasingkan diri dari keramaian, dan tidak terlihat goresan kelembutan diwajahnya, yang terlihat adalah wajah kasar dan lukisan brewokan yang menutupi ciri khas seorang perempuan.

Ketertarikanku pada sesosok anak kecil yang berumur 6 bulan sebagian tubuhnya dipenuhi ulat belatung yang terkapar di pinggir jamban dimana, tempat itu sering kulalui saat pulang pergi maraton. Ada yang ganjil dalam pandanganku setiap kaki memintaku untuk istirahat sejenak dari kepenatan, selama ku amati seharian penuh dalam per istirahatan, hatiku teriris berkeping-keping rasanya tak satupun peduli dan tidak tahu keberadaan terhadap anak yang malang lagipun posisi anak itu cukup jauh dari keramaian.

Setiap yang melewati gang jamban itu menjadi pameo (omongan orang) sebagai jalan yang paling kumuh diantara jalan yang pernah dilalui, hari pertama ku amati hanya kaget luar biasa tapi tidak ada jalan keluarnya atas kejadian yang barusan dilihat, hari kedua semua persendianku makin layu karena kondisi yang kulihat kemaren berubah menjadi kondisi santapan semut, hari ketiga ku kembali untuk melanjutkan aktifitas seperti biasa namun mataku tak mau berpindah pandangan yang terlihat hanya kesedihan mendalam bercampur pertanyaan yang bergelayut dalam benakku apakah anak itu benar-benar teraniaya dan serius butuh pertolongan dan….. dimana orang tuanya…..?

Hari ketiga ku beranikan turun kejamban yang sudah lama tidak difungsikan lagi, mencoba mendekat dan menerangi dari henfonku, makin mendekat makin tak kuasa menahan penasaran batinku,

“Ah… masak masyarakat tidak tahu akan keberadaan warganya yang hilang”? Gumam kecilku. Dengan perlahan ku ayunkan langkahku, bukannya kemulusan yang kulewati tapi ketakutan yang menghujam karena di atas jamban itu ada ular sebesar dua kali jempol orang dewasa bertengger pada tubuh kecil tanpa bergerak, walaupun ku terbilang anak yang bisa menaklukan ular tapi…ularnya beda, “waduh…., takutnya anak itu makhluk jadi-jadian”, untung disamping jamban itu ada bilah (pohon betung) yang bisa membantuku untuk menjangkau anak dan ular dari jauh semakin kuat ku bangunkan anak itu untuk memastikan apakah masih hidup atau sudah mati, beserta ular yang menjadi penghalang untuk memegang dan merasakan nadinya, ternyata yang tidak bergerak adalah ular, sedangkan ada reaksi dari suara rintihan anak yang tak beruntung seolah-olah dalam rintihan dia mengatakan betapa sakitnya yang ia diderita.

Ku berlarian ke jalan untuk meminta pertolongan dari setiap yang lewat, respon mereka yang mendengar permohonanku menanggapi dengan cepat, “pak tolong ada anak kecil dijamban bersama ular yang sudah mati terkapar dijamban itu” pak tolong, tolong pak, dengan penuh kepedulian dan keingintahuan mereka yang mendengarkan turun beramai-ramai untuk membantu diriku, setiba di bawah tak satupun yang dapat membantu anak tersebut dikarenakan ada penghalang yang menakutkan, ular, mereka takut pada ular, mau tak mau akhirnya ku beranikan diri untuk memulai semuanya mengangkat ular dengan bilah yang masih kupegang.

Makin mendekat pada sosok anak malang tersebut makin terciumlah bau yang tak mengenakkan, ada yang muntah dan menghindar, ada yang merasa jijik dan tak mau melanjutkan pertolongan itu, dan ada yang tetap membantu sampai membuang ulat yang masih melekat dibagian kemaluan dan dipusat anak malang, alhamdulillah walaupun menguras waktu yang cukup lama akhirnya anak malang dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Setibanya di rumah sakit, bukannya pertolongan pertama yang dikeluarkan malah ada di antara perawat yang tugas malam mengatakan.

“Sekarang tidak jadwal kami maaf,”

“Ayo buk”

Bantulah anak ini dia sudah lama terabaikan,

“Apa salahnya ibu membantu sekurang-kurangnya memberi oksigen dan menghangatkan tubuh layunya,”

“Buk bantulah kami!

Tolong bu…? Setiap perawat yang datang kami berusaha untuk meminta pertolongan mereka tapi…, permintaan kami itu sia-sia saja.

Tak segan- segan aku berlari menuju ruangan dokter yang dinas malam, sebelum dia pulang ku berlarian menuju kantor yang dirasa dokter sedang siap-siap menuju pulang, tak heran dengan keadaan yang membingungkan, ku menyenggol setiap mereka yang masih pules tidur di emperan jalan rumah sakit ada yang marah, dan ada yang diam saja melihatku dan ada yang mengejarku sampai dapat untuk membalas senggolanku karena aku telah membangunkan mimpi indah mereka.

Nasib mujur beralih pada anak malang yang kami temukan, ternyata ada dokter yang dari tadi telah mengintip dari jendela ruangan per istirahatannya, dia rasa perawat telah membantu memberikan bantuan pertama, sampainya aku di depan ruangan dokter, belum ku ketuk pintu ternyata dokter telah siap dengan alat yang akan dia bawa, pak dokter “Ayo dek,”

tolong kami pak,

dengan nafas yang masih berpacu dengan semangat peluhku,

“Ayo pak…”

“perawat telah memberi bantuan pertama kan?”

“Aduh….. pak tak ada perawat yang mau memberi pertolongan pertama pada kami pak, semuanya mengelak dengan alasan ini tidak jadwalnya, begitu erat genggaman pak dokter memegang tanganku, mengajak bersigegas(cepat-cepat) membantu anak malang itu”

“Sekarang anak malang itu berada dimana?

Dia di depan pintu masuk rumah sakit pak ditemani dengan warga yang membantu.

Pancaran kekecewaan terlihat sepintas pada senyuman pak dokter, dan bersahajanya, kepedulian pada sesama mendorongnya untuk sungguh-sungguh membantu kami. Tanpa banyak pertimbangan kami disuruh pak dokter menaikkan anak malang ke atas dipan (tempat tidur) di ruangan vip, kami pun menuruti kemauan dokter sampai pada tahap pencarian donor darah.

“Anak malang ini bila sehari lagi terlambat mendapatkan pertolongan medis mungkin dia tidak bisa tertolong lagi.”

“anak ini banyak kehabisan oksigen, banyak kekurangan darah dan pernafasannya pun tersumbat.”

Terimakasih, saudara telah membawanya kemari,

Kami yang datang saat itu hanya tertegun mendengar perkataan sang dokter yang dermawan,

“O...ya di antara saudara disini ada yang bergolongan darah B? karena pasien ini golongan darahnya B, ada? “ada pak, saya B golongan darahnya pak,” Sebentar lagi posko PMI akan buka kira-kira jam delapan, sekarang baru jam tujuh tiga puluh. Ba…baik pak, tak sanggup mengucapkan terimakasih sampai begitu luar biasanya kepedulian seorang dokter terhadap mereka yang membutuhkan. Aku malu seakan babak baru kehidupan harus akan disejarahkan pada pengalaman yang tak bisa ditawar dengan materi. Selang lima menit ketafakuran pandanganku ternyata informasi anak hilang yang dikabarkan oleh media elektronik tertuju pada Yoyon sianak malang. Bukan polisi saja yang datang melainkan kru dari pusat pertelevisian lokal mendatangi kami saat diruang VIP bersama rombongan masyarakat setempat.

Saat diwawancarai semua yang membantu dan mengantarkan Yoyon si anak malang kerumah sakit menghindar, telunjuk mereka mengarahkan pada diriku, yang saat itu aku masih melakukan perintah dokter untuk membilas tubuh kurus Yoyon. Dokter memintaku untuk berhenti menyudahi perintahnya dan menyarankan agar aku bisa menjelaskan kronologis penemuan Yoyon si anak malang.

“Merasa setubuh dan sejiwa” adalah jawabanku yang membuat setiap wartawan maupun polisi yang bertanya padaku terdiam dan terharu, selain pertanyaan lain yang nggak bisa kujawab adalah “dari mana dan mau kemana biaya perawatan anak malang dicari, sedangkan Yoyon si anak malang adalah anak simata wayang setelah kejadian kebakaran yang beruntun di kota yang tidak jauh dari tempat kosku, berjarak 5 kiloan dan arus banjirlah yang menyeret hingga Yoyon terbawa arus yang akhirnya berdampak negatif pada pemakai jalan, tabrakan dan kumuh.

Semuanya tentang biaya perawatan Yoyon si anak malang telah dijawab sendiri oleh dokter Hayyas, “semua perawatan Insyaallah saya yang nanggung, karena melihat pengorbanan mereka, dan besarnya kepedulian mereka yang telah membantu membawa anak sampai kesini itu sudah besar biayanya dibandingkan biaya perawatan anak malang ini”

Pagi yang begitu bijak sebijak hati dokter Hayyas yang bijaksana. Tak ada komentar apa-apa selain ucapan terimakasih yang sebesarnya pada pelayat dan pencari berita,

“Saya selaku dokter yang mewakili meminta izin selama tujuh jam demi memulihkan kembali kondisi pasien, kalau pelayat yang ingin melihat, lihatlah setelah tujuh jam yang telah dijadwalkan, dan saya meminta tolong kepada saudara-saudara pencari berita maupun kepada rekan polisi jika golongan darah saudara semua ada yang bergolongan darah B, saya secara pribadi meminta untuk didonorkan karena si pasien membutuhkan delapan belas kantong darah”.

Semuanya terkesima mendengar permohonan dokter Hayyas.

“Dengan senang hati kami akan membantu pasien malang dan menginformasikan lewat televisi bagi yang berbagi kasih sayang dengan mendonorkan darahnya untuk kelangsungan hidup yang membutuhkan khususnya pasien, semua telah sibuk antrian di posko PMI termasuk dokter Hayyas yang seharusnya ia telah pulang kerumah dan digantikan oleh rekan sesama dokter”

Tenang, bersahaja dan berwibawa di bawah naungan wajahnya yang teduh membuat para perawat bertanya-tanya apakah ada hubungan dokter dengan pasien? Kok sampai segitunya dokter mengorbankan materi dan waktu istirahatnya.

Semakin lama semakin banyak saja yang datang dari berbagai kalangan mendonorkan darahnya untuk Yoyon, kalau darahnya lebih dikasihkan pada yang mebutuhkan. Memang benar yang di seberang kota ku telah terjadi kebakaran masal yang memakan korban tujuh kepala keluarga dan ditambah air laut meninggi sampai membanjiri semua tempat, banjirnya mencapai satu meter tinggi orang dewasa dan mengimbas kejalan raya yang tiap pagi ku lalui pulang pergi maraton.

Selama di rumah sakit sepulang kuliah aku selalu mendampingi Yoyon dengan seizin dokter Hayyas, selama seminggu dirawat Yoyon telah menampakkan reaksi, badannya yang kurus sedikit telah berisi, wajahnya yang pucat telah segar, darahnya bekas ulat bersarang telah berangsur kering, tapi makan masih disalurkan lewat slang ke hidungnya, dan matanya yang bengkak berdarah belum juga bisa melihat, dan telinganya belum juga bisa mendengar, walaupun demikian kebahagiaan akan muncul di sunggingan bibirnya. “nda…nda” sesekali terdengar rintihan haru dari mulut kecil Yoyon memanggil ibunya, andaikan kamu tau Yon apa yang sebenarnya terjadi pada keluargamu, gumaman batinku yang tak bisa menahan kisah hidupnya.

Assalamu’alaikum Pak Hayyas, wa’alaikumussalam terdengar dari balik pintu kantor, masuk dek, silahkan duduk.

“Maaf pak mengganggu” nama saya Syekhana

“Saya ingin bertanya tentang perkembangan Yoyon, apakah dia bisa melihat dan mendengar besok pak”? dengan senyuman yang khas, dokter Hayyas mengatakan “mudah-mudahan bisa tapi tidak sejernih pendengaran anak se usianya, kecuali dilakukan terapi lilin pada telinganya, karena gendang telinganya telah banyak di tutupi jamur, begitu juga penglihatannya tidak sejelas kita melihat, karena retina matanya telah mengalami radiasi terputusnya syaraf pada mata di akibatkan hempasan kepala ke tembok terlalu keras. Lagi lagi dokter Hayyas mengayunkan tangannya dan mengucapkan

“Terimakasih atas kerja samanya.”

“Sama-sama pak Hayyas,” Permisi pak saya mau pulang dan saya titip Yoyon pada pak dokter, “Ya insyaallah…”

Tuhan…

Ternyata masih ada orang yang berhati mulia dizaman sekarang, sepanjang ruangan menuju gerbang hatiku selalu bertanya-tanya, siapa sih dokter Hayyas itu? Terlalu banyak perawat membicarakan ketampananya, dan…, ah itu cuma isu yang tidak perlu ditanggapi, setibanya aku di tempat kos, yang terbayang bukannya kondisi Yoyon tapi, sepintas ucapan yang terekam tak sengaja dari ruang perawat yang kulalui, “Dokter Hayyas baru masuk Islam lho…, selama ini dokter Hayyas menganut dua agama, Hindu dan Protestan dan keturunan Jepang Minang. Tapi setelah empat bulan semenjak pindahannya ke Indonesia, dokter Hayyas masuk Islam, selama empat bulan dokter Hayyas belajar bahasa minang secara intensif.

Andaikan para perawat yang berbicara tentang dokter Hayyas bisa mengambil hikmah dari mana dan apa tujuan utama yang di embankan bagi seluruh pelayan masyarakat khususnya perawat mungkin rasa malulah yang akan menutupi wajah mereka, karena begitu tertinggalnya pengetahuan para pelayan masyarakat akan visi dan misi yang sering dikumandangkan dan dipajang di setiap dinding rumah sakit.

Bermaknanya hidup dikala bisa merasakan penderitaan sesama. Ternyata bukan Yoyon saja yang dibantu biaya perawatan sampai sembuh, melainkan banyak lagi pasien yang tidak mampu untuk membayar biaya persalinan dan biaya operasi. Sempurna sudahlah kekuasaan Tuhan menciptakan alam semesta ini, disaat tiada berdayanya seseorang datanglah sebuah tongkat keikhlasan untuk membantu sesama, ya itulah ke ikhlasan yang tidak mengharapkan pamrih, dan ketulusan yang tidak diharapkan pujian.

 

Sebelum kuliah aku harus kerumah sakit dahulu melihat perkembangan Yoyon, semoga Yoyon bisa melihat dan mendengar, karena sudah seminggu aku tidak kerumah sakit di karenakan semakin banyaknya tugas kuliah dan persiapan ujian semesterku yang pertama di tahun dua ribu satu, seperti biasa mereka yang simpati pada keadaan Yoyon selalu datang silih berganti, dan begitu juga aku, aku tidak mau kalah dengan mereka, aku harus cepat datang biar aku yang memandikan dan menyuapi Yoyon makan. “Terlanjur cinta” perasaan inilah yang membuatku selalu melihat dan mencintai Yoyon seperti adikku sendiri.

Satu bulan penuh Yoyon dirawat di rumah sakit, dan satu bulan pula kebersamaanku dengan pak dokter dan Yoyon, banyak ilmu yang dapat ku ambil dari perjalanan hidup dokter Hayyas, saat ia membicarakan kisahnya di Jepang terhadap masyarakat yang sakit, begitu besar kepeduliannya pada pasien. “Kesehatan itu mahal, mahal itu bukan uangnya tapi keikhlasan dan ke jujuran,” Sebelum Yoyon diserahkan ke panti asuhan, kursi tua di sudut mushollah rumah sakit menjadi saksi bisu dokter Hayyas menceritakan pengalaman hidupnya padaku.

Yoyon si anak malang walaupun belum pulih total, dia di asuh oleh yayasan panti asuhan “usaha permata” ku berharap semoga Yoyon betah dan mendapatkan kasih sayang yang lebih dari pembina panti asuhan, di sekolahkan serta di berlakukan seperti anak kandung sendiri. Amin …!

Aku sedih satu aktifitasku sedikit menghilang Yoyon pergi, aku selalu sibuk dengan kuliah baruku menjelang semester dua, siapa lagi ya…yang bisa ku bantu. Seiring berjalannya waktu aku dan dokter Hayyas jarang ketemu lagi, semenjak Yoyon pergi dari rumah sakit tak ada lagi ku menemukan sosok pria yang bersahaja di luar rumah sakit, maupun saat aku berada di rumah sakit saat menjenguk teman yang luka-luka karena kebakaran di kosnya.

Banyak kenangan bersama dokter Hayyas, memang betul kalau anda ingin di hargai hargai dulu diri anda, tergiang-ngiang di pelupuk kantukku nasehat bijak para sufi, penggalan kata itu ku dapat karena aku suka membaca, ya membaca alam sekitar, membaca diri sendiri dan membaca kebaikan dan kejelekan, itu semua tak jauh, jauh dari kata “pengalaman” guru yang tak pernah marah dan tidak pernah jenuh menghadapi muridnya dan pengalaman juga memberikan konstribusi positif pada mereka yang menjalani hidup dan kehidupan ini, ada pengalaman baik maupun buruk semua itulah guru yang berjasa secara otodidak.

Masa liburan semester telah datang, aku sebagai mahasiswa baru tidak dibolehkan pulang terlebih dahulu selama tiga hari, karena ada pelatihan pembuatan makalah dan pengkaderan untuk organisasi yang dipandu oleh BEM Jurusan. Banyak keuntungan yang ku dapat saat pelatihan pembuatan makalah, di hari kedua latihan, kak pembina walau umurku lebih tua dibandingkan mereka menyuruh kami pergi ke pustaka untuk mencari bahan makalah yang temanya bebas, maklum baru pertama dalam bahasa Arab, lain yang di suruh lain pula yang ku buat, justru makalahku berbentuk kerangka proposal yang mengarah pada metode penelitian, pembina dan instruktur memanggilku secara empat mata, karena mereka tidak mau mempermalukanku akhirnya hari itu juga aku di percayai untuk memulai penelitian yang di arahkan oleh buku panduan yang masih ku pegang yang di pantau terus selama pelatihan.

Judul proposalku tak tanggung tanggung “peran dokter terhadap sinergi kerja para perawat” Penelitian ini ku selesaikan selama satu setengah hari, aku cukup mempunyai data dan fakta dan metodenya secara wawancara dan observasi ke lapangan, tinggal di foto dan akhirnya di situlah kembali pertemuanku dengan dokter Hayyas, penelitianku cukup mudah karena dokter Hayyas dengan senang hati membantu penelitianku, aku di pinjamkan kamera oleh dokter Hayyas, dan di berikan sedikit masukan, istilahnya kata-kata bijak. Penutupan pelatihan akan di tutup sebentar lagi, waktuku hanya tinggal satu jam lagi, semua yang ku lakukan ini berkat kekagumanku pada sosok dokter yang dermawan yang jarang ku temui. Suara adzan telah memanggilku untuk cepat-cepat membenahi diri menuju musholla bersama dokter Hayyas dan setelah itu aku harus tancap gas untuk sampai di kampus sebelum penutupan di mulai. Biar bagaimanapun jeleknya tulisan tangan yang di goreskan oleh dokter Hayyas, menjadi buktiku sungguh- sungguh terhadap apa yang telah ku tulis.

Setiap lembar yang dibaca oleh instruktur semuanya mengangguk- angguk seakan mereka juga ikut menyelam ke dalam hasil penelitianku. “Dek ini di ketik rapi ya”? “Ini semua kan sepuluh lembar doble folio di ketik rapi dengan spasi 1/5 semuanya mungkin menjadi lima belas lembar.” “Baik kak, tapi…, uang saya habis membayar ongkos tadi kerumah sakit, dan saya belum tentu bisa pulang kekampung lagi karena ongkos saya juga tidak ada, “Kalau begitu kamu tidur tempat kakak aja malam ini, kamu boleh mengetik di kosan kakak.

“Kalau begitu terimakasih banyak ya kak, berarti aku boleh mengetik sepuasnya, iya kamu boleh mengetik sepuasnya. Pesan singkat lewat memo telah ku selipkan di bawah pintu masuk agar kawan sekamarku bisa tahu dan tidak menghawatirkan keberadaanku. “Hayu dek kita pulang ke kosan kakak”, ajakan dari senior membuatku bersemangat melanjutkan babak berikutnya yang harus di tulis dan di jadikan sandaran hidup untuk lebih bangkit dan bangkit. Ternyata sesampainya di kosan itu, aku malu untuk masuk karena dalam kamar yang ukuran 3x8 hanya sendirian dia tinggal, setiap sudut kamar terpajang piala kaki empat dua piala dan lima piala kecil-kecil yang tersusun rapi bersama rapinya susunan buku dan baju, menandakan kak Maya termasuk orang serius dalam bidang perlombaan dan berprestasi dalam bidang keilmuannya.

Semua serba instan, air dari galon yang hanya tinggal pencet, nasi tinggal tekan dan sambal tinggal beli di depan kosan.

Selayaknya tamu aku di servis dengan baik. “Kapan pun adek mau mengetik silahkan aja asalkan jangan terlalu larut mengetiknya.” Aku di suruh tidur terlebih dahulu nanti kira-kira jam sepuluh dia membangunkan ku, karena terlalu banyak tenaga yang di keluarkan tadi sore.

Jam sepuluh teng, aku dibangunkan oleh kak Maya, semua makanan telah di hidangkan untukku, aku disuruhnya solat dan makan, sesampainya di kamar mandi, bukannya tempat sabun yang ku temui, malah susunan buku yang tebalnya mencapai ratusan lebih halaman di buku yang tersusun rapi dengan rak buku yang tertutup sehingga kalau mandi tidak tersentuh oleh air. “Maaf kak sabunnya dimana ya? “Oh ya tuh sabun ada di belakang lemari buku, putar aja ke kanan tombol ijau itu ntar terbuka sendiri, “Ya…i..ya kak, waw kerrrrren abis…ruangan penuh teka teki, aku jadi kerasan bermalam disini.

“Na kok lama sekali di kamar mandi? Tok…tok..dek Na kamu baik saja dek…kecemasan kak Maya terasa olehku saat pintu mulai bergetar mengeluarkan suara mengisyaratkan aku harus menyelesaikan kegiatanku di kamar mandi, sedangkan aku sedang membaca buku yang berjudul “kamu pasti bisa” karangan warga keturunan Arab-Minang. Ya kak aku baik saja, “Waduh pasti kamu baca buku ya? Setelah semuanya buku yang ku pegang disusun kembali dan hanya satu buku yang "Kamu pasti bisa" itu aku bawa sampai ke depan kak Maya. “Maaf ya kak jadi nge-repotin. “Buku itulah yang membuat aku bisa berarti bacalah, dek, kamu kakak pinjamin buku itu ya, biar kamu lebih semangat lagi, serius kak pinjamin aku? "Iya baca aja “Oke deh kak.

Oh ya Na besok ada perlombaan pembuatan proposal kamu mau ikut? Pengen sih kak tapi saya kan baru semester satu, ah nggak apa-apa kok dek, yang penting adek coba dulu, gimana? “Mmmmmm…dengan banyak pertimbangan aku mencoba melirik kembali piala yang berkilau yang disemaikan oleh pancaran lampu philips. “Na, kamu itu termasuk anak yang berbakat, buktinya kakak lihat sewaktu kamu memberikan ide yang jauh dari praduga kami para instruktur pelatihan kemaren. “Ah janganlah kak…takut nanti karyaku jadi bahan olokan para dosen dan teman seperlombaan? Loh kok udah kalah duluan sebelum perang?

Semalaman aku dan kak Maya tidak tidur kami berusaha memperbaiki hasil risetku selama pelatihan kemaren supaya esok pagi bisa di kasihkan kepada panitia, sebab panitia lomba sedang gencar-gencarnya mencari bibit baru, jadi para panitia dari rektor membuka pendaftaran sampai hari minggu, dan kebetulan minggu besok itulah penerimaan terakhir.

Minggu ini kamu mau kemana Na jadi pulkamp alias pulang kampung? Kalau iya nih terima ya, kakak punya uang segini, kasihan kedua orang tuamu telah berharap menunggu kepulanganmu dilibur semester ini. terima kasih kak tapi saya tak ingin kakak memberi saya uang lima puluh ribu ini, bukan saya sombong kak tapi dengan kakak mengizinkan saya menginap, mengetik, dan membaca sebagian koleksi buku kakak itu udah lebih dari cukup bagi saya, tapi…kalau tidak kamu terima nanti pulangnya dengan apa? Makasih aja deh kak, oh ya gimana kalau kita sekarang ke kampus kak, mana tau ada pekerjaan yang bisa saya bantu, gimana kak? Dengan sedikit merasa heran, diam-diam kak Maya membungkuskan makanan yang berada dalam laci belajarnya memasukkan kedalam tas ransel tanpa sepengetahuanku dan selembar memo.

Tak ada satupun pekerjaan yang bisa ku bantu di lokasi kampusku, “Kak Maya ku pamit ke pasar ya mau cari kerja, yang penting halal, supaya bisa bertahan tidak minta-minta heeee.

Emang kamu mau kemana Na…biar kakak aja yang menanggung belanjamu sampai pengumuman lomba di umumkan minggu depan mana tau kamu bisa masuk final diantara 19 peserta kakak yakin deh kamu bisa juara. He..sekali lagi terima kasih aja kak biar aku berusaha dulu kak, oh ya pulang dari pasar aku langsung aja ke kosku ya kak. Semoga kebaikan kakak mendapatkan rezeki yang bertambah banyak. “Amin. Na, hati-hati ya pintu kos kakak masih terbuka kok buat kamu.

“Pasar dek….,pasar dek, telunjuk tangan sopir angkot merah menanyaiku, ya…ya bang. Begitu sepi sekali penumpang yang menaiki angkot si supir yang asyik manggut-manggut mendengarkan nyanyian yang berada di kaset rekorder kebetulan menjadi pajangan untuk memanjakan para penumpang. Belum lagi sampai pada perbatasan jalan, penumpang lain naik dengan suasana yang sedikit berbeda dari sebelumnya, yang naik ibu paru baya dengan barang dagangannya sampai memenuhi tempat duduk semuanya.

“Mau kemana nak? “Saya mau kepasar bu, ketemu, apa yang di cari, masalahnya semenjak awal ibu naik angkot ini, kamu sibuk dengan pencarian dalam tas ranselmu, sebenarnya apa sih yang kamu cari? He… saya mau cari uang buk yang ditaruh dibawah buku. “Uangmu ada berapa,? Cuman tiga ribuan kok bu, o…o ya kamu mau bantu ibu nggak, bantuin jualan sayur singgkong di emperan jalan raya? “Waduh dengan senang hati bu, sebenarnya saya butuh kerja untuk cari uang mau pulang kampung, pada dasarnya mau nambah uang anak jalanan yang berada dikontrakanku.

Segala ke gengsian ku kesampingkan demi uang untuk pulang kampung dan adik-adik jalanan itu, kalau uang untuk makan sih…bisa di puasakan untuk sementara waktu, paling ntar kalau ku lapar, kulari aja ke mesjid kala suara azan telah memanggil, melepaskan dahaga dengan air segar tak mengeluarkan uang se-senpun.

Bu Ani membagi dua sayurnya di dua tempat, di dekat parkiran saya di suruh bu Ani untuk melayani pelanggan, yang sebelumnya telah di bagi juga dengan almarhumah cucu angkat bu Ani. Bu Ani tidak pernah menanyai siapa nama dan dari mana asal ku, bu Ani seakan telah cukup lama mengenalku, akupun juga tidak mengharapkan bu Ani lebih mengenalku, tapi ada satu sifat dari bu Ani yang membuatku nyaman dengannya, “keyakinan”. "Ni ada dua puluh sayur kangkung bu titip padamu ya dan pakailah topi sawah ini supaya wajahmu tidak kepanasan? Oh ya dari dua puluh sayur ini kamu ntar kasih aja ke ibu kira-kira lima ribu aja, lima ribunya lagi ambil buat upah dari ibu, aku hanya terdiam sejenak mengingat jabaran pembagian hasil dan berapa harga pasti yang sayur kangkung ini.“Ya Tuhan ini pekerjaan baru buatku, betapa yakinnya bu Ani memberikan pekerjaan buatku tiada rasa curiga sedikitpun denganku, tapi ku tekatkan aku harus bisa membantu ibu Ani mejual sayurnya sampai habis.

Yur…sayur kak…, yur sayur bu…, udah setengah jam aku menawarkan sayur pada setiap yang lewat, terjualnya masih dua ikat, ya Robb…gimana caranya jualan menarik pembeli supaya sayur ini cepat laris manis, mungkin wajahku kurang menarik kali ya? Gumam hatiku menerawang untuk menciptakan siasat bagaimana menjual yang profesional. Sesekali bu Ani mengaggetkan ku, “Gimana nak sayurnya, udah banyak yang terjual.? Punya ibu hanya tinggal delapan lagi, kamu nak tinggal berapa? “Tinggal delapan belas lagi bu, “Ya nggak papa yang penting kamu tidak patah semangat.

“Bismillah”…sayur bu, sayur pak…, sayur kak…lima ratus satu ikat, aku berusaha semampuku untuk mengubah ketertarikan pelanggan dengan cara menyanyi, yooo…sayuur, yoo.. sayur.., murah bu ayo cepat beli bu karena kami mau pulang, sayur segar-segar sekali, “Sayurnya lima ikat nak” Kata bapak yang berbadan tegak yang wajahnya masih ditutup dengan hitamnya helm. “Ne pak…,ada uang kecilnya pak cuman dua ribu lima ratus semuannya, “Gini aja nak kembaliannya ambil aja buatmu, semoga daganganmu laris ya nak…! “Kembaliannya masih banyak kok pak, saya malu pak menerimanya, “Nggak papa kok nak, anggap aja bapak bersedekah padamu, maaf nak…., kamu mahasiswi jurusan bahasa Arab ya? Namamu Syekhana kan? “I...ya pak, loh kok bapak tau, “Masak menjual dagangan pakai baju almamater, tu bapak membacanya di kokarde bajumu, saya Ari. Oh ya…ya pak, terima kasih banyak ya pak semoga ini berkah buat saya, amin.

Tak terasa seluruh dagangan terjual habis, hasil dari dagangan berjumlah dua puluh lima ribu lima ratus rupiah, batas dagangan hanya sampai waktu zuhur, ternyata sesuai pesanan bu Ani, alhamdulillah laris manis. Seluruh uang ku kasih kan sama bu Ani, bu Ani sangat heran dan bersyukur, “Nak wah banyak sekali rezkimu nak, seharusnya terjualkan sepuluh ribu di bagi dua, jadi sesuai janji, uang yang lima ribu buat ibu dan selebihnya buat kamu, sebagai ucapan terima kasih ibu padamu, ibu akan mengajakmu makan kerumah ibu, gimana kamu mau? “Kalau begitu kata ibu boleh-boleh aja, lagi pun jadwal pulang kampung masih lama, kira-kira jam empat sore. “Kalau begitu, yuk…kita kemasin plastik pembungkus sayur, dan kita pulang ke rumah ibu.

Sepanjang jalan bu Ani banyak membicarakan tentang jalan hidupnya yang di tinggal mati suami dan anak tercintanya karena kecelakaan kereta api sembilan tahun yang lalu, dan mengasuh dua puluh anak terlantar dari kalangan berbeda semuanya perempuan, yang membuat bu Ani selalu bersemangat dalam hidup karena dua puluh nyawa yang tak berdosa yang ia sayangi, cintai dan di banggakan. Tanpa di duga kami telah sampai di rumah bu Ani yang jauh dari keramaian, sekilas melihat rumah bu Ani seperti garasi mobil, banyak berlubang kesana kemari kalau dilihat dengan teliti, tapi berkat jiwa telatennya bu Ani menutupi yang bolong itu dengan rangkaian bunga hampir menyerupai jendela yang sangat kuat, bu Ani selalu tersenyum dengan kondisinya, banyak tetangga jauhnya yang sangat peduli dengannya, tapi berkat besahajanya bu Ani yang tidak mau merepotkan orang lain, maka bu ani mendidik seluruh anak asuhnya dengan penuh kasih sayang walaupun kekurangan selalu datang silih berganti. “Subhanallah aku tak menyangka anak yang di asuh bu Ani selama dua setengah tahun sebagian mereka telah dewasa dan telah banyak yang menuai keberhasilan di ajang pendidikan, namun bu Ani tidak mau juga pindah apalagi di buatkan rumah baru dari anak asuhnya yang telah berhasil.

“Semua anak asuhku telah menjadi orang yang sukses dan di segani oleh masyarakat, kamu nak nanti jangan terlalu mengharapkan uluran tangan mereka yang mampu karena apa yang kita harapkan belum tentu diberkahi, selagi kamu masih bernyawa nak teruslah menjadi orang yang selalu berusaha dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, hidup sekali ini saja nak, jadi pergunakanlah umurmu dengan baik sekali. Nasehat itu merupakan nasehat terakhir bu Ani pada ku, karena seminggu kepulanganku dari kampung, ku dapati rumah bu Ani telah dibongkar oleh masyarakat setempat semenjak meninggalnya seorang manusia yang baik hati.

Pertama kembali kuliah semenjak liburan semester, aku dikejutkan oleh pengumuman lomba pembuatan proposal yang diikuti seminggu yang lalu, sebagai juara ketiga dari 19 peserta, bukan kebahagiaan yang kurasakan melainkan kejenuhan sesaat, menurut informasi yang didapat setiap pemenang akan di beri hadiah berupa uang dan piagam, ternyata janji tinggalah janji, yang diberikan hanya berupa nasi bungkus dan buku. Bukan aku saja yang merasa kecewa, justru kak Mayalah yang lebih kecewa dibandingkan diriku sendiri. Dalam lingkungan kampus, aku termasuk mahasiswa yang tidak pernah bermasalah sama dosen dan sebagian staf kampus, tapi Aku termasuk orang yang bermasalah besar dengan keuangannku sendiri, hidup dirantau seakan hari ini gali lobang dan besoknya lagi tutup lobang.

Afwan aku bukan jurnalis tuan.. ah dasar monyet…tu lihat wajahmu berbulu, kamu nyemot ya..ha..ha.. nyemot sedang membaca buku mulai lagi deh pujian maut mereka. Sepanjang hari, setiap kesempatan tidak pernah ada yang memanggil namaku dengan manis. Pedih rasanya ketika saudara dan kawan kerabat menghina keberadaanku yang lain dari yang lainnya.

Kehamilan dalam keluarga merupakan kebahagiaan yang luar biasa, apalagi kehadiran buah hati ke empat belas dari delapan belas bersaudara dalam target dari pasangan pedagang kaki lima yang professional dalam bidangnya. Pergantian hari, bulan, dan tahun semakin terlihat keganjilan dan keanehan sikap proaktifnya terhadap sianak pedagang yang dilahirkannya beberapa tahun yang lalu. Kadangkala kehidupan yang serba ganjil itulah yang membuatnya berlaku aneh dan melalukan setiap kebiasaannya jauh dari kebiasaan anak seusianya dari parasnya yang oval, berkulit hitam berbulu, berkarakter keras, cerewet, dan serba ingin tahu, tak ada yang istimewa dari dirinya melainkan kenakalan yang melampaui batas.

Usia kanak-kanak menjadi usia yang serba salah dan serba canggung ketika sikap dan tingkah laku menjadi ketidakwajaran untuk memulai segala sesuatu yang bernamakan perubahan. Punya saudara yang banyak dalam angan menjadi semangat dan pemicu kasih dan sayang tapi punyanya kakak tiri menjadikan rumah itu sebagai neraka, dihadapan kedua orang tua mereka memperlakukanku dengan baik dan sopan tapi, ketika dibelakang kedua orang tua aku disiksa dan lebih sadis penyiksaannya dari pada binatang, lagi-lagi aku berusaha di usia dini memahami dan beranggapan bahwa mereka melakukan ini karena tidak sengaja dan di dasari oleh factor kecemburuan. Seraut perputaran waktu, usiakulah yang menentukan apakah aku masih bias bertahan hidup bersama saudara tiri yang setiap waktu memukul, mencubit dan menganngap diri ini sebagai aib keluarga. Berbekalan rambut hitam panjang terurai, kulit berbulu dan tinggi semampai membuat aku bisa menjalani proses hidup yang serba sulit, ada pencarian rambut sunsilk di tempat tinggal ku, dan aku termasuk ke dalam satu bagian dari calon pemilihan.

Terlalu banyak yang harus diselesaikan oleh orang tua untuk mencari nafkah, sebagian anaknya mencari kehidupan sendiri dan tanpa menghilangkan maksud dan tujuan pengabdian kepada kedua orangtua, keseharianku bermain dan menghabiskan waktu di rumah tetangga, sampai kedua orang tuaku mengizinkan aku besar bersama tetangga, jadi mau tak mau segala kebiasaan dirumah bersama saudara tiri bisa di hindarkan. Kebersamaan ku dengan orang lain membuat pribadiku tumbuh sebagai gadis yang berkarakter. Bukan berarti di rumah orang itu mendapatkan kesenangan saja malah aku sempat di jadikan pembantu tanpa sepengetahuan keluargaku, di caci, di hina, dan dibuat aku se-menderita mungkin, lagi-lagi aku tak sanggup mengadu pada kedua orang tuaku. Ada satu jalan yang membuatku bisa jauh dari siksaan yaitu melarikan diri ke mesjid terdekat dan tidur di dalam mimbar dan sampai fajar akan membukakkan matanya.

Tiada yang mengetahui tentang keberadaanku bergelimun kain dalam mimbar solat subuh selesai, dan selesai pula rasa kantuk bergelayut. Ketakutannku pada kekerasan meninggalkan kenagan yang tak bisa dihilangkan begitu saja, tak sanggup di sakiti ku urungkan niat untuk kembali ke rumah tetanggaku itu, dan aku dengan mantap melangkah kerumah orang tua ku untuk mengambil baju yang dirasa cocok untuk melindungi diri dan membongkar celengannku yan g terbuat dari tanah liat.

Pergi sendiri bukanlah hal yang menakutkan dalam hidupku dan dari kemandirianku itulah seorang Dosen yang mengajar di kampus lamaku pada jurusan tanah, ternyata secara diam-diam mengikuti kemana arah langkahku, walaupun aku sudah lama wisuda dikampus itu dan memiliki tempat kuliah baru, namanya Raihan, seorang dosen yang sudah lama menjomlo semenjak dia masih mengajariku di ilmu tanah dulu.

Pada perkumpulan alumni jurusan ilmu tanah disitulah kesempatan pak Raihan memulai sukanya sama aku, pak Raihan menghampiriku di salah satu kegiatan alumni yang bertempat di Balai Room Bumi Minang, kalau dilihat dari segi umur, jarak aku dan pak raihan berkisar 10 tahun, raihan berusaha mengambil simpati dari ku sedangkan aku hanya menganggapnya masih seorang dosen. Tak terasa aku diundang ke kampus lamaku untuk melakukan penelitian tentang longsor, tempatnya di padang panjang yang kerap terjadi longsor kecilan. Antara kinerjaku dengan kinerja raihan saling mendukung satu sama lainnya, istilahnya bisa menutupi kekurangan yang lain saling membutuhkan satu sama lain. Ternyata selama empat bulan kebersamaanku bersama-sama Raihan untuk meneliti longsor, akhirnya aku membuka hatiku sedikit disaat jarak “ya” ku menjawab dengan ajakannya untuk mengikatku kejenjang pernikahan.

Hubungan ku dengan Raihan setelah empat bulan hanya dilewati dengan hubungan jarak jauh, karena Raihan telah berada di Jepang untuk menambah pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi yaitu S.3.. setelah setahun di jepang Raihan pulang ke Indonesia untuk pulang dan langsung kerumahku memenuhi janjinya padaku dan keluarga agar sepulang Raihan dari Jepang aku dilamar langsung menikah dan dibawa kembali ke Jepang.

Selama seminggu di Indonesia Raihan telah menyiapkan segala keperluan untuk hari yang bersejarah itu, antara keluargaku dan keluarga Raihan telah bertemu dan menyepakati hari pernikahan sehari sebelum keberangkatannya ke Jepang.

Ternyata Tuhan berkehendak lain, sesudah pemasangan cincin tunangan, akan melaksanakan akad nikah tiba-tiba Raihan yang sebelum itu dia mengeluh sakit kepala semenjak berada di Jepang, mengalami pendarahan dasyat di bagian hidungnya, para tamu undangan yang datang saat itu kaget melihat Raihan, belum lagi sempat mencicipi hidangan Raihan di bawa ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. Para undangan yang kenal dekat dengan Raihan ikut menemaniku untuk menunggu sembuhnya Raihan. Malam itu juga dokter menyarankan untuk langsung dibawa keruang ronsen, hasil ronsen ternyata Raihan mengalami penyakit kangker otak stadium empat.

Semuanya seakan tidak percaya dengan penyakit Raihan, dan aku teringat kembali kejadianku beberapa tahun nan lalu Liwi, seorang sahabat langsung kekasih, Tuhan….. apakah Raihan, calon suamiku dan awal timbulnya sayang ini padanya juga ikut menemuiMu? Oh..Tuhan jika iya berilah hamba kekuatan dan jika tidak besarkanlah sayang hamba kepadanya.

Maut, reski, jodoh, pertemun dan perpisahan adalah rahasia Ilahi. Dan inilah yang aku hadapi, dibalik doa khusuk ku, Raihan memanggilku dan membisikkan kata maaf dan kata Cinta padaku setelah itu dia diam dan membisu, sekitar jam 02.30 dini hari raihan memanggilku lagi dan menatap wajahku tanpa mengedipkan matanya. Ku bisikkan kalimah “ Laillahailallah Muhammadarosulullah” sebanyak tiga kali, pas dalam bacaan yang ketiga dia tersenyum padaku, senyum yang terakhir, Raihan pergi dalam tatapanku, tidak ada bernafas, bersuara dan tdak ada pula tatapan manjanya padaku. Lagi-lagi aku tidak bisa mengeluarkan air mata. Aku redho dia pergi dan aku sangat ikhlas dia meninggalkanku. Cukuplah kenangan bersamanya menjadi obat untukku.

Aku tak kuasa tinggal lebih lama di kampungku, seluruh keluargaku telah memberikan kebebasan untukku apapun yang aku lakukan asalkan aku berada dijalan yang baik. Telah satu bulan aku alfa dalam kuliah sastra Arabku, dan aku membuat surat pernyataan untuk bisa mengikuti kuliah seperti biasa. Kuliah disastra Arab tidak semulus kuliah di ilmu tanah, mungkin pengaruh ilmunya yang susah ditambah lagi dengan ketidak seriusanku dalam menuntut ilmu.

Hampir ketraumaan menyelimuti pikiranku, tidak ada nafsu makan, badan sedikit kurus, mata cekung dan yang paling sring kukerjakan adalah bermenung dan tidur, sekali-sekali jalan sendirian malam-malam ke pasar, melihat keramaian dua pasang anak manusia yang lagi pacaran. Sepanjang perjalanku hanya satu yang menarik, membangunkan anak jalanan yang tidur di emperan toko.

Niat hati mau mengantarkan ke rumahnya masing-masing tapi sepuluh dari mereka delapan yang mengatakan dia tidak punya orang tua, dan akhirnya kesepuluh anak jalanan tersebut aku bawa ke kos ku, dan mintak izin kepada perangkat RT dan RW, ternyata mereka mengizinkan, dan lagipun rumah yang aku ngontrak berkamar dua jadi mereka ku suruh tidur di sebelah bagi yang laki-laki dan bagian perempuan tidur dikamarku. Esokan harinya aku berniat mengantarkan mereka ke rumahnya dan ke kantor dinas sosial.

Setelah kuantarkan ke kantor dinas social ternyata anak jalanan ini sudah didata oleh dinas social dan ditampung oleh rumah singgah, dan anak yang punya orang tua juga telah di usir oleh orang tuanya karena anak itu suka ngisap lem dan memakai ganja.

Timbulah niatku untuk mengajak anak jalanan itu ikut tinggal dikontrakan khusus anak jalanan binaanku di desa Dopoh yang di asuh oleh seorang Ibu yang di tinggal mati suaminya. Tugasku hanya memberikan pelajaran agama, memberikan ilmu sesuai dengan kemampuannya membuka home school dan memberikan mereka sedikit uang jajan, jadi anak jalanan binaanku di tambah dengan sepuluh orang menjadi 26 orang . Bagi anak jalanan yang telah terlanjur memakai barang terlarang, aku dan bu Minah mencoba mengobati mereka dengan memakai ramuan kampung. Alhamdulillah sedikit demi sedikit kebiasaan jelek anak itu berangsur membaik. Bermacam-macam kelakuuan anak jalanan binaan ku, ada yang mantan homo seksual, mantan gay, mantan lesbian, mantan pembunuh, mantan ganja, narkoba dan ada yang baru masuk Islam.

Tanpa menunggu waktu lama mereka memanggilku dengan sebutan “Bunda” sebutan yang membuatku memiliki tanggung jawab besar dalam diri mereka, ngilu, dan rasanya aku belum siap di panggil dengan sebutan Bunda. Suka duka yang aku alami bersama bu Minah sungguh tidak bisa di gantikan dengan uang maupun emas, semua pengorbanan itu berawal dari sebuah kepedulian pada sesama.

Banyak yang dari LSM yang menawari jasanya untuk bisa membantuku mencarikan donator agar anak-anak ini bisa mengdapatkan pendidikan yang layak bukan secara home school, telah ku fikirkan masaak-masak bersama buk Minah ternyata kami berdua memilih untuk mengasuh dan merawatnya dari hasil jerih payah sendiri. Banyak cara yang kulakukan untuk menutupi kekurangan ku dan anak binaanku, mulai dari menjadi bekerja sebagai tukang cuci piring disalah satu kedai kopi, di salah satu kantor periklanan sebagai tukang suruh, bekerja sebagai pemotong rumput, pembungkus kue, penjual kosmetik, bekerja sebagai penjual jasa untuk membersihkan pusara orang, samapai bekerja sebagai guru sekolah dasar di kampungku.

Catatan harian Seorang Guru Honorer.

27 September 2006.

Langkah hidup yang dilalui bukanlah secara kebetulan semata, melainkan sudah digariskan tangan oleh Yang Maha Kuasa pada setiap persendian dan desah nafas alam semesta ini. Kadangkala apa yang telah direncanakan seperti menggapai cita-cita yang tinggi bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan yang ada, sulit untuk menjadikan sebagai landasan yang pasti menuju kenyaataan yang dilewati, Punya pengalaman yang menggunung bukan berarti kita mampu untuk menetapkan pengalaman apa yang lebih dominan yang bisa kita jadikan pegangan untuk mencari nafkah yang melimpah, itulah jalan rezki yang harus kita nikmati punya kerja kadang dapat gaji dan terkadang direlakan saja, tapi bukan berarti tidak adanya gaji dapat menghentikan segala kesibukan aktifitas yang telah menerjemahkan ilmu demi kepuasan batin.

Bulan September 2006, bulan yang penuh tantangan, kenapa kubilang seperti ini karena aku berusaha mengenyampingkan kata hati demi melepaskan segala kesibukan dari aktifitas yang belum tentu ini terbaik bagiku.

Siapa yang menyangka kalau permintaan hati dapat diijabah oleh Empunya keajaiban Roh, awalnya aku mencoba cari kerja yang lain diperusahaan asing berbekalan bahasa Inggris yang minim dan mengutamakan pengalaman kerja yang telah ada, dan setelah mau ikut tes, ku mendapatkan pesan singkat dari adikku sendiri bahwa ada lowongan kerja sebagai guru honor untuk menggantikan guru PNS yang sedang sakit, nekatnya ku bekerja di salah satu sekolah favorit merupakan bukti kecintaanku pada dunia anak-anak, walaupun begron utamaku bukanlah seorang guru, tapi dengan demikian pengalaman jugalah yang mengantarkanku kepada pekerjaan baruku.

Seperti layaknya di perusahaan lain pertama masuk kesekolah itu yang diwawancarai adalah dimana kuliah, punya pengalaman ngajar selama ini dan berapa gaji yang dibutuhkan, pertanyaan itu semua terjawab saat diruang tamu bersebelahan dengan ruang guru dan ruang kepala sekolah. Yang paling berat bagi ku saat berkenalan dan berinteraksi kepada seluruh majlis guru adalah menelan pahit kejutekan wajah rekan sekerja, mungkin itu hanya perasaanku saja, namun bagaimana pun juga aku harus membelai hatiku untuk tidak berprasangka jelek pada sesama.

Satu sisi ada prasaan tak nyaman saat berkenalan pada rekan kerja, tapi dibalik ketidak nyamanan itu keesokan harinya aku terhibur oleh gerumunan siswa terhadap kedatangan guru baru. Mungkin ketulusan menanam senyum disetiap kesempatan itulah yang membawaku membaur secara tak diprediksi selama ini dengan kepolosan semua mata siswa memandangku.

Tak tanggung-tanggung amanah dan beban yang kupikul dihari ketiga mengajar, kepala sekolah memberiku peluang untuk mengajar kelas empat, lima dan enam, semua kelas terdiri dari tiga lokal satu tingkat dan berjumlah sembilan lokal, kalau dihitung semuanya dalam keseluruhan mulai dari kelas satu sampai kelas enam berjumlah delapan belas lokal dan lebih kurang tujuh ratus dua puluh enam murid, bisa dibayangkan betapa banyaknya siswa dalam lindungan gedung bertingkat dan halaman bermain begitu sempit dan dibatasi oleh jalan raya yang banyak kendaraan mondar-mandir dapat mengakibatkan kecelakaan, tidak kondusifnya lapangan tempat bermain siswa dan lapangan untuk membantu perkembangan ekspresi siswa tersebut.

Selama empat bulan aku dipercaya untuk mengajar bidang studi pendidikan agama Islam, tentu banyak sekali kekurangan yang tersirat dihati bagi seluruh rekan seprofesi. Aku sedikit goyah saat siswa mulai melakukan ulangan mid semester, semuanya kembali kepadaku, ada sedikit ketidak telitianku dalam mengalikan berapa betul soal dengan jumlah ketentuan pertingkat kelas, kurasa nilai yang kuberikan tinggi sekali sesuai yang diharapkan. Ternyata nilai itu belum termasuk kedalam target atau pencapaian siswa dalam memahami ilmu yang disampaikan. Sudah berbagai jalan kutempuh untuk memperbaiki ini semua, tapi kata temannku yang lain ku tidak mau bertanya bagaimana caranya dalam memberikan nilai.

Bukannya aku tidak mau bertanya tapi selama empat bulan aku tidak mendapatkan kenyamanan apa-apa dari rekan kerja, walaupun dari anak-anak keceriaan selalu kudapatkan. Mungkin dalam hal ini aku harus lebih bisa membaca situasi dan kondisi. Selama menjadi guru bidang studi aku selalu berusaha belajar dan memahami setiap materi yang akan aku ajarkan. Enam bulanlah masa ku untuk mengajarkan pelajaran yang anak-anak merasa nyaman dengan cara penyampaiannku. Dua orang guru senior secara diam-diam menghadap bapak kepala sekolah agar aku bisa di gantikan cdengan guru yang PNS, karena aku guru baru dan belum berstatuskan PNS tidak layak seharusnya untuk mengajar kelas yang lebih tinggi. “cemburu”.

Secara diam-diam pula aku dipanggil oleh kepala sekolah, dengan halusnya kepala sekolah mengatakan aku bodoh, dan aku merasa tersinggung dengan perkataan itu. Selanjutnya kepala sekolah yang tidak pernah bijaksana itu menggantikan posisiku dengan guru baru katanya sudah lama dia minta dikantor dinas pendidikan. Semenjak tidak lagi aku mengajar kelas empat, lima, dan enam, sebagian anak-anak tidak mau belajar, banyak yang cabut, yang anehnya lagi apa yang aku ajarkan tidak nyambung yang diajarkan oleh guru baru tersebut. Aku akui aku memang punya kesalahan tapi tidak terlalu fatal, pada akhirnya anak yang telah lulus yang sempat belajar denganku mengakui ilmu yang aku ajarkan pada mereka. Dan aku dipanggil lagi ke kantor untuk menghentikan pemberontakan anak terhadap kepala sekolah. Aku tidak mampu dan akhirnya kepala sekolah tidak mengasihku jadwal mengajar sedikitpun di bulan ketujuh. Dan bulan kedelapan aku meminta pada kepala sekolah supaya aku bisa menghidupkan kembali pustaka sekolah yang telah lama mati, kepala sekolah membolehkan, dan akhirnya murid yang merasa dekat dengan ku membantuku untuk menyusun buku, hanya dua orang guru yang membantuku untuk membersihkan ruangan pustaka yang penuh dengan kotoran tikus dan kucing.

Seminggu sudah ku bereskan pustaka, tidak ada satupun dari mulut mereka yang PNS mengunjungi dan mengucapkan terima kasih, jangankan itu kepala sekolahpun tidak mengucapkan kata yang sama, tapi bukan itu yang aku harapkan sebenarnya. Selama dua bulan di pustaka sudah nampak perobahan dari bentuk fisik pustaka samapi bahan bacaan yang sedikit kurang berbobot dan di jadikan bacan yang paling berbobot. Di bulan kesepuluh kawan-kawan yang PNS marah kepadaku karena anak-anak yang mereka anggap nakalnya luar biasa menjadi tunduk kepadaku, dan kunci pustaka diambil oleh guru PNS, agar aku tidak boleh bekerja di pustaka dengan alasan anak yang nakal tidak baik kepadanya kesan itu semua seakan-akan akulah dalangnya untuk memisahkan hubungan anak dan guru. Padahal tidak benar. Aku hanya mengingatkan saja betapa besar dosa yang kita dapati apabila durhaka pada orang tua dan guru.

Aku tidak tahu lagi harus mengadu pada siapa, karena kepala sekolah lepas tangan tentang permasalahanku, dan dengan perasaan hati yang sedih, aku mencoba menghibur diri untuk membersihkan mushollah sekolah, mencuci mukena sekolah, menyapu dan membersihkan kaca Mushollah itu, itu semua kulakukan karena anak asuhku yang sangat membutuhkan untuk melangsungkan hidupnya, walaupun mereka ada pekerjaan sampingan kepada masyarakat setempat yang telah kupercayai.

Setahun sudah ku bekerja di sekolah dasar favorit tersebut setahun pula kesedihan yang menyelimutiku. Setahun lebih sebulan, sekolah itu mengadakan perlombaan bahasa Inggris antar siswa sekota setempat, tidak ada satupun guru PNS yang mau jadi protokoler acara dengan berbahasa Inggris, dengan manis mulutnya mereka yang PNS, aku dijadikan sebagai protokoler, dengan tujuan untuk lebih mencari kesalahanku dan mempermalukanku. Sungguh Tuhan maha adil, ternyata aku dulu punya bekal sebagai Presenter TVRI walaupun mengisi acara teledakwah, namun aku masih punya bekal agar mereka tidak terlalu menyepelekan kemampuanku.

Banyak yang memuji kemampuanku, dan bahkan kepala sekolah merasa bersalah atas tindakannya selama ini, setiap perlombaan guru selalu aku mengikutinya, dan akhirnya dengan prestasi yang kupunya, aku ditawari oleh kepala sekolah untuk mendapatkan beasiswa untuk guru honor, semenjak berita itu, gajiku semakin hari semakin berkurang oleh bendahara sekolah. Dan semenjak kabar beasiswa itupulalah aku dimusuhi kembali untuk tidak membersihkan Musholla, dan mereka yang PNS mengadakan rapat kecil-kecilan untuk mengkaji tentang tenaga guru yang tidak mengajar disuruh untuk menjaga koperasi sekolah. Belum dua bulan genap aku dituduh oleh mereka yang PNS korupsi uang koperasi. Dan segala data dan fakta yang ia sampaikan tidak bisa di buktikan justru merekalah secara diam-diam mengambil barang koperasi tidak pernah dibayar. Aku yakin kejujuran itu pasti akan terbukti, yang benar itu akan tampak, dan sepandai-pandainya menutupi bangkai suatu saat akan tercium juga baunya.

Telah diadakan rapat besar-besaran untuk membahas tentang apa saja kesalahanku, maka guru yang merasa sok suci itu tidak pernah sedikitpun mengeluarkan suara.

Satu tahun lima bulan aku berhenti secara diam-diam, terlalu banyak teroran yang ku dapati selama disekolah itu, aku kecewa pada dunia guru yang moralnya bobrok, teroran pertama aku dapati dari guru PNS yang sedang hamil, dia memarahiku dan mendakwahiku tentang masalah pelayanan selama di koperasi. Teroran selanjutnya berasal dari guru PNS yang mandul, dia menfitnahku sebagai aliran sesat karena aku memiliki ilmu yang serba bisa., teroran selanjutnya berasal dari tetanggaku yang juga guru disana, bahwa aku telah mengadudomba anak-anak untuk benci kepadanya, padahal dia selalu mengeluarkan kata kasar dan selalu menyubit anak didiknya. Dan masih banyak yang lainnya, tapi diantara teroran itu ada yang paling membekas dihati yaitu mereka yang sudah tua dan sudah bau tanah menempelkan surat pemecatan sementara dari dua puluh orang PNS, ditempelkan di atas kasur UKS.

Sungguh malu sekali, sebenarnya mereka tidak pantas berbuat seperti itu apalagi mereka sudah tua, yang selalu teringat adalah “guru honor tidak pantas mengalahkan guru PNS”. Memang betul kita bekerja pasti ada saingannya, tapi tidak seluruh guru PNS yang bisa ilmunya di pertanggung jawabkan dan tidak semua guru honor itu yang bodoh.

Maafkan Bunda nak, bunda tidak bisa membelikan baju seken buat kalian untuk sementara waktu. Tidak bisa membelikan kalian makanan yang enak tiap bulannya, maafkan bunda nak. Umur anak asuhku berkisar dari 9-28 tahun, mereka telah merasa nyaman bekerja dengan orang lain. Walaupun sudah bekerja aku wajib untuk membantu mereka yang sudah delaapan tahun bersamaaku. Umur yang 20 ke atas dianjurkan untuk belajar mengaji dan bekerja di sawah, di kebun, di toko pupuk, membersihkan mesjid membantu garim mesjid, dan menolong masyarakat setempat. Walaupun anak asuh asupan gizi empat sehat lima sempurna sangatlah utama, yang hobinya mengamen, maka pulangnya harus sesuai jadwal. Ingin hati menyekolahkan mereka tapi mereka belum ada yang mau. Demi anakku pula aku kembali ketempat dimana anakku berada, aku ikut bekerja sebagai pencari kayu bakar, sebagai penyiang sayur dan sebagai tukang stika baju di kampung-kampung.

Tak heran bila razia anak jalanan anak binaanku selalu jadi sasaran empuk satpol PP, selalu dipanggil dan selalu dimintai keterangan, yang anehnya semakin sering anakku terjaring semakin sering pula aku berurusan dengan satpol PP.

Anakku adalah mutiara yang tidak bisa dinilai dari apapun, aku sudah terlalu cinta dengan mereka, semua sepandaian yang dimiliki anak binaan ku, aku berupaya untuk mendatangkan guru ketempat kontrakanku, mengajari anak-anak yang memiliki bakat seni, tulis menulis, melukis, mengaji, semua guru tersebut ku gaji dengan uang hasil keringatku selama menjual sayur kangkung. Yang penting mereka semua punya keterampilan dan bisa diterima kembali dengan masyarakat dan orang tua mereka.

Januari 2007, aku akan dilamar oleh seorang pemuda dari negeri Jiran Malaysia, pertemuanku begitu singkat, dia kuliah S.2 di salah satu Universitas terkenal di kota Padang ini. Dia mengambil jurusan akuntansi, antara aku dan dia bertemu disalah satu aula kampusku sastra Arab, dia datang sebagai pemateri keuangan syari’ah, aku rasa tidak ada yang menarik dari diriku, dan di waktu istirahat sejenak, dia menghampiriku, dan mengayunkan tangannya untuk berkenalan,

“Siapa nama anda?” katanya,

saya Syekhana,

“Wow nama yang indah sekali, maaf anda semenjak tadi saya perhatikan, anda begitu serius dan sangat memperhatikan kami didepan.

“Oh ya maaf pak Abdul, saya suka sekali materi yang anda bawakan tadi, “Secara jentelmen dia meminta nomor Hp ku. Belum lagi waktu maghrib, Abdul menelfonku menanyakan bagaimana kondisiku dan apakah aku sudah makan. Aku menjawab pertanyaan Abdul, hari demi hari, waktu berganti, dan tahun berganti, dia berniat untuk meminangku dan akan menjadikan ku istri, sekali lagi dia pergi keindonesia dia kuperkenalkan dengan dua puluh orang anak asuhku.

Dia bangga dan bahagia melihat aku punya aktifitas yang tidak dipunyai oleh orang lain. Sewaktu dia pergi lagi ke Malaysia di meminta alamat rumahku, dan meminta foto keluargaku, semua itu aku berikan. Setibanya di kampung halamannya, dia selalu mengirimkan buku, buku yang pertama dikirimkannya adalah Latahzan, buku yang kedua, maukah kau menjadi istriku, buku yang ketiga, Kupinang engkau dengan hamdallah, buku keempat Ayat-ayat cinta, dan terakhir adalah cincin dan buku kado pernikahan dan selembar surat.

Isi suratnya menguatkan hatiku untuk mengenalkan dia kepada keluargaku,

Assalamu’alaikum dek,

“Sungguh belumlah dikatakan sempurna suatu umat sebelum dia memilih hidup untuk berumah tangga, tanggal 19 Januari kami beserta ayah ibu pergi ke Indon untuk mengikat pertautan hati menjadi satu. Dek cuba lihat surat ini pada kedua orang tua adek untuk bisa dipersiapkan dan difahami, sebelum itu abang dan adek haruslah dulu melakukan sholat Istikoroh untuk meminta ketetapan hati.”

Wassalamu’alaikum dek

Abdul bin Syuaibi

Suratnya begitu simpel dan banyak maknanya, kucoba memakai cincin pemberian Abdul yang dihiasi antara namaku dan namanya. Surat itu telah ku kirimkan kekampung halamanku agar kedua orang tuaku bisa mengetahui, dan saat tanggal delapan belas aku masih tetap di sini menjemput kedatangan Abdul di Bandara International Minangkabau (BIM).

Bu Minah dan kedua puluh enam anak binaanku ku bawa ke kampung halamanku, dan kami mencater mobil bus kota satu dan mobil pribadi satu, ku sewa dengan uang tabunganku selama menjadi penelitian bersama almarhum Raihan.

Rasa bahagia yang mendalam terpancar dari mata anak binaanku, dalam soraknya mengatakan, “Hore Bunda mau punya bapak,” Bapak baru, bapak baru bapak baru, Abdul ikut manggut-manggut mengikuti nyanyian itu. Tidak ada rasanya sebahagia itu rasanya kulihat selama ini, yang anehnya lagi sesampainya di kampung halamku, semua mata memandang tertuju kepada gerombolan anak-anak, ada yang beranggapan negativ dan ada pula yang beranggapan positif. Sesampainya di pintu rumah ternyata semuanya telah tersaji, tiba di rumah jam 10 pas, dan semua anak asuhku, ku perkenalkan satu persatu pada kedua orang tuaku dan kedua orang tua Abdul, semuanya menanggapi dengan respon baik, dan sebelum pertunagan di mulai, Abdul minta izin pada ku untuk mandi sebelum beangkat jum’at. Setelah mandi ayah dan ibunya memberikan sepasang cincin dan tujuh helai baju Basiba di pakai sewaktu pernikahan. Dan cincin itu dipakai secepatnya. Semua apa yang dikatakan oleh ibunya Abdul ku turuti dengan senang hati.

Kata ayahnya Abdul sebaiknya dihari ini jualah di adakan pernikahan setehah sholat jum’at berhubung keberadaan nya sangat jauh sekali, dan kemungkinan untuk balik kesini belum bisa dipastikan. Tanpa saya sadari ternyata kedua orang tua ku menghendaki hal seperti itu juga. Maka pihak saudara laki-laki angkatku mengurus pernikahan dan meminta kerjasama dengan pihak pengurus masjid untuk jamaah Jum’at bisa bertahan sebentar untuk menyaksikan pernikahan, antara Syekhana dan Abdul dari Malaysia.

Setelah disepakati aku dan anak binaanku yang perempuan bekerja sama membersihkan dan mengankat kursi keluar rumah, dan bagi anak asuhku yang laki-laki pergi bersama-sama ke masjid untuk melakukan sholat Jum’at berjamaah. Selesai sholat berjamaah tetangga membantu kami untuk menghidangkan makanan yang telah dibuat lebih oleh ibuku. Semuanya telah siap, dan sebelum pernikahan dimulai, Abdul, ayah dan anak-anak kembali ke rumahku untuk makan, dan lagipun acaranya lima menit setelah sholat.

“ Assalamu’alaikum…Secara serempak terdengar suara anakku,

“Wa’alaikumussalam ayo masuk dan langsung aja makan, ayo yah, bang silahkan masuk kita langsung makan bersama dan siap itu kita siap siap kemesjid.

“Dek boleh abang istirahat sebentar?

Abang capek sekali, nanti saja abang makan setelah ayah dan ibu makan, dan kita makan berdua aja ya, dan abang belum pernah makan sama adek.

Telah lebih lima menit rasanya, abang Abdul belum juga bangun. Saat ibu dan ayahnya membangunkan dan sebagian anak-anak sudah tiba di mesjid beserta penghulunya, tidak mau bangun yang mengherankan badan Abdul tumbang kekanan tanpa terasa apa-apa. Sewaktu ayahnya memegang hidungnya, tidak ada sedikitpun angin yang keluar dari hidungnya itu, dan sewaktu di pegang urat nadinya, tidak ada tanda-tanda denyutan nadinya. Aku khawatir apa yang terjadi sebenarnya, aku tidak peduli apa kata orang. Yang jelas aku tidak bisa menahan pedihnya dan traumanya yang ku alami. Setelah dibawa kerumah sakit, dokter mengatakan dia telah meninggal tiga hari yang lalu. Ibu dan ayah Abdul kaget bukan main, masak anaknya sehat bugar tadi disebutkan telah meninggal tiga hari yang lalu, merasa tidak percaya dipanggilah hari itu juga ustadz, dokter lain untuk memastikan apakah anaknya baru meninggal tadi menjadi tiga hari, dan paling mengejutkankan lagi ustadz juga mengatakan demikian, dan katanya lagi Abdul kesini hanya memenuhi janji pada kedua orang tuanya aku, aku tidak percaya tentang hal itu, tidak percaya. Tapi yang membuat ku sedikit percaya adalah ibunya, Abdul pernah berdiri di tempat terik matahari, dan saat itu Abdul tidak sendiri, dia berdua dengan ayahnya, bayangan ayahnya nampak dan bayangan dirinya tidak nampak itu sudah seminggu ibunya memperhatikan itu, tapi tidak mengingat tetang kepergian anak semata wayang untuk selamanya.

Semua yang berada di mesjid berbondong-bondong mengikuti kemana jenazah Abdul dimalamkan, dan malam itu juga mayat Abdul di bawa ke bandara dan di pesan pesawat dengan harga dua kali lipat dari harga normal menuju Malaysia. Erat sekali dekapan ibunya Abdul padaku, aku dicium, dibelai dan di nasehati agar selalu sabar, dan tegar, ayahnya juga menasehatiku untuk tabah dan banyak bertawakal pada-Nya. Semua mata anak binaanku tertuju padaku, kami sekeluarga dan perangkat mesjid dan masyarakat juga ikut mengantarkan kepergian Abdul ke bandara.

Ibu, ayah dan ibu Abdul…

Bolehkah aku meminta satu hal sebelum keberangkatan ke Malaysia?

“ Apa itu nak?” kata ayah Abdul dan masyarakat.

“Aku ingin menyolatkan Abdul untuk yang terakhir kalinya.

Masyarakat di bandara keheranan melihat kami semua, aku hanya menyolatkan Abdul dengan cara sholat gaib, karena mayat Abdul harus segera di masukkan kedalam pesawat. Bukan aku hanya yang menyolatkan Abdul tapi seluruh masyarakat yang ada di sana saat itu juga ikut mendoakan dan sholat gaib. Walaupun Abdul sudah ditanam di tanah Malaysia namun kami tetap juga mengadakan doa khusus selama empat puluh hari berturut-turut.

Keesokan harinya seluruh mahar ku simpan rapi dalam lemari kacaku, kujadikan hiasan rumah. dan ketiganya cincin, mulai dari cincin Liwi, Raihan, dan Abdul ku kumpulkan menjadi satu, kujual dan ku serahkan semuanya kepada masyarakat yang membutuhkan. semuanya itu atas nama mereka semua.

“Allah siapakah yang bisa menerima pelabuhan hatiku, semua orang tidak ingin disakiti, dikhianati dan dirasuki, dan aku tidak tahu harus berkata apa dalam jeritan mata yang setiap, disudut membatasi ruang lingkup. Sangat sedihnya jiwaku sampai anakku juga merasakan kepedihanku, dan merekalah yang selalu menghibur kesedihanku, sampai sampai dia menuliskan puisi duka yang harus dijalani. Ini adalah puisi anakku Auliana yang juga merasakan apa yang aku rasakan.

Dunia lihat ku tersenyum,

Dunia lihat ku tertawa,

Dunia lihat ku berjalan seorang diri,

Dan juga lihat ku berlari untuk tujuan itu,

Tapi tak ada yang tahu kehilangan ini

Tak ada yang hibur dengan kesepian ini,

Tak ada yang sadar dengan kesedihan ini,

Dan tak ada yang mengerti dengan satu sisi hati,

Sembunyi…. hanya bisa sembunyi,

Tutupi sekeping hati yang ngilu,

Samarkan luka-luka yang masih menganga,

Redam air mata yang sudah hampir bobol,

Semua ini buat ku lelah…,

Sejauh mana harus abaikan jeritan hati?

Ada sesuatu yang begitu hampa dan kosong disana,

Yang tanpa ampun selalu hempaskan ku dengan realita.

Sampai sekarang hubunganku dengan keluarga Liwi makin akrab, dengan keluarga Raihan menjadi saudara dekat, dan dengan keluarga Abdul menjadi donatur tetap biaya pendidikan anak-anak asuhku. Dan sekarang jumlah anak asuhku menjadi empat puluh orang dan telah bersekolah di pondok pesantren ternama di pulau Jawa, ada yang telah bersuami dan memiliki dua anak, dan anaknya itu memanggilku dengan sebutan Ummi, ada yang belajar Islam ke Mesir yang awalnya hanya membantu mengantarkan dagangan ke negeri orang dan akhirnya dengan ketabahannya di sana dia diberi kepercayaan oleh majikannya untuk bersekolah disana. Dan yang terakhir tinggalah aku untuk menanti datangnya cinta sejati, yang akan membimbingku, mencintai anak-anakku walau mereka tidak berasal dari rahimku sendiri.

Teruntuk kepada tiga bidadara sorga, Liwi, Raihan dan Abdul semoga amal ibadah kalian diterima di sisi- Nya. Amin!

Dan yang paling berharga cintaku, nafasku, semangatku, permataku kepada seluruh anak binaanku baik di perantauan maupun dimanapun kalian berada dan kemanjaan an kalian akan menjadi penopang rindu Bunda pada kalian semua. Mutmainnah kecilku, ibu, bunda mencintai kalian semua nak.

Comments
Add New
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."