Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai

Login & Kirim Warta



Komentar Warga

Kolom Pewarta
Kriteria Calon Presiden Masa Depan (142/.....
20/05/2012 | Muhammad Haries

KOPI - Seperti yang kita ketahui pemilu capres dan cawapres semakin waktu semakin dekat. Seluruh ele [ ... ]



Yang Terpinggirkan
Penertiban PETI di Tanah Bumbu; Iya Kand.....
22/04/2012 | Imi Suryaputera

Sangat keterlaluan saya kira bila pengawasan terhadap aktivitas pertambangan batubara ataupun jenis  [ ... ]


Foto Pewarta
PLN UPJ Juwana Berikan Tambah Daya GratisBumi Kolaka Penghasil Nikelpengurasan sungai tanah merah surabaya
Gelora Sepeda
TelkomVision Gandeng Kemensos Gelar INDO.....
21/05/2012 | Yeni Herliani
article thumbnail

KOPI - TelkomVision dalam usianya yang ke-15 kian menunjukkan komitmen dan kepeduliannya terhadap masyarakat dengan memberikan kualitas produk yang baik, kemudahan layanan, dan kepedulian terhadap k [ ... ]



  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
Statistik
Anggota : 5024
Isi : 8250
Content View Hits : 1861709
mod_vvisit_counterPengunjung Hari ini2136
mod_vvisit_counterPengunjung Kemarin4119

Warga Online : 59
IP Kamu : 38.107.179.219













Inspirasi Cerpen-Cerbung Anugerah Pelestarian Lingkungan Hidup
Pemberitahuan: Bagi Peserta Lomba Lomba Menulis Artikel Tingkat Nasional tentang RI-Maroko yang belum mendapatkan kiriman Piagamnya hingga saat ini, mohon beritahukan ke Panitia melalui SMS/Call ke 081371051875 (Mbak Wina), PPWI akan mengirimkan soft-copy Piagam dimaksud melalui email yang bersangkutan. Untuk itu, kirim SMS ke nomor HP 081371051875 dengan format: NAMA LENGKAP spasi (NOMOR ARTIKEL) spasi ALAMAT EMAIL. Contoh: ALVIN TRI DANDY (598/S) noirescence@yahoo.com. Mohon segera dan beritahukan kepada rekan lainnya yang belum mendapatkan paigamnya juga. Terima kasih.

Anugerah Pelestarian Lingkungan Hidup

KOPI, Umiyati adalah seorang warga yang sangat mencintai dunia lingkungan hidup yang dikarenakan semasa kecilnya beliau suka membantu orang tuanya dalam membersihkan berbagai kotoran yang tercium disekitar tempat kediamannya. Umiayati terkenal sebagai orang yang pendiam, santun, ramah lingkungan, dan tidak memiliki sifat emosional berbeda dengan warga lainnya. Kecintaan beliau terhadap lingkungan merupakan anugerah dari sang maha kuasa yang telah memberikan kesadaran dari manfaat melestarikan lingkungat hidup itu sendiri. Namun berbeda dengan warga lain yang 70 % sering membuang sampah sembarangan hingga menyebabkan banjir yang teramat sulit untuk diselesaikan atas ulah manusia warga sekitar tempat kediaman Umiyati.

 

Sifat, dan tingkah laku para warganya atas protes banjir terhadap pejabat desa masih terbilang aneh, padahal yang membuat desa banjir tidak menyurut atas ulah warga desa sendiri bukan pemerintah, disitulah Umiyati selaku warga Banten diberikan anugerah dari sang maha mengetahui dan maha perkasa untuk menerapkan dan memberikan kesadaran terhadap warga sekitar tempat kediaman kaitannya dengan pelestarian lingkungan. Ketika Umiyati mendapatkan anugerah, beliau langsung mengamalkan dengan membersihkan taman rumah, rumah, lantai keramik dan lain sebagaimana hingga orang tuanya menuju keluar rumah untuk membersihkan rumah.

Nurhasanah : “Mamah ngantuk sekali ya hari ini, hari sudah jam berapa ya..??” tidak ada satu-pun orang yang mendengar perkataannya, sang ibu langsung melirik jam yang tergantung di dinding tembok.

Nurhasanah : “Masyaallah…hari sudah siang….!!!!” Wadukh…aku harus beres-beres nikh.

Pekerjaan ibu rumah tangga semakin menumpuk dan membuat lelah tubuh ibu, akhirnya beristirahat sejenak selama 5 menit. Setelah itu, ibunya Umiyati menuju luar rumah untuk membersihkan halaman dan berbagai tanaman yang ada didepan rumah yang diwarnai keterkejutan.

Nurhasanah : “Masyaallah… bersih sekali tanaman rumah hari ini, perasaan tadi malam ibu lihat teramat kotor, hari sudah siang, siapa ya…kira-kira yang membersihkan halaman rumah pagi tadi…???” pertanyaan ini muncul di dalam hati dengan volum teramat kecil yang tidak dapat didengar orang lain. Sang anak keluar kamar dengan ganti pakaian atas keringatnya.

Umiyati : “Akhirnya lega juga setelah menjalankan kewajiban,” ucapan buah hati didengar dan dicerna dengan cepat oleh ibu.

Nurhasanah : “Menjalankan kewajiban, kewajiban apa nak…??? Tugas takh….!!!” Perkiraan sang ibu dinyatakan salah oleh sang buah hati.

Umiyati : “Salah mah, Umi menjalankan kewajiban membersihkan rumah atas anugerah dari tuhan. Umi juga awalnya sempat terkejut, ketika umi mendapatkan anugerah dan petunjuk dari sang maha kuasa. Umi sangat penasaran banget….ternyata hasilnya seperti ini. indah sekali ya…mah kalau kita sering melestarikan lingkungan hidup.”

Ungkapan sang anak membuat mengeluarkan air mata ibarat nangis atas kehilangan keluarga.

Nurhasanah : “laailahailallah quata ila billah……, ibu sangat bangga punya anak seperti mu nak, siapa lagi kalau tidak ada yang membantu ibu…!!!

Ibu sangat bersyukur punya anak yang diberikan anugerah dari Allah SWT untuk menciptakan, dan melestarikan lingkungan hidup yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Ibu sangat bangga sekali nak….” Menangis histeris tiada hentinya atas anugerah dari tuhan terhadap anaknya.

Setelah beberapa minggu kemudian, Umiyati sempat mengalami kesuntukan dirumah atas tidak pernah merantau (jalan-jalan) keluar kota layaknya menikmati liburan dengan puas. Karena umiyati tidak mempunyai sifat emosional, umiyati langsung memberikan instrupsi kepada orang tuanya untuk menikmati liburan :

Umiyati : “Mamah, papah…!!!!!, kapan nikh kita bisa jalan-jalan keluar kota….???” Ucapannya terlihat halus sambil mengeluarkan air mata.

Nurhasanah : “Mau jalan-jalan kemana nak, ibu lagi pusing nikh…untuk mengeluarkan biaya sekolahmu..” ucapan ibunya sangat masuk akal dan mudah diterima.

Umiyati : “Benar juga sikh…bu. Tapi aku lagi bete nikh…tidak pernah menikmati pemandangan wisata yang ada diseluruh tanah air..!!!! umi seperti ini karena sangat penasaran apa nikmatnya dari berwisata, kira-kira kapan nih…………..mah…..???” anak ini mengucapkan hal tersebut sambil melihat pemandangan pesawat terbang diatas langit yang bisa melihat pemandangan dengan puas.

Nurhasanah : “Iya…nak…ibu ngerti….!!!! Tapi ibu lagi tidak ada uang untuk menikmati jalan-jalan kalian….!!! Nanti saja ya…kalau kita ada rejeki.” ibunya sempat melirik lantai yang dikarenakan memikirkan keinginan sang buah hatinya untuk menikmati wisata.

Umiyati : “Kalau memang keingin ibu begitu ya..sudah lakh….” Mendengar ucapan ibunya, umi langsung masuk kekamar untuk merenungkan keinginannya agar terwujud.

Pada malam hari pasca menggosok baju untuk keperluan sekolah maupun untuk kehidupan sehari-hari, umiyati langsung melakukan istirahat sejenak sambil tidur dengan mengeluarkan nafas yang menyegarkan ibarat orang tidur nyenyak. Setelah beberapa menit kemudian, umiyati makan malam bersama keluarganya dengan makanan khas padang sebagai makanan favorit keuarga dalam kehidupan sehari-harinya sambil menikmati tayangan film yang seharian tidak ada satu-pun film yang amat disukai. Beliau bersama keluarga lebih menyenangi film yang dapat mendidik dan mempunyai kesan istimewa untuk ditiru dalam kehidupannya seperti melestarikan lingkungan hidup.

Umiyati : “Suntuk amat ya mah…tidak ada film yang bagus hari ini…” keluhannya diketawai oleh orang tuanya….

Nurhasanah : “Hhaaa…haaa….kamu ini nak ada-ada aja” ketawa sambil senyum.

Umiyati : “Ada-ada apa…??? kok mamah ketawa sih…, kan ini keluhan saya. Kayaknya mamah lagi stress dekh…..” hanya baru perkiraan beliau.

Nurhasanah : “Bukan setress nak…, ibu ketawa seperti ini karena ibu anggap kamu sebagai anak buah yang paling lucu dikeluarga ini ketimbang kakak kamu sendiri.” Senyum sambil menyiapkan rencana menikmati wisata menuju Sumatera Barat.

Umiyati : “Ehmmm….dasar orang tua jaman sekarang…pengennya mengejek orang aja……” ucapannya hanya didalam hati.

Menjelang tengah malam sekitar pukul 23.00 Wib umiyati beserta keluarga berberes-beres untuk persiapan berangkat sekolah seperti menyipkan buku pelajaran, mengisi bensin motor, dan mengerjakan tugas sekolah demi memperoleh nilai yang memuaskan dimata keluarga umiyati. Anak tersebut selain terkenal sebagai anak yang paling mencintai lingkungan, dan tidak punya emosi beliau juga dikenal sebagai anak yang paling kreatif dalam mencari informasi maupun berbagai kegiatan ekstrakulikuler di sekolahnya. Setelah menikmati tidur malam umiyati tidak pernah telat bangun tidur yaitu pukul 05.30 Wib sambil mengambil perlengkapan mandi, orang tuanya masih dalam keadaan tidur nyenyak.

Umiyati : “Jam berapa sekarang ya…???” nanya sendiri dalam hati.

Umiyati : “Akh….sudah mandi ja lah….!!! Yang penting mau sekolah.”

Kakak umiyati bernama Diki yang sering dipanggil dengan sebutan “Abang” sempat mengeluarkan emosi terhadad adiknya (umiyati) atas faktor tidak membangunkan kakaknya yang ingin berangkat kuliah dipagi hari ketika mendengar suara lemari yang terbuka ketika umiyati ingin mengambil baju seragam sekolah.

Diki : “Adukh..berisik amat sikh….” Ucapannya dalam hati sambil membuka mata sedikit alias mengintip.

Diki : “Astaghfirullah……., dek, adek ko tidak membangunkan abang sikh…..kan abang ingin berangkat pagi….???” Emosinya masih terlihat halus dan tidak kasar.

Umiyati : “Emangnya abang mau berangkat pagi takh…..???” kembali bertanya kepada kakaknya.

Diki : “Iya..lah, kan abang hari ini masuk pagi….karena jadwal kuliah abang pagi sekitar pukul 08.10 Wib harus sudah masuk kuliah.”

Pertanyaannya menimbulkan pertanyaan baru.

Umiyati : “Kalau abang mau masuk pagi, abang sempat menitip pesan tidak ke umi “jika umi bangun pagi, jangan lupa bangunin abang juga” sempat mesan itu tidak ke umi…..???” pertanyaannya menghilangkan emosi sang kakak untuk meinstrospeksi diri.

Diki : “Iya…juga ya, kenapa saya tidak mesan semalam.” Kesalahannya diucapkan didalam hati dalam keadaan melirik ke kramik sambil berpikir.

Umiyati : “Kok abang melamun, masikh…marah ya ke umi…” perkiraan umiyati terlihat sangatlah halus dimuka sang kakak pria.

Diki : “Okh…tidak dek, ini bukan salah adik, ini yang salah abang yang tidak mesan ke adik….tidak usah diambil ya…emosi abang…” mengeluarkan senyuman sambil memeluk adik.

Ketika sudah memasuki pukul 06.30 Wib orang tua beliau masih menikmati istirahatnya padahal sang anak ingin mendapat pendidikan, kemudian mereka berdua (adik kakak) bersama-sama membangunkan kedua orang tuanya yang dikarenakan ingin berangkat sekolah dan kuliah sambil di klikitik perut, budel, dan keteknya agar bangun. Orang tuanya memang sering bangun tidur jika ada sesuatu yang membuatnya geli termasuk dengan cara di klikitik, tanpa hal tersebut kedua orang tuanya jarang bangun. Ketika orang tuanya sudah bangun tidur sambil membuka lemari untuk menyiapkan uang belanja sekolah dan kuliah yangmana dalam seharinya mengeluarkan uang RP 50.000 Rupiah (untuk sekolah Rp. 15.000 rupiah, dan Rp 35.000 untuk kuliah). Kedua orang tuanya bekerja sebagai Pedagang Kaki Lima (PKL) dengan menjual barang dagangan hasil pancingan.

Nasib seseorang tidak ada yang mengetahui terkecuali tuhan sang maha khalik, dan maha mengetahui yaitu Allah SWT. Kedua orang tuanya (Nurhasanah, dan Safrudin) sudah 8 tahun tidak mendapatkan pekerjaan dari dunia industri yang padahal secara akademik ayahnya (umiyati, dan diki) mempunyai kemampuan dibidang ilmu kimia. Dengan nasib yang berkata lain, maka sang ayah rela menerima apa adanya dengan harapan keinginan anak dapat diwujudkan. Setelah menikmati kehidupan sebagai Pedagang Kaki Lima (PKL) 8 tahun berturut-turut yang terhitung kakaknya umiyati (diki) menduduki bangku SMA kelas 2 hingga umiati duduk dibangku SD kelas 6 menjelang lulus kedua orang tuanya sempat memikirkan nasib anak yang akan datang agar kehidupan kedua anaknya lebih harmonis dari orang tua sebelumnya.

Safrudin : “Adukh…capek juga ya…kerja seperti ini. tapi nilainya sedikit….!!! Sementara keutuhan anak semakin meningkat. Adukh….pusing banget, hari semakin panas lagi…” keluhannya terungkap di dalam hati sambil melirik orang yang membawa anak untuk untuk terus mengikuti pendidikan.

Nurhasanah : “Papah kok ngelamun, lagi mikirin apa sikh pah……???” pertanyaaannya cukup mengejutkan.

Safrudin : “Tidak mah, papah tidak mikirin apa-apa….” Jawaban sang suami sangat diragukan oleh sang istri.

Nurhasanah : “Jujur aja sikh…pah. Apa sebenarnya yang papa pikirkan…??? Kalau papah tidak ngasih tau, bagaimana hasanah bisa membantu papah….!!!” Ucapan sang istri membuat safrudin yakin untuk diungkapkan agar bisa membantu sang suami.

Safrudin : “Papah sebelumnya mohon maaf ya mah, papah bukan bermaksud mencari masalah, papah lagi pusing aja….!!!” Ungkapan suami belum selesai, sang istri mengeluarkan pertanyaan dalam hati.

Nurhasanah : “Emangnya apa ya…yang lagi papah pikirkan bisa sampai pusing seperti ini…???”

Safrudin : “Papah lagi pusing banget nikh mah…..”

Nurhasanah : “Pusing kenapa sikh….papah…??? kasih tau dong ke mamah….insyaallah mamah bisa membantu papah” ucapannya membuat sang ayah berani mengungkapkan apa yang telah dipikirkannya demi mewujudkan keinginan sang anak.

Safrudin : “Kalau mamah mau membantu papah, ya sudak papah sekarang akan mengasih tau yang menjadi pikiran papah saat ini. mamah tau tidak, anak kita yang bernama Umiyati sebentar lagi lulus, mau dikemanakan beliau….???? Kan mamah tau sendiri lah, biaya pendidikan, dan beban kehidupan saja sudah mahal….” Ucapannya teramat tegas.

Nurhasanah : “Astaghfirullah……, kok mamah baru tau sekarang ya pah….!!! Mamah jadi pusing juga.” Terkejut sambil pasrah.

Safrudin : “Emangnya yang mamah pikir ketika papah lagi pusing apa….??? Apa mamah kira pusing biasa, begitu…???” pertanyaannya tegas sambil memegang pundak sang istri untuk berpikir.

Nurhasanah : “Iya sikh…pah…mamah juga bingung nikh….nasib Umiyati Kedepan. Kira-kira bagaimana lagi ya..pah….??”.

Ketika kedua orang tuanya mengalami kebingungan akan nasib anaknya, ada seorang warga bernama Miler ingin meminjamkan uang dengan jaminan bungan 50 %, kedua orang tua Umiyati sangat menolak keinginan sang Lintenir tersebut. Ketika menjelang libur panjang, ada kegiatan yang secara kebetulan paling didemenkan oleh Umiyati yaitu Lomba Karya Tulis Ilmiah yang hadiahnya dinilai cukup lumayan yaitu Rp 10.000.000 Juta rupiah. Awalnya sang anak mempunyai semangat yang tinggi, akan tetapi sempat khawatir tidak dapat diraih, akhirnya sang anak meminta persetujuan orang tuanya.

Umiyati : “Mamah, papah…!!! Umi kan sangat hobi menulis karya ilmiah yang secara kebetulan bidangnya sesuai dengan yang umi pegang.

Lumayan hadiahnya besar Rp 10.000.000 Rupiah, boleh tidak umi ikut…??” semangat sang anak diakui oleh orang tua, namun memperoleh uang tersebut sangat sulit untuk diyakinkan. Akhirnya sang ayah berkata.

Safrudin : “Maaf ya nak, bukan papah tidak setuju keinginan Umi untuk mengikuti lomba tersebut. Selagi positif dan menambah pengetahuan anak papah ya…tidak masalah. Papah sekarang lagi pusing nikh…mikirin nasib kamu.” Perkataan ayah yang memang terdengar menyakitkan, namun membawa nasihat bagi Umiyati.

Umiyati : “Iya sikh…., umi ngerti…..!!!! tapi kan jumlah uang tersebut lumayan pakh….insyaaallah umi bisa mendapatkannya.”

Keoptimisan harus dipegang.

Safrudin : “Emang kamu yakin nak bisa mendapatkan uang sebanyak itu….???

Kalau kamu bisa mendapatkannya, papah janji akan membawa keluarga ini untuk berwisata yang lingkungan hidupnya sesuai dengan selera Umiyati. Bagaimana bisa tidak mendapatkannya …???” Muncul gagasan dan rencana untuk memenuhi keinginan Umiyati menikmati wisata lingkungan hidup.

Umiyati : “Hhaaa….., benar pah…..??? papah janji untuk mengajak keluarga berliburan dengan puas…???” anak mengeluarkan pertanyaan sambil mengeluarkan senyum sekaligus membayangkan lingkungan hidup yang Umiyati bayangkan.

Safrudin : “Itu semuanya tunggu hasil kerja Umiyati saja, kalau berhasil ayuk….!!! Kalau tidak, bagaimana lagi….masa harus merampok….!!!!” Ucapan sang ayah menjadi motivasi dan inspirasi bagi Umiyati untuk meraihnya.

Keesokan harinya, Ketika Umiyati mendapatkan informasi lomba dan rencana sang ayah, sempat memikirkan hal yang serupa dengan ucapan ayahnya yaitu “bagaimana untuk mendapatkan uang sebesar tersebut ?” dalam keadaan memakai baju kaos dan celana pendek berwarna hijau muda sambil berjalan kaki menuju supermarket untuk belanja baju persiapan wisata yang belum dipastikan waktu.

Umiyati : “Adukh………pusing sekali aku ini….bagaimana yah….caranya agar Juara dalam lomba tersebut kira-kira siapa ya yang bisa membantu aku…???” keinginannya sangat sulit untuk digapai sambil membayangkan siapa orang dianggap mau membantunya sambil menebak nama.

Ketika menjelang sore, Umiyati berpikir dan mencerna nama temannya lebih dari 100 nama namun tidak membuangkan hasil yang dikhawatirkan tidak dapat diraih uang tersebut. Umiyati bersama sahabatnya bernama Nur’aini untuk menikmati pemandangan pantai sambil membayang rencana keluarganya dalam keadaan melamun yang tidak jelas titik yang dilamunnya dalam keadaan masih didalam mobil sahabatnya. Orang tua Nur’aini melirik ke belakang mobil melalui kaca Spion dalam mobil yang mana yang dilihat adalah sahabat Nur’aini (Umiyati) dalam keadaan melamun, yang dikarenakan orang tua Nur’aini tidak mengetahui apa yang dikirkan Umiyati, akhirnya membiarkannya. Setelah beberapa jam diperjalanan menjelang sampai pantai yang mana posisi Umiyati tidak berubah-rubah baik duduknya, tangannya, gerak-geriknya, dan lain sebagainya hingga menyebabkan orang tuan Nur’aini membingungkannya.

Haris : “Nur, temanmu kenapa tukh….dari tadi ngelamun saja..”

Nur’aini : “Ayo….., lagi ngapain nikh…..ngelamunin apa Umiyati…??? Apakah kamu tidak mau ikut kepantai….???” Mendengar ucapan sang teman, Umiyati langsung bergerak dan terkejut.

Umiyati : “Astagfirullahalladzhim, mohon maaf nur, saya bukan tidak mau menikmati pantai.” Ungkapannya membingungkan teman.

Nur’aini : “Terus apa dong yang lagi kamu lamunin…??? Kasih tau dong insyaallah kita bisa membantu.” Karena khawatir merepotkan temannya akhirnya tidak mau ngasih tau.

Umiyati : “Tidak usah lah nur, tidak usah, khawatir merepotkan keluargamu.” Ucapan umi membuat keluarga Nur’aini mengeluarkan senyuman dengan member gelar yang memungkinkan agar hal-hal yang sempat Umiyati pikirkan dapat terbongkar.

Nur’aini : “Akh…Umiyati ini bisa saja, ookhhh…iya Umi, saya rencana mau ikut lomba Karya Ilmiah yang hadiahnya lumayan Rp 10.000.000 Rupiah. Mau ikut tidak…??? Nanti om saya yang membimbing kita, dan itu pun kalau kamu mau ikut….” ajakannya mengejutkan Umiyati.

Umiyati : “Haa….., wakh….ini kesempatan nikh….tapi dapat tidak yakh….??? Teman aku ini mendapatkan bimbingan dari omnya, berarti kemungkinan besar teman aku ini yang dapat. Tidak, Pokoknya tidak….kalau bimbingan harus saya ikuti.” Diungkapkan dalam hati sambil mengeluarkan sikap optimistis.

Nur’aini : “Bagaimana mau ikut tidak…??” jawaban umi sangat berbeda dari apa yang dipikirkan sebelumnya.

Umiyati : “Kalau memang boleh dan tidak merepotkan, bagi Umiyati mau-mau saja” ungkapannya membuat bahagia keluarga Nur’aini.

Nur’aini : “Nakh…..begitu dong. Jangan melamun lagi yah…Umiyati….”

Padahal sudah jelas, yang dikirkan Umi adalah ingin mendapatkan Uang Rp 10.000.000 Rupiah.

Setelah beberapa hari mendapatkan bimbingan dari Omnya Nur’aini, Umiyati mengalami pesimistis. Namun bagaimana-pun Umiyati yang dikenal sebagai anak yang kreatif, halus, dan tidak emosional tetap mengikuti kegiatan tersebut hingga selesai. Ketika detik-demi detik menjelang pengumuman lomba, Umiyati mengalami gemetar yang tidak bisa dihentikan sebelum keinginannya terwujud. Ketika panitia mengumumkan peserta pemenang, akhirnya Umiyati terpilih sebagai pemenang yang mendapatkan Juara I dengan Hadiah Uang Rp 10.000.000 Rupiah + Piagam Penghargaan atas prestasinya. Kemudian, ketika umiyati pulang kerumah dengan membawa senyuman yang tidak diketahui oleh kedua orang tuanya. Sang ayah sempat bertanya.

Safrudin : “Buset…bawa apa itu nak, darimana….semuanya nak….???” Sang anak tetap senyum.

Umiyati : “Papah tau tidak, ini yang rencana kita itu lho…..!!!!” membingungkan orang tua.

Safrudin : “Rencana apa nak…??? Papa jadi penasaran nikh…..”

Umiyati : “Papah masih ingat tidak rencana kita waktu itu, yaitu menikmati jalan-jalan jika Umiyati menang dalam lomba, papah tau tidak yang Umi bawa ini dari mana…???” orang tuanya masih bingung dan tidak bisa menebak.

Safrudin : “Tidak tau nak, emang dari mana nak barang seberat ini…??” semangat anak menagih janji sang ayah.

Umiyati : “Ini barang-barang yang umi bawa adalah hadiah dari lomba yang Umiyati ikuti, alhamdulilah Umi Juara I” kebahagiaan anak dikejutkan orang tua smbil mengeluarkan air mata.

Safrudin : “Subhanallah…….., ternyata gak sia-sia ya keinginan Umiyati Terwujud. Alhamdulillah……… anak papah…” sambil berpelukan, dan menagih janji sang ayah.

Umiyati : “Kapan nikh…pakh…kita jalan-jalan…???? Kan papah sudah janji kepada keluarga…!!! Ingat lho..pah, janji itu hutang……….”

Safrudin : “Baiklah, kita jalan-jalanya besok….” Kebahagiaan sulit diraih namun hanya tuhan yang mengetahui.

Umiyati bersama keluarganya pada saat berkunjung ke Sumatera Barat mendapatkan hikmah dari berbagai pemandangan di daerah Sumatera Barat sangat terkenal kaya akan sumber daya alam-nya seperti Gunung Singgalang, Gunung Merapi yang ketinggian lebih dari pesawat terbang domestik, Danau Maninjau, Danau Singkarak, dan lain sebagainya. Disamping itu, Sumatera Barat dikenal budaya pengantin, lagu minang, bahkan masakan-pun paling disukai oleh seluruh rakyat Indonesia atas kelezatannya. Disitulah Umiyati beserta keluarganya mengambil pelajaran yang membawa hikmah cukup besar yaitu Melestarikan sumber daya alam agar dapat mewujudkan daerah yang amat bersih, dan idaman dimata masyarakat layaknya dikenal sebagai daerah “TERHIJAU” seperti Sumatera Barat yang kaya Sumber Daya Alamnnya termasuk Pertanian, Peternakan, dan lain sebagainya.

Selain dari pada itu, sang keluarga Umiyati mulai menerapkan manfaat melestarikan lingkungan hidup terhadap warga sekitar tempat kediaman Umiyati untuk diamalkan dan diterapkan layaknya meniru daerah Sumatera Barat yang dinilai sebagai daerah terbersih, jernih, indah, dan layak huni. Bagaimana tidak budaya yang ada di Sumatera Barat sangat terkenal dimata seluruh rakyat Indonesia bahkan Internasional.

Ditulis oleh mahasiswa IAIN “SMH” Banten yang bernama Harrys Pratama Teguh yang sedang menduduki bangku Perkuliahan yang sangat aktif menulis berbagai karya tulis.

Comments
Add New
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."