Ayahku Bukan Preman

0
136

Pewarta-Indonesia, Allahu Akbar, Allahu Akbar…. Asshalatukhoirumminannaummmmmmmm. Suara muadzin mengumandangkan adzan subuh sayup-sayup terdengar di telingaku, bebarengan sahutan-sahutan ayam jantan berkokok. Membangunkan aku dari tidurku, kulihat jam dinding menunjukan 04.55 pagi, aku langsung bergegas mencari air wudhu dan segera menjalankan perintah Illahi.

“Andi!!! Habis sholat ayamnya diberi makan!!!!!!!!!!” perintah Nenek ku sambil menggoreng telur dadar kesukaanku.

“Baik…..Nek!!” jawab ku.

Dia nenek yang sangat aku cintai. Umurnya 60 tahun. Kulitnya keriput, pendengarannya mulai berkurang, memakai kaca mata tebal dan sering sakit-sakitan. Dia yang mengasuh ku sejak aku dilahirkan di muka bumi ini. Kami tinggal di rumah peninggalam almarhum kakek. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah reot, gentengnya banyak yang bocor. Ibuku wafat karena kehilangan banyak darah beberapa menit setelah melahirkan ku. Sebelum menutup mata sebagai akhir dari perjuangannya, ibu mencium keningku dan berpesan kepada ayah supaya mendidik ku menjadi orang berguna. Ibu sangat menginginkanku menjadi seorang terpelajar, tidak seperti ayah yang berprofesi sebagai preman. Ayah tidak menikah lagi karena beliau sangat mencintai ibu.

Sudah 5 tahun aku tidak melihat ayah, sejak aku kelas 2 SMP sampai 3 SMA. Ayahku dijebloskan ke dalam buih di Lembaga Pemasyarakatan Kabupaten Purworejo karena membobol Toko Mas Garuda di pinggiran kota Kutoarjo. Ayah divonis 6 tahun penjara. Beliau mencuri karena tidak punya uang untuk membelikanku sepatu. Padahal aku tidak meminta ayah untuk membelikan sepatu, tapi ayah tahu kalau aku diejek oleh teman-temanku gara-gara sepatuku rusak dan bau. Sebenarnya aku sangat menginginkan sepatu baru, tapi aku selalu megurungkan niatku minta kepada ayah untuk membeli sepatu baru, lagipula uang darimana.

Nenek yang hanya sebagai buruh cuci, uangnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Aku bisa makan telurpun dari ayam yang aku pelihara. Itu pun sebulan sekali dan aku bagi dua dengan nenekku. Telur lainnya aku jual dan uangnya sebagai saku untuk sekolah. Kalau aku menginginkan sesuatu, mau tidak mau aku harus bekerja. Kadang sebagai penjual koran, kuli panggul atau lainnya. Saat aku duduk kelas di kelas 2 SMP sebelum ayah dijebloskan ke buih ayah membelikanku sepatu PIERO yang harganya Rp 135.000,00. Aku terheran-heran uang dari mana??? Ayah hanya berkata kepadaku.

”Nak!! Kamu tidak perlu tahu ayah dapat uang dari mana. Entah halal atau tidak. Nak!! Ayah tidak terima hanya gara-gara sepatu, kamu diejek oleh teman-temanmu!!!”

Kata-kata ayah membuat hatiku bergetar, membuat air mataku menetes di pipi diiringi rintik-rintik hujan diselimuti hawa dingin.

Melihat aku menangis. Kemudian ayah memelukku sambil mengucapkan kata terakhirnya.

“Nak!! Pakailah sepatu ini, ambil buku dan tasmu kemudian pergilah ke sekolah, tuntutlah ilmu setinggi-tingginya supaya kamu menjadi orang yang terpelajar seperti keinginan almarhum ibumu. Nak!! maafkan Ayah.”

Hari itu adalah hari terakhir pertemuanku dengan ayah. Aku coba mengamatinya sekali lagi, tubuhnya yang kekar, tinggi, besar dan ada tato bergambar bunga mawar merah, di telapak atas tangan kirinya. Dulu aku pernah bertanya pada ayah.

“Yah gambar bunga mawar itu, artinya apa?? Kenapa tidak gambar ular?? Bukannya ayah preman??”

Ayah menjawab dengan seyumannya yang khas.

“Artinya ayah sangat mencintai ibumu. Tapi ayah tidak bisa memberikan ibumu apa-apa. Hanya tato mawar yang ayah bisa berikan.”

Aku sekarang sekolah di SMA Negeri 7 Purworejo, sekolah unggulan kedua di kabupaten Purworejo setelah SMA Negeri 1 Purworejo. Di sekolah aku sering diejek “Anak Preman Pasar Baledono” oleh teman-temanku. Tapi aku tidak pernah menghiraukannya. Tapi aku senang menjadi anak seorang preman karena aku selalu aman. Bila aku terancam, aku selalu bilang “aku anak preman”. Pernah, saat aku pulang sekolah aku dipukuli sekawanan genk sekolah, gara-gara aku tidak memberikan uang. Pipiku bengap biru terong, tubuhku sakit. Ketika sampai di rumah aku ditanya oleh teman ayah, Paman Haryo, yang tidak kalah sangarnya dengan ayah. Seluruh tubuhnya bertato gambar ular dan singa.

“Kenapa kamu An?”

Aku jawab, “Dipukul paman.”

“Siapa yang memukulmu??”

“Sem, ketua genk di Sekolah.”

Setelah itu paman Haryo pergi tanpa pamit. Esok harinya ketika jam istirahat aku dipanggil oleh Ryo, salah satu anggota genknya Sem.

“Hey An??” dengan suara seraknya.

“Ada apa?” dengan ekspresi agak takut.

“Kamu dicari Sem.”

“Masalah apa?”

“Pokonya temui Anton sekarang, di belakang parkiran sepeda.” dengan nada sedikit marah.

Aku langsung berjalan menuju parkiran sepeda. Dag..dig..dug.. Jantungku berdegup cepat. Ada rasa takut terbesit di perasaanku. Ketika aku sampai di parkiran sepeda. Kulihat Sem sedang duduk di atas motor Tiger. Matanya merah dan pipinya legam. Tangan kirinya mengelus-ngelus pipinya yang legam biru terong.

“Duduk An?” Sem menyuruhku duduk.

“Ada urusan apa kau memanggilku. Apa kau belum puas memukulku?” kataku.

“Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu?” sambil menjulurkan tangan kananya, dengan sedikit mengaduh.

Seketika aku merasa kaget yang diucapkan oleh Sem.

“Kenapa kau minta maaf?” tanyaku penuh penasaran.

“Aku salah memukul orang, ternyata kau adalah anak seorang preman yang aku takuti, sekarang aku menjadi temanmu.”

“Oh begitu, baik aku terima maafmu, tapi jaga sikapmu. Kita di sini sekolah bukan untuk berkelahi atau menjadi yang terkuat.”

“Terimakasih An!!” sambil memeluk tubuhku.

“Baiklah aku pergi dulu, aku mau ke perpustakaan dulu.”

“Ternyata ada untungnya jadi anak preman. He..he..” kataku dalam hati sambil berjalan menuju keperpustakaan.

Walau aku merasa aman, tapi ada sesuatu yang mengganjal padaku. Aku adalah anak seorang preman, yang pastinya akan selalu dipandang negatif oleh orang lain. Tapi aku tidak akan putus asa, aku hanya ingin berusaha sampai mati mengembalikan kehormatan. Anak preman juga bisa berprestasi.

Aku ubah pandangan mereka dengan prestasi yang aku toreh. Rangking satu parallel sejak kelas satu sampai kelas tiga SMP. Juara 1 debat bahasa Iinggris sekabupaten Purworejo tingkat SMP. Juara 1 Olimpiade mata pelajaran Biologi tingkat SMA. Karena prestasi yang aku torehkan, aku selalu mendapat beasiswa sejak SMP sampai SMA. Dan aku tidak mengeluarakan uang sepersenpun untuk membayar sekolah.

Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan. Hari penentuan hasil kerja kerasku selama tiga tahun di SMA. Pengumuman hasil ujian nasional. Oleh karena itu, aku bangun pagi, mandi dan memakai baju berwarna putih lengan panjang, celana hitam dan dasi berwarna hitam, yang aku pinjam dari Pak Lurah Darwoto, orang yang sangat perhatian kepadaku. Dia yang selalu membantuku ketika membuat surat keterangan tidak mampu untuk mengajukan beasiswa.

Aku lihat diriku di depan cermin, ternyata ganteng juga anak preman ini, he..he.. Aku oles rambutku dengan minyak orang-aring yang aku beli dengan uang tabunganku. Setelah selesai aku berpamitan kepada nenek, aku cium tangannya yang sudah keriput.

“Jangan lupa baca Bismillah,” pesan nenekku.

“Iya nek!! Balasku.

“Uang sakunya gimana!!”

“Udah ada. Nek!!” jawabku sambil mengeluarkan sepeda jengki.

Sepeda diperoleh ayah dari mencuri. Walau remnya blong, joknya rusak. Tapi sepeda ini adalah bukti cinta dari ayah dan saksi kerja kerasku dalam mencari ilmu.

“Bismillahirrohmanirrohim,” doa yang aku ucapkan sesuai pesan nenek, supaya selamat sampai tujuan.

Tengok kanan-kiri menunggu jalan kosong. Kukayuh sepeda dengan santai sambil menghirup udara pagi yang segar. Aku pandangi sawah menguning yang siap panen bagaikan emas yang siap ditambang. Gunung Sumbing ditemani gunung Sindoro berdiri gagah menyangga langit. Sang surya yang merekah dari timur menambah keindahan alam di pagi hari. Cahayanya yang tak habis menyinari alam ini.

“Subhanallah, Maha suci ALLAH, begitu luar biasa ciptaanmu,” ekspresi kekagumanku pada sang Illahi yang aku utarakan dalam hati. Tak lama sekitar 15 menit mengayuh sepeda, akhirnya aku sampai di Besole. Di sini aku menitipkan sepeda di sebuah tempat penitipan sepeda. Aku letakkan sepedaku di dekat pintu supaya mudah untuk dikeluarkan. Tarifnya sangat murah, hanya Rp 300,- per hari. Setelah itu, aku berjalan sekitar 100m menuju jalan besar. Di sana aku menunggu Kopada jalur A jurusan Kutoarjo-Purworejo, kopada yang akan mengantarkanku sampai di pintu gerbang sekolah, tarifnya Rp 1.500,- Jadi kalau dikalkulasi aku butuh sekitar Rp 3.300 untuk pulang dan pergi, itu hanya untuk transport. Aku jajan kalau ada mata pelajaran olahraga, Senin dan Kamis aku puasa.

“Kecamatan..kecamatan..!!!” pak supir memberikan tanda.

“Kiri Pak!!” sahutku. Pelan-pelan mobil kopada jalur A menepi.

“Ini Pak!!” kataku sambil menjulurkan ongkos kepada pak sopir.

Aku turun di depan Kantor Kecamatan Purworejo, kemudian menyebrang melewati boulevard sekitar 100m. Boulevard itu diberi nama jalan Ki Mangunsarkoro tapi lebih dikenal dengan nama Jalan Tanjung, karena setiap tepi jalan dihiasi pohon tanjung yang besar dan rimbun.

Dari tepi jalan, sekolahku sudah bisa terlihat. Bangunanya kokoh dan besar peninggalan zaman Belanda, lapangannya hijau dan rata seperti Old Trafford, ada pohon ketapang dan trembesi berumur ratusan tahun yang menjaga kesejukan ketika belajar.

Di depan sudah ada dua orang satpam yang akan selalu mengawasi kelengkapan seragam siswa. Sepatu hitam, dasi dan tanda kelas. Itu adalah atribut lengkap sekolahku mirip sekolah militer. Tapi hari ini satpam tidak melakukan pengawasan, karena yang hadir hanya siswa kelas tiga untuk menghadiri pengumuman hasil ujian nasional dan seragamnya bukan seragam sehari-hari, melainkan baju putih lengan panjang, dasi hitam dan celana panjang hitam. Hal ini dilakukan pihak sekolah untuk menghindari corat-coret.

Di sekolah sudah banyak siswa yang datang bersama orang tua atau walinya. Hanya aku yang datang sendiri, nenek tidak mungkin untuk datang karena sudah tidak mampu bepergian jauh sedangkan ayah masih ada di penjara.

Aku langsung berjalan menuju kelas melewati lorong-lorong, di setiap lorong ada kata-kata motivasi yang digantung. Sampai di kelas teman-temanku sudah berkumpul, mereka tampak berbeda dari biasanya.

“Wah Andi ganteng juga ya……” puji Arnika, teman gossip ku ketika istirahat di kelas.

“Ah biasa aja,” sahutku sambil tersipu malu.

“Bener lho An!! Bidadari mana sih yang gak klepek-klepek kalo kamu udah dandan kayak gini, udah ganteng, pinter, berprestasi lagi!!” tambah Roni, sontak teman-teman sekelasku tertawa, karena tingkah dan gayanya yang lucu.

Tiba-tiba Pak Harsono datang, dia wali kelasku yang sangat baik, perhatian dan disegani oleh murid-muridnya.

“Anak-anak sebelum kalian berkumpul di aula. Bapak akan mengabsen kalian terlebih dulu!! Baik bapak mulai. Andi Riyanto!!”

“Hadir Pak!!” sahutku sambil mengacungkan tangan.

“Arnika…Romi…!!” pak Harsono meneruskan mengabsen, sampai selesai dengan jumlah 40 siswa.

“Anak-anak!! Sekarang pukul 07.30 acara akan dimulai pukul 08.00 WIB. Bapak harap kalian segera berkumpul dan masuk ke dalam aula, jangan lupa untuk duduk sesuai dengan kelas dan nomor absen kalian!!” pesan pak guru.

Setelah mendengar perintah, kami segera berjalan menuju aula dengan perasaan dag dig dug. Aula ditata sangat rapi, tempat duduk dibagi menjadi dua kelompok, tempat duduk siswa dan tempat duduk orang tua wali, yang dipisahkan karpet merah. Panggung di dekorasi dengan sangat apik, di panggung terpampang tema acara hari ini “Acara Pelepasan dan Pengumuman Hasil Ujian Nasional”.

Acara dimulai dengan sambutan-sambutan dari Kepala Sekolah, perwakilan guru, perwakilan orang tua dan perwakilan murid, saat sambutan-sambutan disampaikan, snack dikeluarkan dan dibagikan. Setelah sambutan-sambutan selesai, acara inti pun dimulai “Pengumuman Hasil Ujian”. Ternyata yang akan menyampaikan adalah Pak Harsono, wali kelas kami sendiri. Kami memperhatikan dengan serius hasil ujian yang akan disampaikan Pak Harsono. Kulihat raut muka teman-temanku ada yang cemas, takut, tenang dan santai. Aku berusaha menenangkan walaupun sedikit cemas. Aku takut kalau aku tidak lulus, bila aku tidak lulus berarti aku mengecewakan hasil kerja keras ayahku sebagai preman. Pak Harsono memulai tugasnya mengumumkan hasil ujian.

“Assalamualaikum wr.wb !!” salam pembuka dari Pak Harsono.

“Waalaikumsalam wr wb !!” serentak seluruh siswa dan tamu membalas salam.

“Tanpa perlu panjang lebar lagi saya akan mengumumkan hasil ujian yang telah dilaksanakan pada 13-18 April 2009. Untuk tahun ini hasil ujian sangat memuaskan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itu kami memutuskan bahwa seluruh siswa yang mengikuti ujian nasional kami nyatakan LULUS !!”

Sontak seluruh aula bergemuruh. “HORE……………….. Aku lulus!!!” ungkapan kegembiraan kami. Ada yang meneteskan air mata, ada yang saling berpelukan dengan teman akrabnya dan ada yang biasa-biasa saja.

“Alhamdulillahirobbil’alamin,” ungkapan syukurku kepada Allah yang telah mengabulkan doaku.

“Bapak Ibu wali murid yang kami hormati, dan anak-anakku yang kami sayangi. Selanjutnya kami akan panggil satu siswa paling berprestasi dan memiliki nilai UAN tertinggi secara parallel, bagi siswa yang kami panggil mohon berdiri di depan panggung bersama orang tua serta memberikan sedikit sambutan,” tiba-tiba aula menjadi hening karena orang tua murid dan siswa yang penasaran siapa yang akan dipanggil untuk berdiri panggung.

“Baiklah kami panggil, ANDI RIYANTO!!” aku tercengang dan kaget diiiringi riuh tepuk tangan teman-temanku, guru-guruku dan para orang tua murid. Teman-temanku memberiku selamat dan memelukku. Tak ketinggalan Ryo dan Sem brandalan di sekolahku ikut memberi selamat dan memelukku. Aku berdiri dan melangkah pelan menuju panggung. Kemudian aku langsung memulai sedikit menyampaikan sambutan.

“Assalamualakum wr wb. Bapak kepala sekolah, bapak-ibu guru serta para orang tua murid yang saya hormati, syukur tak terkira kami panjatkan kepada ALLAH SWT telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga saya mampu berdiri di sini. Maaf bila saya hadir tanpa kehadiran orang tua. Ibu saya meninggal setelah saya dilahirkan, nenek saya sedang sakit dan ayah tidak bisa hadir karena….” Sejenak aku tak bisa berkata-kata karena ayah tiba-tiba hadir dengan tangan terborgol dengan dikawal dua petugas polisi karena ayah belum selesai menjalani hukuman. Seluruh hadirin langsung terfokus dengan kedatangan ayah yang tak terduga sebelumnya.

“Nak!! Ayah datang untuk menghadiri kelulusanmu,” ayah berdiri dan menyapa di atas karpet merah dengan meneteskan air mata di depan para hadirin. Akhirnya semua orang tahu kalau aku anak seorang preman. Kemudian aku meneruskan sambutanku diiringi tetes air mataku yang tak terbendung.

“Ayah tidak bisa hadir karena beliau seorang preman. Tapi di mata saya ayah bukan seorang preman, beliau rela mencuri dan dipenjara supaya putranya bisa bersekolah, menjadi orang yang berpendidikan, tidak menjadi seorang preman yang hanya membuat keributan. Saya bangga menjadi anak seorang preman, karena beliaulah saya berdiri sendiri. Terimakasih. Wassalamualaikum wr.wb”. Aku langsung menyudahi sambutan yang aku sampaikan. Aku turun dari panggung langsung memeluk ayah. Seluruh hadirin langsung berdiri dan bertepuk tangan riuh.

“Nak ayah bangga padamu, maafkan ayah selama ini.” bisik ayah di telinga.

“Terimakasih ayah bisa hadir,” aku membalas bisikan ayah.

Hari ini aku sangat bahagia karena menjadi siswa berprestasi dan kehadiran ayah saat kelulusanku. Ayah mendapat kabar dari paman Haryo yang menjenguknya kemarin kalau hari ini adalah pengumuman kelulusanku. Kebahagiaanku semakin lengkap ketika PMDK yang aku ajukan diterima Universitas Gajah Mada. Aku diterima di fakultas kedokteran dan aku bisa melanjutkannya dengan gratis. Esok harinya ayah dibebaskan, ayah bebas lebih awal 1 tahun karena sikapnya yang baik selama di penjara.

“Nak ayah akan berhenti menjadi preman, ayah akan mencari pekerjaan yang halal. Ayah janji tidak akan mencuri lagi, demi dirimu yang sangat ayah banggakan !!” Ayah berjanji setelah dibebaskan dari penjara.

“Ya ALLAH, ampunilah ayah ku, ampunilah kesalahannya, ampunilah dosanya. Terimalah taubatnya, bukakanlah pintu surga untuknya, karena dia sangat mencintai titipanMu, kabulkanlah doaku !!”. Doa untuk ayahku tercinta.

Sumber image: google.co.uk