Gumulan Lornie

0
28

Pewarta-Indonesia, Angin malam menyapu mukaku. Menyapa malamku yang terasa beku. Beku, pembekuan yang membuat malam ini bak tak berpenghuni. Tak ada tanda-tanda kehidupan yang merambah jiwaku. Jiwa yang kini kian tak bernyawa. Hampa. Layaknya di ruang kosong. Sesosok lembut merayapi punggungku. Punggung yang tak berasa lagi. Tak ada rasa saat sesuatu menghampirinya. Penghampiran yang tak kuharapkan. Pengharapan yang tak pernah aku inginkan. Perhelaian yang ia miliki menyapa mukaku yang entah seperti apa bentuknya. Tak karuan. Mungkin tak berupa lagi. Membawa aku tertegun di bawah pembekuan malam ini. Malam yang telah bisu. Malam yang telah bukan milikku lagi. Malam yang telah sirna dari seonggok harap dalam jiwa yang telah berdebu. Mungkin telah basi. Atau entah apalah namanya.

“Kamu tahu?” suara itu membuyarkan malamku. Suara yang bagi sebagian orang memberi penghidupan. Tapi bagiku itu tak lebih dari rasa ingin tahu seorang pengkhianat. Pembawa petaka. Pembawa rasa yang tak karuan. Pembuat aku tak bisa menikmati kebisuan bintang yang telah redup. Aku memalingkan seonggok daging yang menyunggingkan manisnya, daging, itu dengan tertatih. Aku melihat dua bentuk indah di wajahnya yang menuntunnya. Membawanya kesini. Kedalam kehidupan yang telah tak ada nyawanya lagi. Penuntun yang penuh harap akan kehidupan yang tak mungkin hadir kembali. Kehidupan yang tak pernah akan kembali lagi. Kekembalian yang tak akan terulang lagi. Pengulangan yang akan sia-sia.

“Jawab aku!” kali ini ia menyentuh seonggok daging yang tersungging rapuh. Sentuhan yang memberi kejutan. Kejutan dalam segumpal rasa yang telah beku. Beku di bawah dinginnya bintang yang telah sayu di pelupuk penuntun jasad ini berjalan. Menapaki kehidupan yang telah rapuh, mungkin. Atau bahkan telah roboh sama sekali, tak berbekas. Siapa tahu? Aku saja tak menyadarinya, kapan jiwa ini berdetak layu. Sentuhan itu makin kencang di pelipisku. Aku merasakannya, bak sayatan silet. Berdarah, perih dan mengerikan. Jemarinya terasa mencairkan guratan urat yang berbentuk itu menjadi bergetar. Getaran yang telah lama tak dirasakan jiwa yang kerontang. Kerontang tanpa rasa. Rasa. Rasa yang mungkin menyedihkan, miris, dan menyayat ulu gumpalan daging yang mungkin telah terpendar di alang-alang. Terbang bersama angin. Berkibar karena badai.

Rupa ini mengikuti gerakan melodi sentuhan jemari itu. Meliuk, menukik, dan mengerang seirama dengan gesekan biola sentuhannya. Membuat aku lupa akan kebekuan. Melupakan kilatan sembilu yang aku rasakan. Sembilu yang berdarah, luka yang memendar merah, hangat, layaknya lava puncak merapi. Nada itu terhenti. Irama itu tak ada lagi. Tak ada lagi gesekan itu yang membuat aku lupa sejenak. Lupa akan segalanya. “Kenapa?” kata itu keluar dari cangkang daging yang lunak ini. Ia seakan letupan merapi. Kata yang mencirikan kebutuhan akan sentuhan itu. Kata tanya orang yang tak tahu diri. Ahss, aku mendesah. Sadar atas petir yang barusan berkibar. Sadar akan luka lama. Sadar akan kerapuhan. Sadar akan kebutuhan. Iya, sadar akan kebutuhan. BUTUH. Butuh gesekan yang berirama. Gesekan yang akan mewadahi ingin. Gesekan yang membuncahkan rasa. Mencairkan lautan salju. Terhenti dalam erangan.

“Kau munafik!” Suara itu menyambar jiwaku. Menghentak tali layang yang aku tambatkan di tenggorokan ini. Membuatnya melambung tinggi tanpa hambatan. Melambungkan layang itu. Memberi peluh. Peluh yang tak beraturan. Gagap. Gugup. Tak ada kata yang mampu terucap. Si penuntunku tertanam pada lingkaran merah itu. Lingkaran yang telah memproduksi sebuah kata yang seakan menghunjam gumpalan daging yang telah lapuk, berulat, emm mungkin lebih dari itu, berlendir hitam. Klik! DWUARRRd. BoooooOOOMs. Tetap saja tak ada kata yang bisa meloncat melewati pagar seonggok lendir berjamur ini.

“Katakan!” Aku semakin berlari. Terkait besi panas. ‘Katakan’ merupakan belati bagiku. Yang telah memporakporandakan gumpalan daging yang lapuk itu. Gumpalan daging yang telah tak ada harap. Harapan yang terkubur dalam. Dalam sekali. Amat dalam mungkin. Hamburan si merah membasahi tiap helai benang yang menutupi tumpukan daging yang membusuk ini. Keluar tanpa ampun penuh ambisi penghujatan. Penuh amarah pembisuan. Penuh pukulan kerapuhan. Entahlah ia mengalir akan ketidakberdayaan. Tanpa aku harapkan pelupuk penuntun siang dan malamku mencurahkan badai, membuat genangan di tanah yang berlubang. Membuatnya membusuk. Membangkitkan monster perusak di dalamnya. Mengalirkan kehangatan yang terbekukan oleh ketidakmampuan.

Aku menatapnya tajam. Seakan menghunus detakan kehidupan yang mengasihinya. Detakkan kelembutan yang membalutnya. Hentakan nadinya yang memberikan penghargaan pada setiap letupan nada suaranya, menghiasinya, membasuhnya, menyajikan aroma melati di kedua rona merah di guratan keindahan bentuk tubuhnya. Aku menyentuhnya, untuk kesekian kalinya aku seakan lilin menyala yang tetap merasakan kebekuan itu. Aku merasakannya begitu keras, membuncah, hingga aku mengeluhkan apa yang aku rasakan. Ketidakberdayaan sebagai orang yang dituntut untuk bisa memutuskan.

Jemariku yang kaku akan dinginnya suasana mencoba merayapi persendian yang di matanya sebuah kesempurnaan, di mataku? Masih mangandung tanda tanya besar. Mungkin teramat besar hingga tak bisa untuk dilukiskan. Kalaupun di coba akan patah ditengahnya atau sama sekali berantakkan. Entahlah tak ada keyakinan untuk itu. Tak ada keyakinan untuk semua yang sedang terjadi ini. Jemariku terhenti pada sehelai benang merah yang membuntal. Aku menariknya. Menariknya terlalu dalam. Membuatnya bergidik, nyeri. Tertanggal. Untuk kedua kalinya jemariku terhenti. Kali ini ia benar-benar terhenti. Tak ada yang bisa dilakukan lagi kecuali menunggu apa yang akan terjadi kemudian. Si penuntunku tertutup rapat. Rapat sekali, sehingga seakan tak ada lagi celah untuk melihat replika itu. Aku memalingkan muka daripadanya. Seakan tertusuk jarum yang teramat tajam. Hingga aku tak berani untuk beranjak atau sekedar bernafas. Semuanya seakan terhenti. Total. Tak ada udara yang merayap. Tak ada. Sama sekali tak ada.

Aku bisa merasakan hembusan. Hembusan yang menyapu mukaku. Hembusan akan loncatan dari kedua rongga merah dirawutan mukanya. Hembusan yang beraroma melati.” Ada yang salah denganku?” hembusan yang lebih mirip dengan sentuhan syahdu di kedua indera pendengarku. Pertanyaan lagi pikirku,pertanyaan yang sama. Sama-sama membuat aku terpaku. Terpaku hingga tak tahu bagaimana caraku untuk lepas daripadanya. Paku yang tertanam dalam di rongga hampa udara. Rongga yang berlobang sangat lebar. Hingga aku tak tahu dimana ia bermuara.

“Kau” sepatah kata yang aku tak tahu kemana arahnya terloncat dari pagar pembatasnya. Pembatas yang selama ini bah penjaga yang amat menyeramkan. Tertatih aku mengulangnya, “ k-a-u… sem-sempur-na.” Bagian terlengkap dalam organku tak kuasa menatap genangan bening yang segera membuncah membasahi tubuhnya yang hangat dalam balutan kebekuan bintang yang sayu. Bintang yang entahlah apa maunya. Bintang yang belum memutuskan kemana cahayanya berpantul.

Nyanyian binatang malam bersenandung dalam buaian irama isak, sedu sedan malam. Nyanyian yang menandakan kelarutan mereka terhadap bintang yang kian redup. Nyanyian yang tak diketahui maksudnya. Bisa saja berupa ejekan ketidakberdayaan. Pujian akan ketidakbisaan. Bahkan bisa menjadi hinaan akan kelancangan untuk tidak melakukan apa-apa. Semuanya menyisakan kekakuan akan arti pencitraan yang tak tahu dimana awalnya, Akhirnyapun belum berlabuh ketepian. Jangankan itu dermaganya tak tahu dimana? Hanya berjalan mengikuti arus yang tak pasti. Kemana golembang kesana ia akan pergi, tanpa kepastian.

Sentuhan hangat menyentuh kedua leherku. Gelegak panas membakar ari terluarku. Basah limbah mengalirinya. Meniti tiap sendi tubuhku. Titian yang menyisakan bekas kesyahduan. Kehangatan yang tak pernah diterjemahkan, bahkan tak mampu untuk didefinisikan, tak ada yang berani.

Ada yang berontak dalam diriku. Pemberontakan yang butuh pelampiasan. Pemberontakkan yang akan bermuara di dermaganya, dermaga yang masih illegal baginya. Pemberontakan bertindak sebagai mimpi buruk baginya jika ia tersemaikan. Pemberontakan yang melelahkan. Menguras persendian. Menguras pemberontakan. Menguras segala ketakutan. Mencairkan kebekuan. Membekukan pencairan. Pencairan yang terhangatkan. Kehangatan yang melelahkan. Pelelahan yang menyenangkan diakhir pemberontakan.

Di tengah pemberontakan, ada kata terucap, “Lornie aku mencintaimu”. Namun tak ada yang mendengar perhelatan, tak ada yang menduga pemberontakan itu kecuali embun pagi yang membasahi genting yang berona merah kelabu. Ia yang menjadi saksi pencairan yang membekukan. Ia yang menyaksikan pembekuan menjelma cairan. Cairan kehidupan, cairan erangan yang berirama dengan alam dan senada dengan nyanyian binatang malam. Binatang malam yang bernyanyi di bawah bintang yang sayu. Nyanyian terakhir berujar, “Biarkan Lornie, biarkan ia terbang bersama angan pembangkangan akan pengosongan jiwa dalam ketidakberdayaan hati yang berdebu.”

Sumber image: google.co.uk

BAGIKAN
Berita sebelumyaRenungan Romadhon
Berita berikutnyaSeputar Nabi