Ibu… Aku Ingin Mengubah Bintang

0
21

Pewarta-Indonesia, Bagaimana kabarmu hari ini wahai para tukang jagal?!, jerit batinku mengabarkan rintihannya tiap kali menemui pagi demi pagi (tanpa terkecuali pagi ini). Pertama kali memang kurasa aneh, janggal. Tapi seterusnya tidak, biasa-biasa saja. Mereka memang tukang jagal toh… tak ada sanggahan sama sekali! Jelas mereka itu tukang jagal!. Bengis, penghisap. Itu aku tahu, aku sadar. Dan… ya!… aku terbiasa (paling tidak terbiasa memanggil mereka dengan sebutan tukang jagal).

Mungkin kalian dengar berita itu. Ya!… ya!… itu!… berita pagi yang biasa kalian dengarkan sembari mencicipi suguhan sandwich gaya Amerika plus camilan kue kering yang semakin menggugah selera makan. Kalian bicarakan kemiskinan, kalian bicarakan nasib berjuta-juta rakyat miskin di dunia. Di meja makan!… di meja makan! Ah… betapa paradoks… munafik! Maaf bila sesekali waktu nalar ini lancang melejit genit mengatakan bahwa kalian tidak lain adalah mereka yang kusebut tukang jagal. Itu aku tahu, aku sadar… maaf.

entang buruh wanita yang tewas dianiaya majikannya di negeri seberang, kata si penyiar berita di televisi. Dijelaskan pula, Marini namanya. Bla…bla…bla…banyak lagi kisah tak jelas lainnya. Diungkap begitu lugas, tanpa beban.

Kukatakan, Itu wacana saja. Wacana!… biar tak meluas, biar tak terpotret apa yang sesungguhnya terjadi. Versiku, buruh wanita yang dibantai manusia tak bermoral. Memar-memar yang membiru… menghiasi tubuh si wanita. Belum lagi sisa-sisa kekejian setrika panas di kulit yang mempertontonkan kesaksiannya. Kuhitung… satu, dua… ada puluhan luka yang tersebar di sekujur tubuhnya. Aniaya?!… ah!… kalian bercanda. Kenapa tidak pembantaian yang kalian ucapkan?!. Rupanya kalian malu…malu untuk mengakui bahwa bangsa ini tak lagi dipandang memiliki harga diri, sehingga bisa seenaknya diinjak, ditinju, dijamah, disiksa sedemikian rupa!

Marini… dia ibuku. Tewas dia di tangan si tukang jagal. Pergi dia, hilang dia… begitu cepat. Tiada apalagi, sesuatu pun… tinggal kenangan. Lenyap… menyisakan sesak dan duka yang begitu mendalam buatku dan seluruh sanak saudaranya.

Kutatap wajahnya. Beku, dingin tanpa sepatah kata jua. Aih… tapi masih kulihat titik-titik cahaya yang berpendar begitu indah. Bersembunyi dia dibalik luka-luka… di wajahnya. Malu-malu…atau, ah!… mungkin memang nyaris sirna ditarik gelombang kesedihan yang pucat pasi. Remang-remang…cahaya itu tak seterang dulu. Terkikis dia… menipis, luntur dihempas badai siksaan yang menggoncangkan jiwa.

Kuberanikan untuk bertanya… lirih nadanya, “Kenapa bu…kemanakah kini kau pergi?!”  Setelah lebih dari tiga tahun kau tinggalkan aku… menggedor kantong-kantong peruntungan di negeri sana, kini kau kembali pergi. Kutahu kau tak akan kembali lagi… tak akan pernah!. Tak sempat lagi kita berbicara, meski hanya sekadar barang beberapa menit saja. Tentang ayah, bu!… ya!… tentang ayah yang meninggalkan kita jauh-jauh hari. Kau ingat, bu?! Bukankah itu alasan yang membuatmu tegar mengambil keputusan untuk pergi ke negeri antah berantah itu?!. Aku ingat, bu!… selalu! Kau kecup keningku sembari mengingatkan, “Ayahmu pejuang… dia pergi di sela perjuangannya. Dia mati berjuang, bukan berharap!” Aku ingat, bu!… aku ingat! Kusimpan rapi memori wajahmu yang kusut didera kesedihan yang menghunjam begitu dalam kala itu. Kurasakan deru jantungmu yang berdetak cepat penuh kegelisahan… menanti ujung cerita nasib lelakimu yang tercinta. Kita berbagi lara, bu! Di rumah sakit… kutinggalkan sekolah yang membuatku semakin bodoh saja dari hari ke hari. Kita menanti kabar penuh harap dari dokter. Lelakimu terkapar parah… peluru menancap di lambungnya. Padahal dia hanya berteriak-teriak meminta haknya… hak seorang manusia buruh pabrik yang ingin hidup layak. Lelakimu cuma berteriak saja! tidak menjarah…tidak merampok! Dia menagih hak, kenapa harus peluru yang menjadi jawabannya?!

Kau ajak aku mengagumi bintang di langit. Di halaman rumah kita yang serba sederhana… kau raih tanganku, lantas kau dekap aku dengan mesra. Kulihat tetes air mata yang sengaja kau tumpahkan. Suaramu berat, parau. Tak berani kutatap parasmu, kutunggu lantunan not demi not nada-nada sumbang yang mencerminkan isi hatimu. Pikiranku melayang-layang kesana-kemari…menembus pekat malam yang hitam. Kau lemparkan emosi, aku diam sekadar mencoba untuk paham. Aku ingat, bu!… aku ingat! “Bintang yang paling terang itu adalah ayahmu. Dia melihat kita, dia menjaga kita. Dalam do’anya, dalam harapannya…dia terus ada,”  itu kata terakhir yang meluncur dari mulutmu sebelum kita akhiri jamuan sendu malam itu.

Ibu, Marini-ku… kau begitu cantik. Dalam balutan kain putih seadanya ini pun kau masih terlihat mempesona. Kutitipkan amanat kepada para malaikat, jaga dia yang melulu ingat kepada Tuhannya. Kusampaikan salam kepada Tuhan, rahmati dia dengan kalung surga… buah dari segala manifestasi kesabarannya, padi yang seyogyanya dia panen dari setiap langkah, tetes keringat hingga darah yang dikorbankannya untuk orang-orang yang dicintainya.

***

Ibu… aku ingin mengubah bintang. Kutahu kaulah yang menyapaku dari atas sana. Bersama ayah, saling bergandengan tangan… kau torehkan sejuta senyum yang kutahu hanya untukku saja, anakmu. Salam takzimku untukmu. Bersama bintang… itu cahayamu!

Ibu…aku ingin mengubah bintang. Kusucikan dirimu lewat gubahan bintang kejora yang memerah panas…simbol arti hidup yang kau bingkiskan untukku ; hidup tiada lain adalah perlawanan!

Lewat dari satu bulan sudah mesin pabrik terhenti. Para buruh mangkir bekerja. Kami ingin hidup layak setelah lebih dari pantas kami diperas. Tak percaya lagi kami pada tiap konsesi. “Tukang jagal adalah tetap tukang jagal,”  jerit prinsip yang menderu-deru di lorong batinku. Aku… Murdani… sang penggubah bintang kejora. Ramai-ramai para buruh berteriak lantang…ramai-ramai ciptakan dunia baru. Tukang jagal harus dijagal!

Purwakarta, 12 April 2009 Lorong Perenungan Proletariat-Purwakarta
(karya ini didedikasikan untuk Marsinah dan Wiji Thukul. Jelang May Day… inilah persembahanku untuk kalia
—sosok ibu dan ayah ideal yang mengangkat kebisuan dari muka bumi. Terima kasih untuk Es. Ito, kupinjam quote-mu, sama-sama kita lahirkan Negara Ke-Lima)