Jejak Kotor

0
94

 Pintu gerbang besar terbuka, seorang laki-laki keluar dari dalamnya. Dengan rangsel kecil dipunggungnya. Ia melangkah menyusuri jalan yang sepi. Pandangannya tak berhenti melihat ke kanan dan ke kiri. “Banyak perubahan” gumamnya. Wajahnya yang dulu bersih putih sekarang menjadi kusam dan gersang, matanya yang tadinya teduh sekarang garang menantang, rambutnya yang ikal dulu tercukur rapi, sekarang dibiarkan terurai panjang tak beraturan, kumis, jambang dan jenggot memanjang tak dihiraukan.

 


Ia hembuskan nafas lega dan terus menyusuri jalan keluar menuju jalan raya. Surat ditangannya dipegang erat. Harapan satu-satunya hanya keluarga yang telah ditinggalkan selama sepuluh tahun, dan ia berharap mereka masih setia menunggunya.

Ia hentikan langkahnya tepat dipinggir jalan raya. Berbekal surat bebas dari Lembaga Pemasyarakatan (LP). Sebuah bus melintas dan berhenti tak jauh dari ia berdiri. Kondektur paham siapa yang menjadi penumpangnya. Surat bebas itu mengahantarkan ia pulang.

Matahari belum tinggi ketika ia sampai di depan gerbang rumah megah. Ia berdiri, mengamati sekelilingnya, suasana rumah sepi. Ia beranikan diri untuk memencet bel yang ada di depan gerbang. Seorang wanita muda keluar.

“Cari siapa pak?” tanya wanita muda itu, yang diketahui adalah seorang pembantu. Ia diam sesaat rasa heran menggelitik hatinya.

“Ibu Ida ada?” jawabnya kembali bertanya.

“Ibu Ida? Bapak salah alamat,” lanjut pembantu itu.

“Tidak mungkin. Ini rumah saya, dan Ida adalah istri saya!” Dia belum percaya.

“Ini rumahnya ngkoh Liem, orang China,” jelas pembantu itu.

Mendadak wajahnya pucat pasi, kringat yang membasahi wajahnya semakin deras. Matanya memerah, hatinya bergelora, menahan marah atau entah apa. Mungkin ia rindu pada istri dan anak-anaknya, atau mungkin ia cemburu kalau istrinya telah menikah lagi. Perasaannya bergemuruh, bergetar, bercambur aduk antara rindu dan cemburu. Tangannya bergetar memegang terali pintu gerbang. Pembantu itu hanya terdiam memandangi pria aneh yang ada didepannya, pembantu itu buru-buru masuk ke dalam rumah, ia ditinggalkan begitu saja.

Tiba-tiba saja kunang-kunang ramai dihadapannya. Ia terduduk sambil merintih perih terasa didadanya. ke mana ia harus mencari keluarganya yang telah pergi. Ia coba mengingat sesuatu. “Orang tuanya,” ucapnya semangat.

Ia lanjutkan langkahnya menyusuri trotoar yang panasnya semakin menyengat. Peluh semakin deras, berkali-kali ia hapus peluh yang mengalir dengan lengan jaket lusuh yang dikenakannya.

“Ya ampun panasnya…” gumamnya, ia tak sadar ini baru di dunia belum di neraka. Ia terus paksakan diri untuk menyusuri jalananan kota, suara knalpot dari mobil angkot membisingkan telinga, belum lagi suara klakson ketika kemacetan terjadi sepanjang jalan pasar yang kumuh, aroma sampah dan ikan busuk pengapkan udara. Semua menutup hidung menghindari bau busuk yang menyengat.

Tepat tengah hari, ia telah sampai di sebuah gang. Di ujung gang itu adalah rumah mertuanya. Ia melangkah meyusuri gang dengan langkah cepat. Perasaannya tak sabar ingin bertemu dengan keluarganya. Hampir saja langkahnya menabrak gerobak tukang somay yang sedang menjajakan dagangannya, ia tak peduli ketika tukang somay memandangnya dengan perasaan heran. Langkahnya terhenti tepat di depan rumah yang sederhana dengan pintu gerbang besi yang sudah karatan.

Ia pandangi sekeliling rumah, warna catnya masih seperti dulu tidak ada perubahan, hijau adalah warna kesukaan istrinya. Taman bunga dan kolam kecil di teras juga masih seperti dulu di sampingnya ada dua buah kursi dan satu meja bulat, posisinya juga masih seperti yang dulu. Masih seperti ketika pertama kali ia datang untuk berkunjung pada waktu malam minggu dan duduk berdua di kursi itu sambil bercanda dengan pacarnya, Ida. Bayangan itu membuat darahnya berdesir dan kelopak matanya seakan berat menahan air yang hampir tumpah. Masa yang tak dapat dilupakan dan diulanginya lagi. Masa paling romantis dan menyenangkan namun juga menyakitkan.

Lama ia berdiri di depan gerbang itu. Air matanyapun keluar. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara klakson motor yang memintanya untuk minggir karena motor akan masuk ke halaman rumah.

Karena tak ada reaksi, pemuda itu turun dari motor. Lalu mendekati dirinya yang masih berdiri di depan pintu gerbang.

“Maaf, Bapak siapa ya, dan ada keperluan apa?” tanya pemuda itu sopan.

Ia tidak menjawab pertanyaan pemuda itu, namun langsung saja ia menyebutkan nama pemuda itu.

“Erwin ?“ ucapnya. Sambil mengulurkan tangannya. Pemuda itu heran sambil mengulurkan tangan juga, mereka bersalaman. Pemuda itu menatap lekat wajah yang kusam itu, menerka siapa sebenarnya laki-laki lusuh ini. Dan suara itu dikenalnya.

“Oh..! Bajingan kamu ! Ngapain datang ke sini. Pergi…! Mba Ida sudah pergi. Dia sudah bahagia dengan suaminya. Pergi kamu…, jangan ganggu keluarga kami lagi. Awas kamu ya ! Kalau sampai ganggu Mba Ida lagi !” ucap pemuda itu geram sambil mencengkram kerah jaket dan mengarahkan kepalan tangan tepat di wajahnya yang tegang. Namun tak sempat menyentuhnya.

Keributan di luar rumah itu, terdengar oleh penghuni rumah. Seisi rumah keluar. Bapak mertuanya, ibu mertuanya, kakak iparnya dan tiga keponakannya. Pemuda itu adalah adik iparnya. Mereka berbaris membentuk pagar betis. Seperti pesakitan yang berdiri di depan para hakim. Ia tertunduk.

“Moral bejat! Mau apa kau kemari!” bentak Bapak mertuanya. Sambil menudingkan telunjuknya.

“Dasar laki-laki nggak punya otak!” Sambut kakak iparnya.

“Kau hancurkan anakku, kau siksa dia, kau khianati dan kau sia-siakan cucuku. Dasar laki-laki bajingan kau ini. Sudah pergi, kau bukan lagi menantu kami. Dan kami tak sudi mempunyai menantu penjahat seperti kau. Dasar penipu ! pemeras ! pergi…!” maki Ibu mertuanya. Ia tetap berdiri tak sepatah katapun ia sempat keluarkan untuk sekedar membela diri. Semuanya seakan menjadi gelap.

Keluarga mertuanya, merupakan keluarga yang disegani dan menjadi panutan masyarakat di lingkunan itu, kebaikan dan kejujuran mereka tidak diragukan lagi. Bukan hanya di lingkungan itu saja, namun di lingkungan lain juga. Karena mertuanya adalah seorang camat yang bijaksana dan kehidupannya sederhana. Pengabdian yang tulus pada masyarakat telah dibuktikannya. Kemudahan dalam mengurus surat-surat dapat dirasakan warganya.

Kepercayaan masyarakat begitu penuh pada mertuanya. Pada saat itu ia sebagai menantunya yang aktif dalam organisasi politik memanfaatkan peluang itu untuk mendapatkan suara dalam pencalonan menjadi anggota dewan legislative. Pemanfaatan itu berhasil dan ia mendapat suara terbayak dari partainya. Masyarakat memilihnya karena memandang mertuanya. Bukan memandangnya. Mertuanyapun bangga karena menantunya dapat menjadi wakil untuk rakyatnya.

Namun, kesempatan tidak dapat ia jalankan dengan baik. Ia tak lulus ujian moral. Mukin ketika SD ia tidak lulus juga pelajaran PMP (Penidikan Moral Pancasila). Dan masyarakat merasa ditipu dan dikhianati. Mereka mengumpat habis mertuanya, cacian rakyat sangat menyakitkan hati mertuanya hingga mertuanya harus dilarikan kerumah sakit terkena serangan jantung. Dan aib itu masih membekas di hati mertuanya.

Sebelum dirinya di penjara, merekapun sudah marah. Muak melihat kesombongannya. Kekayaan tidak membuat bahagia istri dan anak-anaknya justru menjadi tangis dan malu seluruh keluarganya. Orang tua kandungnya telah membuangnya lebih dulu sebelum ia masuk penjara. Sebagai mantan pejuang, orang tuanya berprinsip keras lebih baik membuang anaknya dari pada menjual negaranya.

Mulai kasus vidio mesum dan perselingkuhan hingga kasus korupsi, sangat memukul perasaan dan menjadi aib bagi keluarga yang selama ini menjadi panutan rakyat dan rasa kecewa serta sesal sangat dirasakan oleh masyarakat yang telah memilihnya.

Ia terdiam. Teringat masa itu, sebuah masa yang sangat menakutkan. Ia tak tahan dengan gemuruh didadanya lalu berlari meninggalkan barisan hakim yang serempak meludahinya. Ingin sekali ia menjerit. Ia tinggalkan gang kecil itu dengan rasa yang malu dan berdosa.

Seakan tanpa arah ia melangkah, berkali-kali ia medesah. Ia berharap masih ada orang yang dapat membantunya. Namun siapa ?. Ia berhenti tepat di bawah pohon asem yang rindang di tepi jalan. Matanya memandang kosong ke jalan raya, lalu lalintas kendaraan tak dihiraukan. Pikiriannya melayang, kesebuah masa dimana ia pernah hidup seakan disurga.

“Inikah hidupku?” gumamnya dalam hati.

Kelam, gelap dan hampa seakan dunia. Ia mulai tersenyum sendiri saat bayangan indah masa lalu datang, lalu menangis ketika tersadar sekarang ia terbuang. Mobil mewah yang selalu dikendarai berubah menjadi tapak kaki yang kini melepuh tersengat oleh panasnya aspal tengah hari.

Sekarang ia seumpama seonggok sampah yang tak ada artinya. Kerdilnya moral telah hancurkan masa depan yang seharusnya indah bersama anak dan istrinya. Kehilafan yang seakan tak berampun.

Sebatang rumput terselip dikedua bibir yang kering. Matanya masih basah. Geram ia rasakan menyesali diri yang semakin jauh terbuang. Tak ada lagi yang percaya padanya, lalu kemana teman-teman sejawat yang dulu selalu menyanjungnya. Mereka menghilang ketika sadar kalau ia bukan hartawan dan pejabat lagi.

Semua rakyat menanti untuk memaki. Anak, istri pergi dan kerabat menyumpahi serta mengutuknya. Lalu kemana wanita simpanannya?. Wanita yang dulu sangat dimanjakannya dengan harta curian milik negera. Wanitanya telah berlalu bersama cukong yang menjamin kehidupannya.

Dunia mulai muak dengannya. Ia harapkan udara segar diluar penjara, justru menjadi panas dan gelisah membara seakan di atas tungku neraka. Hidupnya terapung bagai kapas yang tertiup angin senja. Tak dapat hinggap dan menempel pada setiap pucuk ilalang. Walau hanya sebentar.

“Laraku terlalu penuh dalam hidup. Sekarang hanya penantian sebuah petaka yang aku tunggu. Disetiap detik, jantungku bergetar dan aku selalu berpaling dari jalanNya. Ini sebuah dosa.” bisik hatinya.

Berlahan menetes butiran bening dari matanya. Kekacauan yang ia buat sendiri dan kehancuran teramat sangat dalam hati. Ia sandarkan tubuh lelah itu pada batang pohon asem yang besar. Ia melihat sekelompok burung kecil bercanda diantasnya. Ia ingat anak-anaknya.

Kehidupannya semakin jauh berubah. Bukan kemajuan yang ia dapatkan dari bertambahnya usia. Justru kemunduran yang drastis ia alami.

Sebulan sudah ia terapung dijalanan. Dia merasa telah menjadi sampah sungguhan, sampah masyarakat dan glandangan hampir setiap hari selalu dikejar-kejar oleh Trantip. Kemanapun ia pergi bayangan hitam selalu dibelakangnya, menindih saat ia tidur, menampar saat ia sendiri. Ia hanya bisa meratap. Namun ratapannya hanya menjadi tempat orang-orang membuang ludah. Kemana wibawanya selama ini. sepuluh tahun lalu semua orang menunduk hormat, sekarang semua orang meludahinya.

Wajar jika Allah menghukumnya sedemikan hebatnya. ketika ia menjadi pejabat, ratusan ribu rakyat menjadi miskin karenanya. Ribuan orang harus menjadi penjahat karena kehilangan pekerjaan dan anak-anak harus mati karena penyakit busung lapar.

Bulan berganti dan tahun menyambut. Sekarang ia duduk di bawah jembatan penyebrangan, dengan baju lusuh dan rambut gimbal merah. Kulitnya hitam kecoklatan. Sahabatnya adalah debu jalanan. Ia tertawa, menangis sendiri. Moralnya telah hilang sejak lama. Setelah keluar dari penjara, mentalnya pun ikut runtuh. Jiwanya sakit. Tak ada yang memperdulikannya, seperti dirinya yang dulu tak pernah peduli dengan nasib ribuan manusia.

Ternyata ia termakan sumpah serapah rakyat dan doa mereka mujarap. Sebuah kutukan yang makbul, terijabah oleh Tuhan. Dan itulah doa orang-orang yang teraniaya. Selalu didengar dan dikabulkan Tuhan.

Tengah malam, ia tak tahan dengan berat bayangan hitam yang menindihnya, dadanya sesak ia menjerit histeris, tak ada yang peduli dan tak ada yang mendengar. Hanya suara lintas mobil yang melaju cepat. Ia berlari menghindari bayangan hitam yang selalu mengganggunya, ia terus berteriak “Ampun!” namun bayangan itu tetap hadir, mencengkram rambutnya yang gimbal, meremas wajahnya yang lusuh lalu melemparkannya ke tengah jalan raya dan disambut oleh tronton yang melaju cepat. Dan tubuhnya tak lagi utuh.

Fajar menyingsing, matahari muncul namun sinarnya masih terhalang oleh gedung-gedung tinggi yang berbaris disepanjang jalan kota. Jalan raya penuh sesak oleh ratusan orang yang mengelilingi tubuh yang tak lagi utuh itu, mereka berebut ingin melihat bagaimana matinya seorang koruptor. Penjahat rakyat. Lalu mereka meludah jijik dan membiarkan tubuh yang terpisah-pisah itu teronggok bagai sampah dan mereka berharap nanti ada segerombolan anjing liar yang kelaparan, lalu memakan habis dagingnya dan menyimpan tulang-tulangnya dan di jadikan symbol peringatan bagi penjahat rakyat lainya untuk berhenti menjadi panjahat dan tidak mengikuti jejaknya. Gambaran bagi generasi selanjutnya untuk takut jika menjadi seorang koruptor karena akan sama nasibnya seperti dia sengsara dunia dan akherat. */*

Palapa, 21 April 2009

Image: google.com