Jiwa yang Langka

0
18

Pewarta-Indonesia, Pengumuman kelulusan ujian akhir nasional. “Satu jam lagi,” kata kepala sekolah ketika memberi sambutan. Kami berkumpul dan berbaris tepat pukul 08.00 pagi, di halaman sekolah. Sambutan dan pengarahan Kepala sekolah didengarkan dengan hikmat, semua murid menunduk berdo’a dengan hati berdebar. Menanti detik-detik yang sangat menentukan masa depan. Setelah sambutan, semua siswa kelas III SMP Bhakti Negeri masuk ke dalam kelas masing-masing.

Sangat menegangkan. Hari ini sebuah sejarah terpatri dalam diri masing-masing. Dan anehnya kelas III D yang waktu kemarin ketika masa belajar terkenal dengan keributannya dan selalu didatangi oleh guru BP, hari ini sunyi senyap. Anak-anak biang keributan khusuk dengan do’a mereka. Semua menundukan kepala dengan tangan di atas meja, dari balik jendela kaca, langkah Ibu Rita wali kelas III D terlihat memasuki ruangan, wajahnya pun tegang, beliau takut dan malu jika pelajaran yang selama ini diberikan guru-guru SMP Bhakti Negeri tidak membuahkan hasil. Bu Rita melangkah dengan membawa map berwarna kuning yang di dalamnya berisi empat puluh amplop berwarna putih yang sudah tertera nama masing-masing dari murid yang ada di dalam kelas ini.

“Anak-anaku, ketegangan ini bukan hanya dirasakan kalian namun juga semua dewan guru di sekolah ini. Di antara kalian ada yang gagal dan harus mengulang tahun depan. Kami dewan guru meminta maaf jika pelajaran yang kami berikan tidak dapat diterima dengan baik oleh kalian Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu kalian. Dan semua itu kembali pada kalian. Jika kalian selama ini serius dalam belajar, pasti kalian tidak akan kecewa. Baiklah langsung saja akan saya bagikan amplop pengumuman ini dan ibu harap dibuka di rumah, di depan orang tua kalian,” sambutan Ibu Rita menambah gementar hati semua murid.

Satu per satu amplop sudah berada di tangan semua murid. Kami sekelas tidak ikut keluar kelas, detak jantung mengiringi detik-detik penentuan. Amplop putih ini kupandangi dengan perasaan khawatir, namun penasaran. Seakan tidak mendengar perintah Ibu Rita untuk membuka di rumah di depan orang tua, karena besar rasa penasaran akhirnya kami sepakat untuk membuka bersama-sama di dalam kelas. Belum ada intruksi buka, si Hari anak paling bandel di kelas berteriak dan tersungkur sujud di lantai kelas. “Terima kasih Tuhan!” teriaknya. Pandangan kami serentak tertuju padanya. Rasa penasaran kami semakin memuncak. Riuh mendadak terjadi. Tangis sedih si Bolon anak yang menjadi siswa teladan tak dapat terelakan satu pelajaran dia gagal. Tiga murid putri pingsan tak sanggup dengan kenyataan, rasa malu dan menyesal bercambur aduk, rasa heran bercampur curigapun terlempar.

Aku membuka amplopku dengan gemetaran. Kertas putih yang berlogo dinas pendidikan aku buka perlahan, langsung mataku menemukan nama yang dicetak dengan huruf tebal.”AGUS SUJATMIKO”. Lalu kulihat tulisan “LULUS”. Jantungku semakin berdebar, haru hingga meneteskan butiran bening di kelopak mataku. “Perjuangan Bapak dan Ibu tidak sia-sia,” batinku.

Rasa bahagia, bercampur dengan kecewa dan sedih. Setiap orang yang mengucapkan selamat padaku pasti disertai dengan pertanyaan yang tidak dapat aku jawab, bahkan menyakitkan sekali. “Selamat ya, mau lanjut ke SMA mana?” Hanya “Entahlah” jawabku.

Aku mengingat selama 3 tahun sekolah, keadaan ekonomi keluarga semakin memburuk. Untuk lulus SMP saja aku sudah sangat bersyukur sekali. Karena hampir saja aku mandek di tengah jalan. Karena aku rasakan kesulitan yang dialami orang tuaku sangat berat, jangankan untuk membayar iuran sekolah atau membeli LKS, untuk makan sehari saja Bapak harus mencari bekicot setiap pagi, yang hanya dihargai Rp.1500/kg-nya. Dan itu tidak cukup untuk membeli 1 kg beras.

Namun, semangat Bapak untuk terus menyekolahkan aku tetap membara. Setiap hari nasehat-nasehatnya membukakan pikiranku. Ketika Bapak mulai mengeluh dengan keadaan ini, karena biaya kelas 3 itu tidak sedikit, keajaiban Tuhan datang. Aku mendapat beasiswa dan akhirnya aku dapat lulus juga walau dengan sangat tertatih.

Semua guru menasehati aku, agar jangan menyiakan prestasi ini, namun aku anggap sia-sia saja prestasiku. Ibarat ubi rebus, jika memasaknya sempurna maka empuk dan enak dimakan, namun jika ubi itu direbus dan ditengah kematangannya api ditungku dimatikan maka hanya jadi ubi yang bantat. “matang tidak, mentahpun nggak” . Itulah aku dan itu menjadi beban dalam pikiranku. “Kalau bukan aku siapa yang akan merubah nasibku,” kataku dalam hati.

Sepanjang jalan pulang rasaku tak karuan. Otakku ditempa oleh keadaan. Kebimbangan untuk menetapkan masa depan begitu suram. Mau jadi petani? Ladang dan sawah sudah terjual untuk biaya pertama masuk sekolah. Lantas jika tidak melanjutkan sekolah mau jadi apa? Ngapain? Benakku terusik.

Sampai di rumah, keadaan rumah sangat sepi. Bapak dan ibu serta Rinto adikku pasti sedang mencari kayu bakar dan talas di kebun-kebun kopi milik warga yang blukar karena ditinggalkan pemiliknya pergi merantau ke Luar Negeri menjadi TKI. Aku masuk ke dalam rumah, mataku menyapu ke seluruh sudut ruangan, sepi. Lalu aku buka tudung saji yang terbuat dari anyaman bambu made in bapak, kosong. Hanya sebutir nasi kering yang melekat di atas meja sisa kemarin. Aku melangkah ke tungku di dapur rumahku, senyap dan dingin. Abu yang tersisa dari kayu bakar sepertinya sudah dari kemarin. “Pasti Ibu tidak masak hari ini,” gumamku. Rasa lapar aku tahan, air putih aku harap cukup untuk mengenyangkan perut.

Aku rebahkan tubuhku di balai bambu, amplop kelulusan masih aku pegang .

“Keadaanku sangat payah, aku harus tetap sekolah agar kelak keluargaku tidak lagi dalam keadaan susah. Aku harus sekolah! Tapi aku tidak akan meminta biaya pada orang tua, walau tahun ini Tuhan belum mengizikan, aku harap tahun depan, aku harus tetap sekolah,” jerit hatiku.

Rasanya aku harus hijrah dari desa ini. Aku akan mencari pekerjaan untuk melanjutkan sekolahku sendiri. Itulah tekadku. Pikiranku merayap jauh, keadaan keluargaku membangun mimpi-mimpi besar di anganku. Aku jadi ingat petuah guru SD ku, ”Raihlah cita-citamu setinggi bintang di langit. Jika tidak tergapai setidaknya setinggi pohon kelapa yang tergapai.” Kata bijak itu mampu mendorongku untuk tetapkan pendirianku. Aku harus terus sekolah! Kukepalkan tangan, kukatupkan bibir dan biarkan gigi-gigiku beradu, dengan perasaan geram dan greget penuh semangat.

Terdengar di belakang rumahku suara “dubrak”, segulung kayu bakar di bantingkan oleh Bapak. Nafas lelahnya terdengar hingga ketempatku berbaring. Rengekan kambing bersahutan ketika melihat Rinto membawa segulung rumput hijau yang segar. Suara pintu dapur terbuka. Aku bangkit dari rebahku, melangkah menyambut mereka.

“Sudah pulah le?” sapa Ibu sambil meletakan keranjang yang berisi pucuk daun singkong dan talas di dekat rak piring yang sudah reot.

“Iya bu!” jawabku sambil mencium telapak tangan ibu, dengan harum keringat dan walang sangit, lalu disusul dengan tangan bapak yang legam mengkilat oleh keringat. Rinto sibuk memberi makan kambingnya.

“Terima kasih Pak, Bu akhirnya aku lulus,” ucapku sambil memeluk tubuh-tubuh renta itu. Tangan-tangan kasar namun lembut itu mengelus rambutku dengan rasa haru dan sayang. Hatiku terasa adem tak sanggup untuk mengatakan jika aku ingin sekali melanjutkan sekolah.

“Kamu masih ingin terus sekolah le?” tanya Ibu, tiba-tiba. Aku terdiam, tak dapat menjawab. Aku tahu perasaan mereka, aku tahu mereka sedih, aku tahu mereka sangat menginginkan aku harus tetap sekolah, aku tahu mereka putus asa, namun mereka tak dapat berbuat apa-apa.

Malam semakin larut, anganku terus mengusik, gelisah tak dapat memejamkan mata. Semua posisi sudah aku terapkan, miring salah terlentang salah tengkurap apalagi. Merdu suara jangkrik mengiringi hembusan angin dingin yang menyelusup melewati cela-cela jendela kamar dan menggoyangkan api pada lampu minyak dari kaleng susu di atas meja kecil dalam kamarku.goyangan lidah api mungil itu seirama dengan goyangan kalut otakku.

Terdengar lirih di tengah kesunyian malam percakapan Ibu dan Bapak di dalam kamarnya.

“Anak kita harus tetap terus sekolah Pak, kasihan. Lagi pula anaknya pintar dan cerdas,” kata Ibu.

“Iya bu, tapi yang Bapak pikirin pakai apa kita membiayainya?” jawab Bapak lemah.

“Ibu yakin Pak, nanti ada saja jalan dan rezekinya, selagi kita benar-benar niat mau menyekolahkannya.”

“Ya, kita hanya bisa berdo’a saja bu.”

“Gimana kalau kambingnya Rinto di jual dulu Pak? Nanti kita ganti dari hasil paroan kambing titipan Pak Kiran,” usul Ibu.

“Tapi kita harus izin dulu bu dengan Rinto, Bapak takut Rinto kecewa, ya Ibu tahu sendiri Rinto sangat sayang dengan kambing itu.”

“Iya Pak.”

Lalu hening.

Keheningan malam berlalu, kokok ayam jantan bersahutan disusul Azan subuh lirih dari surau, bergegas aku mandi walau mata ini berat sekali karena semalaman aku tidak dapat tidur. Sholat subuh adalah kewajiban.

Fajar menyingsing mentari hangat menyinari halaman rumah yang belukar, tanaman hias tak terawat. Di belakang rumah Rinto dan Bapak sedang membersihkan kandang kambing, sisa rumput yang tidak dimakan kambing dikumpulkan lalu dibakar. Aku mengisi bak mandi dan gentong untuk masak dan mencuci piring Ibu.

Di halaman belakang tepatnya di kandang kambing, terdengar Bapak bercakap dengan Rinto.

“Le, kambing Pak Kiran sebentar lagi akan melahirkan ini, kalau dilihat dari besar perutnya sepertinya dua anak kambing di dalamnya,” kata Bapak sambil mengelus-elus punggung kambing.

“Iya Pak, kambingku kapan ya pak hamilnya?” tanya Rinto.

“Wah, tiga bulanan lagi baru bisa dikawinkan le,” jawab Bapak sambil tersenyum.

“Le, kalau anak kambingnya dua, satu untuk mas Agus ya?

“Iya Pak!” jawab Rinto.

“Le, Bapak ini kasihan sama masmu,” ucap Bapak serius.

“Kenapa Pak?” tanya Rinto heran.

“Mas mu ingin sekolah lagi, tapi Bapak gak ada biaya, padahal mas mu pinter loh le.”

“Iya Pak, terus gimana pak?”

“Ya.. begini. Bapak cuma tanya, kalau seandainya Bapak pinjam kambingmu boleh nggak le? Untuk bayar sekolah masmu?” tanya Bapak hati-hati.

“Nanti Rinto bagaimana Pak?”

“Ya, kambing mas mu yang belum lahir ini untuk kamu, gimana le?”

“Tapi Pak,” ucap Rinto ragu. Sambil mengelus kambingnya, Rinto diam sesaat.

“Iya boleh Pak. Tapi bilang sama mas Agus, jangan sia-siakan.” Mendengar ucapan itu Bapak memeluk tubuh Rinto yang mungil, anak sekecil Rinto sudah bisa diajak berbagi. Sungguh anugrah Tuhan yang begitu besar untuk keluargaku.

Siang ini di belakang rumahku, tepatnya di kandang kambing. Rinto mengelus-elus kambing kesayangannya. Kambing betina muda hadiah dari kakek ketika dia sakit tipus yang hampir merenggut nyawanya. Adiku sangat menyangi kambingnya, terlihat dari semangatnya mencari rumput-rumput hijau segar setiap hari. Rinto terus mengelus, seakan ia sedang berbicara dengan mengucapkan kata-kata perpisahan. Sebentar lagi ia akan berpisah dengan kambingnya, Haji Dungani akan mengambilnya karena sudah dibelinya.

Aku menatap adiku yang meratap. Teriris hati ini melihat kesedihan yang terpancar di wajah polos itu. Wajah yang lugu, namun mempunyai jiwa solidaritas keluarga yang mumpuni. Ia korbankan harta satu-satunya, harta kesayangannya, demi aku. Demi cita-citaku. Pengorbanannya tak dapat aku balas dengan nilai dunia, sungguh aku sangat berterima kasih sekali dengan Rinto. Berkat keihklasan hatinya, sekarang kambingya telah menjadikan diriku Seorang Sarjana, pengusaha dan Rinto dapat sekolah dengan layak. Itu lah janji yang pernah aku ucapkan ketika titik bening menetes melepas kepergian kambingnya.***

Sumber image: google.co.uk